Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Kebakaran

Anin meringkuk di kasur lantai nan tipis. Kedua lutut menggulung hampir menyentuh dada. Rintihan dan ringisan pelan lolos dari bibirnya. Keringat dingin membasahi tubuh dan mengalir deras di dahinya. Perempuan itu terus mengeliat, membolak-balikan badan berharap sakit itu segera hilang.

Sakit dan kram perut yang mendera sangat menyiksa. Tak ingin sang suami khawatir, Anin menyembunyikan rasa sakitnya dan membiarkan Andre bekerja seperti biasa.

Sore menjelang, nyeri itu tak kunjung hilang. Ketukan di pintu dan salam Andre diabaikan. Hingga kepulangan sang suami pun luput dari sambutannya. Tak berdaya untuk sekedar bangkit membukakan pintu. Kaki nan lemah tak kuat menopang tubuhnya nan mungil.

“Dek.”

Usai membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu dibawa, Andre segera mendekati Anin.

Dirabanya dahi sang istri. Dingin! Diselipkan kedua tangan di leher dan betis Anin. Perempuan muda itu menggeleng.

“Kamu kesakitan, Dek. Kita harus segera ke rumah sakit!”

Anin kembali menggeleng.

“Nanti juga sembuh, Mas!” Pelan dan terbata-bata Anin mengucapkan kata itu.

Netra Andre menangkap noda yang menempel di kain bagian belakang tubuh Anin. Terang sudah penyebab sakit kekasihnya. Segera ia beranjak ke keranjang yang terletak di sudut kamar. Meraih pakaian ganti dan membantu wanitanya untuk membersihkan bercak tersebut.

“Dek, mas bantu ke kamar mandi ya!”

Andre mengangkat dan membopong tubuh Anin. Mendudukan di dingklik plastik yang terdapat di kamar mandi. Laki-laki itu membungkuk di depan sang istri. Meraih pinggang hendak meloloskan daster yang terpasang.

Anin mencekal tangan Andre.

“Nggak usah malu! Mas bantu biar cepat dan tak kedinginan karna kelamaan di kamar mandi.”

Perempuan muda itu menggeleng.

“Dek, tak ada bantahan!”

Andre memberikan penekanan pada ucapannya.

Penuh keraguan, akhirnya tangan itu pun menyingkir.

Lima belas menit di kamar mandi, kembali Andre membopong wanitanya. Mendudukan di kasur dan membantu sang istri mengenakan pakaian. Lengkap dan sedetail mungkin untuk perempuan yang kedatangan rutinitas bulanannya.

***

Andre menghidangkan makan malam seadanya. Sisa nasi tadi pagi dengan telur mata sapi ditaburi kecap manis. Penuh kesabaran, laki-laki itu membujuk wanitanya membuka mulut dan menerima suapan yang disodorkan.

Selesai makan, Andre merebahkan tubuh lelahnya di belakang Anin yang tidur menghadap dinding. Diraihnya minyak kayu putih. Dibalur, diusap lembut sekitar pinggang dan perut kekasih yang terlelap. Berharap sentuhan dan pijatannya mampu meredakan sakit yang mendera.

Andre meraih bahu dan membalikan tubuh Anin . Menatap wanitanya yang tertidur pulas. Begitu damai, polos, dan tanpa dosa. Segaris senyum pun terbit di bibir tipis yang telah menjadi candunya. Perlahan disentuh dan diusap lembut garis wajah yang membuat mabuk dan terlena.

“Tetaplah tersenyum! Abaikan dunia yang menentang. Selalu bergenggaman tangan, melangkah bersamaku menggapai mimpi. Masa depan nan indah bersama anak cucu kita.”

Usai membisikkan kalimat tersebut, Andre mendekap kekasihnya. Ikut terlelap di buai mimpi walau di ranjang yang tak lagi empuk.

Adzan subuh menggema. Perempuan muda itupun membuka kelopak matanya. Mengangkat tangan yang melingkar di pinggang. Bangkit dari rebahan dan duduk bersandar di dinding. Menatap lelakinya yang masih terlelap di alam mimpi.

***

Empat purnama berhasil mereka lewati. Dengan kekuatan cinta dan saling bergenggaman, pasangan muda-mudi ini mampu menyelesaikan segala permasalahan yang timbul. Hidup dalam kesederhanaan tak menjadi kendala. Bahkan puasa bukan hal yang baru lagi bagi Andre dan Anin.

“Dek, kencan yuk!” Andre mengedipkan sebelah matanya.

“Kencan? Kayak pacaran aja.” Anin tersenyum, menanggapi godaan Andre. Laki-laki itu tak pernah kehabisan bahan untuk menerbitkan senyum di bibirnya.

“Kita memang pacaran, selalu dan selamanya!”

Pipi Anin merona mendapati pandangan memuja dan penuh cinta dari lelaki halalnya. Malu-malu, wanita muda ini menunduk sembari mempermainakan jari-jari yang saling berkait.

“Merah.”

Telunjuk Andre mencolek pipi Anin.

“Iih, Mas Andre.” Anin merajuk manja. Tak dapat menyembunyikan malunya. Memutar badan, memunggungi Andre yang terus menggoda.

Gelak tawa Andre pecah, membahana di kontrakan sempit mereka. Memangkas jarak, laki-laki itu mendekati wanitanya. Melingkarkan tangan di perut nan rata dan menumpukan kepala di bahu yang terbuka.

“Rasa cinta ini semakin besar, subur dan bermekaran setiap hari. Selamanya, walau bukan yang pertama hati ini akan selalu untukmu. Hingga maut memisahkan roh dan raga.”

Penuh keyakinan, Andre membisikan kata cinta. Membuat wanita yang di dalam dekapannya semakin terbuai.

Anin menyentuh tangan Andre. Menempelkan kedua tangannya di atas lengan yang mendekap erat.

***

Gamis biru muda dan hijab senada membuat tubuh yang membalutnya terlihat semakin anggun. Mematut diri di depan cermin, bibir tipis tanpa polesan itupun membentuk garis lengkungan. Membayangkan decak kagum lelakinya pada penampilan yang ia persembahkan untuk kencan pertama mereka.

Menit pun bergulir. Jarum panjang dan pendek bergeser, membentuk garis vertikal. Dua jam menunggu membuat perempuan muda ini dilanda kegelisahan. Tak biasa kekasihnya pulang terlambat. Penuh harap, ia menatap daun pintu yang kunjung terbuka.

Maghrib pun berlalu. Sosok yang ditunggu tak jua muncul. Ia menguak horden menatap, menembus kegelapan malam. Berdoa, sang kekasih muncul di balik gerbang utama jejeran kontrakan.

Semakin larut, dentang jam dan jarum yang menumpuk di satu titik membuat ia semakin gelisah. Kantuk yang menyerang terabaikan. Perut yang meronta pun tak lagi diperdulikan. Pikiran buruk terus berkecamuk.

“Kamu di mana, Mas? Pulang!”

Pikiran yang terlintas membuat jantung Anin berdegub kencang. Tangan mungilnya mengepal, mengcengkram dada kiri. Perih dan nyeri membuat buliran bening jatuh tanpa dikomando.

“Jangan tinggalkan Anin, Mas!”

Anin bimbang. Kemana ia harus mencari suaminya. Tak ada yang dikenal. Apa lagi tengah malam begini. Menghambat langkahnya dan keadaan di luar sana berbahaya untuk keselamatannya.

Tak mau berprasangka buruk, perempuan ini memilih melafazkan doa demi keselamantan belahan jiwanya. Duduk bersimpuh di sajadah, menumpahkan segala ketakutan dan tangisnya. Berharap yang terkasih selalu dalam perlindungan yang Kuasa.

“Allah, bisikkan pada Mas Andre aku menunggunya. Lindungi suami hamba ya Allah, di manapun ia berada.”

Menjelang subuh, Andre tak jua muncul. Kekalutan tak dapat disembunyikan. Anin semakin resah. Perut yang tak terisi pun ikut bergejolak, siap memuntahkan apa yang ada di dalamnya.

Dengan langkah gontai dan terseok, Anin menuju kamar mandi. Memuntahkan cairan asam yang tak dapat lagi ditahan. Tubuhnya oleng, mata berkunang. Buliran sebesar biji jagung membasahi dahi. Napas pun terasa sesak seolah paru-patu enggan meraup oksigen.

Azan yang bersahutan menghantarkan ketukan di pintu. Anin menyeret kakinya berharap yang terkasih pulang.

Wajah yang tak dikenal muncul di balik pintu. Tanpa basa-basi laki-laki berjaket coklat itu mengucap salam.

"Assalammualaikum. Maaf Mbak Anin kemarin sore bengkel kebakaran. Saat kejadian Andre ada di dalam dan ter...."

Tak sanggup Anin mendengar kabar yang disampaikan tamunya, tubuh mungil itu tak kuat lagi menahan beban.

"Mbak Anin...."

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel