Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8 Kembali Pulang

ANIN 8

Tangan melingkar di pinggang. Andre membalikan badan dan membalas pelukan mencari kehangatan dari dinginnya kota Bandung.

Andre pun terbuai. Ia semakin membenamkan tubuh mungil itu ke dalam rengkuhan, mengukung dengan tungkai panjangnya. Kecupan dilayangkan pada pucuk kepala yang menyentuh dagu. Andre pun tersentak, wangi yang asing menyeruak di indra penciuman. Reflek, dilepaskan pelukan dan mendorong tubuh itu hingga menjauh.

Dentuman di lantai dan rintihan perempuan membuat kesadaran Andre pulih seratus persen.

"Aduh."

Andre bangkit dari tidur, mencari sumber suara. Matanya menyipit mendapati perempuan dengan lingeire hitam tergolek di lantai. Kain tipis itu begitu menyolok, kontras dengan kulit putih bak kapas. Laki-laki itu segera memalingkan muka. Mulutnya komat-kamit. Berkali-kali melantun istighfar dengan suara nan lirih. Sungguh pemandangan di bawah sana membuat matanya sakit. Membalikan badan, Andre melemparkan selimut menutupi tubuh yang terpampang jelas di balik kain tipis itu.

"Apa yang kamu lakukan, Re? Kenapa ada di sini?" Andre mengajukan tanya. Suaranya datar dan dingin, menyimpan kemarahan yang meledak. Mata elangnya menatap tajam perempuan yang hanya menekuk wajah menekuri lantai bermotif kayu.

"Sakit, Ndre. Bantu aku bangun dari sini," Perempuan itu memberanikan diri. Meminta Andre dengan mengacungkan kedua tangannya.

"Silahkan bangun sendiri! Maaf, aku tak bisa membantu." Suara itu semakin dingin. Tak sedikit pun mengandung keramahan.

Bangkit dari ranjang. Andre berjalan menuju sofa dan mendudukan bokongnya di sana.

"Kamu berubah, Ndre."

Nada kecewa terdengar jelas dari mulut perempuan bernama Rere. Sungguh ia tak menyangka, sepuluh tahun tak bersua, beginilah sambutan yang di dapat dari lelaki masa lalunya.

"Keadaan yang membuatku berubah dan tentu saja, aku bukan Andre yang dulu. Pria yang mau dibodohi dan diperbudak cinta." Sarkas Andre.

"Maaf!"

Andre memalingkan wajah. Saat matanya menangkap perempuan itu berjalan tertatih. Mendekatinya yang duduk di sofa bersilang kaki. Andre tak perduli, melihat mata itu berkaca menyimpan kekecewaan yang begitu dalam.

Haluan Andre sudah berubah. Tatapan memuja yang dulu ia berikan berganti dengan amarah dan kebencian. Bahkan ia yang dulu tak mau ketinggalan bayangan Rere, merasa muak dan ingin sosok itu enyah dari hadapannya.

Wanita itu tergugu. Bahunya berguncang. Andre semakin acuh. Tak sedikitpun ada keinginan untuk meredakan tangis itu. Padahal dulu, tak sedikitpun ia membiarkan telaga itu berembun.

Andre mengedikkan bahu, saat kepala Rere bersandar di sana. Guratan kecewa semakin nyata. Tak acuh, dengan congkak dan pongahnya Andre bangkit dari duduk.

"Rapikan pakaianmu! Malam ini juga kita kembali ke Jakarta. Maaf, aku tak bisa melanjutkan perjalanan." Laki-laki itu terus mengayunkan langkah. Semakin abai dengan tangis yang terus tergugu. Diraihnya ransel yang tergeletak di lantai. Digantungkan di punggung, berjalan menuju pintu.

"Tinggallah di sini! Menghabiskan satu minggu bersama. Aku mohon! Aku merindukanmu, Ndre.” Perempuan itu terus merayu, berharap Andre luluh dan memenuhi keinginannya.

Andre terus melangkah. Tak sedikitpun ia memalingkan muka dan menatap perempuan yang semakin menghiba.

"Aku tunggu di parkiran. Tiga puluh menit tak muncul, silahkan pulang sendiri!"

“Apakah aku benar-benar telah kehilanganmu, Ndre?

Andre semakin Acuh. Membuka pintu ruangan mewah itu tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.

Menjelang subuh, Andre sampai di rumah. Di depan pintu, laki-laki itu menarik napas kuat. Menstabilkan detak dan debar di dada. Namun rautnya jelas menampakkan kelegaan karena lepas dari beban yang mendera.

Tak ingin membuat keributan dini hari. Perlahan tangannya diangkat, mengetok pintu seraya memanggil pelan sang istri. Tak butuh waktu lama, pintu itu terkuak sesaaat setelah satu wajah mengintip di jendela. Wajah wanita terkasih yang termangu dengan mulut menganga dan mata membola.

Andre tersenyum geli mendapati reaksi kekasihnya. Dijentikkan jari di dahi yang berlipat. Wanita itupun meringis sembari mengusap bekas nan sedikit memanas.

"Sakit mas." Perempuan itu merajuk.

Andre meraih kepala Anin dan mendaratkan bibir di dahi yang meninggalkan bekas merah. Melingkarkan tangan di pinggang nan ramping dan menggiring ke dalam rumah.

Tanpa banyak tanya dan paham dengan keadaan suami nan lelah, Anin pun berlalu menyiapkan perlengkapan sholat dan sarapan.

***

Hari ini cuaca cukup panas. Matahari yang bersinar terik serasa membakar kulit. Andre yang bermandikan peluh, nelangsa menatap ujung jalan. Menunggu penumpang yang sepi sedari pag.

Bisingnya lalu-lalang kendaraan sejalan dengan hati Andre yang bergemuruh. Hidup luntang-lantung di jalanan, berbeda jauh dengan keadaannya selama ini. Ingin menjerit atas ketidak adilan. Namun begitu mengingat sosok yang menunggunya dengan setia, perlahan semangat kembali membara.

Pemandangan yang tak lagi aneh dan canggung bagi Andre. Berkumpul dan bercanda dengan teman seprofesi. Saling lempar godaan dan berseloroh bersama menjadi obat di tengah kejenuhan. Apalagi saat sepi, pangkalan yang berada dekat lampu merah menjadi penuh dengan jejeran angkot yang ngetem sembari menunggu penumpang.

Laki-laki paruh baya mendekati Andre. Menyentuh pundak dan mendekatkan mulut ke telinga serta telunjuk yang mengarah ke sebuah mobil mewah yang parkir di seberang jalan. Andre mengernyitkan dahi sembari menggelengkan kepala. Tatapan memohon di dapatkan dari mata paruh baya itu. Bermalasan, Andre bangkit dari duduk mengayunkan langkah menyeberangi jalan.

Tepat di depan mobil, Andre menghentikan langkah. Mengalihkan pandang pada laki-laki paruh baya yang berdiri di sampingnya. Laki-laki itu mengangguk, sembari memberi isyarat mempersilahkan Andre memasuki kendaraan roda empat tersebut. Sedikit ragu, Andre memegang gagang dan membuka pintu penumpang. Di sana tampak sang mama duduk dengan muka yang ditekuk. Tak ada lagi keceriaan. Wajah itu bermuram durja.

Andre mengambil posisi duduk di samping ibunya. Meraih punggung tangan dan mencium takzim. Kerinduan yang terpendam akhirnya tumpah.

"Apa kabar, Ma?" Andre bertanya dengan menekan suara. Berusaha sewajar mungkin, tak ingin mamanya menangkap kecanggungan yang dirasa.

Ratih meraih Andre. Dipeluk putra semata wayangnya ini. Tangis lolos dari bibir yang bergincu merah.

"Pulang, Ndre! Mama kangen." Ratih memohon tanpa melepaskan pelukannya.

Geming, Andre terpaku mendengar ucapan ibunya.

"Pulanglah! Mama tak bisa hidup tanpamu, Ndre. Semenjak kematian Papa, mama hanya punya kamu." Ratih terus menghiba, berharap anaknya luluh dan mengabulkan permintaan.

"Maafkan Andre, Ma."

"Bawalah istrimu! Mama akan memcoba menerima pernikahan kalian. Beri mama kesempatan!"

Andre ternganga mendengar ucapan mamanya. Benarkah kata-kata itu keluar dari bibir perempuan paruh baya yang selama ini dihormatinya? Merenggangkan pelukan, Andre menatap mata yang selalu membinarkan kasih. Mata itu, Andre menemukan kembali aura yang selama ini dirindukannya.

Andre merengkuh bahu nan bergetar. Dipeluk dan diciumi kedua pipi cinta pertamanya. Perasaan Andre membuncah, keharuan menyelimuti kalbunya. Ingin rasanya berlari, menyampaikan kabar gembira ini pada Anin. Perjuangan dan pengorbanannya membuahkan hasil.

"Apapun akan mama lakukan agar kamu kembali, Ndre," bisik Ratih.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel