Bab 2 Gadis Penjual Minuman
Gadis muda itu tampak bimbang, matanya menatap harap. Meminta sedikit kekuatan pada sang bunda.
“Maaf Bun, Anin tak bisa ....”
Bunda Siska menarik napas panjang. Menatap gadis itu lekat memberi kekuatan.
“Anin tidak bisa mengecewakan Mas Andre.” Gadis itu menunduk.
Perempuan paruh baya itu mendekat. Bibirnya melengkung, memancarkan senyum tulus dan penuh kasih.
“Bangun, Nak! Kasihan jika Andre menunggu lama.”
Dengan bantuan Bunda Siska, sang calon pengantin berhias. Mengenakan kebaya biru elektrik dengan kain songket dan hijab senada. Tak banyak polesan, pipi merah alami itu hanya butuh sedikit polesan. Cantik alami membuat mata yang memandang takjub akan makhluk ciptaan Tuhan yang bernama wanita.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Anindia binti Bapak Fulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucap Andre lantang.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah, Alhamdulillah."
Berwalikan hakim, tepat pukul sembilan pagi, sepasang anak muda ini sah menjadi pasangan halal di mata Allah dan Negara.
***
Sore itu di perampatan lampu merah. Netra tajam Andre menangkap satu bayangan, tak putus dan tak teralihkan. Mata itu terus mengikuti gerak gerik fokusnya. Gadis muda mengenakan rok panjang bercorak batik serta atasan berbahan kaus lengan pendek. Rambut panjang yang dikepang dua membuat bentuk wajahnya terpampang jelas.
"Minumannya, Pak!” tawar gadis itu sembari mengangsungkan satu botol air mineral berukuran sedang.
"Mmm, i--iya," jawab Andre gugup.
Andre menyerahkan satu lembar kertas berwarna merah.
Si Gadis mematung. Tangan yang hendak meraih uang itu berhenti di udara. Ditarik kembali tangan mungilnya seraya berucap "maaf, Pak! Apakah ada uang kecil. Saya tak punya kembalian."
"Tidak usah kembali, untuk kamu aja."
"Maaf! Kalau begitu, Bapak tidak usah bayar."
Andre terpaku! Usai berucap, gadis itu segera memutar badannya tanpa menghiraukan tangan Andre yang mengambang di udara.
Gadis itu berlari, semakin jauh. Mendekati seorang bocah laki-laki pengamen jalanan. Andre terpaku.
Terdengar rentetan klason.
Andre kaget, tersentak! Mobilnya menghalangi laju kendaraan di belakang. Tak ingin sahutan semakin menjadi, pemuda itu menyalakan mesin roda empatnya.
"Aku akan kembali," lirih Andre.
Mengintai keberadaan gadis belia itu menjadi hobi baru buat Andre. Satu minggu berlalu. Setiap sore, pemuda itu menjadi langganan baru di kafe perampatan lampu merah. Namun, bayangan si gadis tak jua dijumpai, membuat Andre penasaran. Mencoba bertanya pada bocah laki-laki yang saat itu Andre lihat bersama gadis penjual minuman.
Sore itu, Andre menyusuri langkah kecil di depannya. Memasuki perkampungan yang tak jauh dari lampu merah. Perumahan warga, bukan sekedar sederhana. Bahkan bisa dikatakan, sangat, sangat, dan sangat sederhana. Bersusun rapat dengan dinding yang saling menempel. Serta jalanan sempit yang tak bisa dilalui mobil.
Andre mengamati dan merekam jelas suasana lain dari Kota metropolitan. Kontras dengan kediamannya yang bersusun rumah mewah. Di sini, lingkungan sesak dan padat penduduk. Ramai dengan anak-anak yang saling berkejaran. Belum lagi hiruk pikuk pedagang keliling yang menawarkan dagangan. Berseliweran dan silih berganti membuat Andre dan sosok di depannya menghentikan langkah sejenak.
Harun, bocah laki-laki usia delapan tahun itu menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang salah satu rumah yang terdapat di ujung gang. Tampak beberapa bagian cat yang mengelupas di dinding depan bangunan. Plafon yang menghitam, saksi tetesan air hujan. Sungguh kontras dengan taman mini yang terdapat di teras rumah. Anggrek dan mawar yang bermekaran menjadikan rumah itu terasa nyaman dan asri.
Sejak itu, Andre rajin menyambangi rumah sederhana itu. Rumah kecil dengan jumlah penghuni yang cukup fantastis menurut Andre, berbanding terbalik dengan rumah orang tuanya. Dua puluh orang, Termasuk di dalamnya Bu Siska dan satu orang asisten pengelola Panti asuhan Kasih Bunda, Anindya si gadis remaja, enam orang bayi , dua balita dan sisanya terdiri dari anak-anak usia sekolah dasar.
"Ndre!" Tepukan keras di bahu mengagetkan Andre.
Tampak Doni, tersenyum masam melihat wajahnya yang melongo karena kaget.
"Apa? Kira-kira lo kalau mukul. Sakit tahu!" umpat Andre. Matanya melirik tajam Doni.
"Alah, lebai lo! Gitu aja sakit. Dari tadi gua manggil ampe teriak-teriak kagak nengok-nengok," seru Doni sembari mengibaskan tangannya di udara.
Andre hanya diam. Tak menyahuti candaan Andre.
"Kenapa? Lagi galau keknya."
"Gua pergi dari rumah!"
Tampak kerutan di dahi Doni mendengar pernyataan Andre.
"Nyokap menentang hubungan gua dan Anin, karena itu gua nekat dan keluar dari rumah. Semua fasilitas dicabut."
"Lo nyesal?"
"InsyaAllah nggak. Gua cuma takut nggak bisa membahagiakan Anin." Andre mendesah sembari mencengkram rambutnya dengan kesepuluh jari.
"Rencana lo apa?"
"Gua punya sedikit tabungan. Beberapa bulan belakangan gua memisahkan gaji yang didapat dari perusahaan dan membuka rekening pribadi. Rencananya buat modal usaha. Namun—" Andre tercenung, menghentikan ucapannya.
"Kenapa?" Doni menatap heran dan penuh tanya.
"Rekening gua diblokir nyokap. Mencoba mencari pekerjaan di perusahaan yang selama ini pemimpinnya gua kenal baik. Namun, tak ada satupun dari mereka yang bersedia memberi gua kesempatan."
Andre dan Doni membisu. Dua sahabat ini saling tatap.
"Teman gua ada yang buka bengkel, keahlian lo sangat dibutuhkan di sana."
***
Kontrakan sempit itu tak menjadi penghalang bagi sepasang pengantin baru. Mereka memadu kasih dan mendulang pahala dalam ibadah yang syahdu.
Lelah! Andre meraih kepala kekasih tercinta dan merebahkan di dada bidangnya. Dikecup dengan lembut puncak kepala wanita halalnya itu.
"Tidurlah! Terima kasih sayang, love you," bisik Andre sembari menyelimuti tubuh mereka.
Pagi menjelang, dua insan manusia ini bangkit dari peraduan. Selesai membersihkan diri dan memjalankan ibadah subuh, Anin melangkah ke dapur, menyiapkan sarapan seadanya. Nasi yang masih mengepul dilengkapi sebutir telur rebus dan segelas air putih.
Dengan lahap Andre menyantap sarapan yang tersaji. Bergantian ia mengarahkan sendok yang ada di tangan. Sesekali menggoda wanitanya, sendok yang di asungkan ke Anin berbalik ke mulutnya. Cemberut, bibir tipis sang istri maju ke depan. Sigap! Tak mau kehilangan kesempatan, Andre menyambar bibir manis itu dengan bibirnya lalu menyapu dengan ibu jari.
Semburat merah mewarnai pipi mulus Anin. Gemas melihat si istri yang malu-malu, diraihnya ke pelukan dan menciumi pipi itu bertubu-tubi. Bahagia itu sederhana, sesederhana yang dirasakan Andre. Selalu bersama dalam suka dan duka, melihat senyum dan tawa wanita terkasih.
"Dek...," panggil Andre.
"Hmm."
"Kita nggak jadi buka usaha. Alhamdulillah suamimu ini mendapatkan tawaran pekerjaan di bengkel temannya Doni. Jadi, pagi ini mas mulai bekerja. Mungkin, gajinya tidak besar. In shaa Allah mas akan menyambi kerjaan lain untuk memenuhi kebutuhann kita. Atau, mas bisa lembur untuk mendapatkan gaji lebih."
"In Shaa Allah gaji Mas Andre cukup untuk kebutuhan kita. Adek berusaha sehemat mungkin mengatur keuangan. Adek juga bisa bantu mas untuk mencari tambahan."
"Mencari nafkah adalah kewajiban mas sebagai kepala keluarga. Adek tunggu di rumah, istirahat dan jangan capek! Tugas adek cuma satu, untuk itu staminanya harus kuat." Usai berucap Andre menarik sudut bibirnya dan mengedipkan mata kanan.
"Iih, Mas mesum." Gadis itu menunduk.
Menyembunyikan semburat merah di pipi.
Andre tergelak. Menjadi hobi baru melihat wanitanya yang malu-malu ketika digoda. Lugu dan polos di usianya yang masih belia, jelang delapan belas tahun.
***
