Bab 5 Cerita Masa Lalu Mereka
Wanita paruh baya itu mengusap lembut kepala Arana. "Tidak ada, Arana. Hem ... Ibu juga suatu saat nanti akan pergi dan siapa yang menjaga kamu kalau kamu tidak menikah? Saudara juga tidak punya. Ayah dan ibu sama-sama anak tunggal."
"Pokoknya Arana mau sama Ibu terus."
Wanita paruh baya itu tersenyum dengan helaan napas panjang. "Jangan begitu, kamu sudah waktunya menikah, dan nanti kamu juga akan menjadi seorang ibu. Hilangkan sifat manja kamu itu."
"Aku masih butuh Ibu. Ibu jangan bicara yang tidak-tidak."
Ibu Ariani menjauhkan tubuh Arana agar dapat melihat wajah putrinya itu. "Ibu bicara hal yang sebenarnya. Pikirkan semua ini, ada seseorang yang serius sama kamu dan ibu lihat dia baik, Nak. Ibu mengatakan hal ini bukan karena ibu tidak merestui hubungan kamu dengan Radit, dan kamu tau sendiri alasan Ibu tidak merestui kamu dan Radit."
"Iya, Bu. Aku dan Radit memang tidak akan bisa sampai ke jenjang lebih serius karena kita pasti sama-sama mempertahankan keyakinan masing-masing."
"Kamu sendiri yang bilang jika kamu menerima Radit karena kasihan dia sudah menyatakan cintanya pada saat di depan orang banyak, dan kamu yang memang baik tidak tega menolaknya."
Radit dan Arana dulu satu kampus, di mana Arana mendapat beasiswa sehingga bisa berkuliah.
Radit diam-diam menyukai Arana. Sampai pada saat mereka akan lulus kuliah. Radit yang pada saat itu ikut gladi bersih untuk acara perpisahan kampus, malah menyatakan cintanya pada Arana, tapi sebelumnya dia mendekati Arana, tanpa Arana tau jika Radit memiliki perasaan padanya.
Pernyataan cinta Radit saat itu yang memang sudah Radit rencanakan, apa lagi banyak di sana teman-teman mereka mendukung agar Arana mau menerima Radit, hal itu akhirnya membuat Arana mau menjadi pacarnya Radit.
Malam ini, Arana menemani ibunya di rumah sakit, sembari dia memberi semangat untuk ibunya agar tidak takut menghadapi operasinya esok hari.
"Ibu istirahat saja, Arana akan menjaga ibu di sini."
"Iya, Nak. Arana, kalau kamu juga capek, kamu sebaiknya beristirahat saja."
"Iya, Bu. Kalau begitu, ibu tidur saja." Arana menyelimuti ibunya dan mengecup pipi wanita yang sudah melahirkannya itu.
Arana beberapa menit memandang wajah sayu ibunya yang sedang tidur. Dia merasakan rasa takut akan tidak bisa lagi melihat wajah yang baginya sangat meneduh itu. "Arana akan berusaha agar ibu sembuh. Arana tidak mau kehilangan ibu."
Arana keluar dari dalam kamar ibunya karena dia merasakan lapar. Arana ingin turun sebentar untuk membeli makanan.
"Dane? Untuk apa malam-malam ke sini?" Arana tidak sengaja berpapasan dengan Dane.
"Aku mau memberikan makanan ini untuk kamu, kamu pasti belum makan apapun." Dane menyodorkan tas plastik dengan kotak makan di dalamnya.
"Dane, tidak perlu repot begini. Aku bisa membelinya di warung depan."
"Ini sudah malam, kamu jangan keluar sendirian. Oh ya! Apa ibumu sudah tidur?" Arana mengangguk. "Kalau begitu setelah makan kamu pergilah tidur."
Arana terdiam sejenak, dia sebenarnya ingin bertanya pada Dane, tapi entah kenapa dia merasa bingung sendiri. Mungkin dia masih memikirkan tentang operasi yang akan ibunya jalani besok.
"Arana, aku pergi dulu."
"Dane, tunggu!" seru Arana dengan cepat.
Dane yang hendak melangkah pergi, langkahnya seketika terhenti dan dia berbalik melihat pada Arana. "Ada apa?Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
Arana menggeleng. "Dane, benar yang kamu katakan pada ibuku jika kamu sebenarnya sudah mengenalku dari dulu dan kamu menyukaiku?" Arana sebenarnya ragu bertanya hal itu. Bukan hanya ragu sebenarnya, tapi dia juga malu.
"Iya, aku sudah mengenal kamu saat kita masih kecil dan aku menyukai kamu," jawab Dane santai.
"Tapi aku tidak merasa pernah mengenal kamu."
Dane melihat pada tangan Arana. "Apa kamu ingat bagaimana kamu bisa mendapatkan luka bakar pada tanganmu itu?"
Arana seketika melihat pada bekas luka yang ada pada telapak tangannya. "Ini aku dapat saat menolong anak laki-laki gendut yang tangannya hampir dibakar dengan bara api panas oleh anak-anak nakal waktu itu."
"Anak gendut yang kamu tolong itu adalah aku, Arana."
"Apa? Kamu?" Mata Arana sampai mendelik kaget.
"Iya, aku anak gendut yang sering sekali dibully oleh anak-anak yang tinggal di komplek perumahanku, dan kamu gadis kecil yang menolongku waktu itu."
"Tapi—?" Arana memindai Dane dari atas sampai bawah. Dia masih tidak percaya jika anak gendut yang dia tolong bisa berubah sangat berbeda dengan sosoknya Dane saat ini.
"Aku sebenarnya sudah mencoba mencari kamu waktu itu, tapi informasi tentang gadis kecil dengan kuncir tiganya itu susah sekali aku dapatkan."
"Iya, aku ingat jika waktu masih kecil, aku sering sekali dikuncir tiga oleh ibuku, tapi bagaimana kamu bisa tau kalau itu aku?"
"Tentu saja saat melihat bekas luka di tangan kamu saat di rumah Tia. Awalnya aku tidak yakin, tapi setelah mencari tau tentang kamu, aku baru yakin jika gadis itu adalah kamu."
"Oh Tuhan." Arana benar-benar tidak percaya. "Aku sama sekali tidak menyangka jika kamu akan mencariku, Dane."
"Terima kasih sudah menolongku waktu itu. Kata itu belum sempat aku ucapkan karena aku terlalu tidak percaya masih ada orang baik yang mau menolongku waktu itu."
"Sudah sepatutnya kita sesama manusia saling tolong menolong. Itu adalah pesan yang mendiang ayahku katakan."
Mereka berdua sekarang tampak saling terdiam karena tiba-tiba rasa canggung menyelimuti mereka berdua.
"Arana, Pak Dane. Pak Dane kenapa bisa ada di sini?"
Suara Tia yang datang ke sana langsung membuat dua orang itu melihat pada Tia yang ternyata datang dengan mamanya.
"Tia, Tante."
"Arana, bagaimana ibumu?" tanya Mamanya Tia.
"Ibuku besok akan menjalani operasi, tapi sekarang ibuku sudah tidur."
"Ya Tuhan! Semoga operasinya lancar ya, Arana."
"Terima kasih, Tante."
"Pak Dane kenapa ada di sini? Apa Pak Dane sedang sakit?"
"Aku baik-baik saja. Aku ke sini untuk menemui temanku yang menjadi dokter dan dia yang menangani ibunya Arana."
"Oh dokter Elena itu."
"Iya, dan sekalian juga aku ingin tau bagaimana keadaan ibunya Arana yang sudah aku tolong waktu itu."
"Terima kasih sekali lagi sudah datang ke sini." Arana sedikit menganggukkan kepalanya."
"Sama-sama, Arana. Kalau begitu aku permisi dulu. Tia, dan Tante, aku permisi dulu." Dane berjalan dengan tegap melangkah pergi dari tempat itu.
"Arana, apa Pak Dane tadi lama di sini?"
"Dia hanya sebentar. Tadi dia juga membawakan makanan ini untukku terus tidak lama kalian datang."
"Membawakan kamu makanan?" Tia melihat curiga pada Arana.
"Mungkin dia kasihan melihat aku di sini tidak ada yang menggantikan. Jadi, membawakan makanan."
"Tante juga membawakan kamu makanan. Bagaimana pun juga, jika berkunjung ke rumah sakit harus membawa sesuatu untuk si sakit atau yang menjaga, Tia. Kamu kenapa seolah curiga seperti itu? Arana itu, kan sudah punya pacar, pak Dane juga tidak mungkin tiba-tiba suka pada Arana. Jangan suka curiga."
"Kamu curiga bos kamu itu suka sama aku?
