Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 1 PENGHUNI BARU KAMAR 207

Hendra Mahendra berdiri di depan sebuah bangunan tiga lantai sambil menatap nomor yang tertera di layar ponselnya.

Ia mengangkat kepala.

Menatap bangunan itu.

Lalu kembali melihat layar ponselnya.

"Benar di sini."

Sebuah koper besar berdiri di samping kakinya. Tas kamera tergantung di bahu, sementara tangan kanannya memegang kardus berisi beberapa barang yang terlalu berharga untuk diserahkan kepada jasa pindahan.

Sore itu, langit berwarna kelabu.

Hujan baru saja berhenti beberapa menit lalu, meninggalkan aroma tanah basah yang bercampur dengan udara kota.

Hendra menarik napas panjang.

Hidup baru.

Setidaknya, itulah yang terus dikatakannya kepada diri sendiri sejak memutuskan meninggalkan apartemen lamanya.

Tempat yang terlalu banyak menyimpan kenangan.

Kenangan tentang seorang wanita.

Tentang janji.

Tentang rencana pernikahan yang akhirnya hanya menjadi rencana.

"Mas Hendra?"

Suara seorang pria membuatnya menoleh.

Seorang lelaki berusia sekitar lima puluhan berjalan keluar dari pintu utama. Tubuhnya sedikit gemuk dengan rambut yang mulai memutih di bagian samping.

"Ya, Pak."

"Saya Burhan."

Hendra langsung tersenyum.

"Oh, Pak Burhan. Pemilik kos?"

"Betul."

Mereka berjabat tangan.

Pak Burhan memperhatikan koper dan kardus yang dibawa Hendra.

"Cuma itu barangnya?"

"Yang lain dibawa mobil pindahan, Pak. Mungkin sebentar lagi sampai."

Pak Burhan mengangguk.

"Ya sudah. Masuk dulu. Saya tunjukkan kamarnya."

Hendra mengikuti pria itu memasuki bangunan.

Tempat tersebut sebenarnya terlalu bagus untuk disebut rumah kos.

Lantai bawah memiliki ruang tamu bersama dengan beberapa sofa. Ada dapur yang bisa digunakan seluruh penghuni, sementara bagian belakang memiliki taman kecil dengan beberapa meja dan kursi.

Suasananya tenang.

Itulah alasan Hendra memilih tempat ini.

Sebagai fotografer freelance, ia sering bekerja dengan jadwal yang tidak menentu. Kadang ia harus keluar sejak pagi, kadang baru pulang menjelang tengah malam.

Ia membutuhkan tempat yang tenang.

Terutama sekarang.

Saat ia sedang berusaha menata kembali hidupnya.

"Kamar Mas Hendra di lantai dua," kata Pak Burhan.

Mereka menaiki tangga.

"Nomor 207."

Pak Burhan berhenti di depan sebuah pintu.

Ia menyerahkan sebuah kunci.

Hendra menerimanya.

"Sebelah kanan kamar mandi bersama?"

"Bukan. Semua kamar punya kamar mandi sendiri."

Hendra mengangguk puas.

"Sebelah kiri?"

Pak Burhan menunjuk pintu tepat di samping kamar Hendra.

Nomor 208.

"Ada penghuninya."

Entah mengapa, cara Pak Burhan menjawab membuat Hendra melirik pintu tersebut.

Tertutup rapat.

Tidak ada suara dari dalam.

"Siapa?"

Pak Burhan menatapnya.

Lalu tersenyum tipis.

"Baru datang sudah penasaran sama tetangga."

Hendra tertawa.

"Saya cuma tanya, Pak."

"Perempuan."

Hendra mengangkat alis.

"Sendirian?"

Pak Burhan langsung menatapnya dengan ekspresi curiga.

Hendra tertawa lagi.

"Bukan begitu maksud saya."

"Namanya Andien."

Andien.

Nama itu tersimpan begitu saja di kepala Hendra.

"Orangnya agak pendiam," lanjut Pak Burhan. "Jarang ngobrol sama penghuni lain. Kalau ketemu, cukup tegur saja. Jangan terlalu banyak tanya."

Hendra semakin penasaran.

"Kenapa?"

"Karena saya sudah bilang jangan banyak tanya."

Hendra terdiam.

Pak Burhan tersenyum puas.

"Kalau ada masalah, telepon saya."

Setelah menjelaskan beberapa aturan tempat tinggal, Pak Burhan meninggalkan Hendra sendirian.

Hendra membuka pintu Kamar 207.

Ruangan itu cukup luas.

Sebuah tempat tidur berada di sisi kanan. Lemari pakaian berdiri di dekat dinding, sementara sebuah meja kerja menghadap jendela.

Hendra berjalan masuk.

Ia meletakkan tas kameranya di atas meja.

Kemudian berdiri di tengah kamar.

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Ia tersenyum kecil.

"Bagus."

Tidak ada suara televisi.

Tidak ada suara kendaraan yang terlalu keras.

Dan yang paling penting...

Tidak ada kenangan tentang Nadine.

Hendra membuka jendela.

Udara sore masuk.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia merasa bisa bernapas dengan sedikit lebih lega.

---

Menjelang malam, barang-barang Hendra akhirnya tiba.

Butuh hampir tiga jam untuk menyelesaikan semuanya.

Ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam, Hendra menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.

"Capek."

Ia menatap langit-langit.

Perutnya berbunyi.

Hendra memejamkan mata.

Ia baru ingat belum makan malam.

Dengan malas, ia mengambil ponsel.

Membuka aplikasi pesan makanan.

Namun sebelum sempat memilih, ia mendengar sesuatu.

Tok.

Hendra membuka mata.

Tok.

Suara itu datang dari dinding sebelah.

Kamar 208.

Hendra duduk.

Tok.

Kemudian suara seperti sesuatu terjatuh.

Hendra mengerutkan kening.

Beberapa detik kemudian terdengar suara seorang wanita.

Tidak terlalu jelas.

Hendra menempelkan telinga ke dinding.

Sunyi.

Ia menunggu.

Tidak ada apa-apa.

"Ngapain sih gue?"

Hendra menjauh dari dinding.

Baru beberapa jam tinggal di sini, ia sudah menguping kamar tetangga.

Ia kembali mengambil ponsel.

Lima menit kemudian, terdengar suara pintu terbuka.

Hendra secara refleks menoleh ke arah pintunya.

Kamar sebelah.

Rasa penasaran muncul.

Andien.

Hendra bangkit.

Ia membuka pintu kamarnya.

Lorong kosong.

Namun dari ujung lorong, terlihat bayangan seorang wanita berjalan menuju tangga.

Hendra hanya melihatnya dari belakang.

Rambut panjang berwarna hitam.

Tubuh ramping.

Mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap.

Wanita itu menghilang di tangga.

"Itu Andien?"

Hendra berdiri beberapa detik.

Kemudian tersadar.

Ia menggeleng.

"Jangan kepo, Hendra."

Ia kembali masuk.

---

Pukul sebelas malam.

Hendra belum tidur.

Laptop terbuka di atas meja.

Ia sedang memeriksa beberapa foto dari pekerjaan terakhirnya.

Foto pernikahan.

Ironis.

Dulu ia menyukai pekerjaan seperti ini.

Menangkap kebahagiaan orang lain.

Senyuman pengantin.

Tatapan penuh cinta.

Sekarang, setiap melihat pasangan menikah, ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya.

Hendra menutup laptop.

Ia berdiri.

"Minum."

Hendra keluar menuju dapur bersama di lantai bawah.

Rumah sudah sepi.

Lampu lorong menyala redup.

Ia mengambil segelas air.

Saat hendak kembali, terdengar langkah kaki.

Hendra menoleh.

Seorang wanita berdiri beberapa meter darinya.

Untuk sesaat, keduanya hanya saling memandang.

Hendra tahu.

Ini pasti dia.

Andien.

Wanita itu terlihat lebih dewasa daripada yang ia bayangkan.

Mungkin sekitar pertengahan tiga puluhan.

Rambut hitamnya dibiarkan tergerai.

Wajahnya cantik.

Bukan kecantikan yang dibuat-buat.

Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuat Hendra tanpa sadar memperhatikannya sedikit terlalu lama.

Andien juga memandang Hendra.

"Kamu siapa?"

Suaranya tenang.

Hendra tersadar.

"Oh."

Ia tersenyum.

"Saya penghuni baru."

Andien tidak menjawab.

"Kamar 207."

Tatapan Andien berubah sedikit.

"Sebelah kamar saya?"

Hendra mengangguk.

"Iya."

Andien mengambil gelas dari lemari.

Hendra berdiri sedikit canggung.

"Saya Hendra."

Andien berhenti.

Menatapnya.

"Andien."

Hendra tersenyum.

"Saya tahu."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Andien mengerutkan kening.

Hendra langsung menyadari kesalahannya.

"Maksud saya, Pak Burhan yang bilang."

Andien menuangkan air.

"Pak Burhan banyak bicara."

Nada suaranya datar.

Hendra tertawa kecil.

"Sedikit."

Andien tidak ikut tertawa.

Hendra mulai memahami ucapan Pak Burhan.

Wanita ini memang tidak terlalu ramah.

Andien berjalan melewatinya.

Namun tiba-tiba ia berhenti.

Tanpa menoleh, ia berkata,

"Dinding kamar kita tipis."

Hendra mengangkat alis.

"Ya?"

"Saya harap kamu tidak berisik."

Hendra menahan senyum.

"Tenang. Saya orangnya pendiam."

Andien akhirnya menoleh.

Tatapannya seperti tidak percaya.

"Kita lihat saja."

Kemudian ia pergi.

Hendra berdiri sambil memegang gelas.

Ia memperhatikan wanita itu menaiki tangga.

Entah kenapa, sudut bibirnya terangkat.

"Galak juga."

---

Malam semakin larut.

Hendra akhirnya berbaring.

Lampu kamar sudah dimatikan.

Ia memejamkan mata.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Hampir tertidur.

Kemudian...

Tok.

Hendra membuka mata.

Suara dari sebelah.

Ia diam.

Tok.

Sekali lagi.

Kemudian terdengar langkah kaki.

Hendra menatap dinding yang memisahkan Kamar 207 dan 208.

Ia teringat perkataan Andien.

Dinding kamar kita tipis.

Hendra tersenyum.

Ternyata benar.

Ia bisa mendengar langkah kaki samar dari kamar sebelah.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara benda diletakkan di atas meja.

Lalu sunyi.

Hendra memejamkan mata lagi.

Namun tak lama kemudian...

Terdengar suara lain.

Sangat pelan.

Seperti isakan.

Hendra membuka mata.

Ia tidak bergerak.

Mendengarkan.

Suara itu muncul lagi.

Tangisan.

Samar.

Hampir tidak terdengar.

Hendra duduk.

Ia menatap dinding.

Andien?

Wanita yang beberapa jam lalu berdiri di dapur dengan wajah dingin itu sekarang terdengar sedang menangis.

Hendra turun dari tempat tidur.

Ia berdiri di depan dinding.

Tangannya hampir menyentuh permukaannya.

Namun ia berhenti.

Bukan urusannya.

Mereka baru bertemu.

Bahkan bisa dikatakan belum saling mengenal.

Hendra kembali ke tempat tidur.

Tetapi suara tangisan itu terus terdengar.

Pelan.

Tertahan.

Seperti seseorang yang tidak ingin dunia tahu bahwa dirinya sedang terluka.

Hendra menatap langit-langit.

Entah mengapa, suara itu membuatnya teringat dirinya sendiri.

Malam-malam setelah Nadine pergi.

Saat ia duduk sendirian di apartemen.

Saat ia berpura-pura baik-baik saja.

Mungkin Andien juga sedang melakukan hal yang sama.

Berpura-pura kuat.

Hendra menarik selimut.

Ia tidak mengetuk pintu kamar sebelah.

Tidak malam ini.

Ia tahu ada luka yang tidak boleh disentuh oleh orang asing.

Namun sebelum memejamkan mata, Hendra kembali menatap dinding yang memisahkan mereka.

Kamar 207.

Kamar 208.

Hanya dipisahkan oleh sebuah dinding tipis.

Dua orang asing.

Dua kehidupan berbeda.

Dan dua luka yang belum mereka ketahui satu sama lain.

Hendra tidak tahu bahwa kepindahannya ke kamar itu akan mengubah banyak hal.

Ia juga tidak tahu bahwa wanita bernama Andien yang tinggal tepat di sebelah kamarnya suatu hari nanti akan menjadi seseorang yang begitu sulit dilepaskan dari kehidupannya.

Malam itu, Hendra hanya mengetahui satu hal.

Wanita dingin di Kamar 208 ternyata bisa menangis.

Dan tanpa alasan yang bisa ia jelaskan...

Hendra mulai penasaran tentang luka apa yang disembunyikan oleh janda sebelah kamarnya.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel