2. Berjaga-Jaga
"Hanya untuk berjaga-jaga sampai masa periodenya datang. Jika dia benar hamil, baru aku akan menikahinya secara resmi. Jadi adil, bukan? Jika siri, tak ada status janda atau duda yang tertinggal di antara kami."
Sepenggal ingatan berkelebat tentang malam itu muncul dan buyar ketika Rey bangkit berdiri menuju meja tempat Dian, Tiara, Dinda, dan Lana berada. Namun, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari sahabatnya, Kimmy.
"Halo..."
"Akhirnya kau angkat juga setelah spam chat-ku cuma kau baca. Sibuk sekali sampai lupa sahabat sendiri," sindir Kimmy.
"Ada apa?"
"Bagaimana? Kau bahagia?"
"Jangan bertanya jika kau sudah tahu jawabannya, Kim," jawab Rey tajam.
"Baiklah, baiklah. Oh ya, nanti malam jadi, kan?"
"Akan kuusahakan. Sudah, ya," tutupnya sepihak sambil melangkah menghampiri Lana.
"Kamu masih mau di sini atau pulang bersamaku?" tanyanya tanpa basa-basi, bahkan tanpa memanggil nama Lana di depan Tiara, Dian, dan Dinda.
Lana menatap Rey tenang, lalu berdiri perlahan. "Aku ikut denganmu. Mari kita selesaikan ini di rumah saja, Rey."
Dian mengusap lengan Rey lembut. "Pulanglah, istirahat. Jaga istrimu baik-baik, jangan biarkan amarah mengalahkan akal sehat kalian malam ini."
Rezza, ayah Lana, mendekat dan menyodorkan sebuah amplop tipis. "Hadiah untuk kalian, mungkin tidak seberapa. Tapi bisa kalian gunakan untuk bulan madu di dalam negeri."
Rey menerima amplop itu tanpa ekspresi, hanya mengangguk formal sebagai bentuk rasa hormat yang tersisa. "Terima kasih, Om. Sepertinya kami belum terpikirkan untuk liburan."
Lana menyentuh lengan ayahnya lembut, mencoba menutupi kecanggungan suaminya dengan senyum tipis. "Terima kasih, Papa. Hadiah ini sangat berarti bagi awal pernikahan kami ini."
Setelah berpamitan, Lana menarik kopernya dengan susah payah. Ia yang mengenakan gamis pengantin panjang berwarna putih itu tampak sangat kesulitan melangkah.
Leon yang peka langsung mengambil alih koper tersebut. "Dasar tidak peka! Jika kau tidak suka pada adikku, setidaknya bantulah dia sedikit. Bagaimana kalau Lana sekarang sedang hamil?"
"Mas Leon, sudahlah," bisik Tiara sambil menggendong putri kecilnya, Debby, dan menepuk bahu sang suami agar lebih bisa menahan diri.
Di dalam mobil, suasana terasa hening dan canggung. Lana hanya menatap ke luar jendela. Ia tidak bertanya ke mana Rey akan membawanya, yang ia tahu, Reyner sudah memiliki rumah sendiri di perbatasan Jakarta-Bogor.
Tiba-tiba Lana ingin memastikan sesuatu. "Rey, kamu benar tidak membolehkan aku kerja?"
"Kau sudah tahu jawabannya."
"Tapi, Rey... pialang itu adalah hidupku. Aku mati-matian membangun karier selama lima tahun hingga sampai di posisi ini."
"Kalau kau tahu perjuanganmu, kenapa tidak kau pikirkan sebelum berbuat segila ini padaku, Lan? Ingat, aku hanya ingin memastikan jika kau benar hamil, itu adalah anakku. Bukan benih dari pria lain karena kupastikan, kita tidak akan bercinta lagi setelah malam itu."
Lana mengepalkan tangan, menelan pahitnya kenyataan bahwa ambisinya kini terbelenggu. "Aku tidak semurah itu, Rey. Kesalahan malam itu tidak memberimu hak untuk menghina kehormatanku."
"Kalau begitu, turuti perintahku. Aku suamimu. Sekarang bersiaplah, kita hampir sampai. Dan ambil kopermu sendiri, jangan manja!"
Reyner membuka bagasi mobil. Lana menurunkan kopernya dengan hati-hati sambil mengusap peluh, tampak masih sangat tidak terbiasa dengan busana gamis panjangnya yang menjuntai.
Saat hendak menarik kopernya, kaki Lana terbelit ujung roknya yang panjang. Ia limbung dan hampir tersungkur ke aspal kasar, namun dengan sigap satu tangan kokoh Rey menangkap pinggangnya. Tubuh mereka merapat seketika, menciptakan keheningan yang menyesakkan di tengah deru angin sore.
Rey terpaku saat tatapannya jatuh tepat pada sepasang bola mata amber milik Lana yang besar dan tampak berkaca-kaca. Detik itu, amarahnya seolah terdistraksi oleh kecantikan yang selama ini ia benci. Suasana mendadak canggung; Rey segera melepaskan dekapannya dan berdeham kaku, membuang muka demi memutus kontak mata yang sempat membuat jantungnya berdegup tak beraturan.
"Akan kubawa koper ini, cepat masuk." Lana berjalan di belakang Rey sambil sedikit mengangkat gamisnya.
"Ini kamarmu. Kita tidak sekamar. Jangan masuk ke kamarku, ingat itu."
"Ya, aku tahu," jawab Lana malas berdebat.
Ia kemudian masuk ke kamar minimalis tersebut. Tak banyak perabotan namun terasa nyaman dengan kamar mandi di dalamnya. Lana melepas baju serta hijab, lalu mengurai rambut ikal panjangnya yang mencapai punggung sebelum membersihkan riasan wajahnya yang semula tampak sempurna.
"Ah, sudah bersih." Lana membuka koper dan mencari baju yang nyaman, namun tiba-tiba ia tersadar telah melupakan skincare dan peralatan salatnya yang masih tertinggal di apartemen Jakarta.
"Aduh, bagaimana ini?"
Tak lama, suara derap langkah tergesa terdengar dari lorong. Sebuah ide dadakan muncul di kepala Lana. Ia segera menyergap saat Rey melintas dengan penampilan yang sudah berubah; memakai jaket dan sarung tangan kulit.
"Rey, tunggu! Mau ke mana?" Lana menahan lengan kokoh suaminya yang lebih muda dua tahun itu.
"Keluar!"
Dengan ragu, Lana membuka suara. "Aku mau menumpang."
"Aku naik motor, kau tidak akan nyaman."
"Siapa bilang? Justru itu seru. Aku ingin ke apartemen mengambil skincare dan beberapa baju," Lana mencoba bernegosiasi.
Rey melepas pelan tangan Lana dari lengannya. "Kau bisa naik taksi. Lagi pula kau cuma sementara di sini sampai dinyatakan hamil. Buat apa bawa baju banyak?"
Lana mendengus, melipat tangan di dada dengan tatapan menantang. "Taksi tidak praktis sore begini. Antarkan saja, atau aku akan terus mengganggumu."
Rey menatap Lana yang kembali ke tampilan aslinya tanpa hijab; rambut caramel brown yang berkilau serta mata besar amber yang memohon dengan mode puppy eyes. Hal itu sempat membuatnya tertarik akhir-akhir ini, terutama setelah pengakuan Lana tentang darah Lebanon yang mengalir di tubuhnya saat kegiatan mendaki mereka. Namun, buru-buru Rey menggelengkan kepala, mengumpulkan kewarasan tentang bagaimana wanita ini memiliki segudang akal licik hingga menyeretnya ke depan penghulu.
"Tidak!" jawabnya tegas. "Oya, ingat jangan ikut campur urusanku." ucap Rey tegas sambil memundurkan langkah dan menyilangkan tangan sebagai tanda keputusan final.
"Jangan lupa kunci pintunya, aku bawa kunci cadangan."
Lana berdecak kesal sambil meninju udara. "Ah, sial! Dia mengabaikanku. Baiklah, aku akan naik taksi ke Jakarta dan membawa mobilku ke Bogor supaya bisa mandiri. Oke! Mandiri? Aku bisa kok," ucapnya sambil menyingsingkan lengan baju dengan perasaan kesal tak terbendung.
****
Rey menyandarkan punggung di kursi fancy cafe dengan wajah keruh. Meski tampak suntuk, ketampanan pria setinggi 188 cm itu tetap memikat, membuat Kimmy yang duduk di hadapannya tak henti mencuri pandang.
"Jadi, sekarang kau benar-benar menjadi suami orang nih?" Kimmy menggeser duduknya, lalu mengusap punggung tangan Rey dengan lembut.
