Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.3. Tertampar Kerasnya Kenyataan

"Mas Banyu, lebih baik kita bicarakan sekarang. Apa rencana kamu dengan membawa perempuan lain ke rumah ini?" ucap Artha membulatkan tekadnya. Dia tak bisa menutup mata dari situasi buruk yang menerpa rumah tangganya tanpa pertanda sebelumnya.

Banyu beranjak dari kursinya lalu bergegas masuk ke dalam kamar tidur. Dia kembali dengan membawa sebuah map dokumen di tangan lalu melemparkannya ke wajah Artha dengan kasar. Banyu pun berkata, "Coba kamu baca ini? Kalau setuju, tanda tangani dan tinggalkan rumahku!"

Berkas perceraian. Judul dokumen yang dilemparkan suaminya tadi membuat Artha sontak limbung. Geovan segera menopang tubuh mamanya dan bertanya cemas, "Apa Mama sakit?"

Artha berlutut di lantai dapur seraya memeluk putranya. Tanpa dia sadari darah segar menetes-netes membasahi ubin keramik putih di bawahnya.

Mata Geovan melebar ketakutan sembari berteriak, "Mama, ada darah!"

Rahim Artha berkontraksi hebat karena tekanan mental yang dia alami dalam 12 jam terakhir ini. Dia mengelus perutnya, menduga bahwa anak keduanya mungkin telah tiada karena kekejaman sang ayah janin.

Dengan nada lugu seolah-olah tak bersalah, Ratna berbicara kepada Banyu, "Mas, dia kenapa? Apa lagi menstruasi sih? Jijik banget ... kok nggak pakai pembalut!"

"Huhh ... iya tuh, dasar perempuan jorok! Makanya lebih baik kuceraikan saja, mana pantas sih dia mendampingi aku yang CEO perusahaan terkenal ini. Ya nggak, Sayang?" sahut Banyu dengan tatapan merendahkan Artha. Dia duduk sambil merangkul mesra Ratna dan mencurahkan perhatian penuh ke wanita itu.

Dengan sedikit harga diri yang tersisa, Artha meraih pena dan menanda tangani berkas perceraian yang diajukan suaminya. Dia bangkit seraya merangkul bahu kecil putranya. "Baiklah, aku sudah selesai menanda tangani surat gugatan perceraian darimu. Izinkan aku berkemas sebentar lalu aku akan meninggalkan rumahmu bersama Geovan!" ujar Artha berusaha tetap tegar meski hatinya hancur tak berbentuk lagi.

Nyonya Diana Respati tersenyum puas lalu berkata kepada Artha, "Jangan kau bawa barang-barang berharga pemberian putraku. Tinggalkan semua perhiasan dan kunci mobil!"

"Tenang, Bu. Satu pun tak akan kubawa selain barang kepunyaanku sendiri!" jawab Artha sebelum melangkah ke kamar tidur utama yang seharusnya dia tempati semalam.

Geovan mengikuti mamanya dan bertanya cemas, "Apa Mama mau pergi dari rumah papa?"

Sebuah pesan singkat diketik Artha di ponselnya lalu terkirim. Balasannya sangat cepat tiba, Artha menghela napas dan tersenyum tipis. "Ya, Geo. Kamu juga harus ikut, nanti om kamu akan menjemput kita!" jawab Artha tenang menyembunyikan badai yang sedang mengamuk dalam dirinya. Dengan gesit tangan Artha memasukkan pakaian dan beberapa barang pribadi miliknya ke koper.

Bocah itu menangis tersedu-sedu sambil bertanya, "Di mana kita akan tinggal, Ma? Apa kita akan jadi gelandangan?"

Artha menarik resleting kopernya lalu berlutut menghadap putranya yang masih kecil ... terlalu kecil untuk menghadapi badai kehidupan bersamanya. Namun, dia yakin Geovan akan lebih bahagia bila ikut bersamanya.

"Jangan kuatir, Mama pasti akan menjagamu. Apa kamu mau ikut pergi bersama Mama, Geo?" balas Artha seraya memerhatikan raut wajah putranya.

Bocah itu mengangguk yakin. "Geo mau selalu bersama Mama sampai kapan pun!"

"Anak baik, ayo kita bereskan barangmu. Terutama buku sekolah harus dibawa, kamu butuh untuk belajar!" ajak Artha sembari berpindah ke kamar Geovan.

Mereka mengepak barang ke koper dengan cepat lalu menemui keluarga Respati yang telah memilih Ratna sebagai pengganti Artha di ruang tengah rumah.

Artha mencopot cincin pernikahan yang melingkar di jarinya lalu meletakkan itu di meja sofa. "Kalau sudah tidak ada yang ingin Mas Banyu katakan, aku akan pergi sekarang!"

Di hadapannya, Banyu Respati duduk menyilangkan kaki dengan tatapan penuh penilaian ke wajah Artha. Dia tidak menyangka istrinya akan begitu mudah menerima gugatan perceraian darinya. Padahal selama ini Artha tidak pernah bekerja apa pun untuk mencari nafkah, semua pengeluaran keluarga Banyu yang menanggung.

"Hmm ... ini ada cek untukmu, siapa tahu kamu dan Geo butuh untuk bertahan hidup di luar sana, Tha!" ucap Banyu sembari menyerahkan selembar kertas bertuliskan nominal uang seratus juta rupiah.

"Banyu, buat apa kamu terlalu baik sama perempuan tak tahu diuntung ini? Jangan beri dia uang seratus juta, itu kebanyakan!" sergah Nyonya Diana Respati. Dia selalu membenci Artha yang tak bisa bekerja mencari nafkah.

Artha menatap mantan mertuanya sekilas pandang lalu merobek-robek kertas cek itu hingga menjadi serpihan kecil-kecil yang tak mungkin disambung kembali.

Nyonya Diana terkesiap, dia tak menyangka Artha akan seberani itu. "Tuh, lihat Banyu. Dia sama sekali nggak menghargai pemberianmu!" tudingnya penuh dengki.

Tanpa mengindahkan perkataan wanita tua itu, Artha melemparkan serpihan kertas cek tadi ke hadapan Banyu. "Aku nggak butuh belas kasihan terpaksa dari kamu, Mas. Sudah ya, kakak-kakakku akan menjemput sebentar lagi!" ujarnya lalu membalik badan dan menyeret koper bersama Geovan menuju pintu keluar.

"Jangan pernah mengemis untuk kembali ke rumah ini lagi, Arthalita!" seru Banyu menggelegar. Dia marah karena wanita itu berlaku sok tangguh di depannya padahal payah.

"Nggak usah kuatir, surat cerainya pun sudah kutanda tangani tadi, Mas. Mungkin kita nggak akan pernah ketemu lagi lain kali!" jawab Artha tanpa membalik badan. Dia meraih gagang pintu teras depan dan membukanya.

Sinar matahari yang menyilaukan menyambut Artha dan Geovan di depan rumah mewah keluarga Respati. Mereka berdiri di teras menunggu jemputan yang masih belum tiba.

"Ma ... Geo lapar!" keluh bocah kecil itu seraya memegangi perut yang keroncongan.

"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita bisa pergi lalu cari tempat untuk beli makanan!" jawab Artha agar putranya tenang.

Perut Artha juga terasa sangat sakit karena dia mengalami kontraksi rahim yang terlampau kuat akibat stres bertubi-tubi menderanya.

Ketika ibu dan anak itu menunggu jemputan, Banyu, Nyonya Diana, dan Ratna ke luar rumah menyusul mereka.

"Apa kamu menunggu taksi online, Artha? Mau ke mana lagi kau bawa Geovan?" tanya Banyu penasaran.

"Itu bukan urusanmu, Mas. Kita sudah tidak bersama. Masuk sajalah ke dalam rumah, sebentar lagi jemputanku tiba!" sahut Artha tanpa melihat ke arah Banyu.

"Sombong banget! Awas saja kalau nanti kamu kelaparan dan kedinginan, jangan harap kami mau menerimamu menumpang di rumah ini!" ujar Nyonya Diana seraya bersedekap menatap sinis Artha.

Mendengar perkataan mantan mertuanya, Artha menyesal telah melawan nasihat papanya dahulu. Dia telah dibutakan oleh cinta selama ini padahal semenjak menikah dengan Banyu, dia tak ubahnya bagaikan pelayan gratis tanpa gaji di rumah keluarga Respati.

"Jangan kuatir tentang hal itu, Bu Diana. Ini hari terakhir saya menginjakkan kaki di rumah Anda. Silakan cari pembantu rumah tangga untuk menggantikan saya!" jawab Artha dengan sebersit senyuman pahit.

"PLAK!" Tamparan keras mendarat di pipi Artha. Ibu mertuanya berteriak histeris, "Lancang ya kamu! Selama ini sudah kuizinkan tinggal dan makan gratis di rumah ini malah ngomong ngelunjak!"

"Ma, sudah ... sudah ya. Malu dilihat sama tetangga komplek perumahan!" sergah Banyu agar kedua wanita itu tak lagi berseteru.

Artha memegangi pipinya yang bengkak dan memar. Cincin Nyonya Diana juga telah menggores wajahnya hingga luka berdarah.

"Ternyata mantan istrimu banyak drama ya, Mas!" celetuk Ratna sambil bergelanyut manja di lengan Banyu.

"Lebih baik aku pandai berdrama daripada kau kenyataannya cuma pelakor murahan!" balas Artha telak lalu membuang muka tak sudi bicara lagi pada Ratna.

Dengan penuh emosi Ratna menghampiri Artha lalu menjambak rambut wanita itu dengan keras. Kemudian dia menampar-nampar wajah Artha tanpa belas kasihan.

Sementara itu sederet mobil mewah berhenti di tepi jalan perumahan depan rumah keluarga Respati. Para pria bersetelan jas berdasi turun dari mobil. Salah seorang di antara mereka berteriak lantang, "Berhenti memukul Artha!!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel