Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Anisaku - 1

Siang itu matahari terik menyengat punggungku saat aku mengendarai motor keluar gerbang kampung. Debu jalan tanah masih mengepul di belakang roda. Aku harus ke kota kecamatan hari ini, ada urusan surat-surat penting di kantor dinas yang tidak bisa ditunda. Anisa sudah tahu sejak kemarin malam. Bahkan sebelum aku berangkat, ia sudah sibuk mempersiapkan diri.

Pagi tadi, sebelum aku berangkat, Anisa sudah berpakaian rapi. Kebaya sederhana warna krem dan kain batik yang ia pakai untuk membantu di hajatan. Ia mencium pipiku sekilas di pintu, senyumnya lembut seperti biasa.

“Mas hati-hati ya di jalan. Aku berangkat duluan ke rumah Pak RT. Bu RT minta aku datang pagi-pagi, soalnya banyak persiapan tamu. Nanti malam kamu langsung kondangan aja sekaligus jemput aku pulang, ya?”

Aku hanya mengangguk sambil memegang pinggangnya sebentar. “Iya. Urusanku seharian, tapi insyaallah magrib sudah balik. Kamu di sana hati-hati.”

Anisa tersenyum, jilbabnya yang rapi bergeser sedikit saat ia mengangguk. “Tenang saja, Mas. Aku cuma bantu melayani tamu kok.”

Sepanjang hari di kecamatan, urusanku berjalan lancar. Menjelang sore, saat aku sedang duduk minum kopi di warung dekat kantor dinas untuk menunggu dokumen selesai dicetak, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang.

“Eh, Mas Herdi, lama nggak ketemu!”

Aku menoleh dan langsung tersenyum. Itu Pak Burhan, teman lama dari masa-masa pelatihan dulu. Dia memang sudah pindah tugas ke kecamatan ini hampir dua tahun lalu, tapi kami masih sering bertemu kalau aku ke sini. Pak Burhan juga sudah kenal Anisa sejak dulu, pernah beberapa kali datang ke acara kampung kami.

“Pak Burhan, apa kabar? Sendirian?”

“Sendiri aja. Baru selesai rapat. Kamu ngapain di sini? Sendirian juga?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk di depanku. Pesan kopi hitam, lalu matanya menyipit sedikit. “Kok Anisa nggak ikut? Biasanya kalau kamu ke kecamatan, dia suka nemenin.”

Aku tertawa kecil sambil mengaduk kopiku. “Hari ini dia nggak bisa. Sejak pagi sudah di rumah Pak RT. Ada hajatan anaknya yang baru nikah. Bu RT minta tolong Anisa jadi penjaga tamu. Katanya banyak tamu penting malam ini, jadi dia berangkat duluan pagi-pagi.”

Pak Burhan mengangguk pelan, tapi ekspresinya agak berubah. Ia menyesap kopinya, lalu menatapku dengan pandangan yang sedikit berbeda. Ada jeda sebentar sebelum ia bicara lagi, suaranya pelan tapi penuh arti.

“Anisa ya… cantiknya memang beda. Aku aja yang cuma kenal biasa saja masih suka kagum tiap lihat dia di acara kampung. Tapi Mas Herdi…” Ia menggeleng pelan, tersenyum tapi matanya serius.

“Punya istri secantik Anisa, jangan terlalu dilepas-lepas ya. Kampung kecil, tapi kumbangnya banyak yang suka menggoda bunga yang lagi mekar. Apalagi kalau dia sering bantu-bantu hajatan begini… orang perhatiannya kan beda.”

Aku langsung tertawa, mengibaskan tangan menyangkal. “Ah, Pak Burhan ini. Nggak usah khawatir. Anisa sudah terbiasa jadi pusat perhatian di kampung. Dari dulu sudah begitu. Tapi kesetiaannya… saya nggak pernah ragukan sedikit pun. Dia tahu batasnya kok. Lagian, setiap hajatan selesai, dia selalu pulang ke rumah dengan saya.”

Pak Burhan hanya tersenyum tipis, tidak menjawab lebih lanjut. Ia mengganti topik obrolan ke urusan pekerjaan dan cuaca, tapi aku sempat menangkap ada sesuatu yang tidak ia ucapkan terang-terangan. Seperti ada yang ingin ia sampaikan lebih dalam, tapi ia urungkan.

Obrolan kami tidak berlangsung lama. Setelah dokumen selesai, aku pamit pulang. Matahari sudah mulai condong ke barat ketika aku kembali mengendarai motor menuju kampung.

Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Pak Burhan sesekali terngiang. “Jangan terlalu dilepas-lepas…”

Aku menggeleng pelan, tersenyum sendiri. Anisa memang cantik. Memang sering menjadi perhatian banyak orang. Tapi dia istriku. Dan aku tahu betul, di balik senyum ramah dan gerakan anggunnya saat melayani tamu, ia selalu ingat siapa yang menunggunya di rumah.

Sesampainya di rumah, matahari sudah tenggelam. Rumah terasa sepi karena Anisa belum pulang. Aku mandi cepat, berganti baju koko dan kain sarung, lalu berangkat ke masjid untuk shalat maghrib berjamaah.

Suasana masjid agak berbeda malam ini, terasa lebih ramai. Banyak wajah tidak kenal, mungkin tamu-tamu atau saudara-saudara Pak RT yang datang dari kampung lain. Setelah shalat maghrib selesai, aku diam sejenak di beranda masjid, menikmati suasana kampung yang hangat dan meriah. Hajatan di rumah Pak RT sepertinya ditunda dulu selama waktu shalat.

Tiba-tiba Ustadz Duduy mendekat dan mengajakku bicara empat mata di sudut beranda yang agak sepi. Wajahnya tenang tapi nadanya jauh lebih serius dibanding hari-hari sebelumnya.

“Mas Herdi,” katanya pelan, langsung ke inti. “Saya dengar Mbak Anisa sejak pagi sudah di rumah Pak RT membantu hajatan. Menjadi penjaga tamu lagi.”

Aku mengangguk. “Iya, Pak Ustadz. Bu RT yang minta tolong.”

Ustadz Duduy menghela napas pelan, matanya menatap lurus ke arahku. “Menolong tetangga memang baik, Mas. Tapi… sayang sekali wanita secantik Mbak Anisa hanya dijadikan kumbang hajatan begitu. Banyak yang memandang, banyak yang berbisik.”

“Berbisik apaan, Pak Ustadz?”

“Mas Herdi kan petani muda paling sukses di kecamatan ini sekarang. Punya istri seperti Mbak Anisa itu nikmat besar. Sebaiknya dijaga baik-baik, jangan sampai terkena fitnah orang. Maklum, banyak yang iri. Apalagi di acara ramai seperti ini.”

Aku terdiam sejenak, tidak langsung menjawab. Ustadz Duduy tidak bicara kasar, tapi nada keberatannya terasa jelas.

Aku hanya tersenyum tipis. “Terima kasih nasihatnya, Pak Ustadz. Saya sangat yakin Anisa tahu batasnya. Saya juga percaya sepenuhnya sama istri saya.”

Ustadz Duduy mengangguk pelan, tapi matanya masih menyiratkan kekhawatiran yang tidak ia ucapkan lebih lanjut.

“Ya sudah, Mas. Hati-hati saja.” Ia pamit setelah itu, meninggalkanku sendirian di beranda masjid.

Aku duduk diam beberapa saat lagi, napas terasa sedikit lebih berat. Kata-kata Ustadz Duduy bercampur dengan ucapan Pak Buehan tadi siang, semakin menguatkan denyut aneh di dada ini. Bangga… sekaligus sensasi tajam yang semakin sulit kujelaskan.

Akhirnya aku bangkit dan berjalan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung berganti pakaian yang lebih pantas untuk kondangan: batik lengan panjang motif parang yang rapi, jaket tipis berwarna gelap, dan celana semi formal hitam. Aku juga menyisir rambut dan memakai sedikit minyak wangi.

Setelah siap, aku melangkah keluar rumah menuju hajatan Pak RT yang jaraknya hanya sekitar 600 meter dari rumah kami. Malam sudah semakin larut, udara kampung terasa hangat meski angin sesekali berhembus.

Di sepanjang jalan, aku bertemu banyak warga yang lalu lalang. Ada yang baru pulang dari kondangan, ada yang baru berangkat, dan banyak pula wajah-wajah tak kukenal — mungkin tamu dari kampung lain yang datang untuk nonton hiburan atau sekadar ikut meramaikan hajatan. Beberapa orang menyapa aku ramah, ada yang bertanya

“Mbak Anisa mana, Mas?” dan aku hanya menjawab sambil tersenyum bahwa istriku sudah sejak pagi membantu di sana.

Semakin dekat dengan rumah Pak RT, lampu-lampu warna-warni semakin terang menyinari malam. Suara gamelan mulai terdengar jelas, bercampur tawa dan obrolan ramai. Hajatan sudah benar-benar meriah.

Aku belum melihat Anisa sejak pagi.

Tapi malam ini, aku ingin melihatnya. Melihat bagaimana istriku menjadi pusat perhatian di tengah keramaian, tanpa ia sadari bahwa aku sudah tiba dan memperhatikannya dari kejauhan.

^*^

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel