Bab 1 Mimpi yang Nyaris Sirna - 1
Langit Jakarta sore itu seolah ikut meratapi nasib Aisyah Nurani. Awan kelabu menggantung rendah, memayungi gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh, dan hawa lembap mulai menyengat kulit. Di tengah kerumunan manusia yang terburu-buru pulang, Aisyah berjalan gontai, kakinya terasa seperti timah, dan hatinya remuk redam. Di tangan kanannya tergenggam amplop cokelat tipis yang baru saja ia terima, isinya bukan gaji, bukan bonus, melainkan surat PHK.
Sudah tiga tahun ia mengabdikan diri di perusahaan percetakan kecil itu, dari mulai menjadi staf magang hingga dipercaya mengelola beberapa proyek kecil. Gaji yang pas-pasan sebenarnya tak pernah cukup untuk menopang kebutuhan keluarganya, tapi setidaknya, itu adalah harapan. Harapan untuk melunasi cicilan rumah sakit Bapak, harapan untuk membayar uang sekolah adik-adiknya, dan harapan untuk mimpi-mimpinya sendiri yang entah kapan bisa diraih. Kini, harapan itu seolah runtuh, seperti tumpukan kertas yang jatuh dari meja kerjanya.
"Aisyah!" sebuah suara melengking memecah lamunannya.
Ia menoleh, dan melihat Rara Permata, sahabat sekaligus rekan kerjanya, berlari terengah-engah mengejarnya. Rara, dengan rambut sebahu yang selalu berantakan dan senyum lebarnya, adalah satu-satunya pelipur lara Aisyah di kantor itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rara, napasnya tersengal. Wajahnya yang ceria kini dipenuhi kekhawatiran.
Aisyah hanya mengangguk, mencoba tersenyum, namun bibirnya bergetar. Ia mengangkat amplop di tangannya.
"Sudah selesai, Ra. Perjalanan kita di sini sudah selesai."
Rara langsung memeluknya erat.
"Sialan! Aku tidak percaya mereka melakukan ini pada kita. Setelah semua kerja keras kita, mereka seenaknya saja membuang kita seperti sampah!" umpat Rara, matanya berkaca-kaca. Rara juga menjadi salah satu korban PHK massal itu.
Pelukan Rara yang hangat seolah memecah bendungan air mata yang sejak tadi ia tahan. Aisyah tak sanggup lagi berpura-pura tegar. Isak tangisnya pecah di bahu sahabatnya. Bau keringat dan parfum murah Rara tak pernah terasa senyaman ini.
"Bagaimana sekarang, Ra?" bisik Aisyah di sela isakannya. "Bapak masih butuh obat, uang sekolah adik-adik..."
"Ssst... Jangan dipikirkan sekarang. Kita akan cari jalan, selalu ada jalan," hibur Rara, mengusap punggung Aisyah. "Kita pulang dulu. Aku tahu tempat yang bisa membuatmu sedikit lebih baik."
Rara menarik tangan Aisyah, membawanya menyusuri trotoar yang mulai ramai. Mereka berdua berjalan dalam diam, hanya suara klakson mobil dan deru napas yang mendominasi. Pikiran Aisyah melayang pada keluarganya. Bapak yang sakit-sakitan, Ibu yang hanya ibu rumah tangga, dan dua adiknya, Rizal dan Fitri, yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia adalah tulang punggung, dan kini tulang itu seolah patah.
Mereka tiba di sebuah warung kopi sederhana yang tak jauh dari stasiun KRL. Aroma kopi robusta yang kuat menyeruak, berbaur dengan wangi gorengan yang baru diangkat. Aisyah suka tempat ini. Selalu ramai, selalu hidup, dan selalu menawarkan kenyamanan yang jujur. Rara memesan dua gelas kopi hitam dan sepiring pisang goreng.
"Minum ini. Setidaknya bisa menghangatkan hatimu yang dingin karena kecewa," kata Rara, menyodorkan segelas kopi panas.
Aisyah menyesap kopi itu perlahan.
Hangatnya menjalar ke seluruh tubuhnya, sedikit meredakan ketegangan di pundaknya. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana lagi, Ra. Melamar ke mana? Kompetisinya pasti gila-gilaan."
"Justru itu! Kamu lulusan terbaik di angkatan kita, Aisyah Nurani! IPK-mu nyaris sempurna! Kamu cerdas, pekerja keras, dan jujur. Siapa yang tidak mau mempekerjakanmu?" Rara mencoba menyemangati.
"Itu di atas kertas, Ra. Realitanya lebih kejam," sahut Aisyah pahit. "Sekarang, ijazahku seolah tidak berarti apa-apa."
"Jangan pesimis dulu! Lihat ini." Rara mengeluarkan ponselnya dan membuka beberapa tab lowongan kerja. "Aku sudah mencari beberapa. Ada posisi staf administrasi, staf keuangan, bahkan ada lowongan asisten pribadi di beberapa perusahaan besar."
Aisyah mencondongkan tubuh, matanya melirik layar ponsel Rara. Ia melihat daftar panjang syarat dan kualifikasi yang terasa begitu berat. Terlebih, gaji yang ditawarkan tak terlalu menggiurkan.
"Asisten pribadi?" ulang Aisyah, matanya tertuju pada satu lowongan yang menonjol. "Di perusahaan apa itu?"
"Narendra Group," jawab Rara santai, sambil mengunyah pisang gorengnya.
"Perusahaan teknologi raksasa. Gila, kan? Mereka butuh asisten pribadi untuk salah satu petinggi mereka. Tapi lihat, syaratnya selangit: S1 semua jurusan, pengalaman minimal 3 tahun, lancar bahasa Inggris dan Mandarin, mampu bekerja di bawah tekanan tinggi..." Rara tertawa. "Mana mungkin kita lolos? Itu seperti mimpi di siang bolong."
Aisyah terdiam. Narendra Group. Siapa yang tidak tahu nama itu? Perusahaan yang didirikan oleh keluarga Narendra, konglomerat kelas kakap di Indonesia. Produk-produk digital mereka merajai pasar, dari aplikasi perbankan hingga platform e-commerce. Pekerjaan di sana ibarat surga bagi para pencari kerja. Namun, syaratnya... memang seperti mimpi.
"Apa salahnya mencoba?" gumam Aisyah, lebih kepada dirinya sendiri.
"Setidaknya, aku sudah berusaha."
Rara menatapnya heran. "Kamu serius? Kamu mau melamar ke sana? Itu lowongan untuk orang-orang kelas atas, Syah. Kita ini siapa?"
"Justru itu, Ra. Kita bukan siapa-siapa, jadi tidak ada ruginya mencoba," balas Aisyah, senyum tipis terukir di bibirnya.
Ia sudah lelah dengan rasa putus asa. Saatnya mencoba sesuatu yang gila.
Malam itu, Aisyah pulang dengan perasaan campur aduk. Ia menyembunyikan surat PHK-nya di balik tumpukan buku-buku kuliah lamanya. Ia tidak ingin Bapak dan Ibu khawatir. Malam itu, ia lembur lagi, bukan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, melainkan untuk memperbarui CV-nya. Ia memolesnya sebaik mungkin, menambahkan setiap pengalaman kecil yang ia miliki, dan menulis surat lamaran yang tulus dari hati.
Esok harinya, Aisyah memberanikan diri mengirimkan lamarannya ke Narendra Group. Ia tahu peluangnya sangat tipis, nyaris tidak ada. Namun, setidaknya, ia sudah mencoba.
Beberapa hari berlalu. Aisyah melamar ke banyak tempat lain, dari perusahaan kecil hingga menengah, namun hasilnya selalu sama: nihil. Setiap penolakan terasa seperti pukulan, merobek sedikit demi sedikit semangatnya. Ia mulai merasa putus asa lagi.
Hingga suatu siang, saat ia sedang membantu Ibu membersihkan rumah, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Dengan ragu, ia mengangkatnya.
"Selamat siang, dengan saudari Aisyah Nurani?" suara seorang wanita terdahulu menyapanya.
"Iya, saya sendiri," jawab Aisyah, jantungnya berdebar kencang tanpa tahu mengapa.
"Saya dari Narendra Group. Kami telah meninjau lamaran Anda dan ingin mengundang Anda untuk wawancara besok pagi pukul sembilan di kantor pusat kami. Bisakah Anda datang?"
