Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 2 PERTEMUAN DI LORONG

Pukul enam lewat dua puluh menit pagi, alarm ponsel Hendra berbunyi untuk ketiga kalinya.

Pria itu menggerakkan tangannya dari balik selimut, meraba-raba meja kecil di samping tempat tidur tanpa membuka mata.

Tangannya menyenggol sebuah botol air.

Bruk!

Botol itu jatuh ke lantai.

"Astaga..."

Hendra membuka sebelah mata.

Alarm masih berbunyi.

Ia akhirnya menemukan ponselnya dan mematikan suara menyebalkan itu.

Hening.

Hendra menarik selimut kembali.

Baru beberapa detik ia memejamkan mata, sesuatu melintas dalam pikirannya.

Tangisan.

Hendra langsung membuka mata.

Ia menoleh ke arah dinding di sebelah kiri.

Dinding yang memisahkan Kamar 207 dengan Kamar 208.

Semalam, ia mendengar Andien menangis.

Awalnya Hendra mengira dirinya salah dengar. Namun semakin lama ia mendengarkan, semakin yakin bahwa suara itu memang berasal dari kamar sebelah.

Tangisan yang pelan.

Tertahan.

Seolah pemiliknya berusaha keras agar tidak ada seorang pun yang mengetahui.

Hendra duduk di tepi tempat tidur.

Ia mengusap wajah.

"Kenapa gue malah mikirin dia?"

Mereka bahkan belum benar-benar saling mengenal.

Pertemuan mereka tadi malam hanya berlangsung beberapa menit di dapur.

Andien memperkenalkan nama.

Mengatakan bahwa dinding kamar mereka tipis.

Lalu memperingatkan Hendra agar tidak berisik.

Selesai.

Tidak ada alasan bagi Hendra untuk memikirkan kehidupan pribadi wanita itu.

Terlebih Pak Burhan sudah memperingatkannya sejak awal.

Jangan terlalu banyak bertanya.

Hendra berdiri.

Ia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

Hari ini ia memiliki pekerjaan.

Sebuah pemotretan untuk katalog pakaian di studio yang berjarak sekitar empat puluh menit dari tempat tinggal barunya.

Pekerjaan pertama setelah kepindahannya.

Hendra berharap kesibukan bisa membantu pikirannya kembali normal.

---

Setengah jam kemudian, Hendra sudah siap.

Ia mengenakan kaus hitam, celana jeans, dan sepatu kets. Tas kamera tersampir di bahunya.

Hendra memeriksa jam.

07.10.

Masih cukup waktu.

Ia membuka pintu kamar.

Pada saat bersamaan, pintu Kamar 208 juga terbuka.

Hendra berhenti.

Andien keluar.

Pagi itu wanita tersebut terlihat sangat berbeda dibandingkan tadi malam.

Rambutnya tertata rapi.

Ia mengenakan blus berwarna krem dan rok kerja berwarna gelap yang membuat penampilannya terlihat profesional. Sebuah tas tergantung di bahunya.

Tidak ada jejak tangisan.

Tidak ada mata sembap.

Tidak ada tanda bahwa semalam ia mungkin sedang terluka.

Andien terlihat seperti seorang wanita yang memiliki kendali penuh atas kehidupannya.

Hendra tanpa sadar memperhatikannya.

Andien menyadari tatapan itu.

"Ada apa?"

Hendra tersadar.

"Tidak ada."

Andien mengunci pintunya.

Hendra melakukan hal yang sama.

Mereka berdiri bersebelahan.

Canggung.

"Selamat pagi," kata Hendra akhirnya.

"Pagi."

Jawaban singkat.

Andien berjalan menuju tangga.

Hendra ikut berjalan.

Karena tujuan mereka sama, posisi mereka menjadi berdekatan.

Hendra memasukkan tangan ke saku.

Ia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu.

Tentang semalam.

Namun ia tahu itu bukan ide yang bagus.

Kalau ia mengatakan mendengar Andien menangis, berarti ia juga mengakui bahwa dirinya mendengarkan suara dari kamar sebelah.

Bisa-bisa wanita itu menganggapnya penguntit.

Hendra memilih diam.

Mereka sampai di tangga.

Andien berjalan lebih dulu.

Tiba-tiba langkahnya berhenti.

Hendra yang berjalan tepat di belakang hampir menabraknya.

"Eh!"

Andien menoleh.

"Kenapa kamu mengikuti saya?"

Hendra terdiam.

"Apa?"

"Kamu mengikuti saya sejak dari kamar."

Hendra mengerutkan kening.

"Lho?"

Andien menatapnya dengan serius.

Hendra menunjuk ke bawah.

"Saya mau keluar."

Andien masih menatapnya.

"Jalan keluarnya memang lewat sini, kan?"

Beberapa detik hening.

Andien akhirnya menyadari kesalahannya.

"Oh."

Hendra menahan senyum.

"Atau penghuni baru harus keluar lewat jendela?"

Andien menatap tajam.

Hendra gagal menahan tawanya.

"Maaf."

Andien kembali berjalan.

Hendra mengikutinya.

Kali ini ia menjaga jarak beberapa langkah.

Saat sampai di lantai bawah, Andien menuju dapur.

Hendra awalnya hendak keluar, tetapi aroma kopi membuatnya berubah pikiran.

Ia masuk ke dapur.

Andien kembali menoleh.

Hendra langsung mengangkat kedua tangan.

"Tenang."

Andien mengerutkan kening.

"Saya cuma mau kopi."

"Saya tidak mengatakan apa-apa."

"Tatapanmu mengatakan semuanya."

Andien memutar mata.

Hendra tersenyum.

Wanita itu mengambil sebuah cangkir.

Hendra berdiri di samping meja.

"Masih ada kopi?"

"Buat sendiri."

"Galak sekali pagi-pagi."

Andien berhenti.

Ia menatap Hendra.

"Kita baru kenal."

"Iya."

"Jadi jangan sok akrab."

Hendra mengangguk.

"Baik, Bu Andien."

Ekspresi wanita itu berubah.

"Jangan panggil saya begitu."

"Kenapa?"

"Saya tidak setua itu."

Hendra hampir tertawa.

"Kalau begitu Mbak Andien?"

"Tidak perlu."

"Terus?"

"Andien."

Hendra mengangguk pelan.

"Baik... Andien."

Entah mengapa, saat nama itu keluar dari mulut Hendra tanpa sapaan formal, suasana terasa sedikit berbeda.

Andien juga tampak menyadarinya.

Namun wanita itu segera mengalihkan pandangan.

Ia mengambil kopi.

Hendra memperhatikan wajahnya.

Ada sedikit lingkaran gelap di bawah mata.

Hendra teringat semalam lagi.

"Kamu kurang tidur?"

Pertanyaan itu membuat tangan Andien berhenti.

Tatapannya berubah.

"Kenapa bertanya begitu?"

Hendra sadar dirinya mungkin telah menyentuh sesuatu yang sensitif.

"Kelihatan capek saja."

"Saya baik-baik saja."

Jawabannya cepat.

Terlalu cepat.

Hendra mengangguk.

"Oke."

Ia tidak bertanya lagi.

Andien membawa kopinya dan berjalan keluar.

Namun sebelum meninggalkan dapur, ia berhenti.

"Hendra."

Itu pertama kalinya Andien memanggil namanya.

Hendra menoleh.

"Ya?"

"Kalau kamu mendengar sesuatu dari kamar saya..."

Jantung Hendra seperti berhenti sesaat.

Andien menatapnya.

"...abaikan saja."

Hendra diam.

Jadi Andien tahu.

Atau setidaknya menduga bahwa suara semalam terdengar sampai kamar sebelah.

Hendra menatap wanita itu beberapa detik.

Ia bisa saja bertanya.

Kenapa menangis?

Apa yang terjadi?

Siapa yang menyakitimu?

Namun Hendra hanya tersenyum tipis.

"Tenang."

Andien menunggu.

"Saya tidak dengar apa-apa."

Mata mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, tatapan Andien kehilangan sedikit ketegasannya.

Seolah ia tahu Hendra sedang berbohong.

Namun kebohongan itu justru membuatnya merasa lega.

"Bagus."

Andien pergi.

Hendra berdiri sendirian.

Ia mengembuskan napas.

"Rumit."

Baru sehari tinggal di sini, tetangga sebelah sudah membuat pikirannya penuh pertanyaan.

---

Sore harinya, Hendra pulang sekitar pukul lima.

Tubuhnya lelah setelah hampir delapan jam bekerja.

Ia berjalan menaiki tangga sambil memeriksa hasil pemotretan di layar kameranya.

Tanpa memperhatikan jalan.

Saat sampai di lantai dua, seseorang muncul dari arah berlawanan.

Bruk!

Hendra menabraknya.

Sebuah kantong belanja jatuh.

Beberapa jeruk menggelinding di lantai.

"Aduh!"

Hendra langsung mengangkat kepala.

Andien.

"Maaf!"

Andien menatapnya kesal.

"Kamu kalau jalan memang tidak pernah lihat depan?"

"Serius, saya tidak sengaja."

Hendra buru-buru berjongkok.

Ia mengumpulkan jeruk yang berhamburan.

Andien ikut berjongkok.

Mereka mengambil jeruk yang sama.

Tangan mereka bersentuhan.

Keduanya berhenti.

Hanya sesaat.

Namun cukup membuat Hendra mengangkat wajah.

Jarak mereka dekat.

Sangat dekat.

Hendra bisa melihat jelas wajah Andien.

Tatapan wanita itu.

Garis halus di sekitar matanya.

Aroma parfum lembut yang dikenakannya.

Andien menarik tangannya lebih dulu.

"Jeruknya."

Hendra tersadar.

"Oh."

Ia menyerahkan jeruk itu.

Andien memasukkannya ke kantong.

Mereka berdiri.

"Sekali lagi, maaf."

Andien menghela napas.

"Sudahlah."

Hendra melihat kantong belanja yang terlihat berat.

"Biar saya bantu."

"Tidak perlu."

"Saya yang membuat jatuh."

"Saya bisa bawa sendiri."

Hendra langsung mengambil salah satu kantong.

Andien menatapnya.

"Hendra."

"Ya?"

"Kembalikan."

"Berat."

"Itu bukan urusanmu."

Hendra menatap kantong di tangannya.

Kemudian menatap Andien.

"Kamar kita sebelahan."

"Lalu?"

"Saya cuma bawa lima meter."

Andien diam.

Hendra berjalan menuju Kamar 208.

Andien akhirnya mengikuti.

Saat sampai di depan pintu, Hendra menyerahkan kantong tersebut.

"Terima kasih."

Hendra tersenyum.

"Sama-sama."

Andien membuka pintu.

Namun sebelum masuk, ia menoleh.

"Hendra."

"Ya?"

"Besok kalau jalan..."

Hendra menunggu.

"Lihat depan."

Hendra tertawa.

"Siap."

Pintu tertutup.

Hendra berdiri beberapa detik.

Kemudian masuk ke kamarnya sendiri.

---

Malam itu, sekitar pukul delapan, Hendra sedang mengedit foto ketika terdengar suara ketukan.

Tok. Tok.

Hendra menoleh.

Pintu kamar.

Ia berdiri.

Saat membuka pintu, tidak ada siapa-siapa.

Hendra mengerutkan kening.

Kemudian melihat ke bawah.

Sebuah wadah makanan berada di depan pintunya.

Di atasnya terdapat secarik kertas kecil.

Hendra mengambilnya.

Tulisan tangan sederhana.

Untuk permintaan maaf karena tadi pagi menuduhmu mengikuti saya.

Tidak ada nama.

Namun Hendra tahu siapa yang mengirimnya.

Ia membuka wadah tersebut.

Nasi goreng.

Aromanya membuat perut Hendra langsung lapar.

Hendra tersenyum.

Ia berjalan dua langkah.

Berdiri di depan Kamar 208.

Tangannya terangkat.

Hampir mengetuk.

Namun ia berubah pikiran.

Hendra kembali ke kamarnya.

Ia mengambil ponsel.

Baru kemudian sadar bahwa ia bahkan tidak memiliki nomor Andien.

Akhirnya Hendra mengambil kertas kecil.

Ia menulis sesuatu.

Kemudian menyelipkannya di bawah pintu Kamar 208.

Permintaan maaf diterima. Nasi gorengnya juga.

Hendra berpikir sebentar.

Lalu menambahkan satu kalimat.

Ternyata kamu tidak segalak kelihatannya.

Ia kembali ke kamar.

Beberapa menit kemudian...

Tok.

Suara dari dinding.

Hendra menoleh.

Tok. Tok.

Tiga ketukan.

Hendra tersenyum.

Ia mendekati dinding.

Lalu membalas.

Tok. Tok.

Dari kamar sebelah tidak ada balasan lagi.

Namun Hendra tidak tahu bahwa di balik dinding itu, Andien sedang berdiri sambil memegang kertas yang baru saja ia kirimkan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Wanita itu tersenyum sendirian.

Hanya karena seorang pria asing yang baru dua hari tinggal di kamar sebelah.

Sementara di Kamar 207, Hendra kembali duduk di depan laptopnya.

Ia mencoba melanjutkan pekerjaan.

Namun pikirannya kembali pada wanita di balik dinding.

Pada tangisan yang ia dengar semalam.

Pada sentuhan singkat tangan mereka di lorong.

Dan pada nasi goreng yang sekarang berada di mejanya.

Hendra tersenyum kecil.

Mungkin Pak Burhan benar.

Ia memang seharusnya tidak terlalu penasaran.

Masalahnya...

Sekarang rasa penasaran itu sudah telanjur tumbuh.

Dan tanpa disadarinya, sebuah dinding tipis yang seharusnya memisahkan dua orang asing justru perlahan mulai menjadi penghubung di antara mereka.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel