Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Anisaku - 6

Tubuh Anisa yang hanya tinggal jilbab itu meliuk-liuk liar, pinggulnya bergoyang vulgar, kedua tangannya meremas kepala Kelvin dan Tio sambil mendesah seperti perempuan yang sudah lama kelaparan kontol.

“Masukin… sekarang juga…” erang Anisa parau, suaranya sudah tak lagi lembut seperti biasa. “Aku mau kalian berdua sekaligus… cepat!”

Kelvin dan Tio tak perlu disuruh dua kali.

Mereka mengangkat tubuh Anisa dengan mudah, membalikkan posisinya. Kelvin berbaring telentang di lantai gazebo, kontolnya yang tebal dan berurat berdiri tegak seperti tiang. Anisa langsung naik ke atasnya, mengarahkan kontol Kelvin ke vaginanya yang sudah banjir basah, lalu duduk dengan satu gerakan kuat hingga kontol itu hilang sepenuhnya di dalam tubuhnya.

“Kelviiiin….. “ Ia mendesah keras, kepalanya mendongak, jilbabnya bergoyang.

Tapi itu belum cukup.

Tio mendekat dari belakang, meludahi kontolnya sendiri, lalu menekan kepala kontolnya ke lubang anus Anisa yang masih rapat. Anisa bahkan tak menolak. Malah ia mendorong bokongnya ke belakang, membuka diri lebih lebar.

“Masuk… Tio… masukin pantatku… ahh!” desahnya sambil menggigit bibir.

Tio mendorong pelan tapi pasti. Kontolnya yang tebal masuk perlahan ke dalam anus Anisa, sementara vaginanya sudah penuh dengan kontol Kelvin. Dua kontol sekaligus memenuhi istriku.

Aku bisa melihat jelas bagaimana lubang vaginanya dan anusnya teregang maksimal, kulitnya memutih karena tekanan. Anisa menjerit nikmat, tubuhnya gemetar hebat, tapi ia tak berhenti.

Malah ia mulai menggoyang pinggulnya sendiri dengan liar, naik-turun, memutar, seolah ingin dua kontol itu semakin dalam.

“Lebih keraaaas… fuck me harder!” erangnya dalam bahasa yang tak pernah kudengar keluar dari mulutnya.

“Kalian berdua… penuhin memek dan pantatku… aku mau diobrak-abrik!”

Kelvin dan Tio langsung menggila. Mereka menggarap Anisa dengan kasar dan cepat. Kelvin dari bawah menggenjot vaginanya dengan dorongan kuat dan cepat, tangannya meremas susu Anisa sampai putingnya memerah. Tio dari belakang menghantam anusnya tanpa ampun, tangannya menjepit pinggang Anisa agar tak bergeser.

Suara benturan daging basah terdengar keras di malam sunyi, plok… plok… plok… bercampur desahan Anisa yang semakin liar dan kotor.

Aku tak percaya.

Istriku yang selama ini selalu meminta ‘pelan-pelan Mas’ saat kami bercinta, yang selalu malu-malu kalau aku cuma menyentuh pantatnya, kini sedang di-double penetration oleh dua kontol asing di gazebo belakang rumah kami sendiri.

Ia menjerit, memaki, meminta lebih kasar, lebih dalam, lebih cepat. Tubuhnya berkilau keringat, jilbabnya sudah miring dan basah, tapi ia tak peduli. Ia malah menekan bokongnya lebih kuat ke kontol Tio sambil menciumi bibir Kelvin dengan rakus.

“Lebih kasar… puaskan aku… aku pelacurnya kalian berdua malam ini!” erangnya lagi, suaranya pecah karena kenikmatan.

Aku berdiri di balik semak, kontolku sudah sakit karena terlalu tegang. Air mata panas menggenang di mataku, tapi kontolku malah berdenyut semakin keras.

Aku tak pernah sekali pun, berbuat sekasar ini pada Anisa. Aku selalu lembut, selalu menghormatinya. Tapi malam ini, istriku menunjukkan sisi yang benar-benar gelap, sisi yang ternyata sangat ia nikmati.

Dan aku… aku masih di sini. Mengintip. Tak berani masuk. Tak berani menghentikan. Malah, semakin liar mereka, semakin aku tak bisa berpaling.

Anisa benar-benar sudah hilang kendali. Tubuhnya yang berkilau keringat meliuk ganas di atas Kelvin, sementara Tio menghantam anusnya dari belakang tanpa ampun. Dua kontol tebal itu masuk keluar secara bergantian dan bersamaan, meregangkan vagina dan lubang pantat istriku hingga maksimal.

Suara basah daging bertabrakan semakin keras. Plok… plok… plok… diselingi jeritan nikmat Anisa yang semakin kotor.

“Ya… ya… lebih keras! Puaskan memek dan boolku!” erang Anisa dengan suara parau, vulgar. Matanya setengah terpejam, mulutnya terbuka lebar. “Aku mau diisi… isi aku berdua… ahh… fuck!”

Kelvin menggeram dari bawah, tangannya mencengkeram pinggul Anisa kuat-kuat sambil mendongkrak pinggulnya ke atas dengan brutal. Tio di belakang menjepit bahu Anisa, kontolnya menghunjam dalam-dalam ke anusnya. Mereka berdua seperti binatang yang kelaparan, menggarap istriku tanpa belas kasihan.

Anisa mulai gemetar hebat. Tubuhnya menegang, vagina dan anusnya pasti berkedut-kedut di sekitar dua kontol yang memenuhinya.

“Aku… aku mau keluar… aku mau muncraaaat!” jeritnya.

Tak lama kemudian, Anisa orgasme pertama yang sangat hebat. Tubuhnya kejang-kejang liar, cairan bening menyembur keluar dari vaginanya, membasahi kontol Kelvin dan lantai gazebo.

“Nikmaaaaatnya….” Ia menjerit panjang, kepalanya mendongak ke langit malam, jilbabnya sudah basah kuyup oleh keringat. Tapi Kelvin dan Tio tidak berhenti. Mereka terus menghantamnya semakin cepat, semakin kasar, hingga Anisa orgasme lagi untuk kedua kalinya, kali ini lebih deras, jeritannya pecah dan tubuhnya hampir ambruk.

Kelvin mengerang keras. Sepertinya ia yang pertama mencapai klimaks. Pinggulnya terangkat tinggi, dan menyemburkan spermanya yang panas dan kental jauh ke dalam vagina istairku. Tio menyusul tak lama kemudian. Dengan dorongan terakhir yang sangat dalam, ia meledak di dalam anus istriku, menyemprotkan cairannya hingga penuh.

Anisa menggigil hebat, mulutnya terbuka lebar tanpa suara, air mata kenikmatan mengalir di pipinya. Sperma Kelvin dan Tio menetes keluar dari vagina dan anusnya yang teregang, mengalir turun ke paha mulusnya.

Mereka bertiga tergeletak sesaat di lantai gazebo, napas tersengal-sengal, tubuh basah keringat. Anisa masih di tengah-tengah, tubuhnya lemas tapi senyum puas terukir di wajahnya.

Tak lama kemudian, mereka bangkit. Masih dalam keadaan bugil total, Anisa hanya memakai jilbab yang sudah miring dan basah, Kelvin dan Tio telanjang bulat dengan kontol mereka yang masih setengah tegang dan berkilau cairan. Ketiganya berjalan kembali ke dalam rumah melalui pintu belakang, seolah tak ada yang perlu disembunyikan.

Aku mengikuti dari luar, menyelinap ke jendela dapur.

Di dalam, mereka bertiga langsung ke dapur. Anisa mengambil panci, memasak mie rebus dengan santai, sementara Kelvin memeluknya dari belakang, kontolnya yang masih basah menempel di bokong Anisa. Tio duduk di meja dapur, merokok sambil tertawa kecil dan sesekali meremas susu Anisa.

Tak sampai sepuluh menit, mie rebus sudah siap. Mereka makan bertiga di meja makan, masih telanjang bulat. Anisa duduk di pangkuan Kelvin, sesekali menggoyang pinggulnya pelan sambil menyuap mie. Sperma masih menetes pelan dari vaginanya dan anusnya ke lantai dapur. Mereka tertawa, bercanda, seolah ini adalah malam biasa di rumah mereka sendiri.

Anisa bahkan menjilat sisa mie di bibir Tio, lalu menciumnya mesra, lidah mereka saling bertautan di depan Kelvin yang tersenyum puas.

Aku berdiri di luar jendela, kontolku masih tegang menyakitkan, dada panas membara.

Istriku yang kukenal selama ini... ternyata jauh lebih liar dari yang pernah kubayangkan. Dan malam ini, di rumah yang aku bangun dengan keringatku sendiri, ia sedang menikmati mie rebus setelah diisi sperma dua pria asing sambil bugil hanya dengan jilbab.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa terus mengintip... dan merasakan hasrat gelap yang semakin tak terkendali.

Aku mundur selangkah demi selangkah dari jendela dapur, tubuhku terasa berat seperti dipenuhi timah.

Aku tak sanggup lagi menyaksikannya.

Bukan karena takut. Bukan karena marah yang meledak-ledak. Tapi karena aku merasa tak tega mengganggu kebahagiaan dan kebinalan yang sedang dinikmati istriku dengan begitu rakusnya.

Dengan pikiran yang kacau, entah seperti apa harus kugambarkan, aku melangkah menjauh dari rumah. Kakiku membawa aku ke kebun singkong milik Pak Hasbi yang berada persis di belakang rumah kami. Malam semakin larut, udara dingin menusuk tulang, tapi aku tak merasakannya.

Aku duduk di bawah pohon singkong yang rindang, punggungku bersandar ke batang yang kasar. Air mata tanpa bisa kutahan mulai mengalir deras di pipiku, menetes ke tanah kering. Berjuta pertanyaan membuncah di kepala, saling bertabrakan tanpa henti.

Siapa yang telah mengubah Anisa menjadi seperti ini?

Sejak kapan istriku berubah menjadi pelacur murahan yang begitu liar?

Mengapa selama ini aku tak pernah menemukan satu tanda pun yang mencurigakan?

Apakah aku terlalu bodoh? Terlalu percaya? Atau… Anisa memang sangat pandai menyembunyikan semuanya?

Harus ke mana aku mencari jawaban?

Mungkin aku harus bertanya langsung pada Anisa besok pagi. Tapi bagaimana kalau ia malu? Bagaimana kalau ia marah besar dan memilih meninggalkan aku?

Bisakah aku hidup tanpanya? Anisa adalah satu-satunya wanita yang paling aku cintai. Dari pertama kali mengenal asmara hingga sekarang.

Tiga tahun perjalanan pernikahan kami memang belum dikaruniai anak, tapi aku selalu berusaha menjalankan kewajibanku dengan baik, memberinya nafkah lahir dan batin, lebih dari cukup. Aku bekerja keras di sawah, di kebun, merenovasi rumah ini agar ia nyaman. Aku selalu memeluknya lembut di malam hari, menghormatinya, menyayanginya.

Namun malam ini… semuanya hancur dalam sekejap.

Aku bangkit pelan, berjalan beberapa meter lagi hingga menemukan sebuah gubuk kecil milik petani yang biasa digunakan untuk berteduh.

Aku masuk ke dalam, berbaring di atas tikar usang yang sudah berdebu. Bau tanah dan daun singkong yang lembab menusuk hidung. Dari kejauhan, suara gamelan wayang golek masih samar-samar terdengar, mengalun pelan di angin malam. Hajatan Pak RT masih berlangsung.

Tapi aku yakin, di rumahku yang terang benderang itu, Anisa dan dua lelaki itu sudah kembali ke kamar atau ke sofa ruang tengah. Mereka pasti sedang bercinta lagi, lebih liar, lebih kasar, lebih lama. Mungkin sekarang Anisa sedang di atas, atau sedang disodomi bergantian sambil menjerit-jerit minta lebih dalam.

Dan semakin lama aku berpikir, semakin aku yakin bahwa ini bukan kali pertama. Mereka terlalu nyaman. Terlalu terbiasa. Terlalu tahu cara saling menikmati tubuh masing-masing.

Air mataku terus mengalir. Dada ini sesak, sakit, panas, dan anehnya… masih ada hasrat gelap yang tak mau hilang.

Aku mencintai Anisa.

Sangat mencintainya.

Tapi malam ini, aku juga baru menyadari bahwa aku mungkin mencintai Anisa dalam versi yang lain, yang selama ini tak pernah kutahu keberadaannya.

^*^

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel