Anisaku - 3
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Setiap menit seperti satu jam. Dunia dan sekitarnya seolah menghilang, mata dan jiwaku terfokus pada rumah Pak RT tempat hajatan meriah berlangsung.
Hampir setengah jam kemudian, pintu rumah Pak RT akhirnya terbuka kembali. Dan mataku langsung terbelalak kaget.
Pak Kades keluar lebih dulu, diikuti aparat desa yang satunya. Dengan gerakan yang terlihat santai namun buru-buru, Pak Kades merapikan jas safari-nya, tangannya menyusup ke pinggang untuk membetulkan celananya yang agak turun. Aparat di belakangnya melakukan hal yang sama, membetulkan kemeja dan ikat pinggangnya dengan cepat.
Lalu keluarlah Anisa.
Istriku melangkah keluar dengan jilbab yang sedikit miring, tangannya cepat-cepat merapikan kebaya modernnya di bagian dada dan pinggang. Ia juga membetulkan lipatan kain batiknya dengan gerakan halus, seolah baru saja duduk terlalu lama atau... melakukan sesuatu yang membuat pakaiannya berantakan. Wajahnya terlihat agak merah, napasnya sedikit tersengal, tapi senyumnya masih ada, tampak seperti hampir puas.
Pikiranku langsung melayang ke mana-mana.
Bayangan-bayangan kotor, liar, dan tak terkendali membanjiri isi kepalaku. Apa yang mereka lakukan di dalam selama setengah jam itu?
Kenapa harus masuk ke dalam rumah? Kenapa hanya mereka bertiga dengan Anisa? Kenapa pakaian mereka semua terlihat acak-acakan?
Tapi aku tak melakukan apa-apa.
Aku masih berdiri, bersembunyi di balik gupluk hitam, napas terasa sesak. Bahkan ketika Pak Kades dan rombongannya akhirnya pamit pulang, berjabat tangan dengan Pak RT dan beberapa panitia, lalu melambaikan tangan ke arah Anisa dengan senyum lebar. Aku tetap terdiam di kejauhan. Tak mendekat. Tak menyapa. Tak bertanya apa pun.
Anisa kembali ke tenda utama seperti biasa. Ia kembali melayani tamu dengan senyum yang sama, gerakannya anggun seperti tak terjadi apa-apa. Hanya saja, pipinya masih sedikit merona dan jilbabnya kini terpasang lebih rapi setelah ia sempat memperbaikinya di dalam.
Undangan makin malam makin ramai. Tamu-tamu dari kampung lain mulai berdatangan, suara tawa dan gamelan semakin kencang, lampu-lampu semakin terang. Hajatan semakin hidup. Tapi bagiku, semunya sudah berubah total.
Gupluk masih menutupi hampir seluruh wajahku, mata terus mengikuti setiap gerak Anisa di tengah keramaian. Dada ini berdegup kencang, campuran antara rasa cemburu yang membara, rasa bangga yang aneh, dan hasrat gelap yang tak kumengerti mengapa justru semakin kuat.
Aku tahu aku harus mendekat. Harus bertanya. Harus pulang bersamanya. Tapi malam ini... aku memilih untuk tetap menjadi bayangan, entah sampai kapan. Aku bahkan membatalkan rencana kondanganku ke Pak RT.
Tiba-tiba sebuah pikiran lain melayang di kepalaku.
Aku merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel. Layar menyala terang di balik gupluk. Tanpa berpikir terlalu lama, jemariku mengetik pesan untuk Anisa.
[Nisa, Mas Herdi gak bisa datang ke hajatannya Pak RT, karena masih belum selesai urusan dengan Pak Komar. Kemungkinan pulang larut malam, atau bahkan menginap di sana. Tolong sampaikan maaf Mas pada Pak RT dan kamu hati-hati di sana ya.]
Aku menekan kirim.
Pesan itu benar-benar berbohong. Dan bisa jadi inilah bohong terbesarku pada istriku.
Tadi siang aku memang berangkat ke rumah Pak Komar di kecamatan sebelah karena kakakku ingin membeli sawah dan kebunnya. Kakak memintaku untuk ikut mensurvei lokasi. Sebenarnya urusan itu sudah selesai sejak jam tiga sore. Aku sudah kembali ke rumah jam empat, mandi, dan berganti baju. Tapi karena Anisa sudah sejak pagi sibuk membantu di hajatan, dia tidak tahu bahwa aku sudah pulang.
Sengaja aku mengirim pesan seperti itu. Agar Anisa merasa lega. Agar ia tidak khawatir atau merasa diawasi. Agar ia bebas melakukan apa pun yang ia inginkan malam ini. Dan yang paling penting… agar aku bisa terus memantaunya dari kejauhan. Tanpa ia sadari.
Aku memasukkan ponsel kembali ke saku, mata kembali tertuju pada Anisa. Tak lama kemudian, aku melihatnya merogoh saku kebayanya, mengeluarkan ponsel. Ia membaca pesanku. Senyum kecil muncul di bibirnya. Ia mengetik balasan sebentar, lalu memasukkan ponsel lagi. Wajahnya terlihat lebih rileks sekarang, bahunya sedikit turun seolah beban hilang.
Aku tersenyum tipis di balik gupluk. Sekarang Anisa tahu bahwa suaminya tidak akan datang malam ini. Sekarang ia tahu bahwa malam ini ia “bebas.”
Aku mundur sedikit lagi ke tempat yang lebih gelap, bersandar di tiang tenda sambil terus memperhatikan. Hajatan semakin ramai dengan tamu dari kampung lain yang berdatangan. Suara gamelan semakin kencang, aroma makanan semakin semerbak.
Tapi pikiranku hanya tertuju pada satu hal: apa yang akan terjadi selanjutnya.
Apakah Pak Kades dan aparatnya akan kembali lagi ke hajatan ini?
Apakah ada yang akan mendekati Anisa lagi?
Atau… apakah Anisa sendiri yang akan melakukan sesuatu?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu, malam ini aku memilih untuk tidak menjadi suami yang datang.
Aku memilih menjadi bayangan yang mengawasi.
Dan entah kenapa, pilihan itu justru membuat darahku mengalir lebih panas.
Tiba-tiba perutku berbunyi keras, keroncongan lapar yang sudah tak tertahankan. Sejak sore aku memang sengaja tidak makan apa-apa. Niatku waktu itu sederhana: mau makan enak di hajatan ini bersama Anisa, sambil menikmati suasana.
Tapi sekarang? Jangankan makan di dalam tenda, masuk ke halaman dan memberikan amplop pada Pak RT saja aku tak mampu. Kaki ini seperti enggan melangkah lebih dekat.
Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari area hajatan. Menyusuri pinggir jalan kampung yang masih ramai, mencari pedagang sate yang biasa mangkal di dekat acara hajatan seperti ini. Tak butuh waktu lama, aku menemukan gerobak sate lontong yang asapnya mengepul harum di bawah lampu neon kuning.
Aku memesan seporsi lontong sate dengan tambahan telur dadar dan kerupuk, lalu duduk di bangku plastik kecil yang sengaja kutarik ke posisi strategis. Tepat di pinggir jalan, masih bisa melihat jelas tenda hajatan dari kejauhan. Gupluk tetap kupakai, hanya sedikit diturunkan di bagian mulut agar bisa makan.
Dari sini, aku masih bisa mengawasi Anisa dengan jelas.
Ia masih sibuk melayani tamu di tenda utama. Sesekali ia tertawa, mengambilkan minum, atau berbincang ringan dengan tamu-tamu baru yang datang dari kampung lain. Penampilannya masih rapi, kebaya soft peach dan jilbabnya kembali sempurna setelah tadi sempat dibetulkan.
Tak ada yang mencurigakan dari luar. Ia terlihat seperti biasa. Cantik, ramah, dan menjadi pusat perhatian banyak orang.
Sambil mengunyah sate yang panas dan gurih, mataku tak lepas darinya. Setiap gerakan kecilnya aku catat. Setiap kali ia tersenyum lebar, setiap kali ia menyentuh ujung jilbabnya, setiap kali ada pria yang mendekat terlalu lama untuk berbincang dengannya.
Rasa lapar di perut perlahan terisi, tapi rasa lapar yang lain di dada justru semakin menggelegak.
Aku tahu ini gila.
Aku sedang mengintai istriku sendiri dari kejauhan, berbohong lewat pesan, dan bersembunyi di balik gupluk seperti pencuri. Tapi semakin aku sadar betapa absurdnya situasi ini, semakin aku tak bisa berhenti.
Aku menghabiskan lontong terakhir, menyeka mulut dengan punggung tangan, lalu kembali fokus ke arah tenda.
Malam masih panjang. Dan aku penasaran sekali, apa yang akan dilakukan Anisa selanjutnya, setelah dia ia pikir suaminya sedang “jauh” dan tak akan pulang malam ini.
Aku menghabiskan lontong terakhir, menyeka mulut dengan punggung tangan, lalu kembali fokus ke arah tenda.
Tiba-tiba dua pemuda mendatangi gerobak lontong sate. Mereka memesan dua porsi dengan suara santai, lalu berdiri sebentar sambil menunggu.
Sekilas aku memandangi mereka. Wajah dan penampilan mereka tidak kukenal sama sekali. Bukan pemuda kampung sini. Rambut mereka rapi, kulit lebih cerah, baju kaos polo dan celana jeans yang terlihat lebih mahal dan pas di badan. Mereka tampak lebih ganteng dan gagah, seperti anak muda dari kota yang sengaja datang karena ada wayang golek terkenal.
Memang dalam suasana hajatan besar seperti ini, pendatang biasanya jauh lebih banyak. Apalagi wayang golek malam ini dibawa dari kota dan cukup terkenal di YouTube. Banyak yang datang hanya untuk menonton.
Kedua pemuda itu akhirnya duduk di bangku plastik tepat di sebelah kiriku. Mereka tak terlalu peduli padaku. Mungkin karena gupluk hitam yang masih menutupi hampir seluruh wajahku, mereka menganggapku hanya sebagai salah satu warga kampung biasa yang sedang ronda atau menonton hiburan.
Aku pura-pura sibuk dengan ponsel, sambil sesekali menatap ke depan memantau pergerakan istriku di tenda utama dan telingaku pun tetap terbuka lebar mendengar obrilan bisik-bisik dua pemuda di dekatku.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka, yang lebih tinggi dan berambut agak panjang, bicara pelan sambil menunduk ke arah temannya. Suaranya hampir berbisik tapi cukup jelas terdengar di malam yang ramai ini.
“Anisa kirim pesan, katanya suaminya gak pulang malam ini.”
Jantungku seketika berdebar keras.
Dag-dig-dug tak karuan. Rasanya seperti ada yang meninju dada dari dalam.
Di kampung ini, tak ada nama Anisa lain selain istriku.
Aku menahan napas, tangan yang memegang tisu terakhir langsung kaku. Kedua pemuda itu terus berbicara pelan, tapi aku tak bisa lagi mendengar dengan jelas karena suara gamelan dan tawa tamu yang riuh.
Yang kutangkap hanya potongan-potongan kata: “…sudah bilang…”, “…nunggu di belakang…”, dan tawa kecil yang penuh arti.
Pikiranku langsung berputar kencang.
Siapa mereka?
Kenapa Anisa mengirim pesan pada salah satu dari mereka?
Dan apa yang dimaksud dengan “suaminya gak pulang malam ini”?
Aku menoleh sedikit ke arah tenda hajatan. Anisa masih terlihat di sana, tersenyum ramah melayani tamu. Dari kejauhan, ia terlihat biasa saja. Tapi sekarang, setiap senyumnya, setiap gerakannya, terasa punya arti yang jauh lebih dalam.
Aku duduk diam, gupluk masih menutupi wajah, tapi di baliknya, keringat dingin mulai membasahi pelipisku. Lapar yang tadi kurasakan sudah hilang sepenuhnya, digantikan oleh gelombang rasa panas, cemburu, dan rasa ingin tahu yang semakin membara.
Malam ini ternyata belum mau berakhir dengan mudah. Dan aku semakin tak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.
-^-
