Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Kehangatan di Kota Kembang

ANIN 7

Anin berdiri di depan pintu menyambut kedatangan Andre yang pulang bekerja. Laki-laki itu terlihat lelah dengan aroma oli dan bensin yang menguar dari tubuhnya. Tak perduli, Anin tetap mencium takzim punggung tangan lelakinya dan bergelayut manja di lengan nan kokoh.

Laki-laki itu pun menyambut kemanjaan sang istri. Dibelai dan dikecup lembut pucuk kepala yang beraroma sampo. Hilang sudah penat dan lelah karena bekerja seharian. Bibir berkumis itu membentuk garis lengkung. kebahagiaan begitu terpencar dari rautnya. Cintanya berbalas, hingga tak menyisakan penyesalan karena meninggalkan segala kemewahan yang dimiliki.

“Love you.” Andre membisikkan kata cintanya. Membuat wanita yang di pelukannya merona dan tersipu malu.

“Maaf! Mas tidak bisa memberimu kehidupan yang layak.” Mata Andre mengitari kontrakan mereka. Miris, kamar ART di rumah ibunya jauh lebih layak dibanding ruangan yang mereka tempati.

“Anin bahagia hidup bersama, Mas Andre.”

Wanita itu tersenyum, meredam rasa bersalah sang suami.

Sepasang kekasih halal itu melangkah masuk, usai menutup pintu. Si lelaki masuk ke kamar mandi. Dua puluh menit berlalu, laki-laki itu keluar dengan badan yang terbelit handuk sebatas pinggang. Bertelanjang dada dengan buliran yang belum mengering. Serta tetesan air yang merembes di ujung rambut yang mulai memanjang.

Tubuh si wanita bergetar saat lelakinya mendekat. Kedua tangan saling menggenggam, meremas kemeja biru yang hendak dilipat. Sementara kepala kian menekuk. Walau enam purnama telah mereka lalui tapi wajah polos itu selalu merona dan tak dapat menyembunyikan rasa malunya.

“Makan sekarang, Mas?” Anin menelan ludah, membasahi tenggorokan. Mencoba menenangkan debaran yang semakin kencang.

Bukannya menjawab, Andre duduk di samping Anin. Dikekapnya kepala sang istri, tersuruk antara dan dada dan ketiak.

“Mas ..., nggak bisa napas.” Anin merajuk, memukul dada dengan kepalan tangannya nan kecil.

“Nggak bisa napas, apa nervous?” Andre melepaskan kekapannya. Menatap mata bening itu sembari menggodanya dengan menaik turunkan alis.

“Ihh, Mas Andre ....”

Anin bangkit dari duduk, melempar pelan kaus tipis ke dada suaminya. Melangkah menjauh dari suami yang terus menggoda dan menggelegarkan gelak tawa yang membahana.

***

Malam merangkak kian larut. Sesekali nyanyian jangkrik bersahutan memecah sunyi. Hujan yang sedari maghrib sudah mereda. Menyisakan basah dan titik air di jendela. Udara pun kian dingin, meninggalkan gigil saat kulit tersentuh air.

Usai menuntaskan gejala alam, Anin merebahkan kepala di lengan yang membentang. Menyusup di ketiak, memangkas jarak mencari kehangatan. Selimut tak mampu meredam tubuh yang bergetar serta gemertak gigi yang kian mengguncang. Satu tangannya melingkar kuat di perut yang berotot.

Lelaki itu tak terusik. Terbenam mimpi yang semakin larut. Dengkuran halus kian teratur. Mata terpejam tertutup kelopak yang terus merapat. Namun, cinta tulus yang tertanam di hati tak dapat dipungkiri. Dalam lelapnya, lengan kokoh itu meraih sang kekasih. Menerbitkan lengkungan di bibir nan tipis.

Perlahan jari lentik merayap. Mengusap lembut membentuk lukisan abstrak di dada yang berlapis kaos tipis. Membangkitkan rasa yang bersembunyi.

Kepala Anin mendongak. Deru napas yang memburu membuatnya tersentak. Mata itu masih bersembunyi tapi seringai licik terbit di bibir lelakinya.

“M—Mas.”

Anin gugup, pipi pun terasa panas.

“Membangunkan macan tidur, eyy.”

“A—aku.”

“Selesaikan pekerjaan yang sudah dimulai.”

Suara Andre serak dan berat. Anin merinding, perintah itu seperti menakutkan baginya.

Reaksi wanita itu membuat Andre gemas. Dipegangnya dagu nan runcing agar mereka saling bersitatap. Mata elangnya menembus manik yang selalu berbinar. Laki-laki itu mempersingkat jarak, menyatukan kening dan menempelkan bibirnya.

“Mas, aww ....”

Andre tak lagi menghiraukan tubuh Anin yang menegang. Laki-laki dewasa yang dimabuk cinta itu terus menyerang. Membuai kekasih halalnya dengan sentuhan dan kelembutan. Terbang bersama menuju syurga dunia, menuntaskan hasrat yang bergelora.

“Terima kasih, Sayang.”

Anin menyurukkan wajah di ketiak Andre. Laki-laki itu pun menyambut. Merengkuh kekasih halalnya ke dalam pelukan, memberikan kehangatan dan kenyamanan.

***

Andre menjalani dan menikmati hari-harinya bekerja dengan Pak Haji Sulaiman. Membawa salah satu angkotnya, mencari penumpang dari pagi hingga petang. Pendapatan yang tidak bisa dibilang besar tapi cukup untuk membiayai kehidupan mereka.

Selain juragan angkot, Pak Haji juga memiliki beberapa mini bus yang digunakan untuk bisnis rental. Andre menjadi kepercayaan beliau jika ada yang menyewa mobil berikut supir. Rute sewaan tidak hanya seputar Jabotabek. Sesekali Andre melayani perjalanan ke luar kota, tentunya dengan imbalan yang lebih besar dari sekedar membawa angkutan umum.

Pagi ini hingga seminggu kedepan, Andre diamanahkan membawa penumpang yang hendak ke Yogyakarta. Pertama kali bagi Anin ditinggal Andre dalam jangka waktu yang cukup lama. Ia mulai gelisah, ingin rasanya meminta sang suami membatalkan perjalanan kali ini. Namun dia mencoba menghilangkan keegoannya demi menjaga nama baik suami.

Penuh drama, Anin melepas kepergian Andre. Ada rasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

"Mas berangkat dulu. Adek harus jaga diri! Jaga kesehatan! Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup. Jika terjadi sesuatu, minta bantuan Mak Odah. Mas, sudah titipkan, Adek pada beliau."

Andre menarik Anin ke dalam rangkulannya. Dicium puncak kepala wanita terkasih dengan lembut. Lama Andre menghirup ubun-ubun, melampiaskan waktu seminggu ke depan tanpa kehadiran istri tercinta.

Tergugu, punggung Anin bergetar. Dilingkarkan tangan di pinggang Andre membalas pelukan lelakinya itu. Mencoba mengulur waktu, berharap jam berhenti berdetak.

***

Pukul dua belas siang, Andre sampai di rumah pelanggan yang akan memakai jasanya. Mata membola, jantungpun berhenti berdetak, saat manik mata melihat sosok di hadapannya. Perempuan bertahi lalat di sudut mata, masih lekat di ingatannya walau sepuluh tahun tak bersua.

Buliran air membasahi dahi Andre, tangannya terasa dingin. Memejamkan mata lalu menghela napas dan membuangnya pelan-pelan demi menormalkan detak jantung. Namun usaha itu belum membuahkan hasil. Dengan tangan gemetaran, Andre membuka pintu penumpang bagian belakang. Bukannya masuk, perempuan itu berjalan melewati Andre dan membuka pintu penumpang di samping pengemudi.

Andre tergugu, berusaha menenangkan hatinya. Membuka pintu, duduk di depan kemudi. Mobil melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan ibu kota. saling diam, tak ada seorangpun yang membuka percakapan.

Tiga puluh menit melaju. Kendaraan roda empat itu memasuki tol lingkar luar Jakarta. Perempuan dengan dress marun selutut itu bersuara.

"Arah Bandung dulu ya, Ndre! Aku ada meeting di daerah dago," ucap wanita itu dan kembali focus pada gawai di tangannya.

Tanpa jawaban, Andre melajukan kendaraan menuju Bandung. Macet, setelah hampir lima jam menempuh perjalanan, Andre memasuki area restorant yang berada di kawasan perhotelan.

"Kemungkinan aku meeting sampai malam. Besok pagi kita lanjutkan perjalanan. Sekarang kamu istirahat dulu, aku sudah booking kamar."

Tanpa manjawab, Andre melangkah menuju reservasi hotel sembari menggendong ransel berisi barang bawaannya. Setelah mendapatkan kunci, Andre mengayunkan kaki menuju kamar.

Andre memasuki salah satu ruangan yang bernomor sama dengan kunci yang ada di genggamannya. Tampak ranjang dengan ukuran king size berada di tengah ruangan bernuansa abu-abu. Lemari besar di salah satu pojok ruangan dan sofa di pojok lainnya yang berdekatan dengan jendela. Dapur dilengkapi kompor dan perabotan yang serba minimalis. Kamar ini juga difasilitasi dengan mini bar serta lemari es yang berisi aneka minuman ringan maupun yang mengandung alkohol. Pemandangan yang sudah lama tak didapati Andre.

Berdiri di balkon, Andre mengamati keadaan kota dari ketinggian. Hembusan angin menusuk tulang dan hawa dingin pun tak mengahalangi Andre menikmati sejuknya udara Bandung menjelang malam. Mata elang itu terus mengitari sejauh mata memandang. Lampu kendaraan dan kelap-kelip bangunan mengingatkan pada sosok yang menunggu kepulangannya. Seseorang yang harus dijaga hati dan ketulusan cinta.

Kantuk menyerang, Andrepun melangkah memasuki kamar. Merebahkan badan nan penat. Tak butuh waktu lama, ia pun terbuai ke dunia mimpi.

Tangan melingkar di pinggang. Andre membalikan badan dan membalas pelukan mencari kehangatan dari dinginnya kota Bandung.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel