Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Status Baru Mereka

Semua di sana terlihat bahagia. "Selamat, Pak Dane!" Ken langsung memberikan ucapan selamat pertama kali pada Dane.

"Terima kasih, Ken, dan semua ini juga karena bantuan kamu untuk mempersiapkan semuanya dengan baik."

"Saya sangat senang melakukan semua ini, dan setelah ini akan saya uruskan surat-suratnya sehingga nanti pernikahan kalian bisa tercatat oleh negara."

"Terima kasih sekali lagi Ken."

Semua yang ada di sana mengucapakan selamat pada pernikahan Dane dan Arana. "Pak, biasanya di hari pernikahan itu suami memberikan sebuah ciuman pada istrinya. Pak Dane juga seharusnya memberikan ciuman pada Arana. Oh maaf! Sekarang aku harus memanggil Nyonya Arana atau Ibu Arana?"

Arana seketika terkejut mendengar kata ciuman yang Ken katakan. "Panggil Arana saja, Mas Ken. Usiaku masih di bawah Mas Ken. Jadi, panggil Arana saja."

Ken seketika melihat pada bosnya dan Dane memberi isyarat jika Ken menerima saja apa yang diinginkan oleh Arana. "Ya sudah kalau itu keinginan kamu, Arana. Pak Dane, sekarang Pak Dane bisa memberikan ciuman pada istri Pak Dane."

"Ken, ini di tempat umum." Wajah Dane berubah aneh.

"Tidak apa-apa, Pak, bukannya kalian sudah sah menjadi suami istri. Iyakan?" Ken malah bertanya pada orang-orang di sana, dan Ken malah mendapat dukungan dari para dokter dan suster yang menjadi saksi tadi.

Mereka bertepuk tangan menyoraki agar Dane mencium Arana. Arana yang ada di sana seketika menjadi takut dan malu. Arana takut Dane akan menciumnya, walaupun Dane memang punya hak atas dirinya sekarang, tapi tidak secepat ini juga, dan ciuman bagi Arana adalah hal pertama yang akan dia lakukan kelak dengan suaminya, dalam artian, Arana sama sekali tidak pernah berciuman dengan Radit selama mereka pacaran, hanya ciuman pipi dan kening saja yang pernah Arana lakukan.

.

Sebuah kecupan mendarat dengan lembut pada kening Arana. Arana benar-benar tidak menyangka akan mengalami hal seperti saat ini, tapi entah kenapa hatinya terasa nyaman, apa lagi saat melihat ibunya tersenyum bahagia.

"Sekarang ibu bisa tenang jika suatu waktu ayahmu menyusul ibu, Arana."

"Ibu ini bicara apa? Dane akan berusaha agar ibu sembuh. Aku tidak mau mendengar ucapan seperti itu lagi."

"Ibu, Elena akan berusaha yang terbaik untuk Ibu Ariani."

"Iya, Ibu Ariani harus sembuh. Apa Ibu Ariani tidak ingin bisa melihat cucunya nanti." Elena tersenyum pada Arana.

Seketika wajah Arana berubah kaku. Dia melihat pada Dane. Pun Dane sama melihat datar pada Arana.

"Ibu Ariani, kita tetap akan melakukan operasi sesuai prosedur agar benjolan di leher ibu Ariani tidak membuat keadaan semakin buruk. Kalian di sini aku minta doanya agar operasi yang akan kita lakukan dapat berjalan dengan lancar."

"Aku sangat siap sekarang. Dane, bisa ibu bicara sebentar sama kamu?"

"Tentu saja bisa, Bu." Dane berjalan mendekat ke arah tempat tidur Ibunya Arana dan wanita paruh baya itu menggenggam tangan pria yang baru saja menjadi menantunya.

"Kamu sudah berjanji akan menjaga dan membahagiakan putriku dan aku percaya kamu akan memegang janji itu. Ibu tidak meminta banyak darimu, Nak, hanya meminta agar kamu selalu menjaga dan membahagiakan Arana karena dia di dunia ini tidak punya siapa-siapa kecuali kamu sekarang." Ada butiran air mata pada kelopak mata wanita yang wajahnya tampak pucat itu.

"Aku sudah berjanji pada Ibu, dan sebagai seorang pria, aku akan memegang janji itu. Ibu tidak perlu khawatir." Tangan Dane menepuk lembut tangan ibu Ariani.

Arana yang berdiri tidak jauh dari sana hanya bisa melihat kedekatan ibunya dan Dane. Dia sendiri tidak menyangka jika Dane bisa begitu cepat di percaya oleh Ibunya, padahal ibunya ini orang yang sulit dekat dengan orang baru.

Acara di sana sudah selesai, sekarang Arana sedang berdiri cemas menunggu operasi ibunya, dia berdiri dengan tidak tenang di depan pintu ruangan operasi. Dane di sana hanya bisa melihat istrinya mondar mandir dengan menggigit jarinya.

"Pak Dane, apa hari ini Pak Dane tidak ke kantor?"

"Aku akan menemani Arana di sini sampai ibu mertuaku keluar dari ruang operasi karena aku sangat cemas menunggu operasi ini."

"Tapi kita ada rapat penting satu jam lagi, Pak."

Dane melihat ke arah Ken dan dia baru ingat kalau hari ini ada rapat penting dengan rekan kerjanya yang dari kemarin malam sudah datang ke Indonesia.

"Ken, apa tidak bisa kamu yang menghadiri rapat hari ini?"

"Tidak bisa, Pak. Pasti Tuan Gilbert akan merasa kecewa kalau aku yang menggantikan Pak Dane hadir di rapat itu."

Dane tampak berpikir sejenak. Dia juga tidak bisa meninggalkan Arana sendirian seperti ini.

"Dane, kalau kamu ada pekerjaan penting, kamu boleh pergi untuk menyelesaikan. Aku tidak apa-apa sendirian di sini karena bagaimanapun pekerjaan juga hal penting yang tidak boleh kamu abaikan begitu saja."

"Apa kamu tidak apa-apa sendirian di sini?"

Arana mengangguk beberapa kali. "Aku tidak apa-apa. Kamu sebaiknya selesaikan dulu pekerjaanmu."

"Ya sudah, kalau begitu aku akan ke kantorku sebentar untuk rapat, setelah selesai, aku akan langsung ke sini. Kamu tolong kabari keadaan ibumu, Arana!"

"Iya, Dane."

"Kalau begitu aku pergi dulu."

Dane melangkah pergi dari sana dan Ken pun minta izin juga.

Arana berdiri di tempatnya sembari melihat punggung Dane sampai punggung pria itu menghilang masuk ke dalam lift. Dia kemudian duduk dengan menghela napas panjangnya.

"Dia adalah suamiku sekarang. Lantas, apa yang harus aku lakukan setelah ini?" Arana memijit kepalanya sendiri. Dia benar-benar bingung sekarang karena sekarang statusnya sudah berubah dan pasti banyak tanggung jawab yang harus dia lakukan nantinya.

Tidak lama ponselnya berdering dan dia melihat nama Radit pada layar ponselnya.

"Radit?" Arana kembali menggigit jarinya karena cemas. Dia bingung mau menjawab atau tidak? Arana juga belum siap mengatakan jika dia sekarang sudah menikah dan memiliki seorang suami.

Arana memilih tidak menjawab panggilan Radit dan membiarkan ponselnya berdering.

Tidak lama sebuah pesan whatsup masuk dan Arana tau itu pesan dari Radit. Lagi-lagi Arana memilih untuk tidak membukanya.

Hampir tiga jam Arana menunggu di sana. Dia sangat cemas ingin segera mengetahui keadaan ibunya. Di ponselnya pun hampir ada sepuluh notifikasi panggilan tak terjawab dari Radit.

Di kantornya, Dane yang baru saja rapat dan makan siang dengan rekan bisnisnya bersiap-siap untuk pergi dari kantornya.

"Ken, apa kamu bisa menyelesaikan semuanya di sini karena aku mau ke rumah sakit?"

"Serahkan semua padaku, Pak."

"Aku dari tadi menghubungi Arana, tapi tidak dijawab olehnya. Aku cemas jika ada apa-apa dengan ibunya."

"Semoga semua baik-baik saja, Pak. Pak, apa nanti Anda akan membawa Nona Arana ke rumah utama untuk tinggal, atau kalian akan tinggal di apartemen?"

"Aku akan membawa Arana tinggal di apartemenku saja, di sana dia akan lebih nyaman." Dane menatap Ken datar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel