1. Jatuh ke Pelukan Orang Lain
Rima baru saja turun dari pesawat, masih mengenakan seragam pramugarinya. Langkahnya tampak lelah. Dia menyeret kopernya keluar dari bandara lalu menaiki sebuah taksi.
Di sisi lain, Niko – selebriti terkenal yang lagi naik daun. Sebelumnya dia sudah turun dari pesawat lebih dulu sudah tiba di lobi hotel, langkah kakinya sempoyongan. Ekspresi wajahnya tidak terlihat baik-baik saja, aroma alkohol ada di sekujur tubuhnya. Dia mengambil kunci kamar di lobi lalu pergi.
Rima yang kelelahan karena bekerja ingin beristirahat semalam, dia tidak ingin pulang pada saat ini karena ibu mertuanya selalu mengomel dan membuat tubuhnya yang sudah lelah semakin lelah. Ketika tiba di hotel dia cek in untuk mengambil kunci.
Sampai di kamar yang dipesan, Rima dikejutkan oleh seorang pria yang sedang duduk berjongkok sambil menempelkan keningnya di depan pintu kamarnya.
“Kamar ini, bukannya kamarku? Lalu dia... siapa?”
Ragu-ragu Rima berjalan mendekatinya. Dari belakang punggung, pria yang berjongkok tampak masih muda, tidak kelihatan seperti seorang bapak-bapak.
“Mas?” tegurnya.
Pria tersebut tidak menjawab dan tetap menempelkan keningnya di pintu. Rima menarik napas berat, dia merasa sangat lelah dan sejujurnya ingin segera berbaring di kasur. Karena tidak ada jawaban Rima berjalan maju selangkah lebih dekat lagi.
“Mas?” tegurnya seraya mencolek bahunya.
Niko menoleh sambil mengerjap lambat.
Rima mencium aroma alkohol menusuk hidung, sekali lihat dia langsung mengenalinya.
“Niko, artis yang baru naik daun?” gumam Rima dengan tatapan mata heran.
“Kamu mengenalku?” tanyanya seraya beranjak bangun dari posisinya.
“Aku-aku pramugari yang tadi di pesawat,”
Niko hanya mengerutkan keningnya.
“Tidak mungkin juga dia mengingatku lagi pula siapa yang akan mengingat wajahku?” gumamnya.
“Siska?” panggil Niko sambil mengukir senyum penuh kerinduan. Tanpa aba-aba langsung meraih tubuh Rima ke dalam pelukannya.
Gagang koper dalam genggaman tangan Rima langsung terlepas.
“Si-siska? Siapa Siska?!”
Rima panik dan buru-buru melepaskan pelukan Niko lalu mendorong Niko menjauh.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Rima langsung membuka pintu dengan kartu di tangannya, dia tidak ingin terlibat dengan Niko lebih jauh lagi.
Selain itu, status Rima juga sudah menikah. Meski rumah tangganya tidak harmonis dia memilih untuk mempertahankan status sebagai seorang istri.
Arman – suaminya pernah berselingkuh dua tahun yang lalu. Bahkan sampai sekarang masih sama. Namun, tidak begitu kentara.
Dalam hati Rima, dia tahu dengan jelas bahwa Arman masih berhubungan dengan Helen - sekretaris pribadi Arman di kantornya.
Pada saat ini, Rima ingin segera melepas lelah, tapi rupanya dia lupa belum menutup pintu dan Niko terlanjur menerobos masuk ke dalam kamarnya. Pria itu langsung memeluknya dari belakang.
“Siska, kamu-kamu tidak mungkin mutusin aku begitu saja, kan? Pasti kamu punya alasan. Kamu nggak serius, aku tahu kamu lagi banyak pikiran, tapi tolong jangan begini.... Aku akan berusaha menjadi lebih baik, aku akan berubah. Aku juga akan mewujudkan apa pun keinginanmu demi hubungan kita!”
Rima mengepalkan tangannya.
“Pria mabuk ini malah mengoceh sesuka hati, rupanya dia baru saja diputusin? Jauh-jauh pergi ke Los Angeles cuma dapat hasil diputusin? Pantas saja sampai nggak waras,” gumam Rima.
Rima melepaskan pelukannya lalu memutar badan menghadap ke arah Niko.
“Mas, kamu ini salah kamar, ini kamarku.”
Rima berniat mengambil kartu kunci pintu dari tangan Niko tapi Niko menjauhkan tangannya, jadi Rima hanya bisa melihat nomornya.
“Kamar kamu ini ada di sebelah,” lanjutnya.
Niko malah kembali memeluknya dan menolak melepaskannya.
“Bukan, kamar kita di sini, Siska, kamu nggak boleh mutusin aku! Kita selalu saling mencintai sejak dulu.”
Rima berniat mengantarkan Niko ke kamar pria itu sendiri, tapi begitu membuka pintu dia melihat wartawan sudah berdiri di koridor seakan-akan sudah bersiap untuk menunggu berita. Rima panik dan buru-buru menutup pintu kembali. Dia bersandar di balik daun pintu dan menatap Niko yang pada saat ini sudah berbaring di atas ranjang dalam kamarnya tanpa peduli itu kamar siapa.
“Jika aku membawa Niko keluar dari pintu, bukankah aku yang apes kepergok wartawan?! Ti-tidak boleh begini! Apa aku biarkan saja dia tidur di kamarku? Lalu aku pergi keluar dari kamar ini dan menggunakan kamar yang dipesan Niko? Lagi pula dia mabuk, dia tidak mungkin bangun sekarang dan pindah ke kamar sebelah karena aku yang membawa kuncinya!”
Menurut Rima itu adalah cara yang paling tepat untuk saat ini daripada tidur di dalam kamar yang sama dengan Niko.
Rima berjalan mendekat dan berniat mengambil kunci kamar dari genggaman Niko tapi Niko malah mencekal lengannya dan menariknya rebah bersamanya. Niko mengambil posisi di atasnya sambil memegangi kedua pergelangan tangan Rima.
“Posisi ini .... jangan-jangan, eh! Kamu mau ngapain? Lepas tanganku!” perintah Rima seraya berontak.
“Siska! Sudahlah jangan menolak lagi, aku tahu kamu sudah lama menginginkan ini, mulai saat ini aku tidak akan menolaknya lagi, oke? Yang pasti kamu nggak boleh lagi mutusin aku,” ujarnya sambil mengukir senyum lalu mendekat dan mencium bibir Rima.
Rima melotot kaget, otaknya yang bekerja mendadak terasa macet. Beberapa detik kemudian, Rima kembali berontak dan berusaha melepaskan diri. Siapa sangka Niko begitu gigih dan menolak melepaskannya.
Helai demi helai bajunya tercecer di lantai kamar. Rima tahu semua ini salah tapi dia juga tidak ingin suaranya terdengar sampai keluar pintu.
Apa-apaan? Apakah aku harus melakukan kesalahan yang sama seperti yang Arman lakukan di belakangku? Tapi kenapa harus dengan orang mabuk?
Satu jam berlalu ....
Niko ambruk di atas tubuh Rima.
“Niko sialan! Apa dia benar-benar mabuk? Kekuatan ini membuat sekujur tubuhku mati rasa!” keluhnya seraya merangkak turun dari bawah tubuh Niko dengan susah payah.
Rima mengatur napasnya, dia melihat pria yang kini sudah tertidur lelap di atas ranjang tanpa tahu apa-apa yang telah terjadi.
Dengan susah payah akhirnya Rima berhasil mendapatkan kunci pintu kamar sebelah. Rima sudah pindah ke kamar sebelah. Dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat menatap bayangannya di cermin Rima melotot melihat bekas gigitan di kedua kulit buah dadanya.
“Cinta satu malam dengan seorang selebriti terkenal? Apa aku sudah gila? Selama ini aku tidak pernah tertarik untuk melakukan hal bodoh.”
***
Pada keesokan paginya.
Niko terjaga dengan baju berantakan. Lebih tepatnya dia tidak mengenakan apa-apa selain selimut yang menutupi tubuhnya. Dia melihat kancing kemeja di atas ranjang, juga name tag di bawah lipatan selimut.
“Rima? Siapa Rima?”
Niko mencoba mengingatnya, dia ingat semalam dia mampir ke klub lalu pergi ke hotel dalam keadaan mabuk.
Niko segera membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Dia mencoba mengingatnya tapi tetap tidak bisa ingat. Setelah bersiap-siap dia segera keluar dari dalam kamarnya dan pergi ke lobi untuk cek out.
Di waktu yang sama Rima juga baru saja menyerahkan kunci pintu kamarnya. Di sana lobi Rima kebetulan bertemu dengan rekan kerjanya yang juga menginap di hotel yang sama.
“Rima, tunggu aku!” seru wanita itu pada seorang wanita yang sedang berjalan menyeret kopernya menuju ke arah pintu keluar.
Niko spontan langsung menoleh mendengar nama “Rima” dipanggil.
Rima berhenti lalu menoleh dan tatapan matanya tidak sengaja bertemu dengan Niko yang kini berdiri di dekat meja resepsionis.
Niko?! Oke, tenanglah, lagi pula dia tidak ingat tentang yang terjadi semalam! Anggap saja orang asing!
Niken mengukir senyum cerah dan langsung berlari menyusul Rima.
“Ayo!”
Rima mengangguk dan bergegas.
Melihat wanita bernama Rima seperti terburu-buru meninggalkan lobi, Niko pun menggigit bibir bawahnya lalu berjalan santai sambil mengukir senyum.
