Bab 8 Kecemburuan Dane
Ken ingat jika sebentar lagi Mama dari Dane akan datang. "Pak Dane, apa nantinya Nona Arana akan Anda kenalkan pada beliau?"
Dane tampak berpikir sejenak. Ken yang melihatnya tau apa yang sedang dipikirkan oleh bosnya itu.
"Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk mengenalkan Arana dengan mamaku, dan kamu tau pasti mamaku akan shock dan marah nantinya karena yang dia inginkan aku menikah dengan Mauren."
"Semoga mama Anda bisa menerima Arana cepat atau lambat, bagaimanapun juga Arana adalah cinta pertama Anda, kan Pak?"
"Iya, aku jatuh cinta dengan gadis kecil yang sangat berani membelaku dari anak-anak nakal yang suka membullyku dulu. Dia bahkan sampai mengorbankan tangannya. Aku tidak percaya sekarang aku menikah dengannya dan aku akan membahagiakannya seperti janjiku pada ibunya."
"Saya senang melihat Anda sangat bahagia, Pak."
"Kalau begitu aku akan pergi dulu ke rumah sakit untuk mengetahui bagaimana keadaan ibu Ariani."
Dane yang akan melangkah pergi dari sana, tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat sosok seseorang yang dengan membuat keributan masuk ke dalam ruangannya.
"Pak, saya sudah mencoba mencegah Nona ini masuk ke ruangan Anda, tapi dia tetap memaksa masuk," terang sekretaris Dane.
"Kamu tidak tau kalau aku calon istri dari Dane. Kamu jangan coba kurang ajar denganku, atau kalau tidak Dane akan memecatmu!"
"Tidak apa-apa Sisi, kamu boleh pergi."
"Baik, Pak." Sekretaris Dane izin dan menutup pintunya.
"Ada apa kamu ke sini? Bukannya kamu mengatakan akan pergi ke Paris selama seminggu?"
Wanita cantik dengan body goalnya itu berjalan perlahan mendekat ke arah Dane. "Sayang, keberangkatanku ditunda sampai besok. Jadi, aku ke sini ingin mengajak kamu jalan-jalan sekali makan malam. Apa kamu mau?" Tangan wanita itu bergelayut manja pada leher Dane.
Dane perlahan melepaskan tangan Mauren yang melingkar di lehernya. "Jaga sikap kamu, kita sedang ada di kantorku dan ada Ken di sini."
Mauren melirik ke arah Ken. Ken hanya bisa memberikan senyum manisnya. "Ken pasti sudah biasa melihat hal seperti ini, lagi pula ini di ruangan kamu, Sayang."
"Mauren, aku tidak bisa pergi denganku malam ini karena aku ada urusan penting."
"Urusan penting apa? Aku tau kamu tipe pria yang tidak suka jalan-jalan, tapi apa salahnya jika kita meluangkan waktu berdua untuk saling mengenal lebih dekat lagi karena sebentar lagi kita akan bertunangan, Dane."
"Apa kamu tau jika aku sudah menolak pertunangan ini, Mauren?"
"Aku sudah tau, tapi aku tidak mau membatalkannya karena aku sudah jatuh cinta pada pria dingin dan menggairahkan seperti kamu," bisik Mauren tepat pada telinga Dane.
"Aku mencintai wanita lain dan aku ingin menikah dengannya," gantian Dane membalas berbisik pada Mauren.
Seketika Mauren menjauhkan tubuhnya dari Dane. Wanita itu menatap dengan mata menyalang pada Dane.
"Mamamu tidak akan pernah menyetujui keinginanmu itu, Dane, dan aku tau kalau kamu pasti berbohong karena kamu selalu dingin pada setiap wanita dan aku yakin kamu bicara seperti itu hanya ingin aku marah dan membatalkan pertunangan kita."
"Terserah yang kamu katakan, tapi aku tidak menerima pertunanganku denganmu."
"Aku akan membuat kamu menerima semua ini. Dane, aku orang yang akan selalu mendapatkan apa yang aku inginkan." Mauren mengecup pipi Dane dan dia berjalan pergi dari ruangan Dane.
"Pak, sebaiknya Pak Dane jangan menceritakan dulu tentang nona Arana karena bisa saja nona Mauren mencari tau gadis yang Pak Dane katakan, dan akibatnya akan tidak baik untuk nona Arana."
"Aku benar-benar kesal dengannya, dia seolah tidak ingin menyerah. Dia merasa kuat karena Mamaku yang ada di belakangnya."
"Biarkan saja, Pak, sebaiknya sekarang Anda ke rumah melihat keadaan ibu mertua Anda."
"Iya, Ken, aku mau ke sana dan membawakan makanan untuk Arana. Dia pasti belum makan karena khawatir dengan keadaan ibunya.
Dane bergegas pergi dari ruangannya. Dia dengan cepat menuju ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, dia langsung menuju ke lantai di mana ibunya Arana sedang menjalani operasi.
Dane sebenarnya dari tadi juga mencoba menghubungi Elena, tapi Elena juga tidak membalas panggilannya.
"Sayang, aku minta maaf tidak bisa menemanimu di sini."
Langkah Dane terhenti saat melihat gadis yang baru dia nikahi berada di dalam pelukan lelaki yang dia ketahui adalah kekasih dari Arana.
"Tidak apa-apa, Dit. Aku bisa mengerti hal ini." Arana melepaskan pelukan kekasihnya.
Radit sebenarnya hari ini pergi dengan ayahnya, tapi karena ada suatu hal yang akhirnya membuat rencana dia harus ditunda sampai besok.
"Arana, aku akan menemani kamu di sini." Sekarang Radit menggenggam tangan Arana.
Terlihat kedua rahang Dane mengeras, dia mencoba menahan amarahnya melihat tangan istrinya dipegang oleh pria lain.
"Arana, bagaimana keadaan ibumu?" Dane tiba-tiba mendekat ke arah Arana dan sontak saja membuat gadis itu terkejut.
"Dane, keadaan ibuku belum aku ketahui, dokter Elena juga belum keluar dari ruang operasi."
Pandangan Dane sekarang mengarah pada Radit yang juga sedang melihatnya. "Kamu siapa?"
"Aku Danendra," ucap Dane terdengar dingin.
"Oh ... kamu yang sudah membantu Arana membawa ibunya ke rumah sakit. Terima kasih, Dane, dan perkenalkan namaku Radit." Radit mengulurkan tangannya mengajak Dane berjabatan. Awalnya Dane hanya melihat dingin tangan Radit, tapi saat melihat ekspresi wajah Arana yang seolah meminta Dane menyambut jabatan tangan Radit membuat Dane akhirnya menjabat tangan Radit.
"Aku senang bisa berkenalan denganmu, Dane, tapi kenapa kamu ada di sini?"
Dane sekali lagi melihat pada Arana. Arana sudah takut saja dari tadi jika Dane mengatakan bahwa dia di sana karena dirinya adalah suami Arana.
"Aku yang menolong ibunya Arana. Jadi, aku juga bertanggung jawab dengan keadaan ibu Ariani."
"Oh begitu, tapi tidak perlu seperti itu, kamu sudah sangat baik mau menolong dan biar sekarang aku yang bertanggung jawab di sini."
"Tapi aku akan tetap ke sini karena bagaimanapun aku juga memiliki tanggung jawab dengan ibu Ariani."
Arana melihat wajah dingin Dane saat berbicara dengan Radit. Apa mungkin Dane marah karena Radit yang sedang memegang tangannya? Bagaimanapun Dane adalah suaminya dan pasti tidak suka istrinya di pegang tangannya oleh orang lain.
"Tidak perlu, Dane. Aku lusa baru pergi dengan ayahku. Jadi, aku punya waktu menemani Arana di sini."
"Terserah kalau kamu mau di sini, tapi aku tidak pernah menuruti perintah seseorang. Aku bebas melakukan hal yang aku ingin lakukan."
Kedua alis Radit mengkerut. "Apa maksudmu?"
"Radit, aku sudah bilang jika aku punya tanggung jawab pada ibu Ariani. Jadi, biarkan aku melakukan tanggung jawab itu."
Arana yang merasa bakal ada pertengkaran di antara mereka berdua mencoba berdiri di tengah-tengah Dane dan Radit.
"Radit, Dane sudah mengatakan ingin terus mengetahui keadaan ibuku, lagi pula dia juga yang merekomendasikan rumah sakit dan dokter yang merawat ibuku. Kita tidak perlu mempermasalahkan masalah ini." Arana benar-benar takut jika dua orang ini akan bertengkar di sini.
