Bab 1 Mimpi yang Nyaris Sirna - 3
"Anda juga mencantumkan kemampuan bahasa Inggris dan Mandarin di CV Anda?" tanyanya, nada suaranya seolah meremehkan.
"Iya, Bapak. Saya belajar otodidak dari film dan buku. Saya cukup lancar dalam percakapan dasar," jawab Aisyah jujur.
Ia tidak pernah mengambil kursus formal, namun ia memang sangat menyukai bahasa asing.
Revan menyeringai tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip ejekan.
"Otodidak? Menarik." Ia lalu berbicara panjang lebar dalam bahasa Inggris, dengan aksen Amerika yang sangat fasih, menjelaskan tentang proyek terbarunya yang sangat kompleks. Ia berbicara dengan cepat, menggunakan banyak istilah teknis yang Aisyah belum pernah dengar sebelumnya. Aisyah mencoba mendengarkan dengan saksama, otaknya bekerja keras untuk mencerna setiap kata. Ia mengangguk-angguk, mencoba menunjukkan bahwa ia mengerti.
Setelah Revan selesai berbicara, ia menatap Aisyah. "Bisakah Anda merangkum apa yang baru saja saya katakan dalam bahasa Mandarin?"
Mata Aisyah membelalak. Ia terpaku. Bahasa Inggris, oke, ia masih bisa memahami intinya. Tapi Mandarin? Dan merangkum proyek yang sangat teknis itu? Ia hanya bisa beberapa frasa dasar, dan percakapan ringan. Ini benar-benar di luar kemampuannya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Revan menunggunya dengan sabar, atau mungkin lebih tepatnya, dengan kesabaran yang menguji. Wajahnya yang dingin semakin membuat Aisyah ciut. Ia merasa seperti tikus kecil di hadapan seekor singa.
"Maaf, Bapak," kata Aisyah, suaranya nyaris tak terdengar. "Saya... saya rasa saya belum fasih untuk merangkum proyek sekompleks itu dalam bahasa Mandarin."
Revan mengangkat alisnya lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih menunjukkan kekecewaan. Ia mengangguk perlahan. "Saya duga begitu."
Ia lalu bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kaca, membelakangi Aisyah. Punggungnya yang tegap memancarkan otoritas yang luar biasa. Aisyah merasa napasnya tercekat. Ini adalah akhirnya. Ia tahu ia gagal.
"Anda tahu kenapa Anda dipanggil ke sini, Nona Aisyah?" tanya Revan, tanpa menoleh. Suaranya datar, namun ada nada misterius di dalamnya.
Aisyah menggelengkan kepala. "Tidak, Bapak. Saya... saya juga sedikit terkejut."
Revan berbalik. "Kami menerima ratusan lamaran setiap hari. Untuk posisi ini, kami hanya memanggil segelintir orang. Anda tahu kenapa Anda ada di sini?"
Aisyah menatapnya, tidak berani menjawab.
"Karena CV Anda," kata Revan, suaranya kini sedikit lebih jelas, namun masih dingin. "Ada kesalahan administrasi."
Hati Aisyah mencelos. Ia merasa seperti ditinju. Sebuah kesalahan? Jadi semua ini hanya salah paham? Harapan yang sempat membuncah kini hancur berkeping-keping.
"Salah... kesalahan?" ulang Aisyah, suaranya lirih.
"Benar. CV Anda masuk ke tumpukan yang salah. Seharusnya Anda dihubungi untuk posisi staf administrasi di departemen logistik. Bukan asisten pribadi saya," jelas Revan tanpa ekspresi. "Namun, karena Anda sudah di sini, dan Anda juga mencantumkan beberapa kemampuan yang bisa digunakan..."
Ia berhenti sejenak, memandang Aisyah dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang menimbang-nimbang. Aisyah menunduk, merasa malu dan kecewa. Ini adalah rasa sakit yang lebih besar daripada sekadar di-PHK. Ini adalah rasa sakit karena harapan yang direnggut secara tiba-tiba.
"Meskipun Anda tidak memenuhi kualifikasi untuk posisi ini," lanjut Revan, nada suaranya sedikit melembut, entah mengapa. "Namun, saya tidak punya waktu lagi untuk mencari asisten baru. Jadwal saya sangat padat, dan asisten lama saya mengundurkan diri mendadak. Saya butuh seseorang segera. Dan Anda... setidaknya Anda ada di sini."
Aisyah mengangkat kepalanya, matanya membelalak tak percaya. Apa yang baru saja ia dengar?
"Apakah... apakah Bapak bermaksud..."
Revan mengangguk singkat. "Saya akan memberi Anda kesempatan. Sebagai asisten pribadi sementara saya, selama satu bulan. Jika dalam satu bulan Anda tidak bisa memenuhi standar saya, Anda akan langsung saya pecat."
Aisyah terdiam, mencerna kata-kata Revan. Asisten pribadi sementara? Dengan ancaman pemecatan di depan mata? Ini seperti tawaran surga dan neraka dalam satu paket. Tapi... ini adalah kesempatan. Kesempatan di Narendra Group. Kesempatan untuk Revan Narendra.
"Bagaimana?" tanya Revan, nadanya kini menuntut. "Ambil atau tinggalkan?"
Aisyah menatapnya. Mata tajam itu menantangnya, seolah menguji keberaniannya. Ia tahu ini akan sulit, sangat sulit. Pria di depannya ini adalah CEO yang angkuh dan dingin, dengan standar yang tak masuk akal. Tapi Aisyah juga tahu, ia tidak punya pilihan lain. Keluarganya, mimpi-mimpinya, semua bergantung pada keputusan ini.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Mengambil semua keberanian yang tersisa di dalam dirinya.
"Saya ambil, Bapak," jawab Aisyah mantap, suaranya kini lebih jelas dan penuh tekad. "Saya akan buktikan bahwa saya bisa."
Senyum tipis yang tak bisa diartikan terukir di bibir Revan. Ia mengangguk.
"Baik. Anda bisa mulai bekerja besok pagi. Jam delapan tepat. Jangan sampai telat.
"Baik, Bapak!"
"Satu lagi," tambah Revan, suaranya kembali ke nada dingin yang biasa.
"Jangan pernah berani berpikir saya akan bersikap lunak hanya karena Anda seorang wanita. Saya tidak peduli gender, status sosial, atau latar belakang. Yang saya pedulikan hanya hasil. Paham?"
"Paham, Bapak," jawab Aisyah.
"Bagus. Anda bisa keluar sekarang."
Aisyah bangkit, membungkuk hormat, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah yang masih sedikit gemetar. Pintu besar itu tertutup di belakangnya, seolah menutup babak lama dalam hidupnya dan membuka babak baru yang penuh tantangan.
Ia berjalan menuju lift, otaknya masih mencerna semua yang baru saja terjadi. Salah administrasi? Kesempatan sementara? Revan Narendra yang angkuh? Semua terasa seperti mimpi. Ia mencubit tangannya sendiri, dan rasa sakitnya membuktikan bahwa ini nyata.
Saat tiba di lobi, Rara langsung menyambutnya dengan wajah penuh pertanyaan. "Bagaimana? Bagaimana? Diterima?"
Aisyah tersenyum lebar, senyum yang tulus setelah sekian lama. "Aku diterima, Ra! Aku diterima di Narendra Group!"
Rara memeluknya erat, melompat-lompat kegirangan. Mereka tidak tahu apa yang akan menanti Aisyah di balik pintu kaca Narendra Group itu. Mereka tidak tahu bahwa ini adalah awal dari sebuah perjalanan yang akan mengubah hidup Aisyah sepenuhnya, dan mungkin juga hidup Revan Narendra. Sebuah perjalanan di mana hati yang dingin perlahan akan mencair, dan benih cinta akan tumbuh di tengah kesombongan dan kesederhanaan.
Aisyah menatap gedung menjulang tinggi itu, di mana Revan Narendra berada di puncak piramidanya. Ia adalah gadis miskin yang tiba-tiba menjadi asisten CEO paling angkuh di Jakarta. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan ia siap menghadapi badai apa pun.
