Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Asisten yang Aneh

Hari-hari pertama Aisyah sebagai asisten pribadi Revan Narendra adalah neraka berbalut surga. Surga karena ia bekerja di Narendra Group, perusahaan impian banyak orang, dengan gaji yang—meski ia belum tahu pasti jumlahnya—pasti jauh lebih layak daripada gajinya di tempat kerja lama. Neraka karena ia harus berhadapan langsung dengan Revan Narendra, sang CEO yang angkuh, dingin, dan tuntutannya selangit.

Revan adalah definisi dari perfeksionis. Ia tidak hanya menuntut kesempurnaan dalam hasil akhir, tetapi juga dalam setiap detail prosesnya. Bahkan secangkir kopi pun harus disajikan dengan suhu yang tepat, dan sendok harus diletakkan di posisi yang benar. Hal-hal kecil yang sebelumnya tak pernah Aisyah pikirkan, kini menjadi daftar panjang hal-hal yang harus ia perhatikan setiap saat.

Pagi itu, Aisyah tiba lebih awal lagi, pukul 06.00. Ia ingin benar-benar siap saat Revan datang. Ia membersihkan meja kerja Revan yang sebenarnya sudah bersih, memastikan setiap pena berada di tempatnya, dan mengecek persediaan alat tulis. Ia bahkan menyiapkan secangkir air mineral di meja Revan, berharap itu bisa menjadi poin plus.

Ketika Revan tiba pukul 07.00, ia melirik sekilas ke arah meja kerjanya. Matanya yang tajam sempat tertuju pada gelas air mineral yang Aisyah letakkan. Aisyah menunggu reaksinya, jantungnya berdegup kencang. Apakah ia melakukan hal yang benar? Atau justru Revan akan menganggapnya berlebihan? Revan hanya mengangkat alisnya sedikit, lalu langsung duduk dan menyalakan komputernya tanpa sepatah kata pun. Reaksi yang nyaris tak terbaca.

Sejak hari itu, Aisyah selalu meletakkan segelas air mineral di meja Revan setiap pagi. Revan selalu meminumnya, namun tak pernah sekalipun mengucapkan terima kasih atau memberikan komentar. Sikap dinginnya yang konsisten mulai membuat Aisyah terbiasa.

Salah satu tugas yang paling menantang bagi Aisyah adalah mengatur jadwal Revan. Jadwal pria itu padat merayap, penuh dengan rapat, pertemuan klien, telekonferensi dengan kantor cabang luar negeri, hingga wawancara media. Revan punya kebiasaan mengubah jadwal di menit terakhir, tanpa pemberitahuan sebelumnya, dan Aisyah harus sigap menyesuaikan semuanya.

Suatu sore, Revan tiba-tiba masuk ke ruangannya dan berkata, "Batalkan rapat saya dengan PT Abadi Jaya besok pagi. Ganti dengan rapat mendadak dengan direksi PT Sentosa pada pukul 09.00."

Aisyah langsung panik. "Tapi, Bapak, rapat dengan PT Abadi Jaya itu sudah dijadwalkan sejak dua minggu lalu, dan mereka klien penting. Mengubahnya mendadak bisa..."

"Saya tidak butuh alasan," potong Revan dingin, matanya menatap tajam. "Saya butuh hasil. Ubah sekarang."

Aisyah menelan ludah. Ia tahu ia tidak bisa membantah. Ia langsung menghubungi PT Abadi Jaya, meminta maaf berkali-kali atas perubahan mendadak, dan mencoba mencari jadwal pengganti. Untungnya, ia berhasil mengatasi situasi itu, meski harus bernegosiasi cukup alot. Revan bahkan tidak menanyakan bagaimana Aisyah mengatasinya. Baginya, itu adalah tugas Aisyah, dan ia harus bisa melakukannya.

Bukan hanya jadwal, Aisyah juga sering berhadapan dengan selera Revan yang sulit ditebak, terutama soal makan siang. Setiap hari, Aisyah harus memesankan makan siang untuk Revan. Revan tidak pernah punya permintaan khusus, ia hanya akan berkata, "Terserah," atau "Apa saja." Namun, begitu makanan tiba, seringkali ia hanya makan beberapa suap atau bahkan tidak menyentuhnya sama sekali.

Pernah suatu kali Aisyah memesankan nasi goreng seafood, karena ia melihat Revan memakan udang saat makan malam tim tempo hari. Revan hanya meliriknya, lalu berkata, "Saya tidak suka nasi goreng terlalu berminyak." Nasi goreng itu berakhir di meja Aisyah, yang diam-diam menikmatinya karena sayang jika dibuang.

Lain waktu, ia memesankan salad sayuran yang terlihat sehat dan segar. Revan hanya mengangkat alisnya. "Saya bukan kelinci."

Aisyah frustrasi. Ia merasa seperti sedang bermain tebak-tebakan dengan bosnya sendiri. Ia mulai mencatat setiap komentar Revan tentang makanan, berusaha memetakan seleranya yang rumit. Ia bertanya pada Ibu Karina, staf senior di sana, yang hanya tersenyum maklum.

"Bapak Revan memang begitu, Nona Aisyah. Dia orang yang sangat sulit ditebak. Saya sudah bertahun-tahun di sini, dan masih sering bingung dengan seleranya," kata Ibu Karina, membuat Aisyah sedikit lega karena ternyata ia tidak sendiri.

Di tengah semua itu, Aisyah tak jarang melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang manusiawi. Suatu pagi, saat ia terburu-buru menyiapkan berkas, tangannya tak sengaja menyenggol cangkir kopi Revan. Kopi hitam itu tumpah, membasahi sebagian kecil laporan penting yang baru Revan tanda tangani.

Melihat noda hitam itu, wajah Revan langsung berubah dingin. Aura kemarahan langsung terpancar dari dirinya. "Apa yang Anda lakukan?!" suaranya rendah, namun mengintimidasi.

Aisyah langsung pucat. "Maaf, Bapak! Maafkan saya! Saya tidak sengaja!" Ia meraih lap dan berusaha membersihkan noda itu, namun noda kopi sudah meresap ke kertas.

Revan menatap noda itu, lalu beralih menatap Aisyah dengan tatapan tajam.

"Laporan ini harus diserahkan dalam satu jam. Bagaimana Anda akan memperbaikinya?!"

"Saya... saya akan mencetaknya ulang, Bapak! Saya janji akan melakukannya secepat mungkin!" Aisyah langsung berlari menuju printer, tangannya gemetar. Ia mencetak ulang laporan itu secepat kilat, lalu membawanya kembali ke Revan.

Revan mengambil laporan baru itu, memeriksanya sekilas, lalu meletakkannya di samping laporan yang ternoda. "Lain kali, perhatikan baik-baik. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal di perusahaan ini."

Aisyah hanya mengangguk, merasa sangat bersalah. Ia pikir ia akan langsung dipecat saat itu juga. Namun, Revan tidak melakukannya. Ia hanya kembali fokus pada pekerjaannya, seolah insiden itu tak pernah terjadi. Aisyah merasa lega, namun juga takut. Ia tahu Revan mengamati setiap gerakannya, dan ia tidak boleh membuat kesalahan lagi.

Di balik sifatnya yang kaku, Aisyah mulai melihat sedikit celah dalam karakter Revan. Terkadang, saat ia tidak sedang menatap, Aisyah bisa melihat Revan menghela napas panjang di balik mejanya, seolah menanggung beban dunia. Ada kelelahan yang nyata di mata tajam itu, yang jarang sekali ia tunjukkan.

Pernah suatu malam, saat mereka berdua lembur hingga pukul sepuluh, Revan menerima panggilan telepon yang terdengar sangat pribadi. Ia berbicara dalam suara pelan, suaranya sedikit tegang. Aisyah tak sengaja mendengar beberapa fragmen percakapan. Revan tampak sedang membujuk seseorang, nadanya berubah lebih lembut dari biasanya, dan bahkan terdengar sedikit putus asa. "Aku tahu, tapi ini demi kebaikanmu. Kumohon... jangan mempersulitku lagi."

Percakapan itu berlangsung singkat, namun meninggalkan kesan mendalam bagi Aisyah. Ia tak pernah melihat Revan berbicara dengan nada seperti itu. Ada sisi lain dari Revan yang terkunci rapat di balik persona CEO yang dingin. Rasa penasaran mulai tumbuh di hati Aisyah. Siapa yang bisa membuat Revan Narendra bicara dengan nada selembut itu? Apakah itu terkait dengan masa lalunya?

Intrik di kantor juga mulai terasa. Diana Suryani, seorang manajer pemasaran yang cantik dan ambisius, seringkali berkunjung ke lantai eksekutif, terutama ke ruangan Revan. Ia selalu menyapa Revan dengan senyum termanisnya, mencoba menarik perhatian. Diana seringkali melirik Aisyah dengan pandangan meremehkan, seolah Aisyah tidak layak berada di sana.

Suatu siang, Diana sengaja datang ke ruangan Revan saat Aisyah sedang menyusun berkas di mejanya. Diana pura-pura menjatuhkan tumpukan brosur tepat di kaki Aisyah.

"Oh, maafkan aku, Nona Aisyah. Aku tidak melihatmu di sana," kata Diana dengan nada manis yang dibuat-buat, namun senyumnya penuh arti.

Aisyah tahu Diana sengaja. Ia membungkuk untuk memungut brosur-brosur itu. "Tidak apa-apa, Bu Diana."

Revan, yang sedang berbicara di telepon, sempat melirik ke arah mereka. Ia tidak berkomentar apa-apa, namun Aisyah bisa merasakan tatapan matanya yang tajam mengawasi.

Beberapa hari kemudian, Diana datang lagi, kali ini dengan membawa secangkir kopi untuk Revan. "Revan, aku tahu kamu suka kopi ini. Aku sengaja membuatnya sendiri," katanya dengan suara manja.

Revan hanya melirik cangkir itu.

"Terima kasih, Diana. Tapi saya sudah punya kopi dari asisten saya."

Aisyah yang sedang sibuk menyusun laporan, menahan senyum. Kopi yang Revan maksud adalah kopi instan yang ia seduh dari dispenser. Revan tak pernah meminta kopi khusus. Penolakan Revan yang dingin itu membuat Diana salah tingkah.

Wajahnya langsung memerah, dan ia melirik Aisyah dengan tatapan marah.

Aisyah belajar banyak hal selama menjadi asisten Revan. Ia belajar bagaimana menjadi lebih teliti, lebih cekatan, dan lebih proaktif. Ia juga belajar banyak tentang dunia bisnis, tentang negosiasi, presentasi, dan manajemen proyek. Revan, secara tidak langsung, adalah gurunya. Meskipun ia adalah guru yang keras dan nyaris tanpa ekspresi.

Revan juga punya kebiasaan yang aneh. Ia jarang sekali tersenyum, kecuali saat berhasil menutup kesepakatan besar atau saat karyawannya mencapai target yang luar biasa. Senyumnya sangat tipis, nyaris tak terlihat, namun Aisyah mulai bisa membedakannya.

Suatu sore, saat Aisyah sedang sibuk membereskan meja Revan, ia melihat sebuah figura foto terbalik di sudut meja pria itu. Rasa penasaran menyerang Aisyah. Ia ingin sekali membalik figura itu, melihat siapa yang ada di dalamnya. Namun, ia menahan diri. Ia tahu Revan tidak suka privasinya diganggu.

Meskipun begitu, pikiran Aisyah tak bisa berhenti bertanya-tanya. Siapa sosok yang mampu membuat Revan sedikit tersenyum, atau berbicara dengan nada lembut di telepon? Apakah itu keluarganya? Atau... kekasihnya? Jantung Aisyah berdesir aneh saat memikirkan kemungkinan terakhir. Ia cepat-cepat mengusir pikiran itu. Tidak, tidak mungkin. Ia hanya asisten sementara.

Seiring berjalannya waktu, Aisyah mulai merasa sedikit lebih nyaman di kantor itu. Ia sudah tahu letak setiap ruangan, nama-nama penting, dan jadwal yang selalu berubah. Ia bahkan mulai bisa memprediksi kapan Revan akan mengubah jadwal atau makanan apa yang mungkin akan ia sentuh.

Satu minggu berlalu. Aisyah belum dipecat. Itu adalah sebuah kemenangan kecil. Ia masih harus bertahan tiga minggu lagi dalam masa percobaan.

Dan ia bertekad akan terus berusaha. Ia akan membuktikan kepada Revan Narendra, kepada Diana Suryani, dan terutama kepada dirinya sendiri, bahwa ia layak berada di Narendra Group. Bahkan jika itu berarti ia harus menjadi asisten yang 'aneh' di mata orang lain, atau harus berhadapan dengan bos yang dinginnya melebihi kutub es.

Aisyah mendongak, menatap gedung-gedung pencakar langit yang kini tampak lebih familiar. Di salah satu lantai tertinggi itu, ada ruangannya. Ruangan kerja Revan Narendra. Dan di sana, setiap hari, Aisyah bertemu dengan takdirnya. Takdir yang entah akan membawanya ke mana.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel