4. Pergi ke klinik
Beberapa rekan kerja Rima melihat kondisinya kurang baik.
“Mbak, wajahmu pucat, kamu sakit?”
“Aku nggak tahu, entah kenapa perutku rasanya agak mual.”
“Apa mungkin salah makan? Sebentar lagi pesawat lepas landas-”
“Aku baik-baik saja Rin, sudah kamu lanjut kerja, aku sudah minum obat di pangkalan tadi.”
Ririn mengangguk seraya menepuk bahu Rima.
Rima bekerja seperti biasa, dia berada di kabin eksekutif. Di sebuah kursi duduk seseorang yang pernah dia kenal belum lama ini.
Ketika Rima melintas di sampingnya, pria itu tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya. Rima tidak melihat siapa yang memeganginya, dia mundur selangkah. Melihat sepatu yang dipakainya Rima tahu penumpang tersebut adalah pria dewasa.
Rima menarik tangannya perlahan seraya bertanya dengan ramah, “Ada yang bisa saya bantu, Bapak?”
“Kamu sangat berbeda saat di pesawat dan di darat.”
Rima mendengar suaranya. Darahnya terasa membeku, Rima menahan napas sesaat. Suara itu pernah dia dengar beberapa minggu lalu. Bukan hanya suaranya tapi juga sosoknya yang paling ingin dia hindari sejauh mungkin. Rima tidak ingin terlibat lagi dengannya.
Rima sedang bekerja sekarang, dia juga tidak mungkin memperlakukan Niko seperti saat mereka bertemu di luar pesawat.
“Ada yang bisa saya bantu, Bapak?” Rima kembali bertanya dengan senyum lembut dipaksakan.
“Oh, iya, ini tali pengaman pinggangku sepertinya longgar. Bisakah Mbak bantu memasangkannya?”
Rima membungkuk, sebelum melakukannya dia menarik napas sejenak.
Niko tahu Rima enggan melakukannya. Niko beringsut mendekat dan hampir mencium pipinya.
Rima melotot dan melengos ke arah lain. Dia ingin melakukannya dengan cepat lalu langsung pergi.
Spontan Niko menggenggam lengannya.
“Aku tahu aku sudah kelewat batas, aku minta maaf, tapi tolong beri aku waktu setelah pesawat mendarat aku ingin-”
Rima kembali menarik tangannya dengan lembut, kali ini Niko tidak berniat membiarkannya lepas. Tindakannya hampir membuat Rima terjungkal jatuh ke atas pangkuannya.
“Rima, ada yang bisa kubantu?” tawar seorang pramugara dari belakangnya.
Niko spontan melepaskan genggaman tangannya, dia melihat pria tampan dengan tubuh proporsional. Usianya mungkin tidak jauh dari usia Niko sendiri.
Rima menoleh.
“Sudah selesai, aku baik-baik saja.”
Alan menganggukkan kepalanya. Dia heran karena tidak biasanya Rima bersikap seperti itu dengan penumpang di kabin. Dari yang dilihatnya tadi sepertinya penumpang tersebut mengenalnya dan sengaja membuat Rima dalam situasi tersebut.
Tiba-tiba Rima merasa ingin muntah, dia pergi ke toilet. Karena terburu-buru Rima tidak mengunci pintu.
Seseorang di belakangnya mengambil tisu dan mengulurkan padanya. Rima menerimanya tanpa melihat siapa orang tersebut.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Suara itu... Rima mengepalkan tangannya. Dia tidak menjawab dan berniat langsung keluar. Tapi Niko tidak membiarkan Rima pergi, pria itu berdiri membelakangi pintu.
“Niko, aku sudah memutuskan tidak akan terlibat lagi denganmu. Beberapa minggu ini aku menjalani hari yang tenang seperti biasa tapi kenapa kamu tiba-tiba datang? Asal kamu tahu aku sudah menikah.”
Niko menarik napas berat. “Aku tahu, aku datang untuk minta maaf,”
“Aku sudah memaafkanmu, oke? Mulai detik ini jangan mencariku lagi.”
Rima ingin menyelinap keluar dan melewatinya, Niko menggenggam bahu kanan Rima dan memutar posisi mereka berdua sehingga Rima yang kini berdiri memunggungi pintu.
“Apa lagi?”
Niko mengukir senyum lalu merogoh saku bajunya, dia ingin memasangkan name tag milik Rima tapi Rima langsung menepis tangannya hingga benda tersebut jatuh di lantai.
“Tidak perlu.”
“Aku hanya ingin mengembalikannya.” Niko meremas bahunya.
“Aku sudah punya yang baru.”
“Aku sudah ingat semuanya, malam itu aku-”
“Aku tahu kamu mabuk dan salah mengenaliku sebagai mantan pacarmu.” Nada suaranya terdengar dingin, tidak peduli.
Rima menarik genggaman tangan Niko dari atas bahunya. Sebelum dia pergi keluar Niko kembali berkata, “Aku tidak bisa melupakanmu. Aku dihantui rasa bersalah.”
“Kamu bisa menebusnya dengan melupakanku, dan menganggap kita tidak pernah bertemu.”
“Apa kamu manusia? Kamu sangat tidak berperasaan. Jelas-jelas kamu tahu aku patah hati malam itu. Jelas-jelas kamu tahu perasaanku hancur lebur-”
Rima mendengus kesal. “Kamu lebih egois, apa setelah semua yang terjadi kamu pikir kamu bisa menggunakanku sebagai pelarianmu? Aku sudah bilang aku sudah menikah. Jangan menggangguku lagi.” Potong Rima.
“Ini pertama kalinya bagiku, bagaimana mungkin aku bisa melupakannya?” bisiknya.
“Apa kamu ingin aku melanjutkan hubungan tidak masuk akal ini denganmu?”
“Tidak, bukan seperti itu, banyak hal yang ingin aku katakan padamu. Tolong beri aku kesempatan untuk bicara.”
Rima menatap kedua matanya. “Kamu ingin aku memberikan kesempatan? Kamu tahu situasiku. Aku sendiri tidak memiliki kesempatan sama sekali. Apalagi untuk berhubungan dengan pria lain.”
Rima keluar dari dalam toilet.
Niko terdiam. Dia tidak bisa menjawab karena semua yang Rima katakan memang benar. Rima sudah menikah dan dirinya hanya datang sebagai pengganggu.
“Tidak bisakah dia menghiburku? Aku sedang patah hati sejak beberapa minggu lalu,” keluh Niko.
***
Di luar pintu, Alan mematung. Dia mendengar semuanya, tentang keterlibatan dua orang di balik pintu.
Rima? Dia dan selebriti itu sungguh memiliki hubungan? Bukankah dia sebelumnya menolak bercerai dengan Arman. Apa yang terjadi? Kenapa rumit sekali?
“Alan.” Rima menegurnya lantaran mendapati Alan melamun.
“Oh, aku menunggu toilet kosong.”
Rima mengangguk lalu pergi.
***
Ketika turun dari pesawat Rima memutuskan untuk pergi ke klinik. Rasa mualnya sungguh tidak normal, dia hampir tumbang karena tidak bisa mengisi perutnya dengan apa pun.
Niko sudah menunggu, dia memutuskan untuk mengikutinya.
