Bab 1 Mimpi yang Nyaris Sirna - 2
Aisyah terdiam. Otaknya berputar cepat. Narendra Group? Tapi lowongan apa? Asisten pribadi? Apakah mereka benar-benar memanggilnya? Ini pasti kesalahan. Ia tidak ingat melamar ke Narendra Group selain untuk posisi asisten pribadi yang ia anggap mustahil itu.
"Maaf, apakah ini untuk posisi... asisten pribadi?" tanya Aisyah, ragu-ragu.
"Benar. Asisten pribadi untuk Bapak Revan Narendra."
Seketika, napas Aisyah tercekat. Revan Narendra? Bukankah itu nama CEO-nya? Astaga, ia bahkan tidak tahu siapa yang akan ia dampingi jika ia diterima. Ia hanya membaca "petinggi perusahaan". Ini gila! Tapi, kesempatan ini...
"Bisa! Bisa, saya pasti datang!" jawab Aisyah cepat, tanpa berpikir dua kali.
Setelah panggilan berakhir, Aisyah masih mematung, ponselnya menggenggam erat di tangan. Mimpi? Ini pasti mimpi. Bagaimana mungkin ia, Aisyah Nurani, gadis dari keluarga sederhana yang bahkan kesulitan membayar sewa kontrakan, bisa dipanggil wawancara di perusahaan sebesar Narendra Group, untuk posisi yang amat elit pula?
Ia langsung menghubungi Rara, menceritakan semuanya. Rara menjerit kaget di ujung telepon.
"Gila! Kamu benar-benar gila, Syah! Tapi ini keren! Astaga, ini rezeki nomplok!" seru Rara bersemangat.
"Besok aku temani kamu. Kita cari baju yang bagus. Pokoknya kamu harus tampil prima!"
Malam itu, Aisyah tak bisa tidur. Pikirannya melayang-layang. Ia mencari tahu tentang Revan Narendra. Fotonya muncul di berbagai artikel berita bisnis. Pria muda, tampan, rahang kokoh, mata tajam, dan ekspresi dingin yang mendominasi. Usianya sekitar akhir dua puluhan. Ia adalah putra tunggal dari pendiri Narendra Group yang legendaris. Gelar MBA dari universitas terkemuka di luar negeri, visi bisnis yang brilian, dan reputasi sebagai seorang workaholic yang perfeksionis. Artikel-artikel itu juga menyebutkan bagaimana ia berhasil membawa perusahaan ke puncak kejayaan dalam waktu singkat. Namun, tidak ada satu pun artikel yang membahas sisi personalnya. Ia seolah bersembunyi di balik citra kaku dan profesional.
Revan Narendra. Nama itu kini terukir jelas di benak Aisyah. Besok, ia akan bertemu dengan pria itu. Sosok yang selama ini hanya ia lihat di majalah dan berita keuangan. Rasa gugup bercampur antusiasme menyerbu dirinya. Ia tahu, ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Kesempatan untuk mengubah nasibnya, nasib keluarganya. Ia tidak boleh menyia-nyiakannya.
Keesokan paginya, Aisyah mengenakan kemeja putih licin dan rok hitam panjang andalannya, dipadukan blazer pinjaman dari Rara yang sedikit kebesaran. Rambut hitam panjangnya ia ikat rapi, wajahnya dipoles tipis dengan bedak dan lipstik sederhana. Ia ingin terlihat profesional, meski ia tahu penampilannya jauh dari kata mewah.
Rara menemaninya hingga lobi gedung Narendra Group yang megah. Dinding marmer mengilap, lampu kristal gantung, dan aroma mahal memenuhi udara. Aisyah merasa sangat kecil di tengah kemewahan itu. Para karyawan yang berlalu lalang tampak begitu berkelas, dengan setelan jas mahal dan tas desainer.
"Kamu pasti bisa, Syah! Tunjukkan pada mereka siapa Aisyah Nurani!" bisik Rara sebelum Aisyah melangkah masuk.
Aisyah mengambil napas dalam-dalam, menguatkan diri. Ia menatap pintu lift yang tertutup, seolah di baliknya tersembunyi gerbang menuju masa depan yang belum terbayangkan.
Ia naik ke lantai paling atas, ke area eksekutif. Semakin tinggi ia melangkah, semakin sepi dan eksklusif suasananya.
Akhirnya, ia tiba di depan sebuah pintu ganda besar berwarna gelap dengan tulisan timbul berwarna perak: Chief Executive Officer – Revan Narendra.
Jantung Aisyah berdegup kencang. Tangannya berkeringat dingin. Ini dia.
Seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal dan penampilan sangat rapi menyambutnya di meja resepsionis di luar ruangan Revan.
"Anda Nona Aisyah Nurani? Silakan masuk, Bapak Revan sudah menunggu," kata wanita itu tanpa senyum.
Aisyah mengangguk, berusaha terlihat tenang. Ia mengetuk pintu perlahan, lalu membukanya.
Ruangan itu luas, didominasi warna abu-abu gelap, hitam, dan putih. Dindingnya adalah kaca transparan yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang menakjubkan. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja besar dari kayu gelap terisi penuh dengan monitor komputer, tumpukan berkas, dan beberapa perangkat elektronik canggih.
Di balik meja itu, duduklah seorang pria. Revan Narendra. Sama seperti di foto, bahkan lebih menawan. Setelan jas hitamnya melekat sempurna di tubuh atletisnya. Rambut hitamnya tertata rapi, dan matanya yang tajam menatap Aisyah dengan intens, seolah sedang menganalisis setiap detailnya. Ekspresinya datar, dingin, dan nyaris tanpa emosi. Aura kesombongan dan keangkuhan begitu pekat menyelimutinya.
"Selamat pagi, Bapak," sapa Aisyah, suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba menunduk hormat, seperti yang ia lihat di drama Korea.
Revan tidak membalas sapaannya. Ia hanya mengangguk kecil, menunjuk kursi di depannya tanpa berkata apa-apa.
Aisyah duduk, merasa tidak nyaman di bawah tatapan dingin pria itu. Ia meneguk ludah. Ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya suara ketukan jari Revan di meja yang terdengar. Pria itu sibuk melihat layar komputer, sesekali melirik Aisyah sekilas, membuat Aisyah merasa seperti objek yang sedang dinilai.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Revan akhirnya menutup laptopnya. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangan di depan dada. Matanya menatap Aisyah lurus, tanpa ekspresi.
"Jadi, Anda Aisyah Nurani," katanya, suaranya dalam dan berat, nyaris tanpa intonasi. Nada bicaranya menunjukkan kebosanan.
"Benar, Bapak," jawab Aisyah, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
"Lulusan cum laude dari universitas swasta yang tidak terlalu dikenal,"
Revan mengomentari CV Aisyah yang ada di tangannya, matanya masih menatap Aisyah. "Pengalaman kerja tiga tahun di perusahaan percetakan kecil. Tidak ada pengalaman sebagai asisten pribadi."
Aisyah menelan ludah. Ia tahu itu, ia sudah tahu. "Maaf, Bapak. Saya memang tidak memiliki pengalaman spesifik sebagai asisten pribadi, namun saya sangat cepat belajar, mampu beradaptasi, dan saya jamin saya akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini."
Revan mengangkat satu alisnya, menunjukkan sedikit reaksi.
"Memberikan yang terbaik? Anda tahu posisi ini sangat berat? Saya membutuhkan seseorang yang bisa berpikir cepat, bergerak gesit, dan memiliki inisiatif tinggi. Bukan seseorang yang hanya bisa menjalankan perintah."
"Saya yakin saya memiliki itu, Bapak," kata Aisyah dengan sedikit lebih percaya diri. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ini adalah satu-satunya kesempatannya.
Revan menghela napas panjang, seolah ia sangat lelah dengan situasi ini. Ia meletakkan CV Aisyah di meja, lalu meraih sebuah berkas lain.
