Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.4. Kembali Ke Tempat yang Seharusnya

"Artha, apa kau sudah siap ikut bersama kami?" tanya Ervan, kakak sulungnya dengan tatapan penuh kebencian tertuju ke Banyu, Nyonya Diana, dan Ratna.

"Iya. Ayo pergi sekarang!" sahut Artha yakin. Hatinya dibanjiri kelegaan melihat kedua kakaknya tiba tepat waktu menjemputnya keluar dari lembah nestapa tak bertepi yang dia tinggali bertahun-tahun.

Rey memberi kode ke para pengawal untuk mengangkut koper adiknya ke bagasi mobil Bughati berharga puluhan milyar warna hitam miliknya. "Apa hanya satu koper ini yang kamu bawa setelah bertahun-tahun, Tha? Ckckck ... miskin sekali suamimu!" sindir Rey merendahkan adik iparnya yang rasanya ingin dia hancurkan di bawah telapak kakinya.

"Iya ... hanya itu. Kita pergi, Rey!" jawab Artha dengan rasa getir menyebar di lidahnya. Matanya terasa panas, air matanya tak terbendung lagi bercampur malu dan kecewa yang mendalam.

Kakak beradik itu naik ke mobil mewah paling depan, Geovan duduk di sebelah mamanya. Dia baru sekali ini melihat paman-pamannya dan juga mobil mewah sebanyak tadi.

"Mama, apa Om-om ini orang baik?" tanya Geovan cemas.

"Mereka ini kakak-kakak Mama. Ini Om Ervan, kakak sulung Mama dan ini Om Reyhan, kakak kedua Mama. Kamu jangan takut ya, Geo!" jawab Artha lembut memperkenalkan anggota keluarga Yudono yang telah dia tinggalkan sejak tujuh tahun lalu.

Setelah berkenalan singkat dengan paman-pamannya, Geovan pun teringat bahwa mamanya tadi berdarah-darah di rumah. "Om, tadi mama berdarah. Apa kita bisa periksa mama ke dokter?" celetuk bocah itu.

"Astaga, apa itu benar, Artha? Kamu kenapa?" seru Ervan panik. Dia segera menyuruh sopir membelokkan mobil menuju rumah sakit milik keluarga Yudono yang memang kaya raya dan punya banyak bidang usaha sukses.

Artha pun teringat bahwa dia telah keguguran dan menangis pilu. "Kak Ervan, aku kehilangan anak keduaku tadi. Mungkin karena terlalu banyak tekanan batin yang kuterima sejak tadi malam!" jawabnya lemah.

Reyhan tersulut amarahnya. "Sudah bosan hidup si Banyu itu, hahh?! Dia nggak pantas dapatkan kamu dulu sebagai istri. Kamu sih ngeyel banget, Tha. Semua kamu lawan demi cinta yang akhirnya ... huhh!" Kakak kedua Artha mendengkus kesal, hatinya terbakar amarah.

"Yang penting kita periksakan kondisi Artha dulu di rumah sakit, Rey. Nanti setelahnya kita bereskan lelaki tak berguna itu!" sahut Ervan yang juga sudah gatal ingin memberi pelajaran pada adik iparnya.

"Jangan ... kumohon jangan!" sergah Artha panik.

"Aahh ... kenapa lagi kamu, Tha?! Jangan bilang kamu masih cinta sama bajingan tengik yang sudah menghancurkan hidupmu itu? Dia nggak layak mendapat secuil pun belas kasihan darimu!" seru Reyhan emosi sambil meninju bangku mobil.

Artha meringis saat perutnya terasa nyeri. "Biar aku saja yang membalas Banyu dengan caraku. Kalian boleh bantu aku, tapi jangan main hakim sendiri!" ujarnya.

Mobil mewah itu berhenti di depan pintu masuk poli IGD. Paramedis dan perawat berhambur membawa brankar untuk memindahkan Artha. Segera mereka mendorongnya masuk ke bilik IGD. Dokter juga tak hanya satu yang ditugaskan memeriksa Artha melainkan tiga sekaligus.

Dokter ahli kandungan segera memanggil Reyhan dan Ervan untuk mendengarkan diagnosanya terhadap adik mereka.

"Pak Ervan dan Pak Reyhan, dengan berat hati saya ingin memberi tahukan bahwa Bu Arthalita mengalami keguguran. Janin tidak ada denyut kehidupannya lagi, dari ukuran di USG usianya masih enam minggu. Terlalu lemah untuk trauma dalam bentuk apa pun!" tutur Dokter Darminto dengan wajah turut bersimpati.

"Lalu bagaimana solusinya untuk Artha, Dok? Kalau janinnya sudah nggak bernyawa ya sudah!" ujar Ervan tegas.

"Akan kami lakukan kuretasi saja untuk membersihkan rahim segera. Tolong isi formulir persetujuan keluarga pasien, Pak!" jawab Dokter Darminto.

Segera Ervan dan Reyhan mengurus prosedur administrasi untuk adik mereka lalu memberi kabar mengenai Artha selengkapnya kepada orang tua mereka bertiga.

Geovan mereka jagai selama mamanya ditangani oleh dokter spesialis andalan rumah sakit jaringan bisnis keluarga Yudono tersebut.

"Apa mama baik-baik saja di dalam ruangan itu, Om?" tanya Geovan cemas. Dia merasa tak punya siapa-siapa lagi selain mamanya.

Reyhan mengusap-usap puncak kepala keponakannya. "Mama kamu akan baik-baik saja, Geo. Sabar ya! Oya, kamu sekarang punya dua paman dan kakek nenek. Jangan kuatir!" hiburnya.

Tak lama kemudian rombongan Tuan Besar Brata Yudono dan Nyonya Dina Yudono tiba bersama selusin pengawal di ruang tunggu operasi.

"Mana Artha, Rey?" tanya ayah Artha yang bertelekan tongkat bergagang emas berbentuk kepala naga. Pandangannya jatuh pada Geovan, "dan ini siapa?"

"Artha sudah ditangani dokter, dia lagi dikuret karena keguguran. Ini anaknya Artha, namanya Geovan, Pa!" jawab Reyhan merangkul bahu kecil keponakannya yang kurus.

Kening Pak Brata berkerut dalam memperhatikan cucunya. Dia lalu membuka lengan untuk memeluk bocah itu bergantian dengan Nyonya Dina juga.

"Ya ampun. Bagaimana bisa cucu kita sekurus ini sih, Pa? Dan ... Artha keguguran? Sudah gila suaminya dan mertuanya, Mama nggak terima!" Nyonya Dina berteriak sambil memukul-mukul dadanya sendiri disertai tangisan pilu.

"Awas saja, akan kubikin melarat mereka karena telah menyiksa putriku dan cucuku!" geram Pak Brata Yudono seraya mengetok keras tongkatnya ke lantai.

Pintu ruang operasi terbuka dan paramedis mendorong brankar berisi Artha keluar. Mereka ingin memindahkannya ke ruang rawat inap VIP.

"ARTHA, INI PAPA!" seru Pak Brata sambil berjalan cepat terseok-seok dibantu tongkatnya mengikuti brankar itu.

"Papaa ... Papaa ... maafkan Artha!" Wanita itu menangis penuh penyesalan. Dia merasakan karma telah melawan larangan orang tuanya dulu.

Setelah Artha diletakkan di ruang perawatan yang semestinya, pihak keluarga diperkenankan masuk menjenguk pasien. Maka sekeluarga Yudono saling bertangis-tangisan menyambut kepulangan putri bungsu yang telah lama hilang kontak itu.

"Artha, lupakan pria jahat itu. Dia seperti penilaian Papa dulu, tak layak jadi suamimu. Apa kamu sudah sadar sekarang?" ujar Pak Brata.

Kepala Artha terangguk-angguk, dia menangis pilu. Segala hal tentang Banyu dan keluarga Respati meninggalkan duka yang mendalam.

"Tolong izinkan aku membalas segala luka dan sakit hati yang mendalam ini dengan caraku!" pinta Artha.

"Hmm ... kamu pulihkan saja dulu kesehatanmu. Setelah itu, kakak-kakakmu akan membantu keperluanmu, Artha. Jangan kembali pada mereka apa pun alasannya, setuju?!" ujar Tuan Besar Brata Yudono tegas.

"Makasih, Pa. Aku pasti akan belajar cepat agar bisa mengejar ketertinggalanku mengurus bisnis keluarga kita!" Artha berjanji dengan bara api dendam yang menyala di hatinya. Dia bersumpah tak akan membuat hidup Banyu tenang bersama ibunya yang toksik dan perempuan pelakor itu.

"Oya, pertimbangkan Calvin Indrajaya ... dia sering menanyakan kabarmu pada Papa. Artha, pria itu ribuan kali lebih baik dibanding Banyu. Mungkin dalam waktu dekat dia akan menjengukmu di sini!" bujuk ayah Artha.

Artha tahu sosok yang disebut oleh ayahnya, kalau dahulu dia mengabaikan pria itu. Kini tak akan lagi, Calvin Indrajaya adalah sekutu terbaik baginya untuk membalas dendam.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel