Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9 Kecemburuan Radit

Tidak lama Dokter Elena keluar dan memberitahu jika operasinya berjalan dengan baik. Arana tampak sangat senang, dia sampai memeluk dokter Elena.

"Ibu kamu nanti akan dipindahkan ke ruangan khusus dan kalau ingin melihatnya, kamu harus memakai baju medis."

"Iya, Dok. Terima kasih sekali lagi."

Tangan Elena memegang pundak Arana. Dia ingin memberitahu sesuatu pada Arana sebenarnya, tapi niat itu dia urungkan karena melihat wajah bahagia dia Arana.

"Arana, kalau begitu aku permisi dulu. Dane, bisa kita bicara sebentar."

"Aku akan ke ruangan kamu, Elena."

Arana ditemani oleh Radit menunggu ibunya dipindahkan, sedangkan Dane pergi bersama Elena.

"Sayang, apa dokter Elena itu kekasihnya Dane?" tanya Radit penasaran.

"Bukan, dokter Elena bukan kekasihnya Dane." Arana sudah khawatir saja kekasihnya itu membahas masalah dengan Dane.

"Apa kamu yakin?" tanya Radit sekali lagi memastikan.

"Iya, mereka bukan sepasang kekasih, Dit." Arana sangat tau bagaimana hubungan Dane dengan dokter Elena.

"Tapi aku melihat Dane sepertinya dekat sekali dengan Elena."

"Mereka berdua hanya berteman baik, Radit."

"Bagus kalau begitu. Kasihan sekali jika dia menjadi kekasih pria dingin dan tampak kaku seperti Dane itu."

Arana memang melihat jika Dane pria yang kaku dan dingin, tapi dia sebenarnya memiliki hati yang baik dan yang membuat Arana terkejut dengan sosok Dane, yaitu dia masih ingat dengan Arana yang sudah menolongnya saat mereka masih kecil dan dia mengakui tanpa ragu jika dia menyukai penolongnya yang adalah Arana.

"Dane itu orang yang baik, Dit," ucap Arana lirih.

"Tapi jujur saja, aku tidak menyukai pria aneh itu. Sayang, kamu juga tidak memiliki perasaan apa-apa, 'kan sama dia?" Radit melihat penasaran pada Arana yang berdiri seperti melamun.

"Maksud kamu apa, Dit?" Arana sedikit gugup dengan pertanyaan. yang Radit lontarkan.

"Apa Dane sering ke sini?" Radit seolah menunjukan ketidak sukaanya pada pria bernama Dane.

"Dia beberapa kali ke sini, itupun karena dia ingin mengetahui keadaan Ibuku."

"Arana, aku tidak suka jika dia sering ke sini dan bertemu dengan kamu."

Arana duduk di bangku penunggu tepat di depan ruangan operasi. Bagaimana Arana menjelaskan jika Dane berhak datang ke sana apa lagi bertemu dengan dengannya karena diakan suami Arana.

"Dit, bisa tidak kita jangan membahas masalah Dane. Aku hanya ingin memikirkan tentang kesembuhan Ibuku saja saat ini."

"Aku minta maaf, Sayang." Radit memegang tangan Arana.

Tidak lama ponsel Radit berdering dan wajah Radit tampak sedikit pucat melihat nama yang ada di layar ponselnya.

"Ayah kamu yang menghubungimu?"

"I-iya. Arana aku jawab dulu telepon dari ayahku." Arana mengangguk dan Radit berdiri agak menjauh dari Arana.

Tidak lama Radit minta izin untuk pergi karena ayahnya menyuruhnya untuk membantu pekerjaannya dan Radit pun ingin pergi ke cafenya sebelum dia lusa akan pergi selama beberapa hari.

"Iya, Dit, kamu pergi saja, aku baik-baik saja di sini.

"Ya sudah, nanti malam kalau pekerjaanku sudah selesai, aku akan ke sini, Sayang." Radit memeluk Arana dan dia berjalan pergi dari sana.

"Maafkan aku, Dit karena aku sudah menyembunyikan sesuatu hal yang besar darimu. Aku sendiri belum siap mengatakan tentang pernikahanku dengan Dane," Arana berdialog sendiri.

Di ruangannya. Elena menjelaskan semua tentang keadaan ibu Arana yang sebenarnya. "Dane, aku hanya seorang dokter dan dokter hanya manusia biasa. Semua tetap Tuhan yang menentukan hidup dan mati seseorang."

"Arana tidak perlu tau tentang keadaan ibunya yang sebenarnya. Biarkan dia bahagia menghabiskan waktunya dengan orang yang sangat dia cintai." Dane melihat serius pada Elena.

"Dia sangat takut akan kehilangan orang satu-satunya yang dia miliki, tapi sekarang dia juga sudah ada kamu dan aku benar-benar berharap kamu bisa menjaga dan membahagiakannya."

"Aku akan membahagiakan bidadari pelindungku itu, Elena."

"Aku tau kamu pasti akan memegang janjimu. But I know who your mama is, Dane."

Dane tampak terdiam sejenak. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Aku mau melihat ibu mertuaku." Dane yang berdiri di depan Elena tampak gusar, dan dia kembali lagi duduk.

"What's wrong with you?"

"Aku kesal sekali melihat kekasih Arana yang ada di sana. Ingin sekali aku lempar dia jauh dari hadapanku, tapi Arana pasti akan marah nantinya padaku."

Elena malah tersenyum melihat Dane yang cemburu. "You are jealous?"

"Menurutmu? Apa aku harus biasa saja melihat istriku dipeluk dan dipegang tangannya?"

"Aku tidak menyangka, seorang Danendra bisa jatuh cinta pada gadis yang menolongnya saat kalian masih kecil, padahal dulu waktu kuliah, banyak sekali yang ingin berada di sampingmu, bahkan dengan rela membuka bajunya untuk bisa menjadi kekasihku, tapi kamu malah bersikap dingin pada mereka. Aku saja sampai mengira kamu tidak suka dengan wanita."

"Aku memang mencarinya, dan pencarianku hampir putus asa saat aku tidak menemukannya, tapi takdir masih baik padaku dan malah membantuku untuk mendapatkan Arana." Dane kembali berdiri.

"Kamu memang mendapatkannya, tapi belum cintanya, Dane."

Dane yang tangannya hampir membuka kenop pintu ruangan Elena mendadak terhenti dan dia kembali menoleh pada dokter cantik yang duduk di kursi kebanggaannya.

"Perlahan, Elena. Perlahan aku akan menjadikan Arana benar-benar menjadi milikku." Tersungging senyum miring dari sudut bibir Dane.

Dane melihat Arana yang sedang berdiri di depan ruangan dengan kaca besar di depannya. Arana sedang melihat ibunya yang sedang dalam perawatan intensif.

"Ibumu akan baik-baik saja. Beliau sangat kuat."

Arana menghapus air matanya dan melihat pada Dane yang sekarang berdiri di sampingnya.

"Aku sedih karena harus melihat lagi orang yang aku sayangi dalam keadaan seperti saat ini. Dulu ayahku juga terlihat seperti itu, tapi lebih menyakitkan melihatnya."

"Kita tidak tau takdir apa yang akan kita jalani ke depannya, Arana." Arana mengangguk. "Kamu sudah makan?"

Arana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak lapar."

Tiba-tiba tangan Dane menggandeng tangan Arana. Gadis itu sedikit terkejut, tapi membiarkan pria itu menggandengnya.

"Kita mau ke mana?"

"Makan, kamu harus makan. Biarkan ibumu beristirahat dan kamu bisa makan agar tidak ikut sakit juga."

Dane membawa Arana keluar dari gedung rumah sakit. Dia tidak peduli jika di sana ada Radit.

"Kita makan di kantin saja. Uangku tidak cukup kalau makan di sini." Arana melihat sebuah restoran yang ada di depan gedung rumah sakit di mana ibunya sedang dirawat.

"Memangnya aku meminta kamu yang membayarnya? Arana, kamu sekarang adalah istriku, dan semua yang terjadi sama kamu adalah tanggung jawabku."

"Tapi bukannya kita menikah karena kamu mau membiayai pengobatan ibuku, sesuai perjanjian yang kita sepakati, walaupun waktu itu kamu yang membatalkan, tapi aku sudah terlanjur berjanji. Apa lagi ini juga permintaan ibuku."

"Apapun itu, Arana, pernikahan kita ini sah dan bukan permainan."

Dane mengajak Arana duduk dan dia memesankan beberapa menit makan untuk Arana. Dane yang sebenarnya sudah makan, dia kembali makan untuk menemani istrinya itu.

"Arana, apa kamu sudah bilang pada Radit tentang pernikahan kita?" Dane ingin sekali bertanya tentang hal ini.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel