Anisaku - 5
Selang beberapa menit kemudian, mereka melanjutkan langkah dengan saling merapat. Anisa berjalan di tengah, tubuhnya sesekali bergesekan dengan Kelvin di kiri dan Tio di kanan.
Sesekali Anisa masih menoleh, melayani ciuman cepat dari salah satu di antara mereka. Bibir Kelvin menyentuh bibirnya sekilas, lalu Tio mengecup lehernya dari samping. Tawa kecil Anisa terdengar samar di antara desir daun singkong. Mereka bertiga seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu, bukan seperti tamu yang baru datang ke hajatan.
Akhirnya mereka tiba di depan rumah kami.
Rumah yang relatif mewah untuk ukuran kampung ini. Dua tahun lalu aku dan Anisa merenovasinya besar-besaran. Hasil keringatku sebagai petani modern yang sukses, sawah, kebun, dan sedikit usaha ternak ditambah penghasilan Anisa dari warung sembako yang ia kelola bersama ibuku.
Rumah ini terpisah cukup jauh dari tetangga terdekat, dikelilingi pekarangan luas dan pagar tembok setinggi dada. Lokasinya memang sangat strategis... terlalu strategis untuk malam seperti ini.
Tak ada sedikit pun kecanggungan atau keraguan di langkah mereka.
Kelvin dan Tio langsung masuk begitu Anisa membuka pintu. Mereka melangkah masuk seolah rumah ini milik mereka sendiri. Tak ada bisik-bisik, tak ada melirik ke kanan-kiri memastikan aman. Sepertinya mereka memang sudah sering, atau setidaknya pernah masuk ke rumahku di saat aku tidak di rumah.
Aku segera bergerak mendekat, menyelinap ke samping rumah melalui celah pagar yang sudah kukenal betul. Aku tahu persis letak dan denah seluruh rumah ini. Setiap jendela, setiap sudut gelap, setiap celah yang bisa digunakan untuk mengintip.
Dari jendela samping ruang tengah yang tirainya sedikit terbuka, aku bisa melihat dengan jelas.
Tio dan Kelvin sudah duduk santai di sofa ruang tengah, tepat di depan televisi. Kaki mereka terangkat ke meja tamu, sikap mereka sangat nyaman. Kelvin bahkan melepas jaketnya dan melemparkannya ke kursi, sementara Tio mengambil remote dan menyalakan televisi seperti biasa. Mereka tertawa pelan sambil berbicara, seolah sedang menunggu tuan rumah pulang dari kerja.
Hatiku terasa panas membara.
Melihat dua pria asing duduk seenaknya di sofa rumahku, di ruangan yang aku renovasi dengan susah payah, membuat dada ini seperti terbakar. Tapi anehnya... aku justru tak ingin mengganggu mereka. Tak ingin masuk. Tak ingin berteriak atau menendang pintu.
Aku malah semakin merapat ke jendela, napas tertahan, mata tak lepas dari ruang tengah itu.
Anisa belum terlihat. Mungkin ia sedang ke dapur mengambil minum, atau... berganti pakaian di kamar.
Kelvin bersandar santai di sofa, tersenyum lebar sambil berkata sesuatu yang membuat Tio tertawa. Sesekali mereka melirik ke arah koridor menuju kamar, seolah sudah tidak sabar menunggu Anisa kembali.
Aku berdiri di luar dalam kegelapan, gupluk masih menutupi wajah, tangan mengepal kuat di kusen jendela.
Rumah yang selama ini kubanggakan sebagai hasil kerja kerasku, kini terasa seperti panggung untuk sesuatu yang sangat gelap.
Dan aku... aku memilih tetap menjadi penonton di panggung megahku.
Aku masih berdiri di luar dalam kegelapan, gupluk masih menutupi wajah, tangan mengepal kuat di kusen jendela.
Tak lama kemudian, Anisa keluar dari kamar.
Aku langsung tercengang. Napasku tersangkut di tenggorokan.
Istriku hanya memakai celana dalam hitam tipis yang membalut rapat bokongnya, bra berwarna senada yang menyangga dada montoknya dengan sempurna, dan jilbab segi empat yang masih terpasang rapi di kepalanya.
Penampilan yang benar-benar bertolak belakang dengan citra Anisa yang selama ini kukenal, sopan, berkebaya, dan muslimah. Malam ini ia tampak seperti bintang film dewasa bergenre jilboob yang keluar dari layar.
Begitu Anisa melangkah ke ruang tengah, Kelvin dan Tio langsung berdiri bersamaan. Tanpa perintah, tanpa kesepakatan suara, kedua pemuda itu langsung melepas pakaian mereka dengan cepat. Kaos, celana jeans, semuanya dilempar begitu saja ke sofa. Yang tersisa hanya celana dalam ketat mereka.
Kontol keduanya sudah sangat keras, menonjol jelas dan tegang di balik kain tipis itu.
Mereka mendatangi Anisa dengan langkah penuh nafsu.
Aku menduga mereka akan langsung menyerbu istriku di ruang tengah itu, di sofa yang aku beli dengan susah payah. Tapi ternyata tidak.
Ketiganya hanya berbicara pelan sebentar. Anisa tersenyum nakal, lalu mereka bertiga berjalan menuju dapur, melewati pintu belakang rumah.
Aku makin terbelalak.
Apa yang akan mereka lakukan di halaman belakang?
Aku segera berpindah posisi, menyelinap ke samping rumah dengan cepat namun hati-hati. Jantungku berdegup liar.
Aku tahu betul halaman belakang rumahku, taman kecil yang sengaja aku bangun dan tata dengan sangat baik. Di sana ada berbagai tanaman obat keluarga: jahe, kunyit, temulawak, serai, dan beberapa tanaman hias. Di salah satu sudutnya, aku membangun gazebo sederhana dari bambu dan kayu jati, tempat aku, Anisa, bahkan beberapa pegawaiku biasa beristirahat sore hari.
Sekarang, gazebo itu akan menjadi saksi sesuatu yang jauh berbeda.
Aku mengintip dari balik semak tanaman obat, napas tertahan.
Ketiga siluet itu sudah sampai di gazebo. Cahaya lampu remang-remang dan bulan cukup terang malam ini, membuatku bisa melihat dengan jelas.
Anisa berdiri di tengah, masih dengan bra, celana dalam, dan jilbabnya. Kelvin dan Tio mendekat dari dua sisi. Tangan mereka langsung menyentuh tubuh Anisa tanpa ragu. Kelvin mencium bibirnya lagi dengan rakus, sementara Tio dari belakang mengecup leher dan bahu istriku, tangannya meremas dada Anisa dari atas bra.
Anisa mendesah pelan, tubuhnya melengkung menikmati sentuhan dua pria sekaligus.
Aku berdiri di balik tanaman, tubuh bergetar hebat. Rumah yang aku renovasi dengan keringat sendiri, taman yang aku rawat dengan telaten, gazebo yang aku bangun untuk keluarga... kini menjadi tempat Anisa bermain dengan dua pria asing.
Dan yang paling membuatku terguncang: aku masih di sini, mengintip dari kegelapan, tak berniat menghentikan apa pun.
Malah, semakin aku melihat, semakin panas rasa di dada ini, semakin berkecamuk perasaan dalam dadaku. Campuran antara cemburu membara dan hasrat gelap yang tak bisa kutahan dan entah mengapa aku malah mulai terangsang.
Aku berdiri di balik tanaman obat yang gelap, napas tertahan, mata tak berkedip sedikit pun.
Di bawah cahaya lampu gazebo yang temaram bercampur sinar bulan purnama, tubuh Anisa tampak berkilau karena keringat yang mulai membasahi kulitnya. Kelvin dan Tio sudah telanjang bulat sekarang, kontol mereka berdiri tegak dan berdenyut keras, urat-uratnya menonjol jelas. Tapi Anisa masih memakai bra hitam tipis, celana dalam yang sudah basah di bagian depan, dan jilbab segi empat yang masih rapi membingkai wajah cantiknya.
Penampilan itu membuatnya terlihat semakin menggoda, seperti bintang film dewasa jilboob yang sedang syuting adegan terpanas.
Kelvin meraih kepala Anisa dengan kedua tangan, menariknya turun perlahan. Anisa berlutut di lantai gazebo tanpa ragu, bibir merahnya langsung membuka lebar. Ia mengoral kontol Kelvin dengan rakus, mulutnya naik-turun cepat, lidahnya menjilat batang dan kepala kontol itu bergantian sambil mendesah pelan.
Suara kecap basah terdengar jelas di malam yang sunyi.
Tak sampai satu menit, Anisa berpindah ke Tio. Ia menggenggam kontol Tio dengan tangan kiri sambil terus mengisap kontol Kelvin dengan mulutnya, lalu bergantian, mulutnya penuh dengan kontol Tio yang lebih tebal, kepalanya maju-mundur cepat hingga air liurnya menetes ke dada pemuda itu.
“Ooooh Yeeees…” Kelvin dan Tio mengerang bersamaan karena nikmat.
Tak lama mereka berdiri, tangan-tangannya meremas payudara Anisa dari atas bra, meremas bokongnya, menarik jilbabnya pelan seolah ingin menarik istriku semakin dalam. Mereka benar-benar menikmati sekujur tubuh Anisa tanpa melepas sedikit pun pakaian dalamnya dulu. Jari-jari mereka menyusup ke balik bra, memilin puting yang sudah mengeras.
Tangan Tio bahkan menyelinap ke dalam celana dalam Anisa, mengusap klitorisnya yang sudah basah hingga Anisa menggelinjang dan mendesah-desah penuh gairah.
Sekilas dari tempatku mengintip, ketiganya tampak seperti penari bugil di atas panggung remang-remang depan gazebo. Tubuh mereka saling menempel, bergerak liar, cahaya bulan memantul di kulit yang berkilau keringat.
Tak lama kemudian, mereka menurunkan bra dan celana dalam Anisa sekaligus.
Bra dilempar ke lantai gazebo. Celana dalam hitam itu diturunkan hingga mata kaki, lalu Anisa melangkah keluar darinya dengan kaki gemetar. Sekarang hanya jilbab yang masih melekat di kepalanya. Susu montok Anisa langsung terbebas, putingnya mengeras dan merah.
Kelvin dan Tio langsung menyerbu bergantian, Kelvin mengisap dan menggigit puting kiri Anisa dengan rakus, sementara Tio menjilat dan menghisap puting kanan. Tangan mereka turun ke bawah, jari-jari menyusup ke vagina Anisa yang sudah banjir basah.
“Oooh Yeeees… “ Kini Anisa melenguh dan mendesah, ia tetap berdiri di tengah, kaki agak terbuka, tubuhnya meliuk-liuk geil. Pinggulnya bergoyang pelan mengikuti irama jari-jari yang menggarap vaginanya bergantian.
“Kelviiiin aaaah… “ Ia mendesah keras, kepalanya mendongak, tangannya meremas rambut kedua pemuda itu sambil menekan wajah mereka lebih dalam ke dadanya.
“Kelvin… Tio… ahh… lebih dalam… lagi” desahnya parau, suaranya penuh nafsu yang tak pernah kudengar selama ini.
Aku berdiri di balik semak, tubuhku panas membara. Kontolku ikut tegang setegang-tegangnya di dalam celana, berdenyut sakit karena terlalu keras. Aku tak berani menyentuhnya, tapi rasa itu semakin kuat setiap kali melihat istriku yang biasanya sopan dan berjilbab rapi kini berdiri telanjang hanya dengan jilbab, sedang dinikmati dua lelaki asing di taman belakang rumah kami sendiri.
Cemburu membakar dada ini. Tapi hasrat gelap yang aneh justru membuatku tak bisa berpaling. Aku terus mengintip, napas tersengal, tangan mengepal kuat di batang tanaman obat.
Aku tak bisa berkedip. Napasku tersengal di balik gupluk, tangan kananku tanpa sadar menekan kontolku yang sudah keras sekali di dalam celana. Dan Anisa... istriku... benar-benar sudah tak terkendali lagi.
Anisa benar-benar berubah menjadi sosok yang tak pernah kubayangkan. Lebih liar, lebih nakal, bahkan lebih murahan dari pelacur kampung mana pun yang pernah kudengar ceritanya.
^*^
Jika ingin membaca cerita ini sekali buka langsung selesai sampai tamat, silahkan berkunjung ke Victie, cari cerita ‘ANISA ISTRIKU’ pada link
https://victie.com/novels/anisa-istriku
