5. Maafkan aku
Rima tidak tahu kalau dia diikuti oleh Niko.
Pada saat dia memeriksakan diri di klinik umum, dokter yang menanganinya menyarankan Rima pergi ke dokter kandungan untuk memastikan lagi kondisinya. Rima sudah dites dan hasilnya positif hamil.
Dia mendapatkan resep beberapa vitamin dan obat untuk mengatasi rasa mualnya.
Setelah melakukan pemeriksaan Rima duduk kembali di kursi tunggu untuk mengantre obat. Dia melamun dan hampir tidak percaya dengan yang terjadi. Ditambah lagi selama satu minggu belakangan, Helen sering sekali berkunjung ke kediaman Arman. Sopia juga berkata bahwa Arman tidak lama lagi akan segera menceraikannya.
Kenapa harus hamil di saat situasi seperti ini? Sudah dua tahun aku dan Arman tidak pernah melakukan hubungan suami-istri, jadi anak di dalam rahimku ini kemungkinan besar adalah anak... Niko?
Rima menggigit bibirnya, dia meremas kepalanya dengan gelisah.
Di tempat duduk ruang tunggu paling belakang, Niko mengenakan masker dan topi. Dia bisa melihat Rima tidak duduk dengan tenang. Bahkan setelah menerima obat, Rima sepertinya tampak tidak senang dengan hasil pemeriksaan.
Niko ikut gelisah, dia hanya bisa mengikutinya sampai Rima keluar dari dalam klinik karena kehilangan jejak.
Banyak pertanyaan muncul di dalam benaknya.
“Bagaimana hasilnya? Apakah Rima sudah diperiksa? Dari poli umum dia pergi ke poli kandungan? Dia hamil? Kenapa ekspresinya tidak terlihat senang sedikit pun?”
Niko berniat kembali tapi dalam perjalanannya dia melihat Rima sedang duduk di kursi luar sebuah kafe.
Kesempatan ini tidak ingin disia-siakannya, Niko segera menepikan mobilnya lalu turun untuk menyapa.
“Rima.”
Rima sedang menggenggam cangkir teh hampir menumpahkannya karena terkejut. Melihat Niko datang, Rima buru-buru memasukkan hasil rekam medisnya ke dalam tas. Seperti takut ketahuan olehnya.
Niko menarik kursi lalu duduk di seberang meja. Dia heran dengan sikap Rima sekarang. Menurutnya lebih aneh dari sebelumnya.
“Apa yang kamu sembunyikan? Apa aku tidak boleh tahu?” kelakar Niko. “Kamu membuatku penasaran. Atau jangan-jangan kamu suka melihatku penasaran denganmu?”
“Niko jangan bercanda, ini tidak lucu!” ketusnya. “Ke-kenapa kamu ke sini?” tanyanya dengan nada tidak senang.
“Bukankah ini tempat umum?” jawabnya santai.
Niko melambaikan tangan pada pelayan. Dia memesan secangkir kopi late.
“Kamu bisa duduk di kursi lain, apa kamu lupa siapa dirimu? Jika ada wartawan atau orang mengenalmu melihatku duduk bersamamu mereka bisa salah paham. Aku tidak mau wajahku dimuat dalam surat kabar!” Rima mencoba mengingatkan.
Niko tertawa, dia memasukkan satu tangannya ke dalam saku bajunya. Duduk bersandar dengan santai sambil menikmati kopi late dalam cangkir.
“Oh? Benarkah? Jadi karena alasan itu kamu menghindariku? Jika itu terjadi tenang saja, aku bisa mengatasinya. Kamu tidak perlu cemas.”
Rima menelan ludah, dia menghirup teh hangat pesanannya dengan tangan sedikit gemetar.
“Bukan hanya itu, karena statusku adalah istri orang lain. Berhenti menyulitkanku, tolong.” Rima berkata dengan suara sedikit tertekan.
“Aku sudah bilang apa yang kamu khawatirkan sama sekali tidak akan terjadi.”
Rima tidak percaya, dia langsung berdiri dari kursinya pergi dengan terburu-buru.
“Aku benar-benar sudah putus,” Niko bicara dengan setengah berteriak.
Langkah Rima terhenti sejenak lalu menoleh. “Hubunganmu dengan pacarmu sama sekali bukan urusanku.”
“Tunggu,” Niko mengejar dengan setengah berlari.
Dia menggenggam pergelangan tangannya agar Rima tidak pergi. Sebelumnya Niko melihat kue di meja masih utuh, Rima sama sekali belum makan apa pun sejak turun dari pesawat. Dan kondisinya saat ini sedang kurang sehat, mungkin karena hamil.
“Apa lagi?” Rima menarik lepas tangannya.
“Kamu belum makan, duduklah dengan tenang dan makan dulu.”
“Kalau kamu tidak datang, kalau kamu tidak terus menggangguku pasti aku sudah makan sejak tadi. Niko, apa kamu masih belum sadar juga? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku padamu?”
Rima menatapnya dengan perasaan campur aduk, dia ingin marah karena rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk menuju perceraian, dia merasa kecewa dengan Arman tentang perselingkuhannya dua tahun lalu.
“Salahmu? Kamu sudah membuangku tanpa perasaan...” jawabnya lirih.
“Niko apa kamu waras? Aku Rima, aku bukan Siska pacarmu. Apa kamu mabuk lagi, hah?” Rima berjinjit mengendus bajunya, lehernya, jarak bibir Rima terlalu dekat sampai membuat Niko terkejut sekaligus berdebar-debar bahagia.
“Merepotkan sekali,” gumam Rima sambil terus mengendus leher dan bibir Niko. Pikir Rima mungkin saja Niko minum alkohol. “Ti-tidak ada alkohol?” Rima mengernyitkan keningnya. Dia menelan ludahnya lalu menjauh beberapa langkah.
Niko langsung maju mendekat. Di luar dugaannya, tiba-tiba Niko berlutut di depannya.
“Niko! Apa-apaan kamu? Apa kamu sudah gila, hah?”
“Sebelum kamu mau memaafkanku, sebelum kamu mengatakan kamu bersedia dan tidak menolak bicara denganku, aku tidak akan pernah berdiri!” Niko berlutut sambil terus memegangi tangan Rima.
Semua orang melihatnya, Rima mulai panik.
“Rima, aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih gila dari ini? Apa kamu ingin melihatnya?” tawarnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
Niko! Pria ini, dia sengaja mengacaukan keadaan!
“Kamu sungguh ingin tahu?” lanjut Niko.
Rima mengepalkan tangannya. Sebelum Niko bergerak untuk melakukan tindakan yang lebih memancing perhatian orang, Rima segera menariknya berdiri.
Niko mengukir senyum senang. “Aku tahu kamu akan memaafkanku,” bisiknya. Kemudian pada detik berikutnya dia berpura-pura pingsan dan jatuh memeluknya.
Rima membeku selama beberapa saat.
Di tempat umum dia dipeluk oleh seorang artis terkenal. Rima tidak pernah bermimpi untuk melibatkan diri dengannya atau menginginkan dirinya berada di situasi seperti ini.
Apa ini hukum karma? Kenapa? Bukankah Arman yang harus dihukum karena telah berselingkuh di belakangku? Kenapa aku juga harus melakukan hal yang aku benci?
Rima menyeret Niko ke dalam mobil, dia dibantu beberapa orang yang kebetulan melihatnya kesulitan. Rima terpaksa mengakui Niko sebagai adik sepupunya.
Ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil, tanpa bertanya ke mana tujuan mereka pergi, Rima sengaja membawa mobil tersebut menuju ke tempat yang sepi dan jauh dari keramaian.
Setelah mobil berhenti, Niko membuka matanya sedikit lalu bangun dan pindah ke kursi depan.
Rima duduk di kursi kemudi sambil melipat kedua tangannya, menatap pemandangan waduk buatan di depan sana.
Niko sangat senang, dia sendiri tidak tahu alasannya. Entah kenapa setiap melihat Rima, dan berada di dekatnya dia merasa aman, nyaman. Niko seperti menemukan kedamaian yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya. Niko merasa telah menemukan seseorang yang bisa menerimanya dalam kondisi terluka, dilema, dan bahagia. Dia merasa cocok dengannya tanpa alasan tanpa bisa dijelaskan.
“Rima.”
“Sudah selesai bersandiwara?” tanyanya seraya menoleh menatapnya.
Wajah Niko berada tepat di depan wajahnya beberapa inci dan Rima hampir saja menciumnya. Bukan Rima tapi Niko mendekat lebih dekat lagi dan menciumnya.
Setelah menciumnya Niko tersenyum. Lagi-lagi dia membeku dalam situasi yang tidak jelas. Dia terkadang menyalahkan dirinya sendiri dan berpikir dia sudah terlalu lunak pada Niko sehingga membuat Niko tidak tahu batasan.
Secara tidak sadar Rima tiba-tiba menampar pipinya.
