Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab - 4

Aku berjalan tertatih kembali ke rumah saat langit masih gelap kebiruan, fajar subuh baru saja menyingsing. Udara dingin dan lembab menusuk kulit, tapi tubuhku masih panas seperti terbakar. Celana dalamku basah, lengket di antara paha setiap kali aku melangkah. Aroma sperma Pak Wira yang masih menempel di ingatanku membuat vaginaku berdenyut-denyut lagi.

Sampai di kamar, aku pelan-pelan membuka pintu. Mas Fahri masih tertidur pulas di atas kasur, punggungnya menghadap ke arahku, napasnya teratur. Jam di dinding menunjukkan pukul 05:20 pagi. Ia belum bangun, dan aku lega sekaligus bingung.

Aku duduk di tepi kasur dengan hati berantakan. Tangan gemetar memegang celana dalam cadangan.

‘Bagaimana aku mengadukan ini pada Mas Fahri?’

Jika aku sampaikan apa yang terjadi selama ini dan terutama yang barusan di ‘Saung Paniisan, pasti Mas Fahri langsung syok. Marah. Mungkin langsung ke saung untuk konfrontasi ayahnya. Bisa-bisa keluarga hancur. Atau malah… ia tidak percaya dan menganggap aku berhalusinasi? Atau lebih parah, ia curiga aku diam-diam menikmati melihatnya?

Sambil menunggu air mendidih, aku berdiri memeluk tubuh sendiri di depan kompor. Paha dalamku masih licin. Aku menekannya rapat-rapat, berusaha mengabaikan denyutan di klitorisku. Aku tidak berani menyentuh diri sendiri di dapur seperti ini, tapi godaan itu sangat kuat.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah pelan dari kamar. Mas Fahri keluar dengan mata masih mengantuk, rambut acak-acakan.

“Pagi sayang… sudah bangun dari tadi?” tanyanya sambil menguap dan mendekat ke dapur.

Aku berusaha tersenyum biasa, tapi suaraku agak bergetar.

“Pagi Mas… iya, aku sudah masak air. Mau sarapan apa pagi ini?”

Mas Fahri memelukku dari belakang pelan, mencium tengkukku. Aku langsung tegang. Tubuhku masih sensitif sekali. Aku takut ia sadar kalau celana dalamku basah atau payudaraku mengeras.

Di dalam hati aku berteriak, “Mas… ayahmu tadi subuh onani pakai celana dalamku… kontolnya jauh lebih besar dari punyamu…” Tapi mulutku hanya diam.

Aku masih bingung harus cerita atau tidak? Sekarang atau nanti? Atau simpan sendiri selamanya?

Sepertinya aku masih belum siap melihat suamiku syok atau marah besar, lebih baik aku simpan saja sendiri sambil mencari solusi yang tepat tanpa membuat hubungan rumah ayah dan anak itu retak dan hancur.

Jam setengah delapan, Mas Fahri sudah rapi dengan kemeja dan celana formalnya. Ia mendekatiku di teras, mencium keningku sekilas.

“Aku pergi dulu ya, sayang. Hari ini ketemu kolega bisnis di Hotel Mandarin Oriental. Kemungkinan pulang malam lagi, atau bahkan larut. Jangan nunggu aku makan malam,” katanya sambil tersenyum.

Aku hanya mengangguk pelan, berusaha tersenyum biasa. “Hati-hati Mas… hati-hati di jalan.”

Aku mendekat, mencium pipinya lembut. Bau parfum suamiku yang familiar tercium, tapi entah kenapa hari ini justru terasa asing. Saat ia masuk ke mobil dan melambaikan tangan sebelum mobilnya keluar dari pagar, aku berdiri di teras sampai mobilnya menghilang di tikungan jalan.

Rumah besar ini langsung terasa sangat sepi.

Aku kembali masuk, menutup pintu utama, lalu duduk termangu di sofa ruang tamu yang luas. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi, menerangi interior mewah yang biasanya membuatku bangga. Tapi pagi ini, semuanya terasa hampa.

Pikiranku kembali ke Saung Paniisan. Tubuhku langsung bereaksi lagi. Putingku mengeras di balik baju rumah, vaginaku kembali basah hanya dengan mengingatnya. Aku menekan paha rapat-rapat, tapi denyutannya semakin kuat.

“Kenapa aku seperti ini…” gumamku pelan, suaraku sendiri terdengar asing di rumah yang sepi.

Aku bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Tubuhku panas. Celana dalamku sudah basah lagi. Aku merasa kotor, tapi juga… sangat bergairah. Klitorisku berdenyut minta perhatian.

Aku berdiri di depan cermin besar ruang tamu, melihat wajahku yang merah dan mata yang berkaca-kaca karena bingung. Payudaraku naik-turun cepat karena napas yang memburu.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

^*^

Jam menunjukkan pukul 09.05 pagi. Aku masih duduk termangu di ruang tamu ketika terdengar suara pagar depan dibuka. Langkah kaki yang sudah sangat familiar itu mendekat.

Pak Wira muncul di teras dengan penampilan khas, kaos oblong abu-abu yang agak ketat di dada, celana cingkrang hitam yang dilipat sampai betis, dan sandal kulit hitam. Wajahnya tenang, senyumnya ramah seperti biasa.

“Pagi, Lely… Mas Fahri sudah berangkat?” tanyanya dengan suara biasa, seolah tadi subuh tidak pernah terjadi apa-apa.

Aku mendadak nervous dan salah tingkah. Jantungku berdegup kencang sampai rasanya mau loncat keluar. Wajahku langsung panas, tanganku yang memegang gelas kopi sedikit gemetar.

“I-iya, Pak… sudah dari jam setengah delapan,” jawabku, suaraku agak parau dan gugup.

Pak Wira mengangguk santai, lalu masuk ke dalam rumah seperti biasa. Ia langsung menuju dapur, mengambil gelas sendiri dari rak, menuang kopi yang sudah aku seduh tadi.

“Wangi kopinya… kamu memang paling jago bikin kopi,” katanya sambil tersenyum kecil, lalu duduk di kursi meja makan seolah tak ada beban.

Aku berdiri canggung di dekat kompor, tak tahu harus berbuat apa. Mataku tanpa sadar melirik ke bawah, ke arah celana cingkarngnya. Bayangan benda besar, tebal, berurat, dan perkasa yang aku lihat tadi subuh langsung muncul lagi di kepala. Benda yang jauh lebih gagah daripada milik anaknya sendiri.

Tubuhku langsung bereaksi kembali. Putingku mengeras lagi, vaginaku berdenyut pelan, dan cairan hangat mulai merembes keluar membasahi celana dalamku yang baru.

‘Kenapa dia biasa saja? Apa dia tidak tahu aku melihat? Atau dia tahu… tapi pura-pura?’

Pak Wira menyeruput kopinya dengan tenang, lalu berkata, “Hari ini halaman depan agak berantakan. Bapak bantu rapiin ya, sekalian potong rumput yang sudah tinggi.”

“Iya, Pak… terima kasih,” jawabku cepat, tapi suaraku terdengar aneh di telinga sendiri.

Saat ia berdiri untuk keluar ke halaman, aku tak bisa menahan diri untuk tidak melirik punggungnya yang masih tegap dan bokongnya yang kekar di balik celana cingrang hitamnya. Aku buru-buru membalikkan badan, berpura-pura mencuci piring. Tangan gemetar. Paha dalamku sudah licin lagi.

Pak Wira keluar ke halaman, mengambil sapu dan gunting rumput seperti biasa. Dari jendela dapur, aku mengintipnya diam-diam. Gerakannya biasa saja. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi justru sikapnya yang normal itu yang membuatku semakin gelisah.

‘Dia benar-benar tidak tahu? Atau dia sengaja bersikap biasa supaya aku yang semakin gila sendirian?’

Aku berdiri di balik jendela dapur yang agak tertutup tirai, pura-pura mencuci piring sambil sesekali melirik ke halaman. Pak Wira bekerja seperti biasa. Ia menyapu daun kering, memotong rumput yang sudah agak tinggi dengan gunting besar, tubuhnya yang masih kekar berkeringat sedikit di bawah sinar matahari pagi.

Awalnya sikapnya benar-benar biasa. Tidak ada yang aneh. Tapi setelah hampir 20 menit, aku mulai menyadari sesuatu.

Pak Wira seperti sengaja memilih posisi yang menghadap ke dapur. Saat ia membungkuk memungut rumput, celana cingkrangnya yang tipis agak naik, memperlihatkan tonjolan besar di antara pahanya. Aku yakin sekali ia tidak memakai kolor atau sempak di balik celana cingkrang itu. Benda pusakanya yang tadi aku lihat di saung paniisan, langsung muncul di ingatanku, besar, panjang, keras, gagah berurat.

Setiap kali ia bergerak, tonjolan itu bergoyang pelan mengikuti gerakannya. Kadang ia berdiri tegak, kaki agak mengangkang, lalu mengusap keringat di dada sambil tangan satunya seolah tak sengaja menyentuh bagian depan celananya, membuat tonjolan itu semakin terdedah dan terlihat jelas dari arahku.

Aku tahu ini bukan kebetulan.

Napasku mulai memburu. Jantungku berdegup kencang. Paha dalamku sudah licin sekali. Tanpa sadar, tangan kananku turun pelan-pelan, menyusup ke balik gamis rumahan yang kupakai. Jari-jariku langsung menyentuh celana dalam yang sudah basah kuyup.

“Aaaah ssst…” desahku pelan, hampir tak terdengar.

Pak Wira seolah tahu aku sedang melihatnya. Ia membungkuk lagi, kali ini lebih lama, bokongnya menghadap ke arah jendela. Celana cingkrangnya naik cukup tinggi hingga hampir memperlihatkan pangkal pahanya. Tonjolan selangkanganya terlihat semakin jelas dari samping, batang yang tebal dan kepala yang membulat terbayang samar di balik kain tipisnya.

Aku tak tahan lagi.

Aku mundur sedikit ke dalam dapur agar tidak terlalu kentara, punggungku bersandar di dinding samping jendela. Rokku kuangkat pelan, tangan kananku masuk ke dalam celana dalam. Jari tengahku langsung menemukan klitorisku yang sudah sangat bengkak dan licin.

Aku menggosoknya pelan dulu, sambil terus mengintip Pak Wira dari celah tirai.

“Hah… ahh…” desahku tertahan.

Gerakan jemariku semakin cepat. Aku membayangkan lagi perkakas besar Pak Wira yang tadi subuh berdiri tegak, berdenyut, lalu muncrat hebat menyemburkan sperma kental ke celana dalamku.

Aku memasukkan satu jari ke dalam vaginaku yang sudah sangat basah, lalu dua jari. Gerakanku naik-turun cepat, ibu jariku terus menggosok klitorisku dengan liar.

Pak Wira di luar masih bekerja. Ia berdiri menghadap ke dapur, mengusap keringat di leher, tangannya turun pelan dan menggaruk-garuk bagian tonjolan itu dengan sengaja. Kontolnya terlihat semakin keras di balik sarung. Bentuknya sudah sangat jelas sekarang.

“Ahh… Pak… kontol Bapak… besar sekali…” bisikku hampir tak sadar.

Tubuhku mulai mengejang. Lututku lemas. Aku menggosok semakin cepat, liar, dan kasar. Cairan sudah menetes ke lantai dapur.

Tiba-tiba gelombang orgasme datang dengan hebat.

“Aaahhh…!!” Aku menutup mulut dengan tangan kiri, tubuhku kejang-kejang hebat. Vaginaku berdenyut-denyut kuat menggenggam jari-jariku, cairan squirt kecil menyembur keluar membasahi tanganku dan lantai. Aku mencapai klimaks yang sangat kuat sambil terus menatap tonjolan Pak Wira di halaman.

Aku ambruk pelan ke lantai dapur, napasku tersengal-sengal, tubuh masih bergetar. Celana dalamku sudah basah parah, rokku kusut.

Di luar, Pak Wira masih melanjutkan pekerjaannya dengan tenang, seolah tak tahu apa-apa. Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat — senyum tipis yang membuatku curiga.

Aku duduk di lantai dapur, kaki lemas, pikiran semakin kacau.

‘Apa yang sedang terjadi dengan diriku?’

-^-

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel