Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Tinggalkan Andre

ANIN 5

Adzan berkumandang. Mata yang terlelap mulai terbuka. Berjuang mengalahkan rasa kantuk dan bisikan jin-jin pengikat tubuh. Sungguh merugi orang yang terlena akan buaian pelukan syetan.

Para pejuang subuh melangkah memenuhi panggilan Ilahi. Udara yang dingin tak sedikitpun jadi penghalang bagi mereka. Diantara keramaian itu tampak lelaki jangkung berjalan penuh keyakinan. Kulitnya yang menggelap tak mampu menghilangkan pesona yang dimiliki, malah menjadikan sosok itu bersahaja.

"Nak Andre, sudah sembuh?" tanya pria paruh baya sembari berjalan mendekati Andre.

"Alhamdulillah, sudah mendingan pak Haji."

Andre meraih tangan pria paruh baya yang dipanggilnya Pak Haji. Beliau merupakan tokoh masyarakat dan sangat disegani oleh warga sekitar.

"Hmm ... Pak Haji," ucap Andre ragu.

"Apa yang bisa saya bantu?"

Melihat gerak-gerik Andre, laki-laki paruh baya yang banyak malang-melintang di kehidupan langsung paham dan dapat membaca pikiran Andre.

Ditepok pelan pundak Andre, bibirnya tersenyum tulus menawarkan bantuan.

"Saya butuh pekerjaan, Pak Haji." Akhirnya kata itu tercetus juga. Tak ada lagi Andre Putra Adiningrat yang selalu menjaga imejnya. Terpenting sekarang, dia harus bekerja, apapun itu. Selagi halal dan bisa menafkahi istri serta memenuhi kebutuhan rumah tangga. Hilang semua gengsi yang selama ini dijaga.

"Nak Andre tahukan usaha saya? Kalau mau bekerja, ya nggak jauh dari usaha itu." Pak Haji menatap Andre. Berharap laki-laki di hadapannya paham tanpa harus menjelaskan.

"Tahu Pak! In shaa Allah saya bisa mengendarai mobil serta memiliki surat izin mengemudi." Andre menjawab yakin.

"Baiklah! Untuk sementara Nak Andre bisa menggantikan Jaka. Dua hari yang lalu dia pulang kampung dan entah kapan balik kembali. Kalau sudah siap, bapak tunggu di rumah. Sekalian mempersiapkan surat-surat kendaraan."

"Baik, Pak Haji. Saya pulang dulu. In shaa Allah setengah jam lagi saya ke rumah bapak. Terima kasih atas bantuannya. Wassalammualaikum."

Kembali Andre menjabat tangan pria paruh baya itu, pamit dan melangkah menuju kontrakannya.

"Assalammualaikum." Dengan hati yang berbunga-bunga dan satu harapan nan indah, Andre mengucap salam.

"Waalaikumsalam."

Anin meraih dan mencium punggung tangan kanan Andre. Lelakinya itu membalas dengan mengecup lembut dahinya.

"Dek, mulai hari ini mas ikut bekerja bareng Pak Haji Sulaiman. Doakan mas ya! Semoga ada rezeki kita di sana."

Anin menatap Andre, meyakinkan pendengarannya.

“Dek!” Andre memanggil sang istri yang tidak merespon ucapannya.

"Kondisi mas belum pulih. Istirahat dulu barang dua hari lagi!" Anin mengabaikan ucapan Andre. Sebaliknya, mengajukan keberatan.

"Nggak apa-apa, Dek! Mas kan cuma duduk di depan kemudi. Nggak mondar-mandir, pekerjaannya cukup ringan dan tidak menguras tenaga.” Andre menjelaskan pekerjaannya dan berharap perempuan mungilnya paham dan menyetujui.

Andre paham kegelisahan wanita muda nan cantik di hadapannya ini. Namun, dia tidak boleh diam dan berpangku tangan dengan keadaan sekarang. Jika terus begini, bisa dipastikan mereka akan berpuasa untuk batas waktu yang tak tahu sampai kapan. Pagi ini hanya tersisa satu bungkus mi instan. Jadilah mereka sarapan dengan semangkok mi dan saling berbagi.

***

Setelah Andre berpamitan dan menghilang di ujung jalan. Anin'pun keluar dan mengunci pintu. Melangkah menuju rumah Mak Odah yang berjarak beberapa rumah dari kontrakannya. Kemarin, Anin berjanji membantu ibu paruh baya itu mengerjakan pesanan ketringnya.

Mak Odah mempunyai usaha ketring yang bisa dibilang rame dan laris. Selain melayani pesanan warga sekitar, ia juga mempunyai pelanggan tetap. Sebagian besar datang dari ibu-ibu pekerja yang tidak bisa menyiapkan menu santap siang untuk keluarga. Dengan sistem rantangan dan delivery ke masing-masing pemesan.

Anin begitu antusias menyelesaikan pekerjaannya. Dengan cekatan dan terampil, tangan Anin membungkus satu-persatu sayur dan lauk sesuai catatan yang diberikan Mak Odah. Memasukkan ke rantang yang berjejer rapi.

Sebelum Adzan zuhur berkumandang, pekerjaan Anin pun selesai. Pulang berbekal lauk dan sayur serta sejumlah uang yang diberikan Mak Odah sebagai upahnya.

Setengah berlari, Anin melangkah menuju kontrakan. Tadi pagi, sebelum pamit Andre berpesan untuk makan siang di rumah. Anin tak mau, jika Andre lah yang terlebih dahulu sampai.

Anin membuka pintu kontrakan, lega! Tak tampak Andre di dalam sana. Setelah menyalin dan meletakkan bawaannya, Anin melangkah ke kamar mandi. Membersihkan badan dan semua anggota wudhunya sebelum menunaikan sholat zuhur.

Kekhusukan Anin terganggu. Gedoran dan pukulan bertubi-tubi memecah kesunyian siang itu. Dengan keadaan yang masih terbalut mukena, ia melangkah ke pintu dan memutar lubang kunci, Dorongan tak sabar dari luar menjadikan Anin terhuyung menghempaskan tubuhnya ke dinding. Punggung terasa sakit, dan sikunya kebentur tembok. Bibir itu meringis menahan sakit.

"Hei, perempuan jalang. Apa yang telah kau lakukan pada anakku, hah? Sehingga begitu tergila-gila padamu. Rela hidup menderita dan miskin seperti ini."

Ratih, seseorang yang baru datang itu menyerang Anin membabi buta.

Melihat orang yang dituju hanya diam, emosi Ratih pun memuncak. Mencengkram bagian belakang kepala Anin. Bola mata itu membulat sempurna dengan muka yang memerah.

"Berapa yang kamu minta untuk melepaskan Andre dan semua ilmu pelet dan sihir itu. Aku akan kasih berapa pun itu.

"Astaghfirullah, sedikit pun saya tak pernah pakai sihir untuk mendapatkan Mas Andre." Tak mau dituduh melakukan perbuatan yang salah, Anin pun membela diri.

"Tidak mungkin! Andre, anakku yang penurut, tak sekalipun ia membantah. Semenjak bertemu denganmu, semua berubah. Andreku yang terbiasa hidup mewah, rela menderita dan bekerja kasar demi menghidupimu. Sebagai ibu, aku tak rela. Ingat! Gadis sepertimu tak pantas masuk kekeluarga Adiningrat."

Anin terhenyak mendengar kata-kata kasar dan hinaan keluar dari wanita yang telah melahirkan suaminya. Bahkan telunjuk berkuku runcing dan berwarna merah itu menghunus tajam ke wajahnya.

Anin terus membela diri. Tidak terima fitnah yang dituduhkan padanya.

"Demi Allah, Bu! Kami saling mencintai. Tak sedikitpun terbersit di hatiku untuk mendapatkan cinta Mas Andre dengan cara sehina itu."

"Jika kau benar-benar mencintai Andre, tinggalkan dia! Hidup bersamamu membuat anakku menderita. Karena sampai kapanpun, aku takkan pernah merestui pernikahan kalian.”

"Aku tak mungkin meninggalkan Mas Andre," ucap Anin sembari menggelengkan kepalanya.

"Apa yang kau harapkan dari Andre? Harta? sudah pasti tak ada." Ratih semakin mencemooh dan menekan menantu yang tak dianggapnya itu.

"Aku mencintai Mas Andre bukan karna hartanya."

"Bagimu, hidup seperti ini sudah biasa. Tidur beralaskan kasur tipis, makan seadanya, bekerja kasar, bahkan sebelumnya kamu adalah anak jalanan. Bagaimana dengan Andre? Dari lahir, dia selalu bergelimang kemewahan, mau makan tinggal minta, kasur yang empuk, tak pernah panas-panasan sekedar mencari uang yang tak seberapa. Kamu lihat badan Andre yang semakin kurus, kulitnya yang menghitam, tangannya yang kasar. Jika memang mencintainya, tentu menginginkan yang terbaik. Bukan menyiksanya atas nama cinta."

"Tapi—“ Anin berusaha membantah dan dipotong oleh Ratih.

"Tinggalkan Andre! Menjauh dan jangan pernah kembali!"

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel