7. Nafkah dan Kewajiban
Minggu pagi, Lana tampak segar setelah salat, mandi, dan berbelanja pada tukang sayur yang lewat. Dengan merogoh kocek sendiri karena Rey belum memberikan nafkah.
"Ikan mas, timun, selada, cabai, serta bawang merah dan putih saja, Mang. Jadi berapa?" tanya Lana sambil tersenyum.
Tukang sayur itu tersenyum ramah sambil membungkus belanjaan Lana. Di saat bersamaan, Rey keluar ke teras dengan muka bantal dan rambut acak-acakan. Ia tertegun sejenak melihat Lana yang tampak begitu bersahaja dan tenang, sangat berbeda dengan sosok yang menampar Kimmy semalam.
Rey melangkah mendekat, membayangkan aroma masakan dari bahan-bahan yang dibeli Lana. Ada rasa gengsi yang besar di dadanya untuk sekadar menyapa, namun perutnya tidak bisa berbohong bahwa ia merindukan masakan rumah.
"Ada apa?" tanya Lana, merasa aneh melihat suaminya berdiri bersedekap di dekat pintu.
"Tidak ada. Hanya heran melihatmu sudah bangun sepagi ini. Masak yang enak, jangan sampai bahan-bahan itu terbuang percuma karena aku sedang lapar," ketus Rey sambil memalingkan wajah.
"Tunggu, Rey!" panggil Lana tiba-tiba.
Rey menaikkan alisnya. "Ada apa lagi?" ucapnya sinis pada istri sirinya. Ia menatap Lana yang bareface kecuali lip balm yang membuat bibirnya tampak ranum, bibir yang semalam beradu dengan bibirnya, sangat menggoda iman.
"Tolong bersihkan taman, itu rumputnya sudah mulai tinggi. Sangat merusak pemandangan," perintah Lana tegas.
Rey menatap halaman rumah lalu kembali pada istrinya. "Kau memerintahku? Aku ini suamimu, bukan tukang kebun. Cari saja orang untuk mengerjakannya, nanti aku yang bayar."
"Hanya tukang kebun yang dibayar? Belanjaan kemarin dan ini? Listrik? Air? Internet? Bensin mobilku? Biaya konsultasi ke dokter kandungan terbaik? Skincare-ku?" Lana mengabsen kebutuhan mereka satu per satu.
Rey terdiam sejenak, merasa tersudut oleh rentetan fakta kewajiban itu. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu meletakkannya dengan kasar di atas meja teras.
"Ambil ini untuk sementara. Kirimkan rincian biaya lainnya ke ponselku, jangan sampai ada yang terlewat. Aku tidak ingin berutang apa pun padamu, apalagi soal urusan perut dan anak itu."
"Oke, aku anggap ini uang muka. Akan kuberikan rincian biaya hidup di Bogor yang setara dengan Jakarta. Sekarang mandilah, aku tidak suka melihatmu berantakan."
Rey berbalik dan mendekati Lana, lalu menggodanya dengan sindiran cabul tentang kejadian semalam. "Kau lucu sekali. Bilang aku berantakan, tapi kau menahanku pergi dan berakhir dengan membuatmu mendesah." senyum nakalnya mengembang.
Wajah Lana mendadak panas, namun ia tetap berusaha menjaga ekspresi datarnya. Ia melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti, menatap tajam tepat ke manik mata Rey tanpa sedikit pun rasa gentar.
Itu namanya kewajiban, Rey. Dan jika kau merasa hebat hanya karena itu, kau salah besar," ucap Lana dingin sambil menepuk-nepuk dada bidang Rey pelan, seolah sedang membersihkan debu.
"Sekarang masuk, atau kau tidak akan mendapat jatah sarapan, apalagi jatah lainnya." Lana menaikkan satu alisnya.
"Buatkan kopi. Aku biasa menikmati pagi di teras dengan kopi hitam pekat dan gula seperempat sendok teh."
"Mudah saja, asal mandi dulu. Tidak mandi, tidak ada kopi," peringat Lana sambil melenggang santai menuju dapur membawa belanjaannya.
Rey mencebik kesal sembari mengacak rambutnya yang awut-awutan. Meski kesal karena diperintah, aroma tubuh Lana yang baru mandi justru membuatnya takluk. "Dasar wanita keras kepala," gumamnya.
Bersabung......
