Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Pintu yang Tak Terduga - 1

Pagi di Jakarta selalu punya ritme tersendiri. Deru mesin kendaraan yang berpadu dengan klakson yang tak sabaran, aroma knalpot yang bercampur bau nasi uduk dari pinggir jalan, dan lautan manusia yang seolah tak pernah tidur. Namun, bagi Aisyah, pagi ini terasa berbeda. Ada getaran aneh di dadanya, campuran antara rasa gugup yang melilit dan semangat yang membuncah. Ini bukan lagi pagi-pagi yang sama seperti saat ia masih bekerja di perusahaan percetakan. Ini adalah awal babak baru.

Ia terbangun bahkan sebelum alarm ponselnya berdering, pukul lima subuh. Semalam ia nyaris tak bisa memejamkan mata, pikirannya terus berputar pada sosok Revan Narendra dan segala konsekuensi dari keputusannya menerima tawaran pekerjaan 'sementara' itu. Ia tahu ia tidak boleh menyia-nyiakannya. Ini adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih baik, tak peduli seberapa tipis atau goyah jembatan itu.

Setelah sholat subuh, Aisyah memeriksa penampilannya lagi di depan cermin kecil yang sedikit retak di kamarnya. Kemeja putih itu sudah ia setrika semalam sampai licin, rok hitamnya bersih, dan blazer pinjaman dari Rara juga sudah rapi. Ia berusaha keras untuk terlihat profesional, meskipun ia tahu ia takkan bisa menyaingi gaya karyawan Narendra Group yang serba mewah. "Yang penting bersih dan rapi," gumamnya, mencoba meyakinkan diri.

Bapaknya, Pak Jaya, yang biasanya masih terlelap karena kondisi kesehatannya, sudah terbangun dan duduk di kursi bambu di teras sempit. Ibu Lastri sedang menyiapkan sarapan sederhana di dapur. Aroma telur dadar dan nasi hangat memenuhi rumah kontrakan mereka.

"Pagi sekali kamu sudah rapi, Nak," sapa Ibu, senyumnya merekah. Ia selalu bangga pada putri sulungnya ini.

"Iya, Bu. Aku ada janji penting hari ini," jawab Aisyah, tak ingin jujur

sepenuhnya tentang pekerjaan barunya yang masih 'uji coba' itu. Ia tak mau Ibu dan Bapak khawatir atau terlalu berharap. Ia hanya mengatakan bahwa ia mendapat panggilan kerja baru.

Bapaknya menatapnya dengan tatapan lembut. "Semangat, Nak. Bapak doakan yang terbaik untukmu."

Aisyah mencium tangan kedua orang tuanya, merasakan kehangatan dan doa tulus mereka. Doa itulah yang menjadi kekuatan terbesarnya. Setelah sarapan kilat, ia bergegas pergi.

Perjalanan menuju kantor Narendra Group terasa lebih cepat dari kemarin, meskipun ia menggunakan transportasi umum. Mungkin karena semangatnya yang berbeda. Saat ia tiba di gedung megah itu, jarum jam menunjukkan pukul 07.45 pagi. Lima belas menit lebih awal dari yang diminta Revan. Ia ingin menunjukkan bahwa ia serius.

Lobi yang kemarin terasa intimidatif kini masih terasa sama, namun Aisyah mencoba mengabaikannya. Ia langsung menuju lift eksekutif dan menekan tombol lantai teratas. Di sana, di meja resepsionis yang sama, wanita paruh baya bernama Ibu Karina sudah menyambutnya dengan senyum tipis, tak sedingin kemarin.

"Selamat pagi, Nona Aisyah," sapa Ibu Karina. "Silakan masuk. Bapak Revan sudah ada di dalam."

Aisyah mengangguk, jantungnya kembali berdegup kencang. Revan Narendra sudah ada di dalam? Pukul tujuh empat puluh lima? Astaga, pria itu memang workaholic tingkat dewa. Ia tahu mengapa sang CEO menuntut asistennya untuk selalu siap siaga.

Ia mengetuk pintu yang sama, membuka, dan melangkah masuk.

Ruangan kerja Revan terlihat sama, namun aura di dalamnya terasa lebih intens. Revan sudah duduk di mejanya, tatapannya lekat pada layar komputernya. Ia mengenakan kemeja biru gelap dengan lengan digulung rapi hingga siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, membuat penampilannya terlihat lebih serius, dan entah mengapa, lebih menarik. Rambutnya tampak sedikit berantakan di bagian depan, seolah ia baru saja mengusapnya frustrasi.

Revan tidak langsung menyadari kehadirannya. Aisyah berdiri di sana selama beberapa detik, merasa canggung. Ia berdeham pelan.

Baru saat itu Revan mengangkat pandangannya. Matanya yang tajam menatap Aisyah, dan ekspresinya kembali datar seperti kemarin. Ia melepas kacamata, meletakkannya di atas meja.

"Datang tepat waktu," komentarnya, suaranya dalam dan dingin. Itu bukan pujian, hanya sebuah observasi.

"Baik, Bapak," jawab Aisyah.

"Duduk." Revan menunjuk kursi di depannya lagi. "Anda mulai bekerja hari ini. Saya tidak punya waktu untuk memperkenalkan Anda pada semua hal. Saya butuh Anda langsung beradaptasi."

"Saya siap, Bapak."

Revan mengambil tumpukan berkas dari samping monitornya, lalu mendorongnya sedikit ke arah Aisyah.

"Ini semua adalah agenda saya untuk seminggu ke depan. Atur ulang jadwal rapat, konfirmasi kehadiran klien, siapkan presentasi untuk pertemuan direksi lusa, dan koordinasikan perjalanan bisnis saya ke Singapura minggu depan. Pastikan semuanya sempurna. Tidak ada ruang untuk kesalahan."

Aisyah menelan ludah. Tumpukan berkas itu terlihat setinggi gunung. Mengaturnya dalam satu hari? Rasanya mustahil. Tapi ia tidak boleh menunjukkan keraguannya.

"Baik, Bapak. Bisakah Bapak jelaskan prioritasnya?" tanya Aisyah, berusaha tetap tenang. Ia tahu ia harus memahami sistem kerja Revan dulu.

Revan menyeringai tipis. "Semuanya prioritas. Saya tidak suka menunda pekerjaan." Ia lalu berdiri, mengambil jasnya dari gantungan. "Saya ada rapat di lantai bawah. Saya tidak tahu kapan akan kembali. Selesaikan semua itu sebelum saya kembali."

Tanpa menunggu jawaban, Revan langsung berbalik dan berjalan menuju pintu. Aisyah hanya bisa melihat punggungnya yang tegap menghilang di balik pintu ganda. Ia ditinggalkan sendirian di ruangan megah itu, bersama tumpukan berkas yang menakutkan.

Aisyah menarik napas dalam-dalam.

"Oke, Aisyah, kamu bisa!" bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba mengumpulkan semua keberanian.

Ia mulai memeriksa berkas-berkas itu. Ada jadwal rapat yang berantakan, email konfirmasi yang belum terkirim, draf presentasi yang masih kosong, dan daftar kontak yang harus dihubungi. Ini benar-benar kekacauan yang terorganisir.

Ia mengambil pena dan kertas, mulai mencatat semua poin penting. Otaknya bekerja keras, menyusun strategi. Ia mulai dari yang paling mendesak: mengkonfirmasi rapat pagi itu yang seharusnya sudah dimulai. Dengan sedikit keberanian, ia mengangkat gagang telepon dan menghubungi nomor yang tertera di memo.

"Selamat pagi, ini asisten Bapak Revan Narendra. Saya ingin mengkonfirmasi ulang jadwal rapat Anda dengan PT Global Investasi pada pukul sembilan pagi ini..."

Begitulah awal harinya. Aisyah bergerak cepat, meskipun hatinya masih berdebar. Ia menghubungi banyak orang, mulai dari klien, sekretaris direksi, hingga agen perjalanan. Setiap kali ia berbicara di telepon, ia harus menjaga profesionalismenya, meskipun di dalam hatinya ia seringkali panik karena takut membuat kesalahan.

Sekitar pukul sebelas, ketika ia sedang sibuk menyusun slide presentasi, ponselnya berdering. Nama "Rara Permata" terpampang di layar. Aisyah sempat ragu mengangkatnya, khawatir Revan tiba-tiba kembali. Tapi ia memutuskan untuk mengangkatnya juga, ia butuh dukungan.

"Bagaimana, Syah? Kamu baik-baik saja? Sudah betah?" tanya Rara bersemangat.

"Baik-baik saja, Ra," jawab Aisyah, suaranya sedikit tertahan. "Baru mulai dan sudah langsung dihajar tumpukan kerjaan."

Rara tertawa. "Itu pasti bos iblis itu, kan? Yang terkenal dinginnya melebihi kulkas dua pintu."

"Kurang lebih begitu," Aisyah tersenyum tipis. "Dia bahkan tidak bicara banyak, hanya lempar tumpukan berkas dan pergi."

"Astaga! Sabar ya, Syah. Kalau sudah tidak tahan, bilang saja padaku. Kita cari makan siang enak nanti."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel