Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3 JANDA SEBELAH KAMAR

Pagi itu, Hendra terbangun bukan karena suara alarm.

Tok. Tok. Tok.

Matanya terbuka perlahan.

Ia menatap langit-langit kamar dengan wajah masih mengantuk.

Tok. Tok.

Suara itu terdengar lagi.

Hendra menoleh ke arah dinding.

Kamar 208.

Selama beberapa detik ia hanya berbaring sambil mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Kemudian ia tersenyum.

"Serius?"

Hendra bangkit dari tempat tidur.

Ia berjalan mendekati dinding dan mengetuk balik.

Tok. Tok. Tok.

Sunyi.

Tidak ada balasan.

Hendra menunggu.

Tok.

Satu ketukan terdengar dari sebelah.

Hendra tertawa kecil.

Entah sejak kapan mereka memiliki cara komunikasi seperti ini.

Semalam semuanya dimulai ketika Andien meninggalkan nasi goreng di depan kamarnya. Hendra membalas dengan sebuah catatan, lalu muncul ketukan-ketukan kecil dari balik dinding.

Aneh.

Namun menyenangkan.

Hendra mengambil ponsel.

Pukul 06.45.

"Dia bangunin gue?"

Hendra menggeleng sambil tersenyum.

Ia berjalan ke kamar mandi.

Lima belas menit kemudian, Hendra keluar dengan rambut masih basah.

Hari ini ia tidak memiliki jadwal pemotretan.

Ia hanya perlu mengedit beberapa foto dari pekerjaan kemarin dan mengirimkan hasilnya kepada klien.

Dengan kata lain, ia bisa berada di kamar sepanjang hari.

Hendra membuat kopi instan.

Kemudian duduk di depan laptop.

Baru beberapa menit bekerja, terdengar suara pintu kamar sebelah dibuka.

Hendra secara refleks menoleh.

Lalu berhenti.

"Kenapa gue jadi hafal suara pintunya?"

Ia tertawa sendiri.

Hendra mencoba kembali fokus.

Namun rasa penasaran menang.

Ia berdiri dan membuka pintu.

Andien sedang berdiri di lorong.

Wanita itu mengenakan pakaian kerja seperti biasa. Rambutnya tergerai rapi dan sebuah tas tergantung di bahunya.

Andien menoleh.

Mata mereka bertemu.

Hendra tersenyum.

"Pagi."

"Pagi."

Andien hendak berjalan.

Hendra bersandar di pintu.

"Terima kasih sudah membangunkan."

Langkah Andien berhenti.

Ia menoleh.

"Membangunkan?"

Hendra menunjuk dinding.

"Tiga ketukan."

Andien mengerutkan kening.

"Bukan saya."

Hendra terdiam.

"Oh."

Andien berjalan pergi.

Hendra berdiri dengan ekspresi bingung.

Kalau bukan Andien...

Lalu siapa?

Kamar sebelahnya hanya Kamar 208.

Hendra menatap dinding.

Kemudian terdengar suara Andien dari ujung lorong.

"Saya cuma mengetuk dua kali."

Hendra langsung menoleh.

Andien sudah berjalan menuju tangga.

Wanita itu tidak melihat ke belakang.

Namun Hendra bisa melihat sedikit senyum di wajahnya.

Hendra tertawa.

"Ternyata bisa bercanda juga."

---

Sekitar pukul sebelas siang, Hendra turun ke lantai bawah.

Matanya terasa lelah setelah berjam-jam menatap layar laptop.

Ia memutuskan membuat kopi.

Ketika memasuki dapur, Pak Burhan sedang duduk di meja sambil membaca koran.

"Siang, Pak."

Pak Burhan menurunkan korannya.

"Siang."

Hendra mengambil cangkir.

"Kerja di rumah?"

"Iya. Lagi edit foto."

Pak Burhan mengangguk.

Hendra membuat kopi.

Ia sebenarnya tidak berniat bertanya apa pun.

Namun sebuah nama muncul dalam pikirannya.

Andien.

Hendra melirik Pak Burhan.

Pria itu masih membaca koran.

Hendra duduk di seberangnya.

"Pak."

"Hm?"

"Sudah lama punya tempat kos ini?"

Pak Burhan menurunkan koran.

"Hampir lima belas tahun."

"Wah."

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Tanya saja."

Pak Burhan menatap Hendra dengan curiga.

"Kalau mau tanya tentang Andien, langsung saja."

Hendra hampir tersedak kopi.

"Siapa yang mau tanya Andien?"

Pak Burhan tersenyum.

"Penghuni baru biasanya tidak duduk menemani saya minum kopi."

Hendra tertawa kecil.

"Memangnya salah?"

"Tidak."

Pak Burhan melipat koran.

"Tapi sejak kamu datang, saya sudah tahu kamu penasaran sama penghuni kamar sebelah."

Hendra menggeleng.

"Biasa saja."

"Bagus."

Pak Burhan kembali membuka koran.

Hendra diam.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Akhirnya ia menyerah.

"Dia sudah lama tinggal di sini?"

Pak Burhan tertawa.

Hendra menghela napas.

"Ya sudah. Saya memang penasaran."

Pak Burhan meletakkan korannya.

"Kurang lebih dua tahun."

"Sendiri?"

"Sendiri."

Hendra mengangguk.

"Lalu..."

Pak Burhan langsung mengangkat tangan.

"Jangan."

"Saya belum tanya."

"Saya tahu pertanyaan berikutnya."

Hendra tersenyum.

"Suaminya?"

Pak Burhan menatapnya.

Tidak langsung menjawab.

"Kenapa kamu ingin tahu?"

Hendra terdiam.

Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya berpikir.

Kenapa?

Ia sendiri tidak tahu.

Mungkin karena Andien menarik.

Mungkin karena tangisan malam itu.

Atau mungkin karena wanita tersebut memiliki sesuatu yang membuat Hendra ingin mengenalnya lebih jauh.

"Sekadar penasaran."

Pak Burhan menghela napas.

"Andien janda."

Hendra diam.

Entah kenapa informasi itu terasa berbeda ketika akhirnya diucapkan secara langsung.

"Sudah lama?"

"Beberapa tahun."

"Cerai?"

Pak Burhan menatapnya tajam.

Hendra mengangkat tangan.

"Oke. Saya terlalu banyak tanya."

"Betul."

Pak Burhan kembali membaca koran.

Namun beberapa detik kemudian ia berkata,

"Dia orang baik."

Hendra menatapnya.

Pak Burhan tidak mengangkat wajah.

"Cuma pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan."

Hendra teringat tangisan dari kamar sebelah.

"Apa?"

Pak Burhan menutup korannya.

"Saya sudah terlalu banyak bicara."

"Pak..."

"Kalau kamu ingin tahu, tanya langsung sama orangnya."

Hendra tersenyum pahit.

"Kalau saya tanya, mungkin saya dilempar dari lantai dua."

Pak Burhan tertawa.

"Berarti kamu sudah cukup mengenalnya."

---

Sore hari, Hendra keluar membeli makan.

Ketika kembali, ia melihat sebuah mobil berhenti di depan tempat kos.

Seorang wanita turun.

Hendra langsung mengenalinya.

Andien.

Namun ia tidak sendirian.

Seorang pria turun dari sisi pengemudi.

Usianya mungkin sekitar akhir tiga puluhan.

Berpakaian rapi.

Tinggi.

Penampilannya menunjukkan seseorang yang terbiasa dengan lingkungan bisnis.

Pria itu berjalan mendekati Andien.

Mereka berbicara.

Hendra tidak bisa mendengar percakapan mereka.

Namun ekspresi Andien terlihat berbeda.

Tegang.

Pria itu mengatakan sesuatu.

Andien menggeleng.

Kemudian pria tersebut memegang lengannya.

Hendra berhenti berjalan.

Alisnya mengerut.

Andien langsung melepaskan tangan pria itu.

Ia berkata sesuatu dengan ekspresi marah.

Pria tersebut tersenyum.

Senyum yang entah mengapa tidak disukai Hendra.

Hendra hampir berjalan mendekat.

Namun ia berhenti.

Bukan urusannya.

Ia bahkan tidak tahu siapa pria itu.

Bisa saja teman.

Rekan kerja.

Atau keluarga.

Hendra memilih masuk melalui pintu samping.

---

Malam hari.

Hendra sedang makan ketika terdengar ketukan di pintunya.

Tok. Tok.

Hendra berdiri.

Saat membuka pintu, Andien berada di sana.

Hendra sedikit terkejut.

"Hei."

Andien menatapnya.

"Kamu sibuk?"

Hendra melihat ke dalam kamarnya.

Kemudian kembali menatap Andien.

"Lagi makan."

"Oh."

Andien terlihat hendak pergi.

"Tunggu."

Andien berhenti.

Hendra tersenyum.

"Ada apa?"

Wanita itu tampak ragu.

"Saya mau tanya."

"Tanya saja."

Andien menatapnya beberapa detik.

"Tadi sore kamu melihat sesuatu?"

Hendra langsung teringat pria di depan tempat kos.

"Melihat apa?"

Andien menatap matanya.

Hendra tahu wanita itu sedang mencoba mengetahui apakah dirinya berbohong.

"Seorang pria."

Hendra akhirnya mengangguk.

"Sedikit."

"Kamu dengar pembicaraan kami?"

"Tidak."

Andien terlihat lega.

Hendra bersandar pada kusen pintu.

"Pacar?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Ekspresi Andien langsung berubah.

"Bukan urusanmu."

Hendra mengangguk.

"Benar."

Andien berbalik.

Namun sebelum pergi, Hendra berkata,

"Dia memegang tanganmu."

Andien berhenti.

Hendra melanjutkan.

"Dan kelihatannya kamu tidak suka."

Andien menoleh.

Tatapannya dingin.

"Saya bisa menjaga diri sendiri."

"Saya tidak bilang kamu tidak bisa."

"Kalau begitu jangan ikut campur."

Hendra terdiam.

Andien masuk ke kamarnya.

Pintu tertutup.

Hendra menghela napas.

"Bagus, Hendra."

Ia berbicara kepada dirinya sendiri.

"Baru tiga hari tinggal di sini, sudah bikin tetangga marah."

Ia kembali masuk.

---

Sekitar pukul sepuluh malam, Hendra keluar menuju dapur.

Saat kembali ke lantai dua, ia melihat Andien duduk sendirian di ujung lorong.

Wanita itu duduk di dekat jendela.

Hendra berhenti.

Ia sebenarnya bisa langsung masuk kamar.

Namun kakinya justru berjalan mendekat.

Andien menyadari kehadirannya.

"Kamu lagi."

Hendra tersenyum.

"Saya memang tinggal di sini."

Andien tidak menjawab.

Hendra berdiri di sampingnya.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

"Aku minta maaf."

Andien menoleh.

Hendra sedikit terkejut dengan dirinya sendiri.

Tanpa sadar, ia mulai menggunakan kata aku.

"Aku memang terlalu ikut campur."

Andien kembali menatap ke luar jendela.

"Ya."

Hendra tertawa kecil.

"Setidaknya pura-pura bilang tidak apa-apa."

"Tidak."

Hendra menggeleng.

Kemudian ia hendak pergi.

Namun suara Andien menghentikannya.

"Dia mantan suamiku."

Hendra berhenti.

Ia menoleh.

Andien masih melihat ke luar jendela.

Pria sore tadi.

Mantan suami.

Hendra berjalan kembali.

Namun kali ini ia tidak bertanya.

Andien tersenyum tipis.

"Kamu tidak penasaran?"

"Sedikit."

"Sedikit?"

"Oke. Banyak."

Andien tertawa pelan.

Itu pertama kalinya Hendra mendengar tawanya.

Bukan senyum.

Bukan sindiran.

Tawa sungguhan.

Dan entah mengapa, suara itu membuat Hendra ikut tersenyum.

"Tapi aku tidak akan tanya," katanya.

"Kenapa?"

"Karena kamu akan bilang bukan urusanku."

Andien menatapnya.

"Benar."

Mereka kembali diam.

Beberapa saat kemudian, Andien berdiri.

"Aku mau tidur."

Hendra mengangguk.

"Selamat malam."

Andien berjalan menuju kamarnya.

Sebelum membuka pintu, ia menoleh.

"Hendra."

"Ya?"

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena tadi tidak mendekat."

Hendra memahami maksudnya.

Kejadian sore tadi.

Ia tersenyum.

"Aku hampir melakukannya."

Andien mengangkat alis.

"Kenapa?"

Hendra mengangkat bahu.

"Entahlah."

Mata mereka bertemu.

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Andien akhirnya masuk ke kamarnya.

Pintu tertutup.

Hendra berdiri sendirian.

Sekarang ia tahu.

Andien adalah seorang janda.

Pria sore tadi adalah mantan suaminya.

Namun bukannya membuat rasa penasaran Hendra berkurang, informasi itu justru membuka lebih banyak pertanyaan.

Mengapa mereka bercerai?

Mengapa pria itu kembali?

Dan mengapa Andien terlihat begitu takut setiap kali masa lalunya mendekat?

Hendra masuk ke Kamar 207.

Malam semakin larut.

Beberapa menit kemudian...

Tok. Tok.

Dua ketukan terdengar dari dinding.

Hendra tersenyum.

Ia membalas.

Tok. Tok.

Tidak ada suara lain.

Namun bagi dua orang yang tinggal di kamar bersebelahan itu, dua ketukan sederhana sudah mulai memiliki arti.

Selamat malam.

Di Kamar 208, Andien berbaring sambil menatap langit-langit.

Sementara di Kamar 207, Hendra melakukan hal yang sama.

Hanya sebuah dinding tipis yang memisahkan mereka.

Hendra belum mengetahui bahwa masa lalu Andien jauh lebih rumit daripada yang dibayangkannya.

Dan Andien belum menyadari bahwa pria di sebelah kamarnya perlahan akan menjadi orang yang paling sulit ia jauhkan dari kehidupannya.

Malam itu, Hendra akhirnya mengetahui siapa wanita di Kamar 208.

Namanya Andien.

Usianya lebih dewasa darinya.

Ia pernah menikah.

Dan sekarang ia hidup sendiri.

Seorang janda di kamar sebelah.

Namun bagi Hendra, status itu bukanlah hal yang membuatnya penasaran.

Yang membuatnya terus memikirkan Andien adalah luka di balik tatapan wanita itu.

Luka yang membuatnya menangis ketika sendirian.

Luka yang mungkin berhubungan dengan pria yang datang sore tadi.

Dan tanpa disadari Hendra, rasa penasaran yang awalnya sederhana mulai berubah menjadi keinginan untuk berada lebih dekat.

Terlalu dekat.

Pada seorang wanita yang sejak awal sudah memperingatkannya untuk tidak ikut campur.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel