BAB 4 KOPI TENGAH MALAM
Pukul dua belas lewat empat puluh tujuh menit.
Hendra masih terjaga.
Ia berbaring telentang dengan kedua tangan di belakang kepala, menatap langit-langit Kamar 207 yang hanya diterangi cahaya redup dari lampu meja.
Sudah hampir satu jam ia mencoba tidur.
Gagal.
Setiap kali memejamkan mata, pikirannya justru bekerja semakin keras.
Tentang pekerjaan.
Tentang Nadine.
Dan belakangan ini, tentang seseorang yang baru beberapa hari dikenalnya.
Andien.
Hendra menoleh ke arah dinding.
Sunyi.
Tidak ada ketukan malam ini.
Biasanya, setidaknya dalam dua malam terakhir, ada dua ketukan kecil sebelum mereka tidur.
Tok. Tok.
Entah bagaimana kebiasaan aneh itu terbentuk.
Hendra bahkan tidak tahu siapa yang memulainya.
Namun malam ini tidak ada.
Hendra mengembuskan napas.
"Kenapa gue nungguin?"
Ia duduk.
Kemudian mengusap wajah.
"Mending bikin kopi."
Hendra mengambil kaus dan mengenakannya.
Ia membuka pintu kamar.
Lorong lantai dua sangat sepi.
Lampu-lampu sudah dimatikan, menyisakan satu lampu kecil di dekat tangga.
Hendra berjalan turun.
Saat mendekati dapur, ia melihat cahaya.
Lampu dapur menyala.
Hendra berhenti.
Ada seseorang di dalam.
Seorang wanita duduk sendirian di meja.
Andien.
Wanita itu mengenakan kaus longgar berwarna putih dan celana panjang santai. Rambutnya tidak tertata seperti biasanya.
Tergerai sedikit berantakan.
Di depannya terdapat secangkir kopi.
Hendra berdiri di pintu dapur.
"Belum tidur?"
Andien mengangkat wajah.
Sedikit terkejut.
"Kamu juga?"
Hendra masuk.
"Tidak bisa tidur."
"Sama."
Hendra mengambil cangkir.
Ia membuat kopi.
Andien memperhatikannya.
"Kopi jam satu pagi?"
Hendra menoleh.
"Kamu juga minum."
"Saya sudah terbiasa."
"Saya juga."
"Kamu baru beberapa hari tinggal di sini. Saya belum tahu kebiasaanmu."
Hendra tersenyum.
"Berarti kita harus saling mengenal."
Andien langsung menatapnya.
Hendra mengangkat kedua tangan.
"Sebagai tetangga."
Andien memutar mata.
Hendra membawa kopinya dan duduk di seberang.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Anehnya, tidak terasa canggung.
Suara jarum jam di dinding terdengar jelas.
Tik.
Tik.
Tik.
Hendra meniup kopinya.
Kemudian berkata,
"Kenapa belum tidur?"
Andien menatapnya.
"Kamu selalu banyak bertanya?"
"Katanya kalau mau saling mengenal harus bertanya."
"Saya tidak bilang ingin mengenalmu."
Hendra tersenyum.
"Tapi kamu memberikan nasi goreng."
"Itu permintaan maaf."
"Dan membangunkanku pagi tadi."
"Saya mengetuk dinding karena alarmmu berisik."
Hendra tertawa.
"Jadi itu alasannya?"
"Ya."
"Bukan karena ingin bilang selamat pagi?"
Andien menatap tajam.
"Tidak."
Hendra mengangguk pelan.
"Oke."
Namun senyum di wajahnya membuat Andien tahu pria itu tidak percaya.
Andien mengambil cangkir.
"Kenapa kamu pindah ke sini?"
Sekarang giliran Hendra yang terdiam.
Ia menatap Andien.
"Katanya tidak ingin mengenalku."
"Saya cuma bertanya."
Hendra tersenyum.
"Berarti kamu juga banyak tanya."
Andien hampir tersenyum.
Hampir.
Namun ia berhasil menahannya.
Hendra menatap kopinya.
"Tempat lama terlalu banyak kenangan."
Andien diam.
"Mantan pacar?"
Hendra mengangkat wajah.
"Kok tahu?"
"Biasanya laki-laki pindah mendadak karena pekerjaan atau perempuan."
Hendra tertawa kecil.
"Perempuan."
"Berapa lama?"
"Hubungannya?"
Andien mengangguk.
"Lima tahun."
Andien terlihat sedikit terkejut.
"Lama."
"Harusnya menikah."
Kali ini Andien benar-benar diam.
Hendra tersenyum pahit.
"Undangan hampir dicetak."
"Apa yang terjadi?"
Hendra memutar cangkir perlahan.
"Nadine berubah pikiran."
"Begitu saja?"
"Begitu saja."
Andien menatapnya.
Hendra tahu wanita itu tidak percaya bahwa ceritanya sesederhana itu.
Dan memang tidak.
Namun ia belum ingin membicarakannya.
Tidak malam ini.
"Mungkin dia punya alasan."
Hendra tertawa pelan.
"Semua orang selalu punya alasan."
Andien menunduk.
Kalimat itu seperti menyentuh sesuatu dalam dirinya.
Hendra menyadarinya.
Ia kemudian bertanya,
"Kalau kamu?"
Andien langsung mengangkat wajah.
"Apa?"
"Kenapa tinggal di sini?"
Ekspresi Andien berubah.
Pertahanan yang tadi sedikit terbuka kembali muncul.
"Saya suka tempat ini."
"Sudah dua tahun."
Andien mengerutkan kening.
"Pak Burhan?"
Hendra tersenyum bersalah.
"Sedikit ngobrol."
"Apa saja yang dia ceritakan?"
"Nggak banyak."
Andien menatapnya curiga.
"Hendra."
"Serius."
"Apa yang kamu tahu?"
Hendra berpikir.
Kemudian menjawab,
"Kamu tinggal di Kamar 208 selama dua tahun."
Andien menunggu.
"Kamu jarang bicara sama penghuni lain."
Andien masih menunggu.
"Dan..."
Hendra berhenti.
"Dan?"
Hendra menatap matanya.
"Kamu pernah menikah."
Wajah Andien berubah.
Suasana yang sebelumnya santai mendadak terasa berbeda.
Hendra langsung menyesal.
"Andien..."
"Kamu penasaran karena saya janda?"
"Nggak."
Jawabannya terlalu cepat.
Andien tertawa kecil.
Namun tidak ada kehangatan dalam tawanya.
"Biasanya laki-laki penasaran."
Hendra mengerutkan kening.
"Maksudnya?"
"Janda."
Andien mengucapkan kata itu dengan nada yang sulit dijelaskan.
"Entah kenapa status itu selalu membuat orang merasa punya hak untuk bertanya."
Hendra diam.
"Kenapa cerai? Siapa yang salah? Sudah punya anak atau belum? Masih berhubungan dengan mantan suami?"
Andien tersenyum tipis.
"Seolah hidup saya adalah cerita yang bebas dibaca siapa saja."
Hendra meletakkan cangkir.
"Aku nggak berpikir begitu."
Andien menatapnya.
"Benarkah?"
"Iya."
"Kalau begitu kenapa bertanya kepada Pak Burhan?"
Pertanyaan itu membuat Hendra terdiam.
Andien berdiri.
Ia mengambil cangkirnya.
Hendra langsung berkata,
"Karena aku penasaran sama kamu."
Andien berhenti.
Dapur kembali sunyi.
Hendra sendiri sedikit terkejut dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya.
Andien perlahan menoleh.
"Penasaran?"
Hendra mengangguk.
"Sebagai tetangga?"
Ada sesuatu dalam cara Andien mengucapkan pertanyaan itu.
Hendra menatapnya.
Mata mereka bertemu.
Beberapa detik berlalu.
"Awalnya."
Jawaban itu membuat ekspresi Andien berubah.
Hendra sadar ia mungkin sudah melangkah terlalu jauh.
Namun kata-katanya sudah keluar.
Andien meletakkan kembali cangkirnya.
"Kita baru kenal beberapa hari."
"Aku tahu."
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang saya."
"Aku juga tahu."
"Dan sebaiknya tetap begitu."
Hendra menghela napas.
"Kenapa?"
Andien menatapnya.
"Karena hidup saya tidak menarik."
"Aku rasa sebaliknya."
"Hendra."
"Oke."
Hendra mengangkat kedua tangan.
"Aku tidak akan tanya."
Andien diam.
Hendra kembali mengambil kopinya.
Ia meminumnya.
Sudah mulai dingin.
"Ngomong-ngomong..."
Andien mengerutkan kening.
"Apa lagi?"
"Nasi goreng kemarin enak."
Andien terdiam.
Kemudian tertawa kecil.
Perubahan topik yang begitu mendadak berhasil meruntuhkan sedikit ketegangan.
"Kamu aneh."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Aku tetap menerimanya."
Andien duduk kembali.
Hendra tersenyum.
Mereka melanjutkan minum kopi.
Kali ini percakapan mereka lebih ringan.
Tentang pekerjaan.
Tentang makanan.
Tentang kebiasaan penghuni kos.
Hendra mengetahui bahwa Andien bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan properti.
Andien mengetahui bahwa pekerjaan Hendra sebagai fotografer membuatnya sering bepergian.
"Kamu memotret model juga?" tanya Andien.
"Kadang."
"Perempuan?"
Hendra mengangkat alis.
"Biasanya model pakaian memang banyak perempuan."
Andien mengangguk.
Ekspresinya datar.
Hendra menahan senyum.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kamu penasaran?"
"Tidak."
"Yakin?"
Andien menatapnya tajam.
Hendra tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal wanita itu, Hendra merasa Andien mulai sedikit nyaman berada di dekatnya.
Jam menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh menit.
Andien berdiri.
"Saya mau tidur."
Hendra ikut berdiri.
Mereka mematikan lampu dapur.
Berjalan menaiki tangga bersama.
Lorong lantai dua sepi.
Langkah mereka terdengar pelan.
Ketika sampai di depan kamar masing-masing, mereka berhenti.
207.
208.
Andien memegang gagang pintunya.
Hendra melakukan hal yang sama.
"Selamat malam," kata Hendra.
Andien menatapnya.
"Selamat malam."
Hendra membuka pintu.
Namun suara Andien menghentikannya.
"Hendra."
Ia menoleh.
Andien terlihat ragu.
"Ya?"
"Pria yang kamu lihat kemarin..."
Hendra menunggu.
"Mantan suamiku."
"Aku tahu."
"Saya yang meminta cerai."
Hendra terdiam.
Andien melanjutkan,
"Dan saya tidak ingin kembali dengannya."
Hendra tidak tahu kenapa Andien mengatakan itu kepadanya.
Namun entah mengapa, ada rasa lega yang muncul dalam dadanya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada.
"Kenapa kamu bilang ini ke aku?"
Andien menatapnya beberapa detik.
"Saya juga tidak tahu."
Kemudian ia masuk.
Pintu Kamar 208 tertutup.
Hendra berdiri di depan Kamar 207.
Ia menatap pintu sebelah.
Ada sesuatu yang berubah malam ini.
Sebuah batas kecil telah dilewati.
Andien memberitahunya sesuatu yang bersifat pribadi.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk membuat Hendra merasa bahwa wanita itu perlahan mulai membuka pintu yang selama ini tertutup.
Hendra masuk ke kamarnya.
Ia berbaring.
Kali ini rasa kantuk mulai datang.
Beberapa menit kemudian...
Tok. Tok.
Dua ketukan.
Hendra membuka mata.
Ia tersenyum.
Tok. Tok.
Ia membalas.
Namun malam ini ada sesuatu yang berbeda.
Setelah dua ketukan itu, terdengar satu ketukan lagi.
Tok.
Hendra mengerutkan kening.
Ia membalas.
Tok.
Di balik dinding, Andien tersenyum.
Hendra tidak tahu arti ketukan terakhir itu.
Mungkin tidak berarti apa-apa.
Namun bagi Andien, ketukan itu adalah ucapan yang tidak mampu dikatakannya secara langsung.
Terima kasih.
Karena malam ini, setelah sekian lama, ia akhirnya bisa duduk bersama seseorang pada tengah malam dan berbicara tanpa merasa sedang dihakimi.
Sementara bagi Hendra, malam itu menimbulkan masalah baru.
Ia semakin penasaran.
Bukan lagi karena Andien seorang janda.
Bukan karena mantan suaminya.
Bukan pula karena tangisan yang pernah didengarnya.
Ia penasaran kepada Andien sebagai seorang wanita.
Tentang apa yang membuatnya tersenyum.
Apa yang membuatnya tertawa.
Dan apa yang sebenarnya disembunyikan di balik sikap dinginnya.
Hendra memejamkan mata.
Tanpa disadarinya, jarak antara Kamar 207 dan Kamar 208 terasa semakin dekat.
Dinding itu masih ada.
Namun perlahan, batas di antara dua penghuninya mulai menghilang.
Dan malam itu, semuanya bermula hanya dari dua cangkir kopi.
Dua orang yang sama-sama tidak bisa tidur.
Dan sebuah percakapan tengah malam yang seharusnya sederhana, tetapi diam-diam meninggalkan sesuatu di hati mereka masing-masing.