Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Tangisan Anin

ANIN 6

" Tinggalkan, Andre! Pergi jauh dan jangan pernah kembali!"

Ratih terus mengintimidasi. Memberikan perintah yang selalu dipatahkan Anin. Wajah yang berpoles itu semakin memerah.

"Seorang istri dilarang keluar rumah tanpa izin suami. Jadi, tidak ada alasan bagi saya pergi dan menjauh dari Mas Andre. Jika tetap dilakukan, maka malaikat akan melaknat perbuatan tersebut. Sebaiknya anda pergi, sebentar lagi suamiku pulang. Jangan sampai dia mengetahui apa yang telah nyonya lakukan . Atau, anda memang ingin berjumpa dengan Mas Andre?"

Anin berusaha tenang dan tak terpancing dengan segala ucapan Ratih. Walaupun dada bergemuruh, ia berusaha agar tidak terpengaruh.

Kemarahan Ratih memuncak mendengar lontaran aksara Anin. Matanya menatap tajam dan senyuman sinis tersungging dari bibir. Tanpa bicara, Ratih keluar dan berlalu dari hadapan Anin.

Setelah kepergian Ratih, Anin melipir ke pojokan. Kepala menunduk bertopangkan kedua lutut sembari menyembunyikan wajah yang bercucuran air mata. Cairan bening mengalir dari hidung bangir Anin. Tangisan lara itu berhenti, menyisakan kenangan pada satu masa.

Lelaki gagah bermata elang itu hampir setiap minggu menyambangi panti. Tangan yang tidak pernah kosong, dua kantong plastik selalu menjadi alasan utama dan berhasil menjadi rebutan para penghuni panti yang sebagian besar terdiri dari anak-anak.

Anin pun terusik dan menjauh. Ada udang di balik batu. Laki-laki itu selalu mencuri pandang dan tersenyum, membuat ia deg-degan. Sadar akan jati diri, dan jurang yang menganga lebar.

Anin selalu menghindar saat Andre menyambangi panti. Menyadari sang pujaan hati yang tak nyaman, ia pun seperti tak kehabisan akal.

"Assalammualaikum."

Andre melangkah melewati pintu yang menganga lebar seraya mengucapkan salam. Tak butuh waktu lama, lima orang anak panti menyerbu dan antri menyambut tangan kanannya.

"Waalaikumsalam, Mas Andre ...." Usai salaman, mereka pun berebut memeluk pinggang Andre.

"Kalian nggak sekolah?" tanya Andre sembari menelisik satu persatu wajah mereka.

"Libur, Mas. Kemarin penerimaan Raport," sahut Nisa, gadis kecil berbaju merah.

"Libur, Berapa lama?"

"Dua minggu." Gadis itu mengacungkan jari telunjuk dan tengah.

"Mau liburan?" Andre memberikan penawaran.

"Mau ...," jawab mereka serentak.

"Nilai raportnya bagus nggak?"

"Aku juara satu," sahut Adi.

"Aku peringkat kelima," ucap Yanto

"Good, mau liburan?" tawar Andre lagi.

Andre mengedipkan matanya pada anak-anak. Sementara Anin hanya diam, tak menyahut.

"Mau ..." jawab mereka serentak.

"Ok, kita ke Puncak. Izin Bunda Siska dulu." Andre menjentikkan jari.

Setelah mendapatkan izin dari Bunda Siska, akhirnya Andre bersama enam orang anak-anak serta Anin berangkat menuju puncak. Mengendarai mobil sport, Andre melajukan kendaraan roda empat dengan kecepatan sedang.

Anin yang duduk di sebelah kemudi tampak gelisah. Keringat dingin mengalir di dahi. Perut yang serasa diaduk, siap mengeluarkan semua isinya. Tak jauh dari rest area, cairan tanpa ampas keluar dari mulut Anin membasahi jok mobil. Bau menyeruak dan mengotori kendaraan. Ketakutan, membuat darah berhenti mengaliri wajah menjadikan pipi itu bak kapas.

Andre membelokkan kendaraan, memasuki rest area. Memarkirkan kendaraan di depan rumah makan siap saji berbahan dasar ayam.

"Ayo turun! Kita istirahat di sini, sekalian menunggu kak Anin menghilangkan mual," perintah Andre.

Keluar mobil, Andre membuka pintu belakang. Anak-anak berhamburan dan berlarian memasuki area rumah makan. Memutari mobil, Andre membuka pintu penumpang depan. Membantu turun dan membimbing Anin menuju meja dimana anak-anak berada.

Setelah memesan beberapa menu, Andre berjalan keluar. Dari kejauhan, Anin melihat Andre berbicara dengan seorang laki-laki paruh baya, setelah itu melangkah mendekati Anin dan yang lain. Entahlah, Anin tak tahu apa yang mereka bicarakan.

Menghampiri meja, Andre duduk di sebelah Anin. Mencomot satu potong kentang dan mencoelnya dengan sambal instant yang tersedia. Tangan lebar itu tanpa henti memasukan makanan ke dalam mulut dengan lahap. Terpaku, Anin takut akan kemarahan Andre. Mobil yang awalnya bersih dan wangi berganti dengan bau tak sedap.

Tak bergeming, tak tahu apa yang harus dilakukan. Ketidak acuhan Andre menyakiti gadis ini.

"Maaf." Takut-takut, aksara itu keluar dari mulut Anin.

Andre menatap Anin, dahinya berkerut.

"Maaf," ulang Anin. Di atas meja, kepala itu membenam kian dalam. Tak berani mendongak menatap Andre.

Tangan kekar Andre menyentuh pucuk kepala Anin. Mengelus lembut rambut halus nan hitam legam yang dibiarkan terurai. Hatinya berdesir, ingin bersama dan melindungi gadis yang terlihat rapuh.

Anin tersentak, kepalanya mendongak. Lelaki di sebelahnya tersenyum. Seperti terhipnotis, ia terpaku. Pandangan mata yang tak bisa diartikan menjadikan gadis itu semakin salah tingkah.

"Makan! Minum obat anti mabok! Kita harus segera melanjutkan perjalanan. Masalah mobil, tidak usah dipikirkan. Kita liburan untuk senang-senang." Andre kembali menyentuk puncak kepala Anin.

Setelah semua pesanan ludes disantap, Andre dan rombongan melanjutkan perjalanan. Melaju menuju vila kawasan puncak.

Sesampainya di vila, lima bocah tak sabar berlarian. Tak perduli cuaca yang dingin, menyebur ke kolam renang. Teriakan dan canda tawa mewarnai aktifitas mereka.

"Kak Anin, sini!" Nisa berteriak memanggil dan melambaikan tangan pada Anin.

Mendekati Nisa, Anin duduk di pinggir kolam. Dengan kaki menjuntai masuk ke permukaan air. Mengayunkan kaki dan ketipak air kolam. Dua bocah menyeret tangan Anin hingga kehilangan kendali dan tercebur di kolam. Teriakan histeris dan gelak tawa menyambutnya.

Malam hari, mereka mengadakan acara barbeque. Dengan antusias anak-anak mengoles lalu membakar sosis, daging dan jagung.

"Nin ...."

Anin memutar kepala ke kanan. Tampak Andre menarik bibir membentuk senyuman.

"Hmm ... Aku ingin menikahimu!"

Mulut Anin menganga. Tanpa ragu, kalimat itu meluncur dari bibir laki-laki yang selama ini ia hindari.

"Apa kamu bersedia menjadi istriku?" Mata elang itu menatap Anin, menunggu jawaban.

"Anin."

Perlahan Andre meraih tangan kanan Anin. Digenggam dengan kedua tangan memberi keyakinan untuk menerima lamarannya.

"A—aku masih sekolah," jawab Anin gugup dan terbata.

"Aku akan menunggu sampai ujian akhir selesai!" putus Andre.

"Jangan!" Anin terjengkit dan berdiri, membantah ucapan Andre.

"Kenapa?"

"Kita berbeda."

Andre terkekeh, berusaha memecah kekakuan Anin. Gadis polos itu menatap tajam Andre. Bukannya takut, Andre malah semakin tertawa nyaring. Anin cemberut, membalikan badan dan memunggungi pria tampan itu.

"Selesai kelulusan, aku akan melamarmu dan kita menikah!" putus Andre.

"Ta—tapi." Anin tergagap.

"Nggak ada tapi-tapi! Aku tetap akan menikahimu," paksa Andre.

Usapan lembut di pucuk kepala membangunkan Anin. Ia mendongak. Pandangan mata tertuju pada sosok di hadapannya. Tersenyum, memamerkan gigi yang putih dan berbaris rapi.

Anin bangkit, segera memeluk dan menyembunyikan wajah cantiknya di ceruk leher sang suami. Gerakan yang tak terbaca, hampir saja membuat laki-laki itu terjengkang.

Bahu Anin berguncang, sesenggukan. Air mata yang tadi mengering, banjir kembali membasahi leher Andre.

Andre meraih dan melingkarkan tangan di punggung Anin. Pelukan andre semakin dalam, memberikan kenyamanan pada wanita terkasih.

Andre membiarkan Anin menyalurkan sesak dan emosi. Sepuluh menit berlalu, tangis pun mereda, menyisakan isak. Tapak lebar itu membingkai wajah kekasihnya. Menyapu jejak air mata yang mengering.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel