Bab.5. Bangkit Dari Keterpurukan
"Geo, kamu pulang ke rumah kakek nenek ya. Mereka juga sayang kamu seperti Mama. Jangan takut, sekarang kita aman dan nggak akan berkekurangan lagi!" bujuk Artha kepada anaknya yang nampaknya masih belum bisa menerima kenyataan ayah dan ibunya berpisah.
Bocah itu pun mengusap air matanya. "Mama lekas sembuh ya, jangan tinggalin Geo. Huhuhu ... Geo mau di sini aja sampai Mama sembuh!"
"Jangan, nanti kamu malah sakit. Nurut ya sama Mama. Geo pulang, makan, tidur yang nyenyak. Besok kamu juga harus sekolah, diantar Om Reyhan!" tegas Artha. Dia lalu memberi kode ke kakak keduanya untuk membawa pulang Geovan ke rumah keluarga Yudono.
Sepeninggalan seluruh keluarganya dari kamar perawatan, Artha berusaha menenangkan dirinya meskipun tetap segala ingatan tentang Banyu Respati menyisakan luka yang dalam. Dia telah menukar kenyamanan menjadi putri satu-satunya dari keluarga konglomerat dan menjadi wanita biasa. Istri yang tulus merawat suami dan anak, mengurus rumah tangga tanpa menuntut apa pun sebagai imbalan. Namun, ketika suaminya sukses justru dia digantikan oleh wanita lain.
"Ratna Kirana, model sombong dan pelakor itu harus bertanggung jawab atas kegatalannya menggoda Banyu. Jangan pikir dia akan hidup tenang setelah menghancurkan rumah tanggaku!" geram Artha dengan buku tangan memutih mencengkeram selimutnya.
"TOK TOK TOK."
Pintu ruang perawatan VIP itu terbuka. Sosok yang melangkah masuk sontak membuat Artha terperangah. Rupanya kabar kembalinya dia ke keluarga Yudono telah cepat menyebar.
"Selamat sore, Arthalita. Apa kamu masih ingat aku?" sapa pria bersetelan jas hitam dengan rambut disisir rapi ke belakang itu. Tatapan matanya hangat disertai senyuman tipis.
"Sore, Calvin. Kamu tahu aku dirawat di sini dari siapa?" balas Artha dengan sebersit senyum lemah. Tubuhnya masih terasa sakit pasca menjalani kuret rahim.
Calvin menyembunyikan amarahnya karena melihat kondisi Artha yang menyedihkan itu. Dahulu dia mundur, tidak lagi mengejar Artha karena pria yang dinikahi olehnya. Ternyata memang tanpa latar belakang dari keluarga konglomerat dan sekadar cinta, itu tak ada harganya bagi Banyu Respati.
Sambil duduk di tepi ranjang, Calvin menjawab, "Papa kamu yang kasih tahu kondisimu, Artha. Kuharap kita masih bisa berteman seperti dulu. Lekas sembuh ya!"
Telapak tangan Artha terasa dingin di genggaman tangan lebar pria itu. Calvin melihat tubuh wanita pujaan hatinya yang ringkih, kurus bak kulit terbungkus tulang. Rasanya dia ingin menghajar Banyu dengan tangannya sendiri. Rahangnya mengetat menahan emosi yang berkecamuk melihat kondisi Artha saat ini.
"Makasih, Cal. Aku hanya butuh sedikit waktu sampai badanku pulih. Banyak hal yang terlewatkan selama tujuh tahun ini. Semoga belum terlambat untuk mengejar kerertinggalanku!" jawab Artha malu. Dia terlalu bodoh karena menyia-nyiakan segala dukungan keluarganya demi lelaki tak tahu diuntung itu.
Calvin menghela napas menatap Artha yang diliputi penyesalan. "Belum terlambat, Artha. Kamu hanya perlu berusaha keras. Aku pasti akan membantumu untuk bangkit!" dukungnya.
Tiba-tiba ponsel Artha berbunyi. Dia tak sampai mengambilnya di meja samping tempat tidur pasien. Maka Calvin yang membantunya dan menyerahkan itu ke tangan Artha.
Identitas peneleponnya adalah My Hubby. Itu Banyu yang menghubunginya kembali. Artha ragu-ragu menekan tombol jawab.
"Halo."
"Hmm ... siapa yang tadi menjemputmu, Artha? Apa kau berselingkuh di belakangku?!" Suara Banyu keras dan dingin menuduhnya yang tidak-tidak.
Artha pun tersenyum sinis dan menjawab, "Bukan urusanmu lagi, Banyu. Apa kau lupa kalau aku sudah menanda tangani surat perceraian yang kau ajukan tadi? Kau bebas menikahi wanita murahan yang kau bawa pulang kemarin malam. Dia cocok untukmu!"
"Aku akan merobek dokumen itu kalau kau mau pulang ke rumah! Di mana kau sekarang? Aku akan menjemputmu dan juga Geo!" ujar Banyu serius.
"Buat apa lagi? Kau sudah membuang kami ke jalan pagi ini. Ibumu pun membenciku dan justru merestui hubungan gelap putranya dengan wanita pelakor. Apa kau pikir aku sebodoh itu? Semalam ranjang pernikahan kita telah kau nodai bersama perempuan laknat itu, suara desahan Ratna membuatku sulit tidur saking kerasnya!" Artha tak segan untuk menyembur Banyu dengan amarahnya yang telah dia tahan-tahan sejak semalam.
Calvin yang ikut mendengarkan percakapan Artha dengan Banyu di telepon ikut tersulut emosinya. Raut wajahnya yang biasa tenang mendadak bergejolak. 'Dasar pria bajingan! Dia telah merendahkan Artha dan menyakitinya padahal sedang hamil. Pantas saja sampai terjadi keguguran!' batinnya dongkol.
"Hey, kamu nggak usah bawa-bawa Ratna. Dia itu jauh lebih baik dibanding kamu. Lucu kamu, Tha. Dengan penampilan kumal dan hanya pengangguran di rumah, mana pantas kamu mendampingiku yang CEO perusahaan berkelas nasional?!" sembur balik Banyu di telepon.
"Ohh oke, kalau menurutmu wanita murahan itu lebih pantas jadi pendampingmu. Buruan nikahi dia, toh aku sudah setuju bercerai dan tak perlu pikirkan Geovan. Kami bisa hidup tanpamu, Banyu. Toh, selama ini kamu selalu sibuk dan tak pernah memperhatikan Geovan. Sudah ya, nggak usah hubungi aku lagi!" Artha langsung menekan tombol matikan telepon.
Calvin mengambil ponsel dari tangan Artha lalu meletakkannya lagi di meja. "Apa kamu ingin membalas perlakuan buruk suamimu, Artha? Aku bisa membantumu. Kalau hanya untuk melenyapkan pria itu mudah saja!" ujarnya.
"Jangan! Aku tahu kamu bisa, tapi aku ingin dia hancur perlahan-lahan. Kupikir dia hanya sibuk bekerja mengembangkan bisnisnya selama pernikahan kami. Pulang malam dan tanpa kabar, rupanya dia menyembunyikan perselingkuhannya. Banyu merasa sudah hebat jadi dia nggak segan untuk membawa selingkuhannya pulang ke rumah. Dia menghancurkan pernikahan kami hanya dalam satu malam!" Artha tak sanggup melihat Calvin karena dia malu.
Dahulu dia mengabaikan perhatian tulus pria itu. Kini justru Banyu yang dia bangga-banggakan cintanya mengkhianati dan menceraikan dia dengan mudahnya.
"Lantas apa rencanamu, Tha? Aku pasti akan membantumu!" tanya Calvin sembari meremas perlahan telapak tangan Artha.
"Aku harus bangkit terlebih dahulu. Dia mengatakan aku wanita kumal dan pengangguran. Sebegitu rendah serta menjijikkan aku di matanya sehingga dia butuh wanita pengganti yang dipandang lebih layak!" jawab Artha penuh tekad.
Calvin tersenyum lega mendengar jawaban Artha. Dia tahu wanita yang pernah dia kejar dahulu bukan wanita lemah. "Cepat pulih dan kamu bisa lakukan apa pun yang kamu inginkan nanti, Artha. Baiklah, aku pamit dulu. Besok aku akan menjengukmu lagi!"
"Ya, aku pasti akan lekas pulih. Tugasku masih banyak sebelum bisa membuat pria yang telah menyia-nyiakan dan membuangku menyesal!" balas Artha penuh tekad.
"Beristirahatlah, Artha. Itu yang terpenting saat ini, oke? Sampai besok!" pamit Calvin. Dia menahan diri untuk tidak memeluk atau mencium Artha. Belum saatnya, mereka masih canggung dan berjarak.
Artha menatap punggung Calvin yang menjauh keluar dari ruang perawatannya. Kini keheningan sekali lagi menemani dalam sendirinya. Namun, langkah kebangkitannya baru dimulai. Dia akan pastikan Banyu Respati menyesal telah membuang istrinya demi wanita lain.
