Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Sofa Tantra

"Kenapa kamu ke rumahku? Ada Lana di sana. Semuanya jadi runyam, kan? Dia bisa melapor pada Mamaku atau kakaknya yang galak itu," decak Rey di dalam mobil Kimmy. Mereka melaju menuju bar yang masih buka malam itu.

"Aku menunggumu karena kau tidak kunjung datang, teleponmu juga tidak aktif. Lagipula, katanya kau terpaksa, tapi kenapa masih bisa menidurinya?" cebik Kimmy kesal.

Mereka kemudian duduk di sudut bar yang tenang, lalu memesan minuman dan camilan.

Rey menegak minumannya sekali tandas, lalu menyandar frustrasi. "Itu murni kebutuhan biologis, Kim. Jangan bahas dia lagi atau aku benar-benar akan pulang sekarang juga."

"Serius kebutuhan biologis? Bukan karena ada ketertarikan?" selidik Kimmy. "Lihat, dia menamparku keras sekali hanya karena aku punya kunci rumahmu. Ini sakit sekali," ucap Kimmy dengan nada manja dan dramatis.

Rey mengusap wajahnya kasar, lalu menarik dagu Kimmy untuk memeriksa bekas tamparan itu. "Berhenti merengek, Kim. Aku akan memberinya pelajaran nanti. Sekarang, biarkan aku tenang sejenak tanpa ocehanmu."Rey mengusap wajahnya kasar, lalu menarik dagu Kimmy untuk memeriksa bekas tamparan itu. "Berhenti merengek, Kim. Aku akan memberinya pelajaran nanti. Sekarang, biarkan aku tenang sejenak tanpa ocehanmu."

"Memberi pelajaran pada Lana? Kau akan menghajarnya untukku?"

Rey menatap Kimmy dengan tatapan dingin yang sulit diartikan. "Jangan konyol. Menghajar wanita bukan gayaku, tapi aku punya cara lain untuk mendisiplinkannya."

"Lekas habiskan minummu, aku akan mengantarmu ke apartemen."

"Kau jadi menginap, kan? Besok kan Minggu. Ayolah, Rey," harap Kimmy sekali.

Rey meletakkan gelasnya dengan tegas, lalu berdiri tanpa keraguan. "Tidak bisa, Kim. Aku harus pulang sekarang sebelum keadaan di rumah semakin kacau."

"Tapi kamu tidak bawa mobil mend—"

Rey memotong cepat. "Aku bisa naik taksi, ayo!" Tanpa memedulikan rengekan Kimmy, Rey langsung berdiri.

Kimmy menghentakkan kaki dengan jengkel. Hubungan mereka sudah terjalin sejak lulus SMA, berawal saat bertemu di Coachella, California. Waktu itu, Reyner sedang libur musim panas dari kuliahnya di GSD Harvard, sementara Kimmy berlibur di rumah kakaknya. Mereka akrab dan berjanji bertemu saat Rey pulang ke Indonesia. Namun nyatanya, Rey tidak pernah menaikkan level hubungan mereka menjadi kekasih; Rey terlalu sibuk dengan kegiatan mendaki gunung dan fotografinya.

"Apa sih kurangnya aku? S2 Manajemen Bisnis, asisten dosen, bahkan Lana jauh lebih pendek dariku. Eh, tahu-tahu kau dijebak cewek bantet yang cuma 160 senti sekian," cibirnya, mulai melakukan body shaming.

Rey menoleh dengan tatapan tajam yang membuat Kimmy bungkam seketika. "Jangan bawa-bawa fisik, Kim. Itu sama sekali tidak membuatmu terlihat lebih baik di mataku."

*****

Di rumah, Lana membuka blister asam folat pemberian Dian, ibu mertuanya. "Manusia berencana, Tuhan yang menentukan," gumamnya sembari meneguk satu butir tablet salut gula itu dengan air putih, diiringi senyum puas.

Ia kemudian beranjak ke lantai atas menuju ruang kerja milik Rey. Di sana terdapat sebuah gym room dengan alat-alat fungsional. "Pantas saja badannya bagus," batinnya. Lana teringat kegiatan ranjang mereka tadi sore yang dilakukan dalam keadaan sadar tanpa obat perangsang. Segalanya terasa lebih berirama dengan ritme yang teratur.

Tubuh pria itu mengayunnya dengan sinkronisasi yang sempurna, memberikan tekanan yang presisi pada setiap titik sensitifnya hingga ia merasa benar-benar dihargai sebagai seorang wanita, bukan sekadar pelampiasan nafsu.

Lana menyentuh permukaan treadmill milik Rey, membayangkan otot-otot punggung suaminya yang menegang hebat saat mereka mencapai puncak tadi. "Kau mungkin membenciku sekarang, Rey, tapi tubuhmu tidak bisa berbohong."

Lana melangkah ke ruang semi-terbuka yang menampung sebuah jacuzzi mewah. "Hmm... bercinta dengan Rey di sini sepertinya patut dicoba sambil menatap bintang di langit," gumamnya pelan.

Ia bergidik ngeri sekaligus nikmat membayangkan hal-hal nakal yang bisa mereka lakukan di sana. Lana membayangkan air hangat yang bergolak membungkus kulit mereka, sementara Rey memacunya dengan gairah yang meluap di bawah naungan langit malam yang sunyi. Jemarinya mengelus pinggiran marmer jacuzzi itu, seolah bisa merasakan sisa panas tubuh suaminya yang tertinggal di sana.

Lana memejamkan mata, membiarkan angin malam menyapu kulitnya yang masih terasa hangat. "Kau boleh pergi sejauh mungkin malam ini, Rey, tapi kau akan selalu pulang ke tempat ini. Ke pelukanku."

Lana melangkah ke ruangan selanjutnya yang lebih privat, sebuah ruang kerja arsitek yang dipenuhi peralatan profesional. Ada kursi dan monitor gaming besar di sudut, namun pandangannya langsung terpaku pada satu benda yang mencolok di dekat jendela.

"Astaga, sofa tantra?" Lana menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Pria yang di luar tampak diam, kaku, dan misterius itu ternyata menyimpan sisi liar yang tak terduga. Namun, kekagumannya mendadak menguap, digantikan rasa panas yang menjalar di dada. "Sialan... jangan-jangan dia sudah mencobanya dengan wanita tadi? Dengan Kimmy?" cibirnya ketus, mendadak dirundung kecurigaan yang membakar ego.

Lana menghentakkan kaki, merasa konyol karena terbakar cemburu. Padahal, jika dipikir ulang, bukankah dia yang datang belakangan dalam hidup Rey? Kimmy sudah ada di sana jauh sebelum dirinya muncul sebagai istri siri. Namun bagi Lana, status di atas kertas adalah segalanya, dan membayangkan wanita lain meliuk di atas sofa itu bersama suaminya membuat tangannya terkepal kuat.

Lana mendekati sofa itu, mengusap permukaannya yang halus dengan tatapan menantang. "Akan kupastikan kau melupakan setiap inci tubuh wanita itu saat bersamaku di sini, Rey."

Lana melangkah turun, mengambil air wudu untuk menunaikan salat malam. Jika usahanya membuat Rey jatuh ke pelukannya terasa begitu menyesakkan, maka mengadu pada Sang Khalik dengan rayuan doa adalah jalan terakhir yang ia miliki.

Mengenakan mukena berwarna peach lembut yang ia siapkan tadi siang, Lana mulai melantunkan ayat-ayat suci. Suaranya yang merdu mengalun pelan, memecah kesunyian malam di ruang kamarnya. Namun, di tengah kekhusyukannya, tetesan air mata mulai jatuh tak terbendung. Isaknya menjelaskan segalanya dan betapa perih hatinya ditinggalkan begitu saja seperti pelacur oleh suaminya demi Kimmy, tepat setelah badai gairah yang baru saja mereka lalui bersama.

Lana bersujud lama, membiarkan dahinya menyentuh sajadah yang kini basah. Di balik kepura-puraannya yang kuat dan provokatif di depan Kimmy, ada kepingan hati yang hancur karena merasa hanya dijadikan persinggahan nafsu belaka.

"Jika Engkau menuliskan dia untukku, lembutkanlah hatinya. Jika tidak, kuatkanlah aku untuk melepaskannya."

Tepat tengah malam, taksi mengantarnya sampai di depan rumah. Rey membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. Ruangan tampak tenang, lampu di ruang utama sudah mati, hanya menyisakan cahaya redup yang menciptakan suasana syahdu. Biasanya ia sendiri, namun kini ada seorang wanita di rumah ini.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel