Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Gangguan Setelah Bercinta

Tak butuh waktu lama, Rey langsung mengangkat tubuh ramping Lana yang sudah setengah telanjang dengan gaya bridal style. Terkejut dengan gerakan yang begitu tiba-tiba, Lana memekik kecil, refleks mengalungkan tangannya ke leher kokoh Rey saat pria itu membawanya dengan langkah lebar menuju kamar.

Rey menendang pintu kamar hingga terbuka, lalu merebahkan Lana ke atas kasur tanpa melepaskan kontak mata yang membara. "Jangan pernah coba-coba menghentikanku setelah ini."

"Tidak akan, Rey" Jawab Lana menyakinkan Rey, suaminya.

Rey melepas kaus dan celananya, menyisakan boxer hitam yang membungkus bagian pribadinya. Lana menelan ludah dengan susah payah. Ia ingat betul bagaimana ukuran itu mengoyak selaput daranya tempo hari; rasa perih seolah tubuhnya terbelah masih terekam jelas dalam ingatannya.

"Jangan terlalu keras, milikku masih sakit," pinta Lana cemas, menatap Rey dengan pandangan memohon pengertian di tengah badai gairah yang menyelimuti pria itu.

Rey membuka pengait bra Lana dengan satu tangan, lalu mengecup keningnya lembut. "Aku akan pelan, Lan. Percayalah, aku tidak akan menyakitimu lagi."

Rey menarik napas dalam, membiarkan jemarinya menelusuri lekuk pinggang Lana dengan posesif. Suasana kamar yang remang menciptakan bayangan eksotis pada kulit mereka yang bertemu. Lana meraih kotak kecil di nakas, jemarinya sedikit gemetar saat mengeluarkan isinya.

"Sini, biar aku yang pasangkan," bisik Lana.

Sambil memberikan tatapan menggoda yang mengunci fokus Rey, Lana pura-pura kesulitan merobek kemasannya dengan gigi, namun sebenarnya ia menggunakan kuku tajamnya untuk memberikan torehan mikroskopis di ujung karet tersebut—sebuah sabotase halus yang tak akan disadari oleh pria yang sedang dikuasai nafsu itu. Setelah memastikan lubang kecil itu ada, ia memasangkannya pada milik Rey dengan gerakan lambat yang justru menyulut api gairah suaminya semakin membara.

Rey mengerang rendah, tak lagi mampu menahan diri. Ia menindih tubuh Lana, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang menuntut sekaligus memabukkan. Setiap sentuhannya kini terasa lebih lembut namun intens, seolah ingin membuktikan janjinya untuk tidak menyakiti.

Lana melenguh, merasaka sensasi panas yang menjalar di seluruh sarafnya saat Rey mulai memasuki dirinya dengan perlahan, menciptakan ritme emosional yang menyatukan raga dan ego mereka dalam satu malam yang panjang.

Rey membenamkan wajahnya di ceruk leher Lana, deru napasnya memburu selaras dengan gerakan pinggulnya yang semakin dalam. "Kau milikku malam ini, Lana... seutuhnya."

Keputusan Rey untuk lebih memilih santapan batin daripada sekadar ragawi terbukti tepat. Suasana kamar kian memanas saat ia terus mengganti posisi hingga ke side-lying dari belakang. Rey terus menghujamkan miliknya dengan ritme yang dalam, sementara kedua tangannya memeluk erat tubuh sang istri dari belakang, seolah tak ingin membiarkan ada celah sedikit pun di antara mereka.

Satu tangan kokohnya menangkup dada Lana dengan posesif memberi remasan lembut dan memilin, sementara tangan lainnya turun memberikan rangsangan intens pada area intim Lana.

Sentuhan yang ahli itu membuat Lana melengkungkan punggung, meremas sprei dengan napas yang terputus-putus. Sensasi gempuran dari belakang dan stimulasi di depan menciptakan gelombang kenikmatan yang nyaris tak tertahankan bagi Lana.

Tak puas dengan posisi itu, Rey beralih ke gaya konvensional, misionaris. Ia memberikan stimulasi intens disertai ciuman panas dengan lidah yang saling membelit. Tatapan mata keduanya terkunci rapat, menciptakan suara-suara ambigu yang memenuhi kamar hingga mereka mencapai orgasme secara bersamaan.

Rey ambruk di atas tubuh Lana dengan napas memburu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri yang basah oleh keringat. "Sial, kau benar-benar membuatku hilang kendali, Lan."

"Aku bilang juga apa? Di rumah denganku jauh lebih menyenangkan," cibir Lana sambil tersenyum penuh arti dan percaya diri, tepat saat Rey menarik karet yang tidak ia sadari telah bocor.

Rey menyeka keringat di dahinya, lalu mengecup bahu Lana dengan napas yang masih memburu. "Diamlah. Jangan membuatku menyesal karena telah membatalkan janji malam ini."

Terdengar suara pintu dibuka dengan kunci. Rey baru ingat jika Kimmy memegang kunci cadangan rumahnya. Ia langsung menyambar kimono di lemari Lana dan keluar sebelum Kimmy sempat memeriksa setiap ruangan.

Bukan karena takut Kimmy cemburu, melainkan demi mencegah keributan antara istri dan sahabatnya itu.

Dengan sisa gairah yang masih membekas dan wajah lelah namun puas, Rey menyeka keringat di dahinya. Di depannya, Kimmy menatap curiga karena Rey baru saja keluar dari kamar tamu yang ditempati istri sirinya. Rey memasang wajah datar, seolah siap menghadapi pertanyaan apa pun.

"Rey..., kalian?"

Rey mengeratkan ikatan kimononya dengan santai, menatap Kimmy dingin. "Dia istriku, Kim. Tak ada yang salah. Ada apa kau kemari malam-malam begini?"

Kimmy mengepalkan tangan, matanya memerah menahan amarah yang meledak. "Kau membatalkan janji demi wanita ini? Tega sekali kau mengkhianatiku hanya untuk pemuasan nafsu sesaat!"

Suara perempuan di luar kamar membuat Lana penasaran. Ia segera menyambar gaun tidur tipisnya yang provokatif, sengaja ingin memprovokasi kekasih gelap Rey tersebut.

Lana melangkah keluar dengan santai, membiarkan rambutnya yang berantakan dan bekas kemerahan di lehernya terlihat jelas. Ia bersandar di pintu kamar, menatap Kimmy dengan senyum kemenangan yang tipis.

"Oh, ada tamu malam-malam sekali," Lana tenang, suaranya sengaja dibuat serak khas orang baru bangun tidur. "Maaf ya, Rey sedang sangat lelah karena kami baru saja bisa beristirahat."

Kimmy terengah, wajahnya memucat melihat penampilan Lana yang begitu berantakan namun sensual. "Kau... dasar wanita murahan! Kau pasti menjebaknya lagi!"

Lana melangkah maju menghampiri wanita itu. Ia tidak tahu apa status sebenarnya bagi Rey, namun kedudukannya sebagai istri membuatnya merasa jauh di atas seorang teman dekat.

"Sebaiknya kau berkaca. Kau sedang mengganggu suamiku. Jadi, siapa di sini yang sebenarnya murahan?"

Kimmy tertawa sinis sambil menggoyangkan kunci cadangan di depan wajah Lana. "Kau hanya istri siri, tapi aku punya akses ke seluruh hidupnya sejak lama. Kau tidak akan pernah memiliki hatinya!"

Lana yang tersulut emosi langsung merampas kunci itu dari tangan Kimmy dan mendaratkan tamparan keras hingga wajah wanita itu terlempar ke samping.

PLAKK!!

Rey langsung mencengkeram pergelangan tangan Lana dengan kuat, tatapannya menyalang penuh peringatan. "Cukup, Lana! Jangan lancang menyentuhnya. Kau sudah keterlaluan!"

Tanpa memedulikan tatapan tak percaya istrinya, Rey berbalik masuk ke kamar Lana menyambar baju dan kleuar lalu merangkul bahu Kimmy yang masih terisak memegang pipinya. Ia membawa Kimmy keluar, masuk ke dalam mobil wanita itu, dan pergi meninggalkan halaman rumah tanpa menoleh lagi.

Lana berdiri mematung di ambang pintu, merasakan perih di pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman Rey. "Sialan kau, Rey. Kau lebih memilih dia setelah apa yang kita lalui semalam?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel