Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Pernikahan Mereka

Tia menggeleng dengan cepat. "Em ...! Aku tidak berpikir seperti itu, kok. Ya sudah! Aku sama mamaku pulang dulu saja, lagi pula ibu kamu sudah tidur dan kamu juga bisa beristirahat."

"Kenapa cepat sekali?"

"Lagi pula ini sudah malam, Arana. Tadi aku dan mamaku dari rumahnya Tante dan karena satu arah, aku dan mamaku sekali mampir ke sini. Kamu beristirahatlah. Jangan capek-capek." Tia memeluk sahabatnya itu.

Tia dan mamanya pulang. Arana kembali ke dalam kamar ibunya dan dia melihat ibunya masih tertidur. Arana membuka makanan yang dibawakan oleh Dane, dan dia sedikit terkejut karena Dane membawakan makanan kesukaannya.

"Kenapa dia bisa tau makanan kesukaanku? Apa benar dia anak gendut itu? Kenapa aku seolah masih belum percaya dia bisa berubah sangat drastis seperti itu?"

Arana ingat anak laki-laki yang dia tolong saat masih kecil itu, tubuhnya sangat gendut, wajahnya pun beda sekali sama sekarang.

"Tapi bisa saja, apa lagi itu sudah beberapa tahun berlalu. Tapi apa benar dia juga menyukaiku dari kita kecil? Rasanya kok terdengar seperti hal yang mustahil." Arana malah tersenyum tidak percaya dengan semuanya ini

***

Pagi itu, Arana yang terbangun melihat ibunya sudah duduk bersandar dengan posisi ranjang di model duduk. Ibunya sedang berbicara dengan dokter Elena dan dari wajah mereka sepertinya sedang ada pembicaraan yang serius.

"Dokter, ada apa?" tanya Arana yang memang penasaran. "Apa ada sesuatu tentang ibuku?"

"Tidak ada, Nak. Ibu baik-baik saja, hanya saja ibu ingin berbicara sesuatu, tapi kita tunggu Dane datang dulu," jawab ibunya.

"Dane?" Arana melihat heran pada Ibunya.

Arana tampak heran melihat tiba-tiba di kamar ibunya datang beberapa orang dengan pakaian rapinya. Ada beberapa dokter dan suster yang juga masuk ke dalam kamar ruang rawat ibu Arana.

"Bu, ini ada apa?" tanya Arana heran.

"Kamu tunggu saja Dane datang dan nanti semuanya akan menjadi jelas."

Arana terdiam menuruti apa yang ibunya katakan. Tidak lama pria yang dari tadi ditunggu oleh ibunya Arana muncul dengan kemeja berwarna putih dan Dane terlihat menatap Arana saat baru pertama kali masuk ruangan itu.

"Dane, ada apa ini?" Arana yang sebenarnya dari tadi penasaran akhirnya bertanya pada Dane.

"Kita akan menikah hari ini, Arana."

"Apa? Tapi--?" Arana melihat pada ibunya.

"Nak, waktu ibu tidak banyak, dan sebelum ibu meninggal, ibu ingin melihat kamu menikah dengan orang yang nantinya bisa menjaga kamu." Seketika butiran air mata wanita paruh baya itu menetes perlahan.

"Maksud Ibu apa?"

Ibunya Arana melihat pada dokter Elena dan dokter Elena memberikan sebuah kertas pada Arana. Arana membaca kertas putih yang diberikan padanya, dan dia tampak bingung karena Arana memang tidak mengetahui tentang dunia medis. Hanya saja di sana Arana dapat mengetahui arti dari tulisan positif.

"Ini maksudnya apa, Dok? Ibuku kenapa, Dok."

"Ibu dalam keadaan kritis, Nak. Selain penyakit autoimun, ibu juga menderita leukimia dan ibu sudah tau ini sejak lama, hanya saja ibu tidak mau mengatakannya. Ibu sangat menyayangimu dan tidak mau membuat kamu kepikiran terus akan sakit yang ibu derita."

"Apa? Leukemia? Tapi Dokter Elena bilang jika Ibu hanya harus segera dioperasi untuk mengangkat benjolan itu dan nanti ibu bisa sembuh," Arana sampai terbata mengatakan hal itu.

"Kemarilah, Arana." Arana dengan menangis memeluk ibunya. Wanita cantik itupun mendekap erat tubuh putri semata wayangnya. "Arana, Ibu sudah mengatakan pada dokter Elena tentang sakit ibu itu sebelum hasil medis keseluruhan ibu keluar dan ibu minta agar dokter Elena tidak mengatakan hal itu karena ibu ingin yang mengatakan sendiri."

"Elena, bukannya di luar negeri ada rumah sakit yang bisa menangani penyakit kanker? Bagaimana kalau Ibu Ariani aku bawa ke sana?"

"Bisa saja, tapi aku tidak dapat mengatakan kankernya akan bisa disembunyikan. Kanker ibu Arana termasuk jenis kanker Leukemia Limfositik Kronis, dan kanker ini memang berkembang secara perlahan, tapi kanker ini sudah memasuki stadium tiga, apa lagi ibu Ariani menderita autoimun juga. Aku hanya bisa membantu dengan melakukan kemoterapi dan terapi target serta transplantasi sumsum tulang."

"Dane, aku mohon selamatkan Ibuku, aku ingin Ibu sembuh." Arana melihat Dane dengan wajah memohon. Dane pun tampak bingung, dia akan melakukan apapun untuk membuat Arana tidak bersedih.

"Nak, Ibu sudah pasrah dengan semua ini. Sekarang Ibu hanya ingin melihat kamu menikah dan bersanding dengan seseorang yang ibu yakin bisa menjaga kamu." Ibu Ariani melihat dengan mata sayunya pada Dane.

"Tapi, Bu." Arana melihat wajah percaya ibunya akan pria yang bernama Dane, dan lagi pula Arana juga sudah berjanji akan menikah dengan Dane jika Dane mau membantunya membiayai semua pengobatan ibunya dan Dane sudah melakukan hal itu.

"Ibu Ariani, aku memang dari awal mengatakan pada Arana jika aku akan membantu pengobatan Ibu Ariani asal dia mau menikah denganku, tapi sekarang jika Arana tidak mau aku pun tidak akan memaksa, tapi aku akan tetap membantu pengobatan Ibu Ariani sampai sembuh."

Arana yang mendnegar apa yang dikatakan oleh Dane seolah hatinya tersentuh sesuatu yang sangat luar biasa, bahkan Arana pun tidak tau perasaan apa ini?

"Dane, Ibu tau kamu pria yang baik sejak melihat dan berbicara berdua denganmu waktu itu. Mungkin ucapan terima kasih dari Ibu juga tidak akan cukup membalas kebaikan kamu."

"Aku mau menikah denganmu, Dane," ucap Arana cepat.

Seketika semua yang ada di sana, terutama Dane tampak terkejut melihat ke arah Arana. Dokter Elena langsung menunjukkan senyum panjangnya.

"Arana, kamu serius?" tanya Dane memastikan.

"Iya, aku mau menikah denganmu seperti janjiku waktu itu."

"Kalau begitu kita mulai saja acaranya sekarang. Ibu sudah tidak sabar ingin melihat kamu dan Dane menikah, Nak."

Semua orang terharu mendengar hal itu dan mereka membantu mempersiapkan acara pernikahan yang amat sangat sederhana ini. Arana dan Dane duduk berdampingan dan disaksikan oleh ibu Ariani yang duduk bersandar di atas tempat tidurnya.

Arana tampak terdiam dengan kepala menunduk. Dia sedang berpikir apa keputusan yang dia ambil ini sudah benar atau nanti belakangnya dia akan menyesal?

Dane diajari sebentar cara mengucapakan ijab qobul dan dia dengan cepat mengingatnya bahkan dia bisa mengucapkan

dengan baik saat latihan.

Acara dimulai. Wajah Arana tampak tegang, beda sama sekali dengan Dane yang terlihat santai, biasa saja. Tangan penghulu itu menjabat tangan Dane dan memulai acara ijab qobulnya.

Semua tampak lega saat Dane dapat mengucapkan ijab qobul hanya dengan sekali tarikan napasnya. Wajah semua orang yang ada di sana tadinya tegang sekarang tampak lega, bahkan mereka yang menjadi saksi menangis bahagia.

"Sekarang, kalian sah menjadi suami istri."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel