Bab 4 Istriku Cerewet
ANIN 4
Perlahan Anin mendapatkan kesadaran. Lemah! Perempuan itu berusaha bangkit dari rebahannya. Nyeri dan denyut di kepala terabaikan.
"Mas Andre." Anin berucap lirih. Manik mata mengitari ruangan mencari sosok yang dirindu.
"Istirahat dulu, Nak. Tubuhmu masih lemah." Mak Odah — pemilik kontrakan — muncul dari pintu depan yang terbuka.
"Apa yang terjadi, Mak?" tanya Anin pelan.
"Tadi, Nak Anin pingsan. Mungkin kaget mendengar berita yang disampaikan oleh temannya Mas Andre." Perempuan paruh baya itu mendekat. bersimpuh di samping Anin yang terlihat lemah.
"Astaghfirullah, Mas Andre bagaimana kabarnya, Mak?" Anin memaksakan badannya bangkit. Kondisi tubuh yang lemah membuat perempuan muda itu kembali duduk sembari memegang kepala yang berdenyut.
"Alhamdulillah Mas Andre masih dilindungi Allah. Terperangkap di kobaran api karena menyelamatkan si anak bos. Semalam ia dilarikan ke rumah sakit dan sudah mendapatkan pertolongan dari dokter.” Mak Odah berhenti sejenak, menelan ludah membasahi tenggorokan.
“Mas Andre tahu kamu khawatir, makanya ia mengutus temannya untuk mengabarkan ke sini. Kemungkinan karena syok dan kondisi fisik yang lemah kamu pingsan saat mendengar berita tersebut.”
"Anin harus ke rumah sakit, Mak! Kasihan Mas Andre sendirian.” Anin kembali berusaha bangkit. Lagi-lagi kondisi fisik yang lemah, sekedar mengangkat bokong pun ia tak mampu.
"Istirahatlah! Tidak usah khawatir! Di sana ada teman dan perawat yang menjaga Mas Andre.” Mak Odah berusaha membujuk Anin. Menenangkan kegalauan perempuan muda nan keras kepala. “Tadi, induk semang Mas Andre ke sini membawakan makanan. Makanlah! Agar badanmu lebih kuat. Nanti sore, suamimu sudah diizinkan pulang. Mereka yang akan mengurusi semua," jelas Mak Odah.
"Terima kasih, Mak! Maaf, kami sudah merepotkan." Anin menatap perempuan paruh baya itu. Matanya berbinar, mengucapkan syukur yang tak terucap lisan.
"Itulah gunanya tetangga, saling tolong-menolong. Tak usah sungkan! semua warga di sini mempunyai solidaritas yang tinggi. Akan sigap bergerak dan membantu jika diantara kita ada yang tertimpa musibah ataupun membutuhkan bantuan lainnya."
"Baik, Mak! Sekali lagi terima kasih," ucap Anin tulus.
***
Sore itu, Andre pulang diantar oleh bosnya. Mereka membawa aneka sembako sebagai wujud syukur dan terima kasih atas pertolongan laki-laki itu.
"Mas."
Anin memeluk dan membenamkan kepala di dada Andre. Seketika, tangis pun pecah. Ketakutan dan kekhawatiran semalam sirna setelah melihat suami terkasih pulang dengan selamat.
Sedikit memberi jarak. Anin menangkup dan membingkai wajah yang dirindukan dengan kedua tangannya. Menelusuri setiap lekuk wajah tampan milik lelakinya. Bulu-bulu halus mulai menghiasi dagu dan rahang. Terasa gatal saat tapak tangan halus itu menelusuri setiap incinya.
Anin meraih dan menggenggam tangan suaminya. Mengarahkan tangan itu ke bibir dan mencium dengan takzim. Dilepaskan, ditelusuri tapak tangan lebar itu dengan telunjuknya. Terasa kasar dan kapalan dibeberapa tempat. Sesak berasa di dada, sungguh dia telah membuat pria tampan ini menderita karena telah menikahinya.
Bahu ringkih Anin berguncang. Isak tertahan di tenggorokan. Pantaskah ia menyesal? Telah menyeret laki-laki ini ke pusaran hidupnya?
Andre hancur mendapati wanitanya menangis pilu. Dada terasa sakit, duri tajam menusuk hatinya. perih! Lidah yang kelu. Tak sepatah kata pun lolos dari bibir.
Andre meraih tubuh mungil itu, mendekap erat. Jari-jarinya menyapu lembut jejak air mata yang membasahi pipi. Seutas senyum terukir. Dipersembahkan untuk kekasih hati agar lebih kuat menghadapi kehidupan. Di depan sana, jalan yang akan dilalui masih panjang membentang. Taburan duri dan kerikil merintangi langkah. Saling bergenggaman, agar tetap mampu melangkah dan tak tergelincir.
“Hilangkan gundah dan rasa bersalah! Mas bahagia hidup bersama walau hidup dengan keterbatasan. Cinta kita akan membuat semua indah dan bermekaran.”
Andre mengencangkan pelukan. Membanjiri sang istri dengan kecupan. Berharap gundah itu pergi dan siap untuk melangkah bersama penuh keyakinan.
***
Kebakaran mencedrai salah satu kaki Andre akibat tertimpa bangunan yang roboh. Belum bisa bergerak bebas, sehingga segala kebutuhannya dilayani oleh Anin.
“Mas!”
Anin mendekati Andre yang berusaha bangkit dari baringnya.
“Kemana?”
Tak ada jawaban.
“Ke kamar mandi? Anin bantu.”
Laki-laki itu menggeleng.
“Trus, mas mau kemana?” Ditatapnya mata elang yang terlihat sayu.
“Cari kerja!”
Anin terpana saat telinganya menangkap kata yang lolos dari bibir suaminya.
“Mas Andre belum sembuh.”
Satu minggu istirahat di rumah membuat Andre bimbang. Kebutuhan dapur dan lainnya terus berjalan dan harus terpenuhi. Sebagai suami, sudah pasti itu menjadi kewajibannya. Sementara, stok makanan semakin menipis. Timbul penyesalan, akan uang yang selama ini dihambur-hamburkan dalam jumlah yang tak terhitung digitnya. Berbanding terbalik dengan keadaan sekarang. Sekedar lima puluh ribu saja harus menguras keringat dan tenaga.
Andre menatap Anin nanar. Kekasihnya ini tidak banyak menuntut. Namun, hal itu malah membuatnya semakin tertekan. Sementara, penyebab kebakaran belum diketahui dan masih dalam penyelidikan kepolisian. Sampai saat ini bengkel masih dipasang garis polisi. Sehingga steril dan tidak mengganggu jalannya proses penyelidikan.
***
"Dek!"
Andre berjalan tertatih mendekati Anin yang mempersiapkan makan malam. Sepiring nasi goreng, dengan telur yang membaur jadi satu. Menu sederhana, namun cinta mejadikan masakan itu lebih enak dari masakan koki terkenal sekalipun.
Anin meletakan hidangan mereka di lantai pojok ruangan. Tak ada kursi mau pun meja. Kontrakan berukuran 4x4 meter ini hanya dilengkapi dengan selembar kasur lantai yang membentang.
Anin membentangkan tangan kanan di pinggang lelakinya. Beradu pandang, sepasang mata itu memancarkan cinta.
Andre menarik sudut bibirnya. Membalas dan ikut membentangkan tangan. Beriringan mereka melangkah, menuju makan malam yang terhidang.
"Dek, besok mas akan mencari pekerjaan." Andre memulai pembicaraan sembari mengunyah pelan nasi yang di dalam mulut.
"Mas istirahat dulu! !Tunggu dan pastikan kesehatannya benar-benar pulih." Nada suara Anin jelas mewakilkan suasana hati. Tidak setuju jika laki-laki di sebelahnya ini mengabaikan kesehatan.
"Mas sudah sehat, Dek. Buktinya sekarang bisa berjalan." Andre belagak, membuka lengan dan melebarkan bahunya.
“Keras kepala!” ucap Anin sinis.
Andre tersenyum mendapati wanitanya yang mulai cerewet.
“Sakit, Mas!”
Anin mencebik kesal saat dua jari Andre mendarat di hidungnya dan menjawil gemas.
“Ternyata semua perempuan sama. Cerewet!”
Andre semakin menggoda, tersenyum nakal dengan menaik turunkan alis. Diraihnya kepala Anin, mengecup lembut ubun-ubun. Lalu Mendekap di ketiak dengan satu tangannya yang bebas mengacak-ngacak rambut yang disisir rapi.
“Mas, Andre ....” Anin berteriak.
Andre terbahak. Gelak tawanya membuat mata elang itu menyipit. Meneteskan buliran bening di kedua sisi. Air mata mata bahagia. Sungguh ia bahagia, sangat dan sangat bahagia.
“Terima kasih, Dek. Tetap mendampingi mas dalam keadaan susah.” Suasana menjadi sayu.
Anin membenamkan kepalanya semakin dalam. Diabaikan kunciran yang terlepas akibat ulah sang suami.
“Mas mencintaimu. Tetaplah bersama!”
Anin mengangkat kepalanya, mendongak ke kanan.
“Anin juga sayang dan cinta Mas Andre.”
***
