Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Penawaran Menarik

Rey refleks menarik tangannya, Ia berkali-kali membuang muka, tak nyaman melihat busana Kimmy yang terlalu terbuka untuk tempat umum. "Jangan membahasnya, Kim. Aku ke sini karena ingin menjernihkan pikiran, bukan untuk diinterogasi."

"Aku hanya cemas, Rey. Bagaimana jika wanita itu menjebakmu lagi?" Kimmy mencoba kembali menyentuh bahu Rey, namun pria itu justru sibuk memeriksa ponselnya.

"Dia sudah di rumah. Tugasku hanya memastikan kontrak ini selesai," jawab Rey, sembari membayangkan mata amber Lana yang tadi menatapnya memohon.

"Kita sambil makan, ya. Aku yakin di acaramu tadi kamu tidak makan sama sekali. Steak wagyu medium rare, kan?" Rey mengangguk, sementara Kimmy tersenyum puas karena hafal betul kesukaan pria itu.

Rey membuang napas berat. "Terima kasih, Kim. Setidaknya hanya kau yang tidak menambah beban pikiranku malam ini."

"Bagaimana kalau malam ini kita ke Rocket Bar? Tempat favorit kita biasa minum. Setelah itu, kita ke apartemenku saja, motormu biarkan terparkir di sana," tawar Kimmy dengan nada menggoda.

"Aku setuju, tapi aku harus pulang dulu untuk menaruh motor," jawab Rey datar.

Kimmy menatap Rey dengan dahi berkerut. "Kenapa? Kamu masih mau kembali ke rumah yang ada wanita itu?"

"Memang kenapa? Kami beda kamar, kami tidak akan bersinggungan sama sekali," balas Rey, mencoba menegaskan batas yang ia buat di rumahnya sendiri.

"Oke, kalau begitu nanti malam aku jemput." Kimmy tersenyum puas, merasa berhasil memenangkan waktu Rey lebih lama.

****

Di apartemennya, Lana mengambil beberapa perlengkapan pribadi, tak lupa alat salat dan Al-Qur'annya. Rencananya, setelah ini ia akan berbelanja kebutuhan dapur untuk mengisi kulkas Rey, mengingat isi kulkas suaminya sangat minimalis, tidak sebanding dengan ukurannya yang besar dengan empat pintu.

Saat berbelanja di minimarket, ia bertemu secara tidak sengaja dengan Intan dan Roy.

"Wah, pengantin baru belanja sendirian? Suaminya ke mana, Adik Ipar?" tanya Intan sambil tersenyum penuh arti, sementara Roy berusaha mencegahnya dengan gelengan samar.

Lana menatap Intan tenang sambil mengangkat belanjaannya. "Rey sedang sibuk dengan urusan penting. Tak perlu khawatir, kemandirian adalah keahlianku jauh sebelum kalian menikah." ucapnya santai sambil berlalu.

Lana pulang ke rumah dengan mobilnya sendiri. Ia segera membuka bagasi yang penuh dengan belanjaan. Motor sport Rey sudah terparkir di carport, dan pria itu tampak menunggunya sambil berdecak kesal.

"Lama sekali, kukira kau kabur."

"Kenapa kalau aku kabur? Itu yang kau harapkan, bukan? Tenang saja, aku akan mundur teratur jika memang tidak hamil."

"Bagus kalau begitu, aku tidak perlu menghadapi rengekan dramamu untuk meneruskan hubungan ini. Aku mau pergi malam ini."

"Oh, pergi? Kalau begitu... tolong angkat dua kantong belanja di bagasi ya, Rey. Aku tidak mau kelaparan selama sebulan di sini," sindir Lana halus karena Rey memang belum membicarakan soal nafkah.

Rey mendengus, Ia keluar lalu mengangkat belanjaan itu dengan kasae. "Berhenti menyindir soal nafkah, aku tidak akan membiarkanmu mati."

"Aku pulang besok pagi, jangan menungguku."

"Tidak pulang? Kau pergi dengan siapa malam Minggu ini, kekasihmu?"

"Bukan urusanmu. Kita sudah sepakat soal itu sampai kontrak ini selesai."

"Tapi aku wajib tahu, meski hanya istri sirimu. Baiklah, kalau begitu. Aku tadi beli ini, bawa untuk berjaga-jaga. Siapa tahu kau akan making out dengan gadis sembarang di luar sana."

Lana menyerahkan karet pengaman ke telapak tangan Rey dan memaksanya untuk menggenggam benda itu.

"Aku tidak mau ada gadis yang tiba-tiba meminta pertanggungjawabanmu. Jika nanti aku benar hamil, karena akulah yang berhak menyandang gelar istri sahmu."

Rey menatap benda itu dengan rahang mengeras, lalu melemparnya kasar ke meja dapur marmer. "Simpan kegilaanmu, Lan. Aku tidak serendah itu untuk merusak diriku sendiri."

Menghadapi suami yang keras kepala bukan dengan konfrontasi. Sebagai wanita yang lebih dewasa dan pialang cerdas, segala risiko harus dipikirkan matang-matang.

​"Aku punya penawaran untukmu. Apa yang harus kulakukan agar suamiku tetap di rumah malam ini? Katakan saja..."

Lana melangkah mendekat, memangkas jarak hingga aroma parfumnya yang lembut mulai mengusik Rey. Ia merapikan kerah jaket kulit suaminya dengan gerakan perlahan yang disengaja.

"Temani aku makan malam ini saja, Rey. Aku sudah membeli bahan makanan. Jika masakanku tidak enak, kau boleh pergi dan aku tidak akan melarangmu lagi menemui siapa pun malam ini," bisiknya dengan tatapan amber yang mengunci netra Rey.

Rey tertegun, merasakan desiran aneh saat jemari Lana menyentuh dadanya. "Hanya makan malam, setelah itu jangan harap aku akan tetap tinggal di sini."

"Lebih dari sekadar makan malam juga boleh, Kenapa tidak? kita sudah sah sebagai suami istri. Kau bisa memakai benda itu agar aku tidak hamil," goda Lana sambil menunjuk karet pengaman di atas meja marmer dengan kerlingan nakal.

Suasana di dapur yang tadinya tegang mendadak berubah panas. Lana sengaja memancing Rey, namun Ia tidak menggunakan kemarahan, melainkan pesona dewasanya yang sulit diabaikan.

Rey menarik pinggang Lana hingga tubuh mereka bertabrakan, napasnya menderu di depan wajah istrinya. "Kau sedang menantang api, Lana. Jangan menyesal jika malam ini berakhir tanpa celah untukmu bernapas."

"Aku tidak akan menyesal karena kau suamiku." Lana perlahan melucuti jaket kulit Rey, menyisakan kaus hitam ketat yang membungkus tubuh atletis dengan otot-otot liat.

Jemari Lana mengusap lembut bahu lebar itu, lalu turun ke dada bidang Rey yang kokoh layaknya mahakarya patung dewa Yunani. Tatapan ambernya semakin dalam, sementara pikiran nakal mulai menyeruak di kepalanya. Rey benar-benar berbeda dari Elroy, mantan kekasihnya. Pria di hadapannya ini jauh lebih tampan, tinggi, dan memiliki daya tarik magis yang membuat Lana tak henti berdecak kagum dalam hati.

Rey menyeringai tipis, mencengkeram tengkuk Lana dan membisikkan kata-kata yang memburu di telinganya. "Baiklah, sebaiknya kita jangan membuang waktu, sayang."

"Mana ponselmu? Matikan. Aku tidak mau ada gangguan saat kau menyetubuhiku," pinta Lana.

Tanpa kata, Rey menyeringai dan menuruti permintaan Lana. Ia menyambar karet pengaman itu, membuat Lana tersenyum puas. Lana kemudian melangkah mundur, memberikan umpan provokatif dengan membuka kemeja bermotif Hawai yang dikenakannya hingga menyisakan seamless bra berwarna nude dan rok selutut.

Mata Rey menggelap, menatap lapar lekuk tubuh di depannya yang tersaji tanpa cela. Hasratnya meledak seketika; ia menyambar pinggang Lana, mengangkatnya ke atas meja marmer, dan mencium leher istrinya dengan kasar namun penuh damba. "Kau benar-benar tahu cara memancing iblis dalam diriku, Lana." gumamnya.

Lana mencengkeram french rambut crew top hair style rey dan desahan lolosan ketika Rey memberikan gigitan kecil disertai jilatan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel