Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Anisaku - 2

Malam itu, udara kampung terasa lebih hangat dari biasanya, meski angin malam sesekali menyusup di antara pepohonan yang bergoyang pelan. Lampu-lampu warna-warni digantung di halaman rumah Pak RT alias Pak Rudi, menyinari deretan tenda putih yang sudah penuh sesak dengan tamu.

Suara gamelan dari panggung utama, pelan mengalun dari sound system, bercampur tawa dan obrolan ringan para tamu undangan juga tetangga yang datang menghadiri hajatan anaknya yang baru menikah.

Aku melangkah masuk lewat gerbang bambu, mata langsung mencari satu sosok yang selalu jadi pusat perhatian setiap kali ada acara di kampung ini.

Anisa.

Istriku sudah sejak pagi tadi berada di sini, membantu sebagai penjaga tamu.

Bukan pertama kalinya. Bahkan sudah menjadi kebiasaan. Para tetangga, terutama para ibu-ibu, selalu meminta tolong padanya. Katanya, “Mbak Anisa cantiknya beda, tamunya jadi betah.”

Dan memang benar.

Malam ini dia mengenakan kebaya biru tua sederhana yang sedikit ketat di bagian dada, dipadukan dengan kain batik yang membalut pinggulnya dengan sempurna. Rambutnya yang biasa terurai panjang, tertutup jilbab modern warna senada, menutupi juga lehernya yang jenjang. Wajahnya cantik alami, bibirnya merah merona senyumnya lembut tapi mampu membuat siapa pun yang melihatnya berhenti sejenak.

Aku berdiri di pinggir halaman, memperhatikannya dari kejauhan. Dia sedang menyambut tamu baru dengan sopan, sedikit membungkuk, tangannya menyentuh lengan seorang tamu laki-laki paruh baya sambil tertawa kecil pada sesuatu yang dikatakan tamu itu. Tampak matanya berbinar di bawah cahaya lampu, dan aku bisa melihat bagaimana beberapa pria di sekitarnya sesekali meliriknya lebih lama dari yang seharusnya.

Sebagai suaminya, seharusnya aku merasa cemburu. Tapi anehnya, tidak. Justru ada rasa hangat yang merayap di dada ini setiap kali melihatnya seperti itu. Bangga. Sangat bangga.

Istriku yang cantik, yang penampilannya selalu “sedap dipandang mata”, menjadi daya tarik tersendiri di setiap hajatan para tetangga. Mereka menamainya kembang pemikat, dan aku... aku malah senang.

Karena dalam setiap acara tersebut, pada akhirnya, Anisa pulang ke rumahku. Ke dalam pelukanku. Tanpa sedikit pun tergoda oleh mereka yang terkadang iseng melemparkan umpan.

Aku mengambil napas dalam-dalam, lalu melangkah pelan hendak mendekat.

Aku baru beberapa langkah, hampir masuk ke tenda hajatan, suara deru mobil dan motor dari arah gerbang membuat aku sedikit tersentak. Rombongan Pak Kedes baru saja tiba. Beberapa mobil pick-up hitam mengkilap berhenti di depan halaman, diikuti oleh motor aparat desa yang langsung parkir rapi di pinggir jalan.

Suasana hajatan yang tadinya santai dan ramai tiba-tiba berubah. Tamu-tamu biasa sedikit mundur, suara obrolan menjadi lebih pelan, dan para panitia terlihat buru-buru menyambut sang kepala desa dengan sikap hormat dan santun.

Anisa langsung dipanggil oleh Bu RT. Dengan langkah ringan dan senyum profesionalnya, ia bergerak ke bagian depan tenda VIP yang sudah disiapkan khusus. Malam ini, sepertinya biasanya ia diminta melayani para tamu spesial secara khusus.

Untuk ukuran kampung kecil seperti ini, kehadiran seorang Kepala Desa beserta rombongannya memang selalu menjadi hal yang istimewa.

Pak Kades yang bernama Agus Salim, berusia awal lima puluhan dengan postur tegap dan wibawa yang khas, turun dari mobil dengan senyum lebar. Jas safari-nya rapi, rambutnya yang sudah mulai beruban tertata rapi. Di belakangnya, beberapa aparat desa dan orang-orang kepercayaannya ikut turun, semuanya langsung disambut dengan hormat.

Aku berdiri di tempatku, tak maju terlalu dalam. Dari kejauhan, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Pak Kades langsung mencari Anisa dengan pandangannya. Begitu melihat istriku, senyumnya merekah sedikit lebih lebar. Ia melangkah mendekat, tangannya terulur untuk bersalaman lebih lama dari yang biasa.

Aku melihat bibir Anisa bergerak, mengucapkan sesuatu yang membuat Pak Kades tertawa kecil, kepalanya mengangguk-angguk penuh perhatian. Dan seketika itu juga, jantungku mulai berdebar lebih kencang.

Pak Kades tidak hanya berbincang sebentar. Ia berdiri cukup dekat dengan Anisa, sesekali mencondongkan tubuhnya saat berbicara, seolah ingin mendengar lebih jelas suara istriku di tengah keramaian.

Anisa sendiri terlihat berbeda. Senyumnya lebih cerah, matanya berbinar, dan ia sesekali menyentuh ujung jilbabnya dengan gerakan halus sambil tertawa ringan merepon kata-kata Pak Kades. Ia bahkan mengambilkan minum sendiri untuk kepala desa itu, gerakannya anggun dan penuh perhatian.

Sebagai suami, aku tahu betul ekspresi wajah Anisa ketika ia sedang menikmati sesuatu. Dan malam ini, ia sepertinya sangat menikmatinya.

Aku tetap berdiri di pinggir, tangan kananku tanpa sadar mengepal pelan di sisi tubuh. Rasa hangat yang tadi kurasakan di dada kini bercampur dengan denyut aneh yang sulit kujelaskan. Bangga… sekaligus ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tajam, lebih gelap, dan entah kenapa, justru membuat darahku mengalir lebih cepat.

Aku mundur beberapa langkah ke belakang, menyelinap ke area yang lebih gelap di pinggir tenda. Tangan kananku merogoh saku celana, mengeluarkan gupluk hitam yang selalu kubawa setiap kali keluar malam.

Gupluk atau penutup wajah dan kepala ini bukanlah barang aneh di kampung kami. Para lelaki kerap memakainya saat ronda malam, menonton hiburan, atau sekadar duduk-duduk di lapangan karena udara kampung memang cepat dingin begitu matahari terbenam.

Malam ini, aku memakai gupluk bukan hanya untuk menahan dingin, tapi untuk menutupi hampir seluruh wajahku, menyisakan celah kecil untuk kedua mataku. Entah kenapa, aku merasa harus bersembunyi. Harus mengintai. Harus melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi di depan sana tanpa ada yang menyadari kehadiranku.

Dari balik gupluk, pandanganku terpaku pada Anisa.

Ia masih duduk di lingkaran meja tamu, bersama Pak Kades dan dua aparat desa lainnya. Pak Kades tertawa lepas sambil mengatakan sesuatu, tangannya sesekali menyentuh lengan Anisa dengan gerakan yang terlihat santai namun penuh perhatian.

Anisa tersenyum lebar, kepalanya sedikit miring ke samping seperti biasa ketika ia sedang tertarik pada obrolan. Jilbabnya bergeser sedikit saat ia mengangguk, memperlihatkan garis lehernya yang halus di bawah cahaya lampu.

Aku tahu Anisa memang sudah cukup akrab dengan mereka. Sering berjumpa di kegiatan desa, rapat PKK, posyandu, atau saat membantu hajatan warga seperti saat ini. Tapi melihatnya malam ini terasa berbeda. Cara ia tertawa, cara ia mengambilkan makanan kecil untuk Pak Kades, cara ia sesekali menyentuh ujung jilbabnya dengan malu-malu… semuanya terasa lebih hidup dan mendebarkan.

Dari samping kanan, aku bahkan mendengar seseorang bicara dengan suara pelan tapi cukup jelas.

“Mbak Anisa malam ini makin cantik ya. Pantas aja amplop kondangan Pak Kades suka mendadak besar kalau dia yang jaga tamunya.”

Beberapa lelaki tetangganku yang ada di sekitar, langsung tertawa kecil. Mereka tak menyadari keberadaanku.

Pandanganku kembali tertuju pada Anisa. Dia tampak sedang menunduk, pipinya sedikit merona, tapi senyumnya tidak hilang. Malah terlihat semakin manis. Tampaknya salah seorang aparat ada yang menggodanya. Sementara Pak Kades sendiri hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, tapi matanya tak lepas dari menatap wajah istriku.

Aku berdiri diam di tempatku, napas terasa sedikit lebih berat di balik gupluk. Jantungku berdegup kencang, campuran antara rasa bangga yang aneh, rasa panas yang menjalar di dada, dan sesuatu yang lebih gelap yang tak ingin kuakui namanya.

Aku seharusnya melangkah mendekat, menyapa, atau setidaknya menunjukkan kehadiranku sebagai suami Anisa. Tapi aku tidak melakukannya. Malah, aku semakin mundur ke bayangan, mata tak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Anisa dan Pak Kades.

Entah kenapa, aku memilih untuk menjadi bayangan di hajatan tetangganku sendiri.

Suasana tenda undangan kembali riuh. Tamu-tamu baru datang silih berganti, suara gamelan di panggung makin ramai dan energik, diselingi sorak-sorai warga yang mulai ikut bernyanyi. Beberapa tamu biasa mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, ada yang mengantre makanan, ada yang ngobrol santai di kursi panjang, dan ada pula yang sibuk mengambil foto bersama keluarga.

Perhatian orang-orang perlahan teralihkan. Tapi bagiku justru sebaliknya. Semakin lama, pandanganku semakin intens tertuju pada satu titik. Area VIP di depan.

Pak Kades beserta rombongannya masih berada di sana, tak beranjak. Anisa tetap di tengah-tengah mereka, seperti magnet yang tak bisa dilepaskan. Ia sesekali tertawa, mengangguk, dan melayani dengan gerakan yang lembut dan penuh perhatian. Jilbabnya yang elegan bergeser pelan setiap kali ia membungkuk sedikit untuk mengambilkan sesuatu.

Tiba-tiba, Pak RT , sang pemilik hajatan, mendekat ke meja VIP. Ia berbisik sesuatu pada Pak Kades, lalu melirik Anisa dengan senyum lebar. Anisa mendengarkan dengan kepala sedikit miring, kemudian mengangguk pelan. Tak lama kemudian, Pak Kades bangkit dari kursinya, diikuti dua orang aparat desa. Anisa juga ikut berdiri, merapikan kebaya modernnya sebentar sebelum berjalan bersama mereka.

Mereka bertiga, Pak Kades, satu aparat, dan Anisa, beranjak meninggalkan tenda VIP menuju pintu masuk rumah Pak RT yang berada di belakang halaman. Jantungku seketika terasa seperti ditarik kuat-kuat.

Entah apa yang mereka bicarakan di dalam sana. Entah mengapa harus melibatkan Anisa. Hajatan ini kan milik Pak RT, tapi kenapa istriku yang ikut masuk ke dalam rumah, bukan ibu-ibu panitia yang lain?

Dari balik gupluk, aku terus memperhatikan pintu kayu itu yang kini tertutup rapat. Cahaya kuning dari dalam rumah samar-samar menyusup keluar melalui celah jendela. Bayangan orang-orang yang bergerak di dalam terlihat samar, tapi aku tak bisa mendengar apa-apa selain suara gamelan yang semakin riuh di panggung.

Aku mundur selangkah lagi, punggungku menyentuh tiang tenda. Tangan kananku tanpa sadar mencengkeram kain gupluk di dagu. Rasa penasaran bercampur dengan denyut aneh di dada ini semakin kuat.

Bagian dari diriku ingin melangkah masuk, ingin tahu apa yang sedang terjadi di balik pintu itu. Tapi bagian lain justru menahan aku di tempat, untuk terus mengintai dari kejauhan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel