Bab - 3
Pak Wira berbelok ke sebuah jalan kecil yang lebih sempit, diapit pepohonan dan pagar-pagar tua yang mulai lapuk. Jalan itu bukan jalur umum. Lebih seperti akses belakang yang jarang dipakai orang.
Aku mengerutkan kening, mempercepat langkah sedikit, lalu segera kembali menjaga jarak. Di ujung gang itu, aku melihat tujuan akhirnya, sebuah saung tua yang biasa diseebut, ‘Saung Paniisan’
Bangunannya sederhana, berdiri agak terpencil, seolah sengaja dijauhkan dari keramaian kompleks. Atapnya sudah kusam, kayu-kayunya tampak tua tapi masih kokoh, dan di sekelilingnya ada suasana yang berbeda, lebih sunyi, lebih terjaga, seperti tempat yang tidak sekadar jadi persinggahan biasa.
Pak Wira berhenti di depan saung itu beberapa lama, aku pun berhenti di kejauhan, gamis, jilbab dan kedua kakiku sudah basah oleh embun dari rumput dan dedaunan. Tak lama kemudian Pak Wira melanjutkan langkahnya dan berhenti sambil menoleh ke segala arah.
Jantungku langsung berdegup kencang, beruntung hari masih agak gelap dan pakaianku serba hitam sehingga dari jarak sejauh itu dia tidak akan bisa melihatku. Namun demikian aku merunduk cepat di balik semak, menahan napas sampai rasanya dada sesak. Seperti dugaanku tidak ada tanda-tanda jika ayah mertuaku menyadari kehadiranku
Dia masuk ke saung itu dan mataku sekidit terpicing menatap pintu saung yang kini tertutup kembali. Rasa takut, bimbang, dan ragu datang bersamaan seperti gelombang yang menekan dadaku dari dua arah. Tapi di antara semuanya, ada rasa penasaran yang jauh lebih keras.
Dengan langkah yang kupaksa setenang mungkin, aku bergerak memutar, mendekati saung dari sisi belakang. Jalurnya lebih suli, semak belukar basah oleh embun pagi, menempel di ujung gamis dan membuat dingin merayap sampai ke kulit. Sesekali ranting kecil menggesek lengan, tapi aku tak berani berhenti.
Pikiranku sempat melayang pada ular, serangga, atau hewan liar lain yang mungkin bersembunyi di balik semak. Tapi anehnya, ketakutan itu kalah oleh dorongan untuk terus maju. Seolah ada sesuatu di depan sana yang tidak boleh kulewatkan, apa pun risikonya.
Langit mulai memucat, fajar belum benar-benar terbit, tapi garis cahaya tipis sudah muncul di ufuk, memberi warna samar pada dedaunan dan tanah yang lembap.
Aku sampai di sisi saung. Dari celah dinding kayu yang sedikit renggang, aku menemukan sudut kecil untuk mengintip ke dalam. Untuk beberapa saat aku menyesuaikan mata dengan cahaya subuh yang remang, untungnya di dalam sana ada lampu minyak yang dinyalakan walau kecil.
Deg!
Sektika itu juga jantungku berdegup kencang dan seperti mau copot.
Di tengah saung Pak Wira berdiri dalam keadaan bugil. Tubuhnya yang masih kekar meski berusia 65 tahun ditegakkan dengan pose seperti binaragawan profesional. Kedua kakinya mengangkang lebar, otot paha dan betisnya menonjol keras, perutnya yang masih punya garis six-pack samar juga ditegangkan. Dada bidangnya mengembang, dan kedua lengannya ditekuk ke atas memperlihatkan bisep yang masih berotot.
Pose itu begitu dominan, begitu maskulin, sampai aku merasa lututku langsung lemas. Pose yang juga sering diperlihatkan pada kedua anakku saat sedang mengajak Faqih dan Fania olah raga di sekitaran rumah ‘Kakek dulu sempat mau jadi binaragawan, tapi malah jadi PNS’ katanya sambil terkekeh tapi bangga.
Kini pose itu dia tampilkan lagi, hanya saja dalam keadaan telanjang. Tangan kanannya memegang celana dalam merahku yang baru dia ambil dari jemuranku. Ia lantas menggosok-gosokkan CDku itu ke wajahnya dengan rakus, menekannya kuat-kuat ke hidung, lalu menjulurkan lidahnya yang tebal dan menjilat pelan bagian croth yang masih menyisakan aroma tubuhku. Lidahnya bergerak lambat lalu semakin liar, menjilat, mengisap, bahkan menggigit kain itu sambil mendesah keras.
“Hmmphh… Oh Lely… bau memekmu… masih hangat… enak sekali…sayaaang,” gumamnya parau, suaranya serak penuh nafsu.
Tapi yang membuat aku benar-benar panas dingin adalah pemandangan di tengahnya, ialah kontolnya yang berdiri tegak sempurna tanpa disentuh, mengacung ke depan seperti tombak hidup. Batangnya sangat besar, tebal, panjang, dan gagah luar biasa.
Ukuran itu jelas jauh lebih besar dari milik Mas Fahri, suamiku. Panjangnya mungkin 19-20 cm, diameter batangnya sebesar pergelangan tanganku, urat-uratnya menonjol kasar seperti akar pohon, dan kepala glansnya membengkak mengkilap, sudah basah oleh precum yang menetes pelan ke lantai saung. Kontol itu berdenyut-denyut seperti mengikuti detak jantungnya, masih penuh tenaga dan nafsu yang belum pudar.
Aku terpaku. Sekujur tubuhku terasa panas dingin. Dingin karena kaget dan takut ketahuan, panas karena gelombang gairah yang tiba-tiba menyergap perut bawahku. Vaginaku berdenyut hebat, cairan hangat langsung membasahi celana dalam yang kupakai. Payudaraku terasa penuh dan berat, putingku mengeras menusuk bra.
Aku menggigit bibir keras-keras, tangan kiriku tanpa sadar menekan perut bawahku yang panas.
Pak Wira masih dalam pose binaragawannya, pinggulnya didorong ke depan sedikit sehingga kontol besarnya makin menonjol. Ia menggoyang-goyangkan pinggul pelan, membuat kontolnya bergoyang berat ke kiri dan kanan. Tangan kirinya tetap memainkan celana dalamku. Menciumi, menjilat, menggosokkan kain itu ke lehernya, ke dada, lalu turun ke perut, sampai akhirnya mengelus-eluskan pada batang kontolnya yang tegang.
“Lihat ini, Lely… kontol Bapak lebih besar dari kontol suamimu,” bisiknya parau seolah tahu aku sedang melihat. “Ini kontol yang pantas ngentotin memek kamu. Kontol mertuamu ini yang bisa memuaskan memekmu, Lel, bukan kontol Fahri…”
Duar! Aku kembali serasa di sambar petir mendengar ucapannya yang sangat jorok dan merendahkan anaknya sendiri.
Pak Wira mengocok kontolnya dengan tangan kanan, gerakan lambat tapi kuat, dari pangkal hingga ujung. Bunyi gesekan kulit kasar terdengar jelas. Kemudian ia kembali menempelkan celana dalamku ke mulutnya, mengisap kain itu dalam-dalam sambil tangannya mulai memompa lebih cepat. Pose binaragawannya masih dipertahankan, tubuh tegang, otot menonjol.
Aku tak bisa berpaling. Napasku tersengal pelan. Paha dalamku sudah licin oleh cairanku sendiri. Aku merasa sangat terangsang, hampir gila, tapi aku masih bisa menahan diri, klitorisku berdenyut minta disentuh, tapi aku tak berani menyentuhnya.
Aku tetap berdiri di balik dinding bambu, menyaksikan ayah mertuaku yang perkasa sedang memamerkan kejantanan dan keperkasaaannya yang luar biasa sambil memainkan celana dalamku dengan liar dan penuh nafsu.
“ARRRHH… Lely menantuku, ooooh memek pasti nikmat… menantuku!!” raungnya parau.
Gerakannya semakin ganas. Ia mengocok kontolnya naik-turun dengan cepat dan kuat, bunyi plak-plak-plak telapak tangannya memukul pangkal batang yang tebal itu terdengar jelas di dalam saung. Sesekali ia menggosokkan celana dalamku ke batang kontolnya, mengoleskan air liurnya sendiri ke kain itu, lalu kembali menempelkannya ke mulutnya sambil memompa lebih cepat.
Tiba-tiba ia berlutut di lantai saung, lalu berbaring di bale-bale dengan kaki terbuka sangat lebar. Pinggulnya diangkat tinggi-tinggi, hampir seperti sedang mengentot seseorang di atasnya. Celana dalamku ditempelkan sepenuhnya ke mulut dan hidungnya. Ia menggigit kain itu, menjilat bagian croth dengan lidahnya yang liar, mengisapnya kuat-kuat seolah sedang menghisap cairan memekku langsung.
“Enak… enak banget… memekmu Lely… Bapak mau ngentotin kamu tiap malam… kontol Bapak ini mau merrobek-robek memek sempit kamu, menantu Bapak! sendiri!” erangnya dengan suara tertahan di balik kain celanaku.
Tangan kanannya memompa kontolnya tanpa ampun. Gerakannya brutal, cepat, dan penuh kekuatan. Kontolnya yang tebal itu bergetar hebat setiap kali digenggam, urat-uratnya membesar, kepalanya membengkak semakin merah. Sesekali ia berdiri lagi, menggoyang pinggulnya liar sambil mengocok, seolah sedang mengentot celana dalamku itu.
Sekujur tubuhku gemetar hebat, vagina banjir, cairan hangat mengalir deras membasahi paha dalamku. Klitorisku berdenyut-denyut nyeri.
Sepertinya dia mulai mendekati puncak. Gerakannya semakin tidak terkendali. Ia berdiri kembali dengan pose binaragawan, kaki mengangkang lebar, dada mengembang, satu tangan memompa kontolnya dengan ganas, tangan satunya lagi menekan celana dalamku ke mulutnya.
“LELY… LELY… BAPAK MAU CROT!!! AAAAARRRRGGHHH!!! Menantu Bapak… jalang Bapak… terima sperma Bapak!!!”
Tubuhnya mengejang keras. Otot perutnya mengeras, urat lehernya menonjol. Kontolnya berdenyut-denyut ganas di genggaman tangannya. Lalu muncratlah sperma putih kentalnya dengan sangat hebat dan banyak sekali.
Semua ditumpahkan ke celana dalamku.
Ia sengaja menempelkan croth celana dalam merah marun itu tepat di ujung kontolnya. Cipratan demi cipratan sperma panas menyembur kuat, membasahi kain itu sepenuhnya. Satu… dua… tiga… empat… lima… enam kali cipratan tebal menyembur deras, membuat celana dalamku banjir oleh sperma kentalnya yang putih dan lengket.
Beberapa cipratan bahkan meluber ke tangannya dan lantai, tapi sebagian besar besar ditumpahkan ke bagian dalam celana yang biasa menutupi vaginaku.
“AAHHH… LELY… AMBIL SEMUA SPERMA BAPAK… ISI MEMEKMU DENGAN PEJUH MERTUAMU INI…!!” raungnya dengan suara serak penuh kenikmatan.
Ia terus memompa hingga tetes terakhir, menggosok-gosok ujung kontolnya yang masih berdenyut ke kain celana dalamku, memastikan setiap tetes sperma panasnya meresap ke dalam kain itu. Celana dalam merah marun itu sekarang benar-benar basah kuyup, licin, dan berat oleh sperma kental Pak Wira.
Akhirnya tubuhnya ambruk duduk di bale-bale, napasnya tersengal-sengal seperti habis perang. Kontolnya masih setengah tegang, meneteskan sisa sperma. Wajahnya puas sekali, bibirnya masih mengecup celana dalamku yang sudah penuh oleh cairannya.
Aku mundur pelan, lututku lemas sekali. Celana dalamku sendiri sudah basah total. Aku merasa panas sekali, hampir klimaks hanya dengan melihatnya, tapi aku berhasil menahan diri. Hanya basah. Hanya getaran hebat di perut bawah.
Pagi ini… rahasia ini semakin gila.
-^-
