Anisaku - 4
Aku duduk diam, gupluk masih menutupi wajah, tapi di baliknya, keringat dingin mulai membasahi pelipisku. Lapar yang tadi kurasakan sudah hilang sepenuhnya, digantikan oleh gelombang rasa panas, cemburu, dan rasa ingin tahu yang semakin membara.
Tanpa berpikir lama, aku bangkit dari bangku plastik itu. Menjauh pelan dari gerobak lontong sate, berpindah ke tempat yang lebih gelap di pinggir jalan, tepat di balik pohon kelapa besar.
Dari sini posisiku lebih strategis. Aku bisa memantau tiga orang sekaligus: Anisa di dalam tenda, dan kedua pemuda yang kini sedang makan sate sambil sesekali melihat ke arah ponsel.
Salah seorang pemuda, yang lebih tinggi dan berambut agak panjang, tampaknya terus berbalas chat. Jarinya lincah mengetik, sesekali tersenyum kecil sambil menggeleng-geleng kepala.
Tak lama kemudian, aku melihat Anisa di kejauhan merogoh ponselnya lagi. Ia membaca pesan itu, lalu bibirnya langsung melengkung menjadi senyum yang lebar dan semringah. Senyum yang jarang sekali kulihat kalau ia sedang melayani tamu biasa. Matanya berbinar, pipinya sedikit merona meski cahaya lampu hajatan tidak terlalu terang.
Jantungku makin tak karuan. Berdegup kencang, seperti mau loncat keluar dari dada. Jauh lebih dahsyat dari saat menyaksikan Anisa masuk dan keluar dari rumah Pak RT.
Aku membayangkan apa yang mereka chatkan. Apa yang membuat Anisa tersenyum seperti itu. Dan yang lebih gila lagi, pikiranku langsung melayang jauh: bagaimana kalau kedua pemuda ini nanti ikut pulang bersama Anisa ke rumah kami? Bagaimana kalau mereka bertiga...
Aku menggeleng pelan, mencoba mengusir bayangan itu. Tapi semakin kucoba menepis, semakin jelas bayangan itu muncul.
Siapa sebenarnya kedua pemuda ini?
Aku tidak pernah melihat mereka di kampung ini. Wajah mereka terlalu “kota” untuk anak-anak sini.
Dari mana Anisa mengenal mereka?
Sudah berapa lama?
Apakah ini pertemuan pertama, atau sudah ada hubungan yang lebih dalam selama ini? Apakah mereka hanya kenalan biasa dari kegiatan desa, atau... lebih dari itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku tanpa henti. Semakin lama aku memantau, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal. Anisa yang selalu tampil sopan dan muslimah di depan umum, kini tersenyum semringah setiap kali ponselnya bergetar. Sementara dia masih tetap berpikir suaminya, diriku, sedang “jauh” dan tak akan pulang malam ini.
Aku berdiri di balik pohon, tangan mengepal kuat di sisi tubuh. Gupluk terasa semakin panas di wajah. Napasku berat, tapi mataku tak bisa lepas dari Anisa yang kini sesekali melirik ke arah gerobak sate dengan pandangan yang penuh arti.
Malam ini, istriku yang kukenal sepertinya sedang menunjukkan sisi yang selama ini tak pernah kulihat dengan jelas.
Dan aku... aku justru tak bisa berhenti menontonnya. Malah semakin penasaran dan tak sabar untuk pertunjukan selanjutnya.
Aku berdiri di balik pohon kelapa, napas terasa berat. Mataku terus fokus memandang kedua pemuda itu. Mereka kini tak lagi hanya makan sate. Kepala mereka saling mendekat, berbisik-bisik pelan sambil sesekali tertawa cekikikan.
Sesekali salah satunya mengetik di ponsel, lalu menunjukkan layar ke temannya. Mereka seperti sedang mengatur strategi, merencanakan sesuatu. Tawa kecil mereka terdengar penuh arti, membuat bulu kudukku meremang.
Aku menoleh kembali ke tenda hajatan.
Dan jantungku langsung mencelos.
Anisa sudah tidak ada di sana.
Tempatnya kosong. Meja tamu VIP yang tadi ia jaga kini hanya ditempati dua ibu panitia yang lain.
Kepala dan leherku mendadak terasa panjang, melongok ke sana kemari dengan panik. Memindai seluruh tenda, area makanan, bahkan pinggir panggung wayang golek. Tapi Anisa tak terlihat di mana pun. Kerumunan tamu yang semakin ramai justru membuat pencarianku semakin sulit.
Aku benar-benar kehilangan istriku.
Aku mulai gelisah. Tangan kananku sudah siap mendorong tubuhku keluar dari tempat gelap ini, berniat mendatangi tenda untuk mencari tahu ke mana istriku pergi.
Tapi sebelum kakiku bergerak, tiba-tiba Anisa muncul dari arah samping tenda.
Ia berjalan langsung menuju gerobak lontong sate, mendatangi kedua pemuda itu.
Langkahnya ringan, senyumnya lebar dan cerah. Begitu sampai di depan mereka, Anisa mengulurkan tangan dengan sopan. Kedua pemuda itu berdiri, menyambut salamannya dengan ramah. Lalu, pemuda yang lebih tinggi dan berambut agak panjang itu tidak hanya bersalaman. Ia mendekatkan wajahnya dan melakukan cipika-cipiki. Cium pipi kanan, pipi kiri dengan Anisa dua kali, seperti kebiasaan orang kota yang akrab.
Sekujur tubuhku terasa lemas sekaligus membeku.
Anisa... istriku... berani bersikap mesra dengan lelaki yang bukan suaminya, di depan umum, di tengah keramaian pesta hajatan, di antara banyak mata tetangga yang bisa saja melihatnya.
Ia bahkan tertawa kecil saat cipika-cipiki itu, tangannya sebentar menyentuh lengan pemuda tersebut sebelum mundur selangkah. Wajahnya terlihat bahagia, tidak ada sedikit pun rasa khawatir atau malu. Ketiga orang itu lalu berdiri berdekatan, berbicara pelan dengan nada akrab, seolah mereka sudah saling mengenal cukup lama.
Aku berdiri di tempat, tak mampu bergerak. Gupluk yang menutupi wajahku terasa semakin pengap. Dada ini naik-turun dengan cepat, campuran antara rasa shock, cemburu yang membara, dan hasrat gelap yang anehnya justru semakin kuat.
Di kepalaku hanya ada satu pertanyaan yang berulang-ulang:
Sejak kapan istriku bisa bersikap seperti ini?
Dan kenapa... aku justru tak bisa berhenti memantaunya?
Tiba-tiba ponselku bergetar di saku celana. Getarannya terasa sangat keras di tengah keheningan hatiku. Dengan hati-hati, aku mengeluarkannya dan membuka pesan masuk.
Dari Anisa. [Mas, aku sudah selesai di acaranya Pak RT. Gimana Mas Herdi pulang gak malam ini, atau mau menginap di sana?]
Jantungku langsung dag-dig-dug lebih kencang dari penabuh beduk saat malam takbiran. Darah seolah berdesir deras di telinga. Tangan kananku bergetar hebat saat mengetik balasan.
[Iya, maaf ya Nis. Sepertinya Mas gak bisa pulang malam ini. Perundingan dengan Pak Komar sangat alot, bisa jadi besok pagi pun Mas akan kembali survey lapangan.]
Aku menekan kirim, lalu cepat-cepat memasukkan ponsel kembali ke saku.
Tak sampai sepuluh detik, aku melihat Anisa di kejauhan membuka ponselnya. Ia membaca pesanku, lalu dengan senyum lebar ia menunjukkan layar ponsel itu kepada kedua pemuda di sampingnya. Ketiganya langsung tersenyum senang. Senyum yang penuh arti, penuh kegembiraan yang tak disembunyikan.
Pemuda yang lebih tinggi bahkan mengangkat tangan dan menepuk bahu Anisa pelan, seolah memberi selamat.
Tak lama kemudian, Anisa berjalan di tengah-tengah kedua pemuda itu. Satu di kiri, satu di kanan. Mereka bertiga berjalan santai meninggalkan area hajatan, menuju arah jalan kampung yang gelap.
Benar dugaanku. Sepertinya Anisa mengajak mereka berdua ke rumah kami.
Tubuhku masih bergetar hebat. Lutut terasa lemas, tapi kakiku tetap melangkah. Aku membuntuti mereka dari jarak yang cukup aman, tetap bersembunyi di balik gupluk dan kegelapan malam.
Rumah kami berjarak kurang lebih 600 meter dari tempat hajatan. Beberapa puluh meter terakhirnya masuk ke jalan setapak sempit di tengah kebun singkong yang jarang dilewati orang pada malam hari.
Aku berjalan pelan di belakang, menjaga jarak agar tak terdengar langkahku.
Dari kejauhan, aku bisa melihat siluet ketiganya. Anisa berjalan di tengah, sesekali tertawa kecil mendengar apa yang dibicarakan pemuda di sampingnya. Bahunya sesekali bersenggolan dengan lengan salah satu dari mereka. Lampu senter ponsel mereka menyala samar, menerangi jalan setapak yang gelap.
Setiap langkah mereka semakin mendekat ke rumah kami, setiap detik jantungku semakin tak karuan.
Aku tahu ini gila.
Aku tahu seharusnya aku berhenti, berteriak, atau setidaknya menunjukkan diri.
Tapi aku terus membuntuti.
Gupluk hitam masih menutupi wajahku.
Dan malam ini, aku tetap memilih menjadi bayangan yang mengikuti istriku pulang... bersama dua orang asing.
Aku terus membuntuti dari jarak yang cukup aman, langkahku pelan dan hati-hati di atas tanah berbatu. Gupluk hitam masih menutupi hampir seluruh wajahku, membuat napasku terasa pengap.
Samar-samar, angin malam membawa potongan suara mereka ke telingaku.
“Kelvin... pelan-pelan dong,” kata Anisa sambil tertawa kecil.
Kelvin. Itu nama pemuda yang gondrong. Dan yang satunya dipanggil Tio.
Sudah pasti mereka bukan orang kampung sini, apalagi kampung sekitarnya. Nama-nama seperti Kelvin dan Tio jarang sekali terdengar di desa kecil ini. Kedengarannya seperti anak-anak kota yang jauh dari kehidupan sawah dan hajatan sederhana.
Mereka bertiga semakin masuk ke jalan setapak sempit yang menyusuri kebun singkong. Lampu hajatan di belakang sudah semakin redup, hanya cahaya bulan dan senter ponsel yang menerangi jalan. Suasana menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar samar-samar suara gamelan, suara jangkrik, daun singkong bergesekan, dan sesekali tawa kecil Anisa.
Tiba-tiba, langkah mereka melambat.
Kelvin berhenti, membalikkan badan menghadap Anisa. Tanpa banyak kata, ia langsung menarik pinggang istriku dengan satu tangan dan memeluknya erat. Anisa tidak menolak. Malah ia mendongak, lalu keduanya berciuman mesra di tengah jalan setapak yang gelap itu.
Ciuman yang dalam. Bukan ciuman singkat atau basa-basi. Aku bisa melihat bagaimana tangan Kelvin menekan punggung Anisa lebih dalam, sementara bibir mereka saling melumat dengan rakus. Suara desahan kecil Anisa samar-samar terdengar, membuat darahku seketika mendidih.
Tak sampai lima detik, Tio ikut mendekat dari belakang.
Ia memeluk Anisa dari arah belakang, tubuhnya menempel rapat. Tangan Tio melingkar di pinggang Anisa, sementara bibirnya langsung mengecup leher jenjang istriku yang masih tertutup sebagian oleh jilbab. Anisa bergelinjang pelan, tapi bukan menjauh. Tubuhnya malah sedikit melengkung, seolah menikmati sentuhan dua pria sekaligus di antara kebun singkong yang sepi.
Kelvin masih mencium bibirnya dengan penuh nafsu, sementara Tio mengecup dan menggigit pelan leher Anisa dari belakang. Tangan Tio bahkan naik pelan, menyentuh bagian bawah dada Anisa di atas kebaya modernnya.
Aku berdiri membeku di balik semak singkong, jarakku hanya sekitar lima meter dari mereka. Tubuhku bergetar hebat. Lutut lemas. Napas tersengal di balik gupluk. Jantungku berdegup begitu keras hingga aku takut mereka bisa mendengarnya.
Istriku... Anisa yang selalu tampil sopan, berjilbab rapi, dan menjadi “kembang pemikat” hajatan kampung... kini sedang berpelukan mesra dan berciuman dengan dua pria asing di tengah jalan setapak gelap, hanya beberapa ratus meter dari rumah kami.
Dan aku?
Aku hanya bisa berdiri di tempat, mata terbeliak, tangan mengepal kuat, sementara gelombang rasa cemburu, shock, dan hasrat yang sangat gelap bercampur aduk di dada ini.
Aku tak bergerak.
Tak berteriak.
Tak melakukan apa pun.
Hanya terus menatap... sambil merasakan sesuatu yang panas dan berbahaya mulai membara di dalam diriku.
-^-
