Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

6. Malaikat Pencabut Nyawa

Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an dari kamar istrinya "Lana?"

batinnya. Suara itu terdengar begitu merdu di telinganya.

Rey mendekat tanpa suara, lalu mendorong sedikit pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Dari celah sempit itu, ia terpaku melihat Lana yang masih mengenakan mukena putih bersih, duduk bersimpuh menghadap kiblat dengan sebuah mushaf di pangkuannya.

Ada kontras yang menghantam batin Rey; wanita yang beberapa jam lalu bergulat dengan gairah dan amarah bersamanya, kini tampak begitu tenang dan suci dalam balutan doa.

Getaran suara Lana saat melantunkan ayat demi ayat membuat langkah Rey tertahan. Ia yang tadinya berniat masuk untuk bersikap dingin, justru terdiam di ambang pintu, merasakan sesal dan kekaguman yang berperang di dalam dadanya.

Rey beringsut mundur, menutup pintu dengan perlahan, lalu masuk ke kamarnya dan melemparkan jaketnya ke sofa.

"Brengsek! Aku harus senang atau justru tidak suka melihatnya berlagak seperti malaikat? Namun, saat sedang gila, dia benar-benar seperti malaikat pencabut nyawa," ucapnya sinis.

Rey mengacak rambutnya frustrasi, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang terasa terlalu luas. Bayangan Lana yang bersujud dan suara merdunya saat mengaji terus terngiang, beradu dengan memori keintiman panas yang baru saja mereka lalui. Ia merasa sedang dipermainkan oleh dua sisi kepribadian wanita itu yang sangat kontras.

****

Lana menutup mushafnya dengan tangan gemetar, sisa air mata masih membasahi pipinya. Ia memeluk kitab suci itu erat-erat di dadanya, mencari ketenangan yang tidak bisa ia dapatkan dari Rey maupun rencananya sendiri. Di balik tirai kamar yang tertutup, ia merenung; apakah balas dendam ini benar-benar sebanding dengan harga diri yang ia pertaruhkan setiap malam?

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya yang kemudian menghilang di balik pintu kamar sebelah. Ia tahu Rey sudah pulang. Lana menyeka air matanya, mencoba kembali memasang benteng keteguhan yang selama ini ia pakai. Ia tidak boleh terlihat lemah, meski hatinya hancur berkeping-keping.

*****

Rey mengambil kamera dari laci penyimpanan, lalu membuka file-file foto yang baru saja ia ambil beberapa bulan lalu. Ia melangkah keluar menuju teras kamar yang menghadap langsung ke kolam renang mini.

Sambil duduk, ia mulai mengamati foto-foto Lana yang dipotretnya secara diam-diam saat di komunitas hiking, sebulan sebelum penggerebekan Leon, kakak Lana.

Pikirannya berkelana pada Kimmy, gadis sebayanya. Mereka kenal sekitar 4-5 tahun lalu di California saat Coachella. Kimmy cantik, pintar, dan mandiri, sama seperti Lana. Rey tahu Kimmy menyukainya, namun ia tak pernah membalas perasaan itu. Jujur, Rey sempat tertarik, tetapi rasa itu menguap begitu saja. Akhirnya ia merasa hubungan mereka lebih cocok sebatas teman.

Lalu bagaimana dengan Lana? Perkenalan mereka baru sekitar 2-3 bulan lewat acara komunitas. Rey tahu Lana adalah mantan kekasih Roy. Lana tidak terlihat sedang mengincarnya seperti gadis-gadis lain; dia bersikap biasa saja. Itulah mengapa Rey merasa nyaman tanpa harus merasa dikejar.

Namun siapa sangka, justru itu trik Lana. Saat Rey mulai merasa nyaman sebagai teman tanpa rasa curiga, Lana justru menjebaknya.

"Sial! Kalau ingat itu, rasanya ingin kuhajar saja dia. Kalau bukan wanita, sudah habis dari kemarin-kemarin. Mana sekarang jadi istriku, dan aku mengulangi tidur dengannya tadi sore..." geramnya sambil mematikan kamera yang terakhir menampilkan foto Lana sedang tertawa hingga mata ambernya menyempit jadi segaris.

Ingatan malam penjebakan itu memang samar karena ia dalam pengaruh obat perangsang, namun tadi ia melakukannya dengan sadar dan sukarela.

"Sudahlah, aku toh pakai kondom. Sekarang hanya tinggal mengandalkan pembuahan di malam laknat itu. Satu kali, belum tentu dia berpotensi hamil,"

ucapnya sambil tersenyum sendiri. Tanpa ia sadari, kelicikan Lana membocorkan pengaman itu justru merupakan upaya untuk menyemai benih.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel