Bab - 1
Prolog
Hidup kadang mengalir seperti sungai, tenang di permukaan, tapi menyimpan arus yang tak selalu bisa ditebak. Ada saat ia jernih memantulkan langit, ada pula waktu ia keruh membawa sisa-sisa yang tak sempat kita pahami. Namun selama ini, aku selalu merasa sedang berdiri di tepian yang damai, menikmati aliran itu tanpa curiga.
Aku merasa sebagai lelaki paling beruntung di dunia.
Namaku Fahri Indrajaya. Empat puluh tahun. Seorang pebisnis yang pelan tapi pasti menemukan jalannya di dunia ekspor-impor rempah dan hasil pertanian. Orang-orang mungkin melihat pencapaianku sebagai keberhasilan. Tapi jika ditanya apa yang paling berharga dalam hidupku, jawabanku tak pernah berubah.
Lely Anggraeni, istriku yang kini berusia 37 tahun.
Setiap pagi, ada pemandangan yang tak pernah membosankan. Lely di dapur, dengan gamis sederhana dan jilbab yang selalu rapi, menyiapkan sarapan dengan gerakan yang tenang. Tak tergesa, tak berisik, seolah waktu ikut melambat di sekitarnya. Dari kejauhan saja, aku sudah merasa cukup. Cukup bahagia. Cukup bersyukur.
Sering aku bertanya dalam hati, bagaimana mungkin perempuan seperti dia memilih hidup bersamaku?
Jika dunia ini diibaratkan garis langit dan bumi, maka keluarganya adalah langit yang tinggi, sementara keluargaku… hanya tanah yang biasa diinjak.
Ayahnya seorang pengusaha besar di kotanya. Bukan sekadar dikenal, tapi dihormati, disegani, dan berpengaruh. Bahkan untuk ukuran kabupaten, namanya sudah seperti legenda kecil yang semua orang tahu.
Sementara ayahku? Hanya seorang pegawai negeri biasa. Mantan aparat kecamatan yang pensiun dengan hidup sederhana. Rumah kami tak istimewa. Mobil kami pun sekadar kendaraan dinas tua yang bertahan lebih lama dari seharusnya.
Dulu aku berpikir, Lely tak akan sanggup berjalan bersamaku dari titik nol. Dunia kami terlalu jauh berbeda. Ibarat kata, aku anak singkong dia anak keju.
Tapi aku salah.
Kami bertemu saat masa orientasi kampus. Dia dua tingkat di bawahku. Dan sejak pertama kali melihatnya, aku sudah tahu, dia bukan perempuan biasa. Cantik, cerdas, dan… tak terjangkau.
Aku bahkan tak berani mendekat. Sekadar menyapa pun terasa seperti melangkah terlalu jauh. Dalam pikiranku saat itu, perempuan seperti Lely pasti sudah punya garis hidup yang rapi, mungkin dijodohkan dengan anak pengusaha, atau pria mapan yang sepadan dengan keluarganya.
Aku hanya bisa melihatnya dari jauh.
Sampai sesuatu yang tak pernah kupikirkan terjadi.
Lely yang lebih dulu datang.
Lebih dulu bicara.
Lebih dulu… memilihku.
Di antara banyak lelaki yang jauh lebih pantas saat itu, Lely justru mengatakan perasaannya tanpa berputar-putar. Sederhana, tapi menghantam seluruh logikaku.
Kalau orang lain menyebut keajaiban dunia itu Taj Mahal atau Borobudur, bagiku, momen itu jauh melampaui keduanya. Karena sejak saat itu, hidupku berubah.
Setelah menikah, aku baru benar-benar memahami arti pilihan yang dia buat.
Lely tidak hanya datang, dia menetap sepenuh hati.
Dia menyesuaikan diri dengan keluargaku yang lebih sederhana dan religius, tanpa keluhan. Dia yang dulu terbiasa tampil modern dan ringan, kini dengan tenang mengenakan pakaian muslimah yang panjang dan longgar. Bukan karena terpaksa, tapi karena ingin menghargai dunia yang aku punya.
Dia belajar memasak makanan khas keluargaku. Ikut pengajian ibu-ibu kompleks. Tinggal di kota kecil yang mungkin bahkan tak pernah masuk dalam bayangannya dulu.
Rumah kami, bagi orang sekitar, mungkin sudah tergolong bagus. Tapi jika dibandingkan dengan rumah keluarganya… mungkin hanya sebagian kecil dari apa yang pernah ia miliki.
Namun Lely tidak pernah mempermasalahkan itu.
Tak ada keluhan. Tak ada tuntutan.
Hanya kesetiaan yang diam-diam menguatkan.
Kami dikaruniai anak kembar, Faqih dan Fania, kini sudah lima belas tahun. Dan di tengah segala perubahan waktu, Lely tetap sama seperti yang dulu membuatku jatuh hati. Sabar. Lembut. Menguatkan.
Dialah yang berdiri di belakangku saat bisnis ini hampir runtuh di awal. Dialah yang menenangkan saat aku hampir menyerah. Dia pula yang mengelola keuangan rumah tangga dengan bijak, bahkan dengan tabungan dari warisan keluarganya yang jauh lebih besar dari milikku, tanpa pernah sekalipun menjadikannya pembeda di antara kami.
Tak ada yang disembunyikan.
Tak ada yang ditutup-tutupi.
Segalanya terasa… utuh.
Nikmat mana lagi yang bisa aku ingkari?
Setiap pulang kerja, melihatnya menyambutku dengan senyum yang sama. Senyum yang tak pernah berubah sejak dulu, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Melihatnya mengurus rumah dengan telaten. Melihat anak-anak kami tumbuh bahagia di bawah kasihnya.
Semua itu seperti aliran tenang yang tak pernah ingin kuhentikan.
Aku lelaki paling beruntung di dunia ini.
Karena aku memiliki Lely.
Istri yang setia.
Ibu yang luar biasa.
Dan teman hidup yang kucintai dengan segenap jiwa.
Setidaknya…itulah yang selalu aku yakini, jauh di dalam hatiku.
Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang diam-diam berubah di dalam diriku.
Bukan pada Lely.
Bukan pada rumah ini.
Melainkan pada cara aku memandang diriku sendiri.
Aku mulai merasa… mengecil.
Perasaan itu tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, seperti karat yang menggerogoti besi, tak terlihat di awal, tapi pasti mengikis kekuatan yang dulu terasa kokoh.
Lely tidak pernah berubah. Dia tetap menyambutku dengan senyum yang sama setiap kali aku pulang. Tetap memelukku dengan hangat, seolah lelahku ikut luruh di bahunya. Tetap menjadi ibu yang luar biasa bagi Faqih dan Fania.
Tapi aku… yang mulai berubah. Terutama dalam satu hal yang tak pernah kubayangkan akan menjadi sumber kegelisahanku.
Di atas ranjang.
Aku mengakuinya, meski hanya dalam diam. Staminaku menurun. Tubuhku tak lagi sekuat dulu. Energi yang dulu terasa seperti tak ada habisnya, kini sering padam sebelum sempat benar-benar menyala.
Mungkin karena pekerjaan. Mungkin karena usia. Atau mungkin karena aku terlalu memaksakan diri selama ini.
Dulu, malam-malam kami adalah ruang kecil yang penuh kehangatan dan kedekatan. Bukan sekadar tentang hasrat, tapi tentang rasa memiliki yang utuh.
Sekarang… sering kali semuanya terasa terburu-buru. Bahkan tak jarang, aku kalah oleh rasa lelah sebelum sempat benar-benar hadir untuknya.
Dan yang paling menyiksa, Lely tidak pernah mengeluh.
Tidak sekali pun.
Dia tetap sama. Tetap lembut. Tetap menerima. Dan justru itu yang membuatku semakin merasa… gagal.
Seorang suami seharusnya mampu membahagiakan istrinya, dalam segala hal. Aku takut, di balik diamnya, ada sesuatu yang ia simpan. Kekurangan yang tak pernah ia ucapkan.
Tapi setiap kali aku menatap matanya… semua prasangka itu runtuh dengan sendirinya.
Aku tahu Lely.
Aku sangat tahu perempuan itu.
Dia yang memilihku dulu, di saat aku bahkan tak berani berharap. Dia yang datang dengan keyakinan, saat aku hanya punya keraguan.
Kalau dia ingin, dia bisa memiliki lelaki yang jauh lebih dari aku, lebih mapan, lebih kuat, lebih segalanya.
Tapi dia memilih tetap di sini. Bersamaku.
Keyakinan itu yang selalu berusaha kupegang, meski di dalam hati kecilku, ada ketakutan yang sesekali muncul tanpa permisi.
Aku tidak ingin kehilangan dia.
Tidak dalam bentuk apa pun.
Maka diam-diam aku berjanji pada diriku sendiri, aku harus berubah. Harus memperbaiki diri. Menjaga tubuhku, waktuku, dan perhatianku.
Jika bukan di satu sisi, aku akan menguat di sisi lain.
Karena Lely pantas mendapatkan yang terbaik.
Aku berdiri di ruang tamu, menatap foto pernikahan kami yang tergantung di dinding. Senyum kami di sana masih sama seperti dulu, penuh harapan, penuh keyakinan.
Tangannya menggenggam tanganku dengan erat. Seolah tak akan pernah melepaskan.
“Terima kasih sudah memilih aku dulu, Sayang…” gumamku lirih.
Namun sejatinya tak ada gading yang tak retak. Begitu pun dalam rumah tangga kami. Ada hal-hal yang tak pernah benar-benar bisa kulihat dari sudut pandangku sendiri.
Aku yakin masih banya perasaan-perasaan istriku yang tak terucap. Ada banyak cerita yang tak pernah sampai ke telingaku. Ada getaran yang hanya bisa dipahami… oleh hati yang mengalaminya langsung, ialah istriku.
Dalam kegalauanku itu, aku hanya bisa berdoa sederhana. “Semoga Allah menjaga rumah tangga ini. Semoga Lely tetap menjadi perempuan yang solehah, setia, tulus, yang mencintaiku tanpa syarat. Dan semoga… aku masih pantas berdiri di sampingnya, demi masa depan anak-anak kami.”
Karena bagiku, Lely bukan hanya istri, bukan hanya ibu dari anak kembarku. Dia adalah napas dalam hidupku. Dan aku belum siap… kehilangan napas itu.
Agar kisah ini berjalan dengan sangat indah, maka biar Lely sendiri yang akan menceritakannya dari sudut pandang dirinya. Dari sudut pandang hati seorang perempuan yang selama ini hanya kulihat sebagai sempurna, tanpa pernah benar-benar memahami isi terdalamnya.
Nanti aku akan kembali datang dalam cerita ini untuk membongkar dan melengkapi semuanya dari sudut pandangku sebagai seorang suami.
Selamat membaca.
Dan jika cerita ini menyentuhmu, jangan lupa berikan like, subscribe, serta ulasan. Jika berkenan, silakan follow juga akun sang penulisnya.
Berlanjut dengan POV Lely
^*^
