Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Jangan-jangan aku hamil?

Rima keluar dari dalam kamar dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil air. Dadanya terasa sesak karena menahan kemarahan.

Bi Inah sedang membereskan piring merasa kasihan melihat Rima. Sudah lama sejak dulu dia tahu Sopia tidak pernah menganggap Rima sebagai menantu.

“Mbak Rima yang sabar, ya? Bu Sopia memang begitu dari dulu.”

Rima hanya mengukir senyum tipis.

***

Arman masih berada di dalam kamar, dia menarik dasinya dengan gusar.

“Pisah alam katanya? Hah?! Wanita macam apa kamu itu Rim. Diajak cerai nggak mau selalu saja punya alasan.”

Arman pergi ke kamar mandi.

Setelah membersihkan tubuhnya dia keluar dari dalam kamar untuk menikmati makan malam bersama.

Dilihatnya Rima sudah duduk di kursi ruang makan.

Arman menarik kursi duduk di sampingnya.

“Kamu tadi pergi ke mana? Aku belum selesai ngomong tapi kamu malah kabur.”

Rima mengambil nasi untuk Arman beserta lauknya. Arman tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya.

“Jawab aku.”

Rima melirik ke arah Sopia dan Bidin. Dia merasa malu diperlakukan demikian di depan mertuanya. Rima langsung menarik tangannya dari genggaman Arman lalu berdiri dari kursinya.

“Aku ke dapur dulu, mau ngambil air.”

Arman menatap meja makan, air minum sudah ada di meja.

“Di sini juga ada air.”

“Air anget!” teriaknya dari dapur.

Rima melipat kedua tangannya sambil bersandar di depan pintu kulkas. Cukup lama dia berdiri di sana.

Bi Inah menatapnya sekilas.

“Mbak Rima mau makan di sini? Masih ada lauk di dapur.” Tawarnya seraya membuka pintu lemari kecil di samping.

“Nanti saja, Bi,” jawabnya.

Di ruang makan.

Sopia cemberut melihat perilaku Rima barusan.

“Kenapa sih kalian tidak cerai saja? Lebih baik kamu bawa Helen pulang ke rumah ini. Aku yakin setelah kamu resmi menikahi Helen, Rima juga nggak bakalan betah terus tinggal di sini,” saran Sopia pada Arman.

Bidin mendengar usul tersebut dan langsung meletakkan sendoknya.

“Ibu ini bagaimana sih? Sudah jelas-jelas putra kita yang salah, bukan Rima. Ibu itu kalau ngomong yang benar biar Arman nggak salah jalan. Lagi pula mereka juga baru menikah lima tahun, masih dalam masa-masa penyesuaian diri. Jangan terburu-buru nyuruh mereka pisah kalau belum punya anak.”

“Pak, aku itu sudah tua! Sudah pengen nimang cucu. Kalau Arman tidak punya keturunan apa nggak repot?!”

“Ya minta saja Arman ngebut, biar cepat punya anak! Bukan malah mendorong untuk bercerai! Bagaimana bisa punya cucu kalau mereka bercerai?!” teriak Bidin karena tersulut api amarah lantaran Sopia terus membahas tentang perceraian Arman dan Rima.

Arman mengerutkan keningnya.

“Pak, Bu, sudah, jangan teriak-teriak. Malu didengar tetangga.”

“Rumah mereka jauh, rumah kita besar dan banyak lahan kosong di sekitar. Nggak bakalan ada yang dengar,” timpal Sopia.

Arman tidak bisa menelan makanannya lagi, dia segera berdiri lalu pergi ke dapur.

Dilihatnya Rima duduk sendirian di kursi. Arman berjalan mendekatinya lalu memeluk bahunya dari belakang.

Rima kaget dan langsung berdiri dari kursinya.

Arman tertawa dengan perasaan kecewa.

“Kamu terus menjauh dariku, Ibu terus nuntut pengen punya cucu, bagaimana menurutmu?”

Rima membeku, semenjak mengetahui Arman berselingkuh Rima memang tidak pernah melakukan hubungan intim lagi dengan Arman. Dalam hatinya dia merasa jijik dan ingin muntah setiap teringat Arman meniduri wanita lain.

“Rim, aku sudah kasih kesempatan buat kamu. Dan aku nurut pas kamu nolak cerai. Sudah berapa tahun kita tidak benar-benar menjadi suami-istri?”

Rima melipat kedua tangannya.

Bahkan sampai detik ini kamu masih berhubungan dengan Helen bagaimana aku bisa melakukannya sama kamu kalau setiap di dekat kamu perutku terasa mual mau muntah?

Arman berjalan mendekat lalu menyentuh bahunya.

“Rima? Malam ini kamu harus bersedia melayaniku. Aku tunggu kamu di kamar,”

Bibir Rima bergetar, dia ingin mengatakan sesuatu tapi kata-kata itu selalu gagal dia katakan. Rima sengaja datang ke kamar di atas jam dua belas malam.

Ketika masuk ke dalam kamar dia menatap tempat tidurnya kosong. Dia merasa lega karena pikirnya Arman sibuk mengurus pekerjaan di dalam ruangan kerjanya.

Rima masuk ke dalam kamar mandi sebentar. Saat Rima kembali dari dalam kamar mandi dia melihat Arman sudah rebah di atas ranjang.

Ragu-ragu Rima naik ke atas tempat tidur.

Arman sepertinya tidak ingin menunda lagi, dia menarik tangan Rima dengan kasar lalu menindihnya.

“Mas, tunggu,” tahan Rima seraya menggenggam pergelangan tangan Arman.

“Apa lagi?”

“Aku... haid.”

Arman berhenti lalu pindah ke samping dan langsung tidur memunggunginya.

“Alasan saja.”

Rima menoleh sambil meremas selimut.

“Aku serius.”

“Rima, aku bukan pria bodoh. Mana ada wanita haid sebulan dua kali? Sampai tiga kali?”

“Ada, Mas, coba saja tanya dokter kandungan.”

“Kamu sejak dua tahun lalu selalu pakai alasan yang sama. Kalau nggak haid bilangnya lagi capek. Diajak pisah baik-baik nggak mau. Terus mau kamu apa? Aku lelah begini terus! Punya istri tapi kayak nggak punya istri!”

Rima menarik napas panjang, dia tidak menjawab.

***

Keesokan paginya.

Sekitar pukul tujuh pagi Rima mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal. Dengan malas dia membuka selimut untuk mengintip layar ponselnya.

“Siapa ini? Bukannya jadwalku libur hari ini,” gumam Rima.

Rima hanya menatapnya dan enggan menjawab.

Arman sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.

“Kenapa nggak diangkat? Takut ketahuan karena aku di sini?”

Rima tidak menghiraukan pertanyaan Arman.

“Nggak kenal sama nomornya,” gumam Rima.

Berikutnya, Rima menerima pesan.

Rima membuka kotak pesan dan melihat foto-foto mesra Helen dengan Arman ketika sedang bersama di sebuah vila pribadi. Rima ingat vila itu yang dulu pernah dia tempati dengan Arman pada saat berbulan madu.

Anehnya ketika melihat foto suaminya, Rima tidak merasa cemburu atau sakit hati.

Dalam hatiku saat ini rupanya sudah tidak ada Arman lagi.

“Siapa?” tanya Arman.

Rima langsung menutup ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas kemudian bersiap-siap.

Arman menyipitkan matanya, dia diam-diam mengambil ponsel Rima lalu melihat kotak pesan dan nomor yang menelepon Rima barusan. Arman tahu nomor tersebut adalah nomor Helen.

Ekspresi Arman tampan bingung.

“Rima melihat ini tapi nggak marah sama aku? Dia juga nggak bahas masalah cerai, sebenarnya apa yang dipikirkan Rima?”

Setelah membersihkan tubuhnya Rima mendapati ponselnya di meja rias. Dia tidak heran, dia tahu Arman baru saja memeriksanya. Mungkin, dia ingin mencari alasan untuk bercerai dari Rima.

***

Tiga minggu kemudian ...

Ketika turun dari pesawat Rima merasa perutnya mual. Pikirnya mungkin dia sedang masuk angin dan akan membaik setelah minum obat.

Rima pulang ke rumah dalam kondisi pucat. Dia juga kehilangan nafsu makan.

“Apa yang terjadi hari ini? Aku tidak pernah merasa begini,”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel