Bab - 2
Salam kenal namaku Lely Anggraeni.
Sudah lebih dari seminggu aku hidup dalam kegelisahan yang sulit dijelaskan. Hampir setiap hari, selalu ada saja dalemanku yang hilang dari jemuran, celana dalam, bra, bahkan kaus kaki tipis yang jarang aku pakai, lenyap tanpa jejak.
Anehnya, keesokan pagi semuanya kembali, tergantung rapi seperti semula, bersih, wangi, seolah tak pernah pergi ke mana pun.
Awalnya aku mencoba berpikir masuk akal. Mungkin tertiup angin. Tapi semakin kupikirkan, semakin terasa janggal.
Apa mungkin angin hanya memilih dalemanku saja, membiarkan pakaian lain tetap utuh? Bahkan celana dalam milik suamiku tak pernah tersentuh. Dan kalaupun benar terbawa angin… sejak kapan angin bisa mengembalikannya dalam keadaan bersih dan rapi?
Dari situ, satu kesimpulan mulai menguat, ini pasti ulah manusia.
Entah orang iseng, anak-anak nakal, atau… seseorang dengan maksud yang lebih aneh. Pikiran itu membuatku tak nyaman, tapi juga tak bisa diabaikan.
Selama berhari-hari aku memendamnya sendiri, membiarkan rasa penasaran dan gelisah itu mengendap hingga akhirnya tak tertahankan lagi. Dan hari ini, aku memutuskan untuk berhenti menebak.
Aku akan menjebaknya.
Subuh itu, aku sengaja menjemur lebih banyak daleman dari biasanya, bukan hanya yang baru dicuci, tapi juga yang sudah bersih. Semuanya kugantung rapi, memberi umpan. Kali ini aku ingin benar-benar menangkap basah siapa pelakunya, manusia atau makhluk jadi-jadinya, karena tidak mungkin dibawa angin, awan atau ayam tetangga.
Adzan subuh baru saja berkumandang ketika aku selesai menjemur umpan itu. Tanganku bergerak biasa saja, seolah tak ada keganjilan apa pun beberapa hari terakhir. Tapi di dalam dada, degup jantungku tak pernah benar-benar tenang.
Aku naik ke kamar di lantai dua, lalu mengintip dari balik tirai. Jaraknya terlalu jauh. Semua tampak samar. Rasa tak puas itu mendorongku turun, pelan-pelan menuju dapur. Dari jendela sana, jemuran hanya berjarak beberapa meter. Lampu dapur sengaja kupadamkan, gelap menjadi sekutuku.
Aku berdiri diam di balik jendela, menahan napas, membiarkan mata terbiasa dengan temaram halaman. Waktu terasa berjalan lambat, hanya suara angin dan sisa gema adzan yang mengisi ruang.
Lalu tiba-tiba sosok seseorang muncul. Lelaki memakai kemeja koko, kain sarung, dan kopiah hitam. Langkahnya pelan, hati-hati, seperti tak ingin mengusik apa pun. Matanya menyapu sekeliling, memastikan keadaan benar-benar sepi.
Dadaku langsung menegang. Ada yang tidak wajar dari caranya bergerak sosok itu dan sejujurnya aku merasa sangat familiar dengan postur dan gestur kecilnya.
Sosok misterius itu mendekat… lalu berhenti tepat di tengah jemuranku, di antara celana dalam dan bra yang sengaja kugantung lebih banyak dari biasanya.
Aku menelan ludah, jantung semakin berdebar tak sabar menanti apa yang akan dilakukan sosok tersebut pada jemuran-jemuranku.
Aku makin menajamkan panadanganku. Rasa familiar semakin kental, namun logikaku menolak menyimpulkan. Tidak mungkin orang itu. Tidak masuk akal kalau benar-benar dia yang melakukannya. Dari sekian banyak kemungkinan dan kecurigaan, justru sosok dia adalah yang paling tidak pernah masuk dalam kecurigaanku.
Aku memicingkan mata, berusaha menangkap wajahnya di tengah cahaya yang minim. Saat ia sedikit menoleh, cahaya lampu halaman menyentuh wajahnya. Seketika itu juga duniakurasakan seolah berhenti berputar.
Pak Wira Indrajaya?
Tubuhku membeku. Mata makin terbelelak, tak percaya jika sosok yang sedang berdiri di anatara jemuran dalemanku itu adalah Pak Wira. Ayah mertuaku sendiri.
Segala dugaan yang selama ini berputar di kepalaku runtuh seketika. Angin yang menerbangkan, tetangga usil, anak-anak nakal, bahkan bayangan aneh yang sempat terlintas, tak satu pun mengarah ke sini.
Tapi kenyataan berdiri di depan mataku.
Nyata.
Tak terbantahkan.
Aku mencengkeram kusen jendela, menahan tubuhku yang mendadak lemas. Napasku tercekat. Pikiranku kacau, mencoba menolak apa yang kulihat.
Benarkah… beliau?
Benarkah selama ini dia yang diam-diam mengambil celana dalam dan braku… lalu mengembalikan lagi?
Untuk apa?
Pertanyaan itu menghantam tanpa jawaban. Tak ada logika yang bisa langsung menjelaskannya. Justru semakin kupikirkan, semakin terasa janggal dan mengusik.
Ayah mertuaku masih berdiri diam di antara jemuranku. Sementara di dalam sini, aku mulai menyadari satu hal yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar kehilangan pakaian, namun respeck dan segalanya.
Aku hampir tidak bisa percaya dengan apa yang kulihat, tapi pandanganku tak memberi ruang untuk menyangkal.
Dengan gerakan yang tenang, Pak Wira memasukkan tangan ke dalam saku kemeja koko-nya. Dari sana, ia mengeluarkan beberapa kain kecil. Satu per satu.
Celana dalamku warna hitam. Lalu yang krem. Dan sebuah bra hitam yang langsung membuat dadaku terasa sesak melihatnya kembali muncul di luar sana, bukan di tempat seharusnya.
Dengan hati-hati, ia menggantungkan benda-benda itu di antara tali jemuran, merapikannya seolah memang bagian dari cucian yang sah. Gerakannya tidak tergesa, bahkan cenderung telaten, seperti seseorang yang sedang memastikan semuanya berada di tempat yang “benar.”
Lalu ia berhenti.
Matanya menelusuri jemuran itu satu per satu.
Aku melihatnya mengambil beberapa pakaian lain, memegangnya sebentar, seakan menimbang atau memastikan sesuatu. Bukan sekadar acak, tapi seperti ada pola yang hanya ia pahami sendiri.
Sesekali ia mendekatkan kain itu ke wajahnya, mengamati lebih lama, lalu menunduk sedikit sebelum meletakkannya kembali. Gerakannya membuat kepalaku berdenyut, terlalu personal, terlalu tidak pada tempatnya, tapi juga terlalu sulit untuk langsung diteriakkan tanpa bukti yang bisa dijelaskan.
Tanganku sudah hampir terangkat untuk membuka jendela dan berteriak memanggilnya. Tapi aku berhenti.
Mas Fahri masih tidur di atas sana. Aku tidak ingin satu teriakan gegabah membangunkannya dan mengubah semuanya jadi kekacauan tanpa arah.
Pak Wira meraih beberapa potong pakaianku, dua celana dalam dan satu bra lainnya, yang warnanya biru dan merah. Lalu, dengan gerakan yang sama hati-hatinya, ia melipatnya dan memasukkannya ke dalam gulungan sarung yang ia kenakan.
Seolah itu adalah tempat penyimpanan yang paling aman. Seolah itu hal yang wajar.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang tertinggal, ia berdiri diam sebentar, memandangi jemuran itu untuk terakhir kalinya.
Lalu berbalik.
Langkahnya kembali pelan, teratur, dan tanpa suara berarti. Ia melintasi halaman belakang, melewati pagar kecil, dan menghilang begitu saja dari pandanganku. Seakan tak pernah terjadi apa-apa.
Aku tetap berdiri di balik jendela. Tangan dinginku masih menempel di kusen, tapi tubuhku terasa jauh dari kendali. Yang baru saja kulihat bukan sekadar kejadian aneh. Tapi ini… terlalu nyata untuk diabaikan.
Dan yang paling mengganggu bukan hanya apa yang ia lakukan.
Tapi betapa tenangnya ia melakukannya.
Aku menatap jemuran itu lama.
Kosong di beberapa bagian. Terisi di bagian lain.
Seperti sebuah pesan yang belum kupahami.
Aku bergerak beberapa menit setelah Pak Wira menghilang dari halaman belakang, berdiri di kamar dengan gamis hitam dan jilbab yang kupilih tanpa banyak berpikir. Tanganku masih dingin saat aku menarik napas panjang. Kalau aku tetap diam, aku hanya akan tenggelam dalam deretan pertanyaan yang tak selesai.
Aku keluar dari rumah lewat pintu samping, memastikan langkahku tidak menimbulkan suara. Dari kejauhan, sosoknya masih terlihat—Pak Wira berjalan pelan menyusuri jalan kecil di belakang kompleks, tubuhnya tegap seperti biasa, seolah tidak membawa beban apa pun di balik sarung yang ia kenakan.
Aku menjaga jarak. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Hanya cukup untuk memastikan aku tidak kehilangan jejaknya.
Pikiranku bekerja cepat, mencoba menyusun ulang semuanya. Cara ia bergerak tadi pagi… terlalu teratur untuk seseorang yang sekadar “tersesat” atau kebetulan lewat. Tapi ada satu kemungkinan yang terus muncul, meski aku enggan mengakuinya.
Mungkin niat awalnya sejak subuh dia hendak ke masjid untuk shalat subuh berjamaah. Rutinitas yang selama ini aku tahu masih ia jaga.
Tapi saat lewat dia melihat… jemuranku sudah terpampang dan didominasi oleh celana dalam dan bra, maka niatnya menjadi berubah, ia memilih mendatangi jemuranku dan memilih benda buruannya itu. Seolah celana dalam dan braku jauh lebih menarik perhatiannya dibanding suara adzan panggilan beribadah.
Dadaku mulai terasa berat. Langkahku makin hati-hati, menyesuaikan jarak. Dari balik pagar dan bayangan pohon, aku terus mengikutinya, mencoba tetap tak terlihat.
Ia tidak menoleh sekali pun. Tapi justru itu yang membuatku semakin tegang, seolah ia terlalu yakin tidak akan ada yang mengikutinya. Atau… terlalu yakin tidak akan tertangkap.
Aku menelan ludah, jari-jariku mencengkeram kain gamis. Semakin jauh kami melangkah, semakin jelas hendak kemana Pak Wira pergi membawa barang jarahannya.
Langkahku hampir tersendat ketika melihat arah belokannya.
Pak Wira tidak menuju masjid. Tidak juga kembali ke rumahnya. Mau kemana dia?
^*^
