Bab.2. Desahan Panas Dari Kamar Sebelah
"Hahaha ... kekanak-kanakan sekali, pake dirayain dengan kue ulang tahun gede banget gitu. Siapa yang bakal ngehabisin sih?" Banyu tertawa kering sembari melihat Artha berdiri menyalakan lilin berbentuk angka 7 itu.
Ratna ikut tertawa renyah dibuat-buat untuk mengejek Artha. Dia senang bisa menginjak-injak istri sah pria idamannya itu. 'Cih ... kamu pikir aku nggak tahu kalau hari ini adalah anniversary pernikahan kalian? Dua tahun sudah aku menunggu saat seperti ini tiba, Arthalita Yudono!' batin wanita itu puas.
"Ahh ... kepalaku pusing, Mas. Hari ini capek banget, kerjaanku banyak!" Ratna memijit pelipisnya dengan dahi berkerut kesakitan.
"Kalau begitu kamu menginap saja di sini, Na! Ayo biar kugendong!" Banyu sigap merengkuh tubuh ramping model cantik itu ke gendongannya. Dengan langkah pasti Banyu berjalan ke arah kamar tidurnya.
Artha yang melihat suaminya membawa wanita lain masuk ke kamar tidur mereka pun dengan terbata-bata berseru, "Ma—Mas ... biar ... biar kusiapkan kamar tamu saja!"
"Nggak usah ikut campur, Artha!" sahut Banyu lantang dari dalam kamar.
"BLAMM! CEKLEK!" Daun pintu dibanting menutup lalu dikunci dari dalam.
Artha jatuh merosot di lantai seolah tak sanggup menerima kejutan bertubi-tubi malam ini. Bukan hadiah yang manis dan membuatnya bahagia. Justru hatinya dibuat remuk redam oleh Banyu.
"Mamaa!" Geovan berlari-lari dengan kaki kecilnya lalu memeluk sang ibu yang menangis tersedu-sedu.
Nyonya Diana Respati, mertuanya justru tertawa mencemooh lalu berkata kepada Artha, "Jangan lupa bereskan sisa makanan di meja dan cuci piringnya. Jangan sampai mengundang tikus karena rumah jorok, Artha. Dasar menantu payah!"
Lidah Artha terlalu kelu untuk menjawab perkataan mertuanya. Sejak awal dia menikah dengan Banyu, memang mama mertuanya menentang keras. Wanita tua itu materialistis, hanya ingin mendapat menantu yang kaya raya dan punya pekerjaan bagus.
Keluarga Yudono pun menentang keras setelah tahu Banyu dan mamanya memiliki sifat serakah. Mereka kuatir Artha hanya akan dijadikan sapi perah dan diambil harta warisannya oleh ibu-anak tersebut. Identitas Artha pun menjadi kabur, dia masuk ke keluarga Respati tanpa membawa harta sepeser pun.
Tangan mungil Geovan menghapus air mata mamanya. "Jangan nangis lagi, Ma. Kita tidur saja, Geo ngantuk sekali!"
"Hu-um, ayo kita ke kamar. Biar Mama pasangkan selimut buat kamu!" Artha menghela napas dan menegarkan dirinya. Dia mengantar putranya tidur terlebih dahulu sebelum nanti membereskan sisa perayaan anniversary yang menyedihkan itu.
Setelah Geovan terlelap ke alam mimpi, Artha menutup pintu kamar lalu kembali ke ruang makan. Dia melihat banyak hidangan masih utuh tak tersentuh. Satu per satu makanan yang telah dia masak sepenuh hati, dia masukkan ke tempat penyimpanan thinwall bening. Besok pagi bisa dia panaskan untuk dijadikan sarapan karena tak mungkin dia buang.
Kemudian Artha mulai mencuci peralatan makan kotor di wastafel. Bunyi gemericik air keran terdengar di kesunyian malam yang semakin larut. Dari balik kaca jendela dapur, Artha bisa melihat bulan purnama bersinar begitu indah. Ingatannya kembali ke masa-masa dia dan Banyu masih berpacaran dulu. Mereka gemar mendaki gunung dan berkemah di musim panas. Bintang serta rembulan menjadi saksi cinta yang dalam itu.
"Aaakh ... Masss!"
Suara janggal desahan perempuan itu terdengar jelas di telinga Artha. Asalnya dari balik pintu kamar utama. Dadanya bergemuruh mendengar betapa buruk ketidak setiaan suaminya ditunjukkan malam ini. Dari meja makan sampai di kamar tidur tempat mereka terbiasa tidur bersama.
"Apa yang harus kulakukan? Haruskah kugedor pintu kamar itu?" gumam Artha larut dalam kebimbangan.
Piring terakhir dia taruh di rak pengering lalu Artha mulai melangkah perlahan. Kakinya terasa berat, dia ragu-ragu, takut suaminya akan marah. Namun, ini sudah keterlaluan. Bagaimana pun Artha masih istri sah Banyu.
"Hmphh ... enaak, Mass!" Desahan Ratna semakin berisik saja dan membuat merah telinga Artha yang justru malu mendengar kelakuan binal perempuan itu bersama Banyu.
"TOK TOK TOK!" Refleks tangan Artha mengetok pintu di hadapannya.
Banyu yang mendengar pun sontak geram karena kesibukannya berasyik masyuk dengan Ratna terganggu. "APAAN SIH?! BESOK PAGI AJA, JANGAN GANGGU ORANG TIDUR!" hardiknya lantang.
"Mas, i—ini aku Artha ... keluar dulu sebentar!" seru Artha membulatkan tekadnya. Dia tak bisa menahan diri lagi.
Dengan enggan Banyu menarik dirinya dari atas tubuh polos Ratna, dahi pria itu berkerut sengit karena dipaksa berhenti dari aktivitas ranjang yang sedang asyik-asyiknya.
Ketika pintu berayun terbuka, pemandangan Ratna yang hanya tertutup selimut hingga batas dada di atas ranjang nampak jelas di depan mata Artha meskipun suaminya sedang berdiri tepat di ambang pintu.
Tak terasa air matanya turun membasahi pipi Artha tanpa suara. Spontan dia memegangi dadanya yang sesak sembari menatap Banyu. "Apa yang kamu lakukan, Mas? Apa kamu lupa ini kamar kita, hari ulang tahun pernikahan kita?" Setiap patah kata yang terucap itu begitu sulit keluar dari mulutnya.
Banyu bersedekap dengan bertelanjang dada. Dia memindai Artha dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu tertawa sinis. "Memangnya kenapa? Kamu itu kumal, nggak cocok lagi buat dijadiin istri, Tha. Coba sana ngaca! Masa sih CEO perusahaan besar terkemuka seperti aku didampingi wanita seperti ini?!"
Bibir Artha bergetar hebat sebelum berucap lirih, "Lantas ... apa maumu?"
"Tidur. Kita bicarakan besok pagi. Dan ... tolong jangan ganggu kami lagi!" jawab Banyu sebelum dia membanting pintu dengan keras di hadapan istrinya.
Dengan langkah gontai Artha kembali ke kamar tidur Geovan, dia membelai perutnya yang masih rata. Ada kehidupan kecil di dalam sana. Rencananya ketika makan malam tadi, dia ingin memberi tahukan bahwa dirinya sedang hamil anak kedua mereka.
Mata sayu itu dipenuhi air mata yang segera luruh dengan deras bak air hujan. Artha duduk di tepi ranjang sembari membenamkan wajah ke telapak tangannya. Dia mencoba tidak berisik agar tak membangunkan Geovan. Putra kecilnya sedang terlelap dengan wajah damai tanpa mengetahui Artha sedang merasa hancur hatinya.
Sepanjang malam hingga pagi, Artha hanya terbaring menatap langit-langit dengan benak penuh pertanyaan dan juga pertimbangan. Layakkah dia tetap berada di rumah keluarga Respati? Apakah wanita bernama Ratna itu hanya akan tidur di kamarnya malam ini atau seterusnya begitu?
Hingga dini hari suara aktivitas panas dua makhluk di kamar sebelah masih terdengar sayup-sayup di telinga Artha. Menjelang waktu subuh barulah tubuhnya menyerah untuk beristirahat.
Baru beberapa jam dia tidur, Artha dibangunkan oleh Geovan yang menggoyang-goyangkan lengannya seraya merengek bahwa dia lapar.
"Baiklah, biar mama panaskan makanan untuk sarapan. Kamu mandi sendiri ya, Geo!" ujar Artha lalu mencuci muka sebelum meninggalkan kamar menuju ke dapur.
Di luar dugaannya di meja panjang dapur sudah ada Banyu, mama mertuanya, dan Ratna yang duduk menikmati kopi pagi bertiga begitu kompak.
"Selamat pagi!" sapa Artha lirih sebelum melewati mereka menuju kulkas.
"Kau bangun kesiangan, Artha. Dasar pemalas! Matahari sudah tinggi baru keluar kamar," serang mertuanya dengan nada penuh kebencian.
"Maaf." Artha mengatakannya sambil lalu, dia fokus memanaskan lagi makanan sisa semalam agar Geovan bisa segera sarapan.
Ratna masih saja tanpa punya rasa malu terus menempel manja di lengan Banyu, dia berkicau riang, "Aku pengin makan waffle dengan selai buah berry deh, Mas. Apa bisa buatin aku?"
"Ohh ... biar Artha yang membuatkannya untukmu," jawab Banyu yang tak biasa bekerja di dapur. Dia pun berseru, "Tha, bikinin waffle pake selai berry ya buat Ratna!"
Tangan Artha yang sibuk mengaduk masakan yang dia panaskan di atas kompor berhenti sekejap. Dia tersenyum miris lalu menjawab tanpa menoleh ke belakang, "Maaf, Mas. Nggak ada bahannya. Kue cake semalam saja ya, bisa kuambilkan sepotong!"
"BRAKK!" Banyu memukul meja dapur dengan gusar. "Berani melawan ya kamu!" serunya kalap.
