2. Aku nggak mau cerai
Ketika hendak masuk ke dalam taksi, seseorang tiba-tiba menahan pintu mobil. Rima menoleh dan dia terkejut melihat Niko mengukir senyum sambil menyerahkan name tag miliknya.
“Rima, kan?”
Niken yang hampir masuk ke dalam mobil langsung membatalkan niatnya begitu melihat Niko.
“Mas Niko?! Artis terkenal yang baru naik daun?!” serunya dengan senyum cerah lalu berjalan memutar untuk meminta tanda tangannya.
“Ah? Ya! Aku, Niko,” jawabnya ragu-ragu.
“Minta tanda tangan, boleh?” tanya Niken seraya menyodorkan buku catatan kecil yang biasa dia gunakan untuk mencatat hal-hal penting di pesawat.
“Ya, boleh,”
Rima hampir saja menerima tag nama miliknya tapi Niko buru-buru mengantonginya kembali karena Niken berlari mendekat ke arahnya.
Rima mengerutkan keningnya dan mendahului Niken masuk ke dalam taksi.
Niko sudah menandatanganinya, dia tidak segera memberikannya.
“Nama mbak?”
“Namaku, Niken! Aku masih lajang!” jawabnya dengan ekspresi takjub menatap wajah tampan dengan tubuh proporsional di depannya.
Niko manggut-manggut sambil mengukir senyum lembut.
“Kalau boleh tahu kalian berdua... pramugari yang bertugas di pesawat kemarin?”
“Ya, tapi aku bertugas di kelas ekonomi, Rima di kelas bisnis. Dia seniorku ....” ungkapnya.
Niko kembali mengukir senyum lalu menyerahkan buku catatan kecil milik Niken. Kemudian dia membungkuk di samping kaca jendela mobil dan mengetuknya beberapa kali.
Rima enggan membuka pintu jadi dia hanya menurunkan kaca mobil sedikit.
Niko menyerahkan name tag Rima melalui celah tersebut. Ketika Rima ingin mengambilnya Niko menariknya menjauh, sempat terjadi tarik-ulur beberapa detik hingga Rima memutuskan untuk tidak mengambilnya.
“Kalau nggak niat balikin, mending kamu pakai saja!” ketusnya.
Niko tersenyum lebar mendengarnya.
“Manis sekali.”
“Niken, buruan naik!” Rima berteriak seraya menutup rapat jendela mobil.
“Ah, iya!”
Niken mengangguk, dia mengerutkan keningnya lalu buru-buru berlari masuk ke dalam mobil. “Mas Niko sampai ketemu lagi!” serunya dengan gembira.
Niko membalas melambaikan tangannya.
Di dalam mobil, Niken menatap Rima dengan tatapan mata curiga.
“Kalian saling kenal?”
“Cuma kebetulan ketemu di pesawat,”
“Oh,” balas Niken sambil menyipitkan matanya.
Hening selama beberapa saat, Niken tidak tahan dengan sikap Rima. Sepertinya dia secara tidak sengaja sudah menyinggungnya. Meski Rima tergolong tidak banyak bicara tapi Rima cukup ramah pada rekan kerjanya.
“Ngomong-ngomong hubunganmu dengan Mas Arman juga nggak baik-baik saja, untuk apa berpura-pura dan bertahan sampai lima tahun?”
“Dengar gosip dari mana?” tanya Rima, dia menoleh dan berpura-pura tersenyum.
“Semua orang di perusahaan juga tahu. Adikku kan kerja di kantor Mas Arman, bahkan sampai hari ini juga tahu kalau Mas Arman sering keluar dengan Helen. Kamu yakin masih mau bertahan dan nggak mau cerai?”
“Cerai? Bagiku perceraian adalah mimpi buruk,”
Niken menarik napas panjang lalu tidak bicara lagi.
***
Di kediaman Arman.
“Baru pulang? Gimana suami betah di rumah kalau kamu kerjaannya plesiran terus ke luar negeri! Suami lelah pulang kerja pengen melepas lelah tapi istrinya malah nggak ada!” ketus Sopia begitu Rima tiba di rumah.
Rima hanya menatapnya dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia baru saja masuk ke dalam rumah tapi sudah diserang dengan kata-kata tidak menyenangkan. Rima menarik kopernya menuju ke kamar.
“Pura-pura nggak dengar lagi?! Rima, aku itu pengen nimang cucu, kamu sudah menikah sama Arman lima tahun tapi nggak pernah kunjung hamil! Kalau suamimu selingkuh salahkan saja dirimu sendiri yang nggak becus! Arman itu sudah berjuang siang-malam demi keluarga ini!” lanjutnya.
“Bu, setiap Rima pulang Ibu selalu ngomel-ngomel terus. Rima juga lelah Bu, sudah jangan diomeli lagi,” potong Bidin – suami Sopia.
“Bapak ini, aku ingin cuma menasihati Rima, sebagai menantu kita dia harus tahu tugas-tugas seorang istri! Aku pengen cepat-cepat punya cucu, tapi lihat! Dia ini terus-menerus kerja dan kadang satu minggu nggak pulang!”
Rima tahu ucapan ibu mertuanya hanya dibesar-besarkan saja, dia paling lama sampai di rumah kembali palingan cuma empat-lima hari saat perjalanan jauh ke luar negeri.
“Sudah, Bu, jangan terus diomeli,” lanjut Bidin, berusaha menenangkan hati Sopia.
“Bapak terus dukung Rima, dari dulu aku sudah nggak setuju Arman nikah sama dia! Sudah mandul, masih saja nolak diceraikan! Arman itu terlalu lunak. Aku lebih setuju kalau Arman nikah sama Helen. Helen itu anaknya perhatian, hampir setiap hari dia datang jenguk ibu. Nggak seperti Rima, yang suka plesiran terus daripada tinggal di rumah. Suami ditelantarkan, ibu mertua juga nggak diurusi!” keluhnya.
Rima berpura-pura tuli, dia selalu seperti ini. Berpura-pura tidak mendengar apa-apa langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Rima melepaskan genggaman tangannya dari gagang kopernya lalu berjalan menuju ke jendela, menatap keluar.
Beberapa saat kemudian, dia kembali mengingat momen-momen awal bertemu dengan Arman.
Mereka beberapa kali bertemu di pesawat beberapa kali hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk menikah. Rima pikir pada waktu itu dia sangat mengenal Arman, dia pikir Arman adalah sosok pria yang tulus dan bisa dia jadikan teman sehidup semati saat itu.
Tapi, setelah menikah nyatanya Arman sama sekali bukan pria yang tulus apalagi setia. Ketika ketahuan olehnya telah berselingkuh dengan Helen, Rima bertanya pada Arman dan jawabannya enteng sekali.
“Aku nikah cuma untuk mengakhiri masa lajangku, kalau kamu keberatan sekarang kita bisa pisah baik-baik. Jujur saja, menurutku Helen lebih perhatian,”
Sifat Arman sangat mirip seperti sifat Sopia.
***
Pada sore hari, Arman baru pulang dari kantor. Dia masuk ke dalam kamarnya dan melihat Rima sedang duduk di kursi santai sambil membaca majalah, menikmati secangkir teh.
“Kamu itu kalau lagi di rumah mbok kamu keluar, sapa ibu dan bapakku, jangan mengurung diri terus di dalam kamar seperti menantu manja!” keluhnya.
Rima menutup buku majalah di genggaman tangannya lalu meneguk tehnya sedikit.
“Ibu selalu marah-marah sama aku, aku juga nggak tahu harus ngomong apa,”
Arman berkacak-pinggang sambil menyipitkan matanya menatap penampilan Rima dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rima mengenakan piyama tidur lengan panjang dengan bawahan celana panjang longgar.
“Penampilanmu ini setiap aku pulang ke rumah selalu begini, apa kamu nggak punya baju lainnya yang lebih bagus? Coba pakai gaun tidur tipis atau apa supaya aku lebih tertarik sama kamu. Alasanku malas pulang ke rumah-”
“Mas nggak pulang aku juga nggak apa-apa,” potongnya dengan suara tenang.
Rima memang tidak bisa merasakan debaran cinta lagi semenjak Arman berselingkuh dengan Helen. Dia bertahan sampai sekarang juga karena tidak ingin menyandang status janda.
“Rima!” geram Arman seraya meremas kedua bahu Rima. “Kamu bahkan sudah berani menolakku dengan terang-terangan begini? Kenapa waktu itu kamu nggak minta cerai? Kenapa malah menolak pas aku kasih kesempatan buat pisah?”
“Mas salah paham sama aku. Maksudku kalau Mas Arman masih sibuk dan banyak pekerjaan di kantor aku juga nggak masalah, aku nggak bakalan protes. Aku cuma nggak pengen kita cerai, aku nggak siap jadi janda, bagiku pernikahan adalah satu kali seumur hidup, kecuali aku mati baru kita pisah, pisah alam!” lanjut Rima.
