Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Sosok Lain Dari Dane

"Kamu tenang saja karena aku yang akan menyiapkan semuanya. Kamu siapkan saja surat-surat yang nanti aku butuhkan dan Ken yang akan mengurusnya."

"Tapi, apa itu tidak terlalu cepat, Dane? Ibuku pasti juga akan kaget jika mengetahui tiba-tiba aku menikah dengan kamu sedangkan ibuku taunya aku pacaran dengan Radit."

"Nanti kita akan mencari alasan yang tepat kenapa kamu menikah denganku." Dane mengambil tas Arana dan memberikan pada gadis itu. Arana masih tampak bingung, dia sampai tidak beranjak dari tempatnya.

"Temuilah ibumu dulu, Arana," ucap Dane yang kemudian membuat Arana tersadar dari tempatnya.

Arana pun akhirnya menuju ruang rawat ibunya dan melihat ibunya masih tertidur.

Arana kemudian minta tolong pada suster di sana, jika nanti ibunya bangun dan mencarinya, suster bisa mengatakan jika Arana masih di kantor sebentar untuk mengurus beberapa pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggalkan.

"Iya, kamu tenang saja karena ada kami di sini yang akan menjaganya."

"Terima kasih." Arana mengecup kening ibunya dan dia segera turun kembali.

Arana berlari keluar gedung rumah sakit dan dia terkejut saat berada di luar untuk mencari ojek motor. Arana melihat ada Dane di sana.

"Dane?"

"Masuk. Aku yang akan mengantar kamu ke kantormu."

"Kamu? Memangnya kamu tidak kembali ke kantormu?"

Dane mengatakan jika pekerjaannya sudah ada yang menghandle. Jadi, dia bisa mengantar Arana. Lagi pula Dane ingin tau di mana Arana bekerja.

"Dane, aku tidak mau menyusahkan kamu lebih banyak. Aku bisa pergi ke kantorku sendiri."

"Aku sama sekali tidak merasa kamu menyusahkan aku. Sekarang kamu masuk dan aku akan mengantar kamu ke tempat kerjamu."

Arana sekali lagi tidak bisa menolak perintah pria yang akan menjadi suaminya jika memang pernikahan itu benar terjadi.

Dane mengantar Arana sampai ke tempat kerjanya dan Arana meminta Dane untuk kembali ke kantornya saja karena Arana tidak tau dia akan selesai jam berapa sebab kemarin dia belum menyelesaikan tugasnya itu.

"Ya sudah kalau begitu aku kembali ke kantor dulu. Kamu hati-hati kalau pulang."

"Iya." Ada sesuatu yang menyentuh hati Arana saat Dane mengatakan hal itu. Kenapa Arana merasa jika pria di depannya ini begitu terkesan manis, dia bahkan yang berpacaran dengan Radit tidak pernah merasakan perhatian yang manis seperti yang Dane lakukan.

Arana masuk ke dalam kantornya dan dia langsung menuju meja kerjanya. Setelah menyelesaikan tugasnya, Arana pergi ke ruangan Mba Mona yang adalah pimpinan redaksi di mana Arana bekerja.

"Sudah selesai, Arana?"

"Sudah, Mba, tapi aku tidak tau apa pekerjaanku sudah sesuai dengan apa yang diminta atau tidak. Lagi pula di sini aku hanya sebagai staf promosi, tapi kenapa aku malah disuruh menulis naskah untuk majalah yang akan cetak?"

"Karena aku tau kamu sebenarnya memiliki ide brilian untuk membuat isi majalah ini menarik."

"Tapi di sini sudah ada tugasnya sendiri, Mba."

"Sudah, nanti aku berikan bonus buat kamu. Arana, kata dokter ibumu bagaimana?"

"Kata dokter ibu terkena autoimun dan besok akan menjalani operasi karena ada benjolan di dalam lehernya. Benjolan itu tidak terlihat, tapi akan sangat bahaya jika dibiarkan."

"Oh Tuhan! Semoga ibu kamu baik-baik saja."

"Mba, aku mau minta izin besok tidak masuk kerja karena aku ingin menjaga ibuku di rumah sakit."

"Tentu saja tidak apa-apa." Tangan gadis yang usianya limat tahun di atas Arana itu menepuk pundak Arana beberapa kali. "Jagalah ibu kamu dulu, setelah keadaanya membaik, kamu boleh kembali bekerja."

"Terima kasih, Mba. Maaf karena aku yang baru bekerja beberapa bulan di sini sudah meminta izin libur."

"Sudahlah, Arana! Aku tau kamu anak yang baik. Saat Moni mengenalkan kamu bekerja di sini dan dia mengatakan tentang siapa kamu, aku tau kamu orang yang baik dan bertanggung jawab."

"Mba, kalau begitu apa aku boleh kembali ke rumah sakit untuk menjaga ibuku?"

"Tentu saja boleh. Silakan saja."

"Sekali lagi terima kasih, Mba." Arana segera izin kembali ke meja kerjanya untuk mengambil tasnya dan dia segera pergi.

Arana sudah tidak sabar bertemu ibunya, dia ingin sekali memeluk ibunya itu. Sesampai di rumah sakit Arana segera berlari menuju kamar ibunya.

Kedua mata Arana membulat lebar saat dia membuka pintu kamar di mana ibunya dirawat. Arana melihat sosok pria yang dia tidak sangka akan ada di sana dan sedang berbincang dengan ibunya.

"Da-Dane? Kenapa kamu ada di sini?" Arana melangkah perlahan menuju ke dalam.

"Kamu sudah pulang, Nak." tangan ibunya Arana membuka lebar ingin memeluk putrinya. Arana dengan senang menyambut tangan ibunya. Dua orang perempuan itu berpelukan dengan bahagia.

"Ibu, bagaimana keadaanya?"

"Ibu sudah mendingan dan sakit kepala ibu juga sudah perlahan berkurang, Nak. Arana, ibu senang bisa berkenalan dengan Dane, dia adalah orang yang sudah menolong ibu waktu pingsan saat itu, 'kan Arana?"

Arana melihat pada Dane. "Iya, Bu."

"Tante jangan terlalu banyak memikirkan banyak hal. Sekarang yang harus Tante pikirkan adalah kesembuhan Tante karena Arana sedih sekali melihat Tante seperti ini."

"Tante juga mau sembuh karena Tante ingin bisa berkumpul lagi bersama Arana. Dane, sekali lagi terima kasih atas pertolongan kamu waktu itu."

"Aku senang bisa menolong Tante Ariani." Dane beranjak dari tempatnya. "Tante karena Arana sudah datang, maka aku mau permisi dulu, aku mau kembali ke kantorku."

"Iya, Dane, terima kasih sekali lagi."

"Arana, aku permisi dulu, dan jaga ibumu serta dirimu baik-baik." Arana hanya mengangguk perlahan, dan Dane pergi dari ruangan ibu Ariani

Arana tampak duduk di sebelah ibunya, dan dia memeluk ibunya dengan hangat. "Dia pria yang tampan dan sopan ya?"

"Siapa, Bu? Dane?"

"Tentu saja Dane."

"Iya dia orang yang baik." Bahkan sangat baik sampai mau menikahi Arana sebagai balasan mau membantu biaya rumah sakit.

"Dia dari tadi menemani ibu di sini. Dia juga bercerita banyak hal tentang kehidupannya."

Arana melepaskan pelukannya pada ibunya, dan menatap kaget pada wanita paruh baya di sampingnya. "Dari tadi menemani Ibu?"

"Iya. Arana, tadi Dane juga mengatakan ingin menikah dengan kamu."

"Apa? Dane mengatakan itu?" Arana sekali lagi terkejut, tapi kali ini dia sangat terkejut. Arana tidak menyangka jika Dane dengan begitu beraninya mengatakan ingin menikahi Arana.

"Ibu sangat terkejut sebenarnya, saat dia mengatakan hal itu karena setahu ibu kamu tidak pernah mengenalnya dan bahkan kamu sudah punya pacar."

"Kenapa Dane malah memberitahu ibu?" gerutu Arana lirih.

"Arana, Dane mengatakan dia sudah mengenal kamu dari kalian masih kecil dan dia juga menyukai kamu dari dulu."

"Apa?" Kedua mata indah Arana kembali membulat. "Dane mengatakan itu, Bu? Memangnya dia siapa dan kenapa aku tidak mengenalnya?" Arana kembali dibuat bingung oleh Dane.

"Mungkin kamu lupa." Tangan yang tampak keriputnya itu mengusap lembut rambut Arana. "Arana, jujur saja saat Dane mengatakan hal itu, ibu melihat dia tampak serius, tapi tadi ibu tidak mengatakan iya ataupun menolaknya. Ibu bilang jika keputusan ada di tangan kamu, Nakl"

"Apa yang Dane katakan lagi selain itu, Bu?" Arana takut jika Dane bicara tentang perjanjian pernikahan itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel