Bab 2 Pintu yang Tak Terduga - 2
"Oke, makasih, Ra. Nanti aku telepon lagi."
Aisyah menutup telepon dan kembali fokus pada pekerjaannya. Ia tahu ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Ini adalah satu-satunya kesempatannya.
Jam makan siang tiba, namun Aisyah tak berani beranjak dari mejanya. Ia masih terlalu banyak pekerjaan. Ia melihat beberapa staf lain di lantai eksekutif keluar masuk ruangan, mungkin pergi makan. Aroma makanan dari kantin di lantai bawah sesekali tercium, membuat perutnya keroncongan.
Tiba-tiba, pintu ruangan Revan terbuka. Aisyah langsung menegakkan duduknya, jantungnya berpacu. Revan masuk, masih dengan ekspresi datarnya, namun kini ia memegang sebuah kantong kertas.
Aisyah berasumsi Revan akan langsung menuju mejanya, namun pria itu justru berjalan menghampiri meja Aisyah. Ia meletakkan kantong kertas itu di meja.
"Makan," kata Revan, suaranya singkat.
Aisyah mengerjap. "Maaf, Bapak?"
"Saya tidak suka melihat karyawan saya kelaparan," Revan menjelaskan tanpa emosi, "Itu bisa menurunkan produktivitas. Makanlah. Lalu lanjutkan pekerjaan Anda."
Revan lalu berjalan menuju mejanya sendiri. Aisyah menatap kantong kertas itu. Ia membukanya, dan di dalamnya ada sebungkus nasi padang dengan lauk rendang. Aroma gurihnya langsung menyeruak, membuat perutnya semakin keroncongan.
Ia menoleh ke arah Revan, yang sudah kembali fokus pada komputernya. Sebuah kebaikan kecil yang tak terduga. Entah mengapa, hati Aisyah sedikit menghangat. Di balik sifat angkuh dan dinginnya, Revan Narendra ternyata masih punya sisi kemanusiaan. Atau mungkin ia hanya ingin Aisyah tetap produktif.
Aisyah makan dengan cepat, rasanya sangat lezat. Setelah itu, ia kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Sore menjelang, dan ia masih berkutat dengan presentasi. Revan sesekali meliriknya, namun tidak berbicara.
Pukul enam sore, semua karyawan mulai pulang. Lampu-lampu di lantai eksekutif mulai redup, menyisakan Aisyah dan Revan di ruangan besar itu. Aisyah masih terus bekerja, tangannya bergerak cepat di atas keyboard.
"Sudah selesai?" suara Revan memecah keheningan.
Aisyah terkesiap. Ia menoleh. Revan sudah berdiri di samping mejanya, kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia terlihat lelah, namun matanya masih tajam.
"Hampir, Bapak. Tinggal sedikit lagi," jawab Aisyah, panik. Ia merasa belum menyelesaikan semua yang Revan berikan.
Revan mencondongkan tubuh, melihat layar laptop Aisyah. "Presentasinya belum sempurna. Font-nya kurang profesional, dan ada beberapa poin yang bisa diperjelas."
Aisyah merasa malu. Ia sudah berusaha keras. "Maaf, Bapak. Saya akan memperbaikinya segera."
"Saya sudah tahu," kata Revan, suaranya datar. "Tidak perlu minta maaf. Perbaiki saja." Ia lalu menatap Aisyah lebih intens. "Anda belum pulang?"
"Saya ingin menyelesaikan ini dulu, Bapak," jawab Aisyah.
"Tidak perlu. Lanjutkan besok pagi. Sudah terlalu malam." Revan lalu berjalan kembali ke mejanya, mengambil tas kerjanya. "Kunci pintu saat Anda pulang."
Aisyah mengerjap. "Baik, Bapak."
Revan berjalan menuju pintu, berhenti sejenak. "Oh, dan satu lagi," katanya, tanpa menoleh. "Besok pagi jam tujuh saya ingin semua berkas agenda sudah di meja saya, tersusun rapi. Dan presentasinya harus sudah sempurna."
Aisyah terkesiap lagi. Jam tujuh? Itu berarti ia harus datang lebih pagi lagi. Dan presentasi yang sempurna? Tantangan baru.
Revan lalu keluar, meninggalkan Aisyah sendirian. Kali ini, ia benar-benar sendirian di ruangan yang sunyi itu. Ia menatap layar laptopnya, lalu tumpukan berkas yang sebagian besar sudah ia selesaikan. Ia tersenyum tipis. Hari pertamanya memang berat, tapi ia berhasil melewatinya. Dan ada nasi padang dari Revan. Itu lumayan.
Aisyah akhirnya pulang sekitar pukul delapan malam. Jalanan sudah sepi, dan ia merasa sangat lelah, namun ada kepuasan yang mengganjal di dadanya. Ia tidak dipecat di hari pertama. Itu sudah pencapaian.
Keesokan paginya, Aisyah sudah tiba di kantor pukul 06.30 pagi. Ia sengaja datang lebih awal untuk memastikan semua tugasnya sempurna. Ia memperbaiki presentasi Revan dengan seksama, memilih font yang lebih profesional, dan menyempurnakan setiap detail.
Ketika Revan tiba sekitar pukul 07.15, ia melihat Aisyah sudah duduk di mejanya, dengan tumpukan berkas yang rapi dan sebuah flash disk berisi presentasi baru di atas mejanya.
Revan mengangguk kecil, pandangannya sekilas pada tumpukan berkas. Ia mengambil flash disk itu tanpa berkata apa-apa, lalu langsung duduk di mejanya.
"Bapak, apakah ada hal lain yang perlu saya lakukan?" tanya Aisyah, berusaha inisiatif.
Revan meliriknya, lalu melihat arlojinya. "Baru jam tujuh. Anda datang lebih awal."
"Saya ingin memastikan semuanya sudah siap, Bapak."
Revan menghela napas. "Bagus. Saya suka profesionalisme. Tapi jangan terlalu berlebihan. Anda juga perlu istirahat."
Aisyah mengerjap. Revan peduli dengan istirahatnya? Ini sedikit mengejutkan.
"Saya akan ada rapat penting hari ini dengan investor dari luar negeri. Mereka akan tiba pukul sepuluh. Pastikan ruangan rapat sudah siap, proyektor berfungsi, dan siapkan kopi hitam tanpa gula serta teh hijau untuk mereka," perintah Revan, kembali ke mode bosnya yang dingin.
"Baik, Bapak!"
Aisyah bergegas menyiapkan semuanya. Ia memastikan ruangan rapat bersih, proyektor berfungsi, dan minuman sudah siap di meja. Ia bergerak sigap, tidak ingin membuat kesalahan sekecil apa pun. Ia tahu Revan mengawasi setiap gerakannya.
Ketika investor tiba, Aisyah menyambut mereka dengan senyum ramah dan sopan. Ia memandu mereka ke ruangan rapat, memastikan mereka nyaman. Revan datang beberapa menit kemudian, langsung memulai rapat tanpa basa-basi.
Aisyah duduk di sudut ruangan, mencatat setiap poin penting dalam rapat, sesekali menyajikan kopi atau teh. Ia kagum melihat bagaimana Revan memimpin rapat itu. Begitu tegas, fokus, dan cerdas. Ia adalah sosok yang berbeda saat berhadapan dengan klien penting. Ia adalah seorang profesional sejati.
Rapat berjalan lancar. Investor tampak terkesan dengan presentasi Revan dan visi perusahaannya. Setelah rapat selesai, Aisyah membantu membereskan ruangan.
"Bagus," kata Revan tiba-tiba, suaranya pelan, saat ia lewat di depan Aisyah yang sedang mengelap meja.
Aisyah mendongak. "Maaf, Bapak?"
"Pekerjaan Anda hari ini," Revan menjelaskan tanpa menoleh. "Rapi dan cekatan. Lebih baik dari yang saya duga."
Aisyah terdiam, hatinya menghangat. Sebuah pujian dari Revan Narendra. Ini seperti mendapatkan bintang emas dari guru paling galak di sekolah. Itu berarti banyak.
"Terima kasih, Bapak," ucap Aisyah, senyum kecil terukir di bibirnya.
Revan tidak membalas. Ia hanya berjalan menuju mejanya. Namun, Aisyah merasa ada sesuatu yang sedikit berubah. Ketegangan di antara mereka, meskipun masih ada, sedikit berkurang. Revan mungkin masih dingin dan angkuh, tapi ia juga seorang yang adil. Ia menghargai kerja keras, bahkan dari seorang asisten 'sementara' yang direkrut karena 'kesalahan administrasi'.
Aisyah tidak tahu apa yang akan terjadi di minggu-minggu berikutnya, di sisa waktu uji cobanya. Namun, ia merasa sedikit lebih yakin. Ia mungkin tidak punya koneksi, ia mungkin tidak punya latar belakang pendidikan yang mewah, tapi ia punya tekad dan semangat. Dan itu, mungkin, adalah modal terbesar yang ia miliki di hadapan Revan Narendra.
Pintu tak terduga itu kini terbuka lebar, dan Aisyah siap melangkah masuk, tak peduli seberapa terjal jalannya. Ia akan membuktikan bahwa ia layak berada di sana, di samping CEO yang angkuh itu.
