Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

1. Nikah Siri

Ruang tengah kediaman Leon Prasetya di Kota Bogor terasa sesak, seolah oksigen di sana ikut menipis karena ketegangan yang memuncak. Di dunia bursa, Lana Asteria (27) seorang pialang terbiasa menghadapi grafik yang naik turun secara ekstrem. Namun kali ini, di hadapannya, Reyner Alaric (25) adik kandung sang mantan sedang mengucapkan kalimat yang akan mengubah hidup Lana selamanya. Ini adalah kesepakatan pahit untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Rey yang terjebak oleh skenario busuk Lana.

​"Saya terima nikah dan kawinnya Lana Asteria binti Rezza Aditya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Rey. Suaranya dingin, namun menyimpan bara yang siap membakar apa pun di dekatnya.

​"Sah?"

"Sah."

​Rey menoleh sekilas, tatapannya tajam seperti silet yang mengiris harga diri Lana. Tidak ada binar bahagia; yang ada hanyalah janji bisu bahwa Rey akan menagih "hutang" harga dirinya pada Lana setiap harinya, di setiap sudut rumah mereka nanti.

​Setelah ijab kabul yang singkat itu, Lana menepi ke teras samping. Ia butuh udara pegunungan Bogor yang dingin untuk mendinginkan otaknya yang terbiasa menghitung angka saham, namun kini macet total menghadapi kenyataan.

​"Lana..."

​Itu Dian, ibu mertuanya. Wanita yang dulu begitu menyayangi Lana saat ia masih menjalin kasih dengan Roy. Dian menyodorkan sepiring nasi dan sup hangat dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Makanlah, Sayang. Kamu harus kuat jika memang benar ada benih Rey di rahimmu."

​Lana tersenyum getir, menerima dan mengaduk supnya tanpa selera. "Terima kasih, Ma. Tapi ini hanya pernikahan 'jaga-jaga'. Jika dalam sebulan aku tidak hamil, kontrak siri ini berakhir. Begitu perjanjiannya dengan Rey."

​Dian terdiam sejenak, lalu merogoh saku gamisnya dan mengeluarkan sebuah blister obat berwarna merah muda. "Simpan ini. Ini vitamin kesuburan dengan asam folat tinggi."

​Lana tersentak. Detik itu juga, insting pialangnya bekerja negatif.

Apa benar ini vitamin kesuburan? bagaimana jika sebaliknya, dia tidak ingin aku hamil? Dia ingin aku pergi setelah masa kontrak selesai? Lana menatap Dian dengan tatapan keruh dan penuh selidik.

​"Jangan salah paham," sela Dian lembut, seolah bisa membaca pikiran liar menantunya. "Mama justru ingin kalian berhasil. Mama ingin Rey belajar bertanggung jawab, dan kehadiran seorang anak adalah satu-satunya cara melunakkan keras kepalanya. Anggap ini investasi masa depanmu, Lana."

​Lana terpaku. Rasa malu menghantamnya begitu telak. Ternyata di tengah keluarga Julian yang penuh kepalsuan dan pengkhianatan Roy, masih ada satu tangan yang tulus merangkulnya. Ia memeluk Dian erat, menghirup aroma ketenangan yang sudah lama hilang dari hidupnya.

"Terima kasih banyak, Mama. Lana akan menyimpannya," ucap Lana sambil menyelipkan benda itu ke dalam gamis pengantinnya yang anggun.

​"Sekarang makanlah dulu. Mama temani." Lana mengangguk dan mengulas senyum.

****

Di sudut lain, Intan (23) tampak tak suka melihat kedekatan ibu mertuanya dengan sang ipar yang dulu adalah rivalnya. Aroma persaingan terasa semakin nyata. Terlebih lagi, Intan ingat saat awal menikah dengan Elroy (30) karena perjodohan, Dian pernah memujinya meski hanya tipis-tipis.

"Mas Roy..."

"Apa, Intan? Masih mau tambah cocktail?"

"Bukan. Ini tentang posisi Lana yang semakin dekat dengan kita sebagai ipar."

"Maksudmu?"

"Dia kan mantan pacarmu..."

"Masih membahas itu lagi?"

"Ya tetap saja jengkel. Awal kita nikah kan kamu belum sepenuhnya menerimaku. Bahkan kamu masih memberi harapan pada Lana bahwa pernikahan kita hanya sementara."

Roy menghela napas, mengingat fakta perih yang dirasakan istrinya. Ia menggeser duduknya mendekat ke arah Intan sambil menjaga kontak mata yang paling jujur. "Aku tahu kamu bosan dengan permintaan maafku. Tapi ketahuilah, itu karena aku memang belum bisa menerimamu saat itu. Seiring berjalannya waktu aku sadar, perjodohan kita adalah hal yang paling kusyukuri meski aku terlambat."

"Tapi bagaimana jika Lana hamil duluan daripada aku yang sudah menjadi istrimu satu tahun, Mas?"

Roy tertegun, rahangnya mengeras sesaat sebelum ia menggenggam tangan Intan. "Itu takkan terjadi. Fokuslah pada kita, jangan biarkan obsesi Lana merusak kebahagiaan yang baru kita bangun."

****

Saat Lana bersama Dian, Tiara kakak iparnya datang menyapa. Mereka berbincang hangat sampai situasi berubah ketika Dinda, istri kedua Rezza, menghampiri.

Perempuan bergaya sosialita itu mencoba sok akrab dengan sang besan.

"Halo, Mbak Dian. Kapan-kapan mainlah ke Surabaya. Nanti saya ajak arisan dengan teman-teman sosialita saya," ucapnya sambil mengibaskan rambut panjang seolah memamerkan aromanya.

Lana dan Tiara hanya saling pandang, seolah sangat paham tabiat istri Rezza ini.

Dian tersenyum tipis dan formal. "Terima kasih tawarannya, Jeng. Tapi jadwal saya cukup padat dengan kegiatan yayasan dan keluarga di sini."

"Baiklah tak apa, Mbak Dian. Eh ngomong-ngomong, saya senang silaturahmi keluarga Julian dan Rezza Aditya tidak terputus. Berkat kegigihan anak tiri saya yang berusaha menyambung dengan Reyner setelah hubungannya dengan Elroy Julian kandas." Ucapnya tertawa penuh arti, seolah mengejek usaha Lana menjebak Rey. "Ah sudahlah ya... namanya juga anak-anak." Pungkasnya.

Tiara mengepalkan tangan di bawah meja, matanya menatap Dinda dengan tajam seolah ingin membungkam mulut wanita itu detik itu juga.

Lana tetap tenang, ia menyesap minumannya perlahan meski sorot matanya yang dingin mengisyaratkan bahwa Dinda baru saja memulai permainan yang salah.

Dian hanya tersenyum tipis, menjaga martabatnya dengan ketenangan luar biasa yang justru membuat tawa meremehkan Dinda terasa hambar dan murahan.

****

Sementara di sudut lain, Rey tampak lesu dan tak bersemangat. Ia merasa dikhianati; Lana benar-benar licik. Ia ingat bagaimana mantan kekasih Roy itu tiba-tiba menjadi anggota baru di komunitas mendakinya. Sialnya, kebaikan Rey disalahgunakan Lana yang menjebaknya di sebuah vila area hutan pinus Jawa Barat dengan mencampurkan obat perangsang.

Rey tidak curiga karena Lana selalu memberikan botol air mineral yang masih tersegel. Namun nyatanya, minuman itu membuatnya liar hingga menyeret Lana ke kamar. Paginya, seseorang melapor kepada Leon, kakak Lana, yang kemudian menggerebek keduanya. Leon bahkan sempat menampar Lana karena malu dan memberi bogem mentah pada Rey. Singkat cerita, Leon menuntut tanggung jawab penuh.

"Kau harus menikahi Lana secepatnya!"

"Tapi, Bang! Aku merasa Lana menjebakku. Semalam dia memberiku minuman dan aku merasa hasratku naik tidak wajar. Aku tak pernah begini sebelumnya, meski berdekatan dengan adikmu."

"Aku tidak peduli siapa yang salah. Lana itu wanita, kesuciannya telah kau ambil!" Leon menunjuk seprai putih dengan noda darah keperawanan Lana. "Bagaimana jika adikku hamil?"

"Oke, aku akan menikahinya. Tapi secara siri!"

"Apa katamu, Siri? Kau gila, hah??" ucap Leon tak percaya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel