Bab 3 Terpaksa Menerima Tawaran
Arana berada di depan pintu ruangan di mana ibunya sedang menjalani tes untuk memastikan autoimun apa yang sedang diderita oleh ibunya.
"Ibu, aku tidak mau kehilangan Ibu." Arana sekali lagi meneteskan air matanya.
Tiba-tiba Arana merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya. "Sayang, bagaimana keadaan ibumu?" Arana terkejut saat membalikkan tubuhnya dan melihat siapa yang berdiri di sana saat ini.
Arana tampak menangis di pelukan lelaki yang adalah kekasihnya. Radit melepaskan pelukannya dan melihat wajah sembab kekasihnya itu. "Hei, Cantik, kenapa kamu tidak bilang kalau ibu kamu dirawat?" Radit membelai rambut kekasihnya itu.
"Maaf, aku waktu itu masih bingung dan kejadiannya begitu cepat, Dit."
"Seharusnya kamu memberitahuku, aku tau hal ini dari Tia. Lalu, bagaimana dengan keadaan ibumu sekarang?"
"Ibuku masih harus menjalani beberapa rangkaian tes lagi karena keadaannya yang tidak begitu baik," tutur Arana.
"Kamu harus yang kuat ya, Sayang." Radit memegang pipi Arana.
Mereka berdua tidak tahu jika ada yang sedang memperhatikan kemesraan mereka berdua. Ya, pria itu adalah Dane. Orang yang tampak disuka dengan pemandangan itu. Tangannya sampai mengepal erat. Dari raut wajahnya sudah terlihat jika pria itu tampak kesal saat ini.
"Maaf, Pak Dane, apa boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Ken ragu-ragu.
"Tanya saja?"
"Kenapa Anda tiba-tiba ingin menikah dengan Nona Arana? Bukannya Anda sudah dijodohkan dengan Nona Mauren?"
"Aku tidak peduli dengan perjodohan itu karena aku sama sekali tidak menginginkan hal itu."
"Lantas, dengan Nona Arana, apa Anda jatuh cinta padanya?"
Dane menatap orang kepercayaannya itu dengan pandangan yang membuat Ken bingung dengan tatapan bosnya.
"Ken, kita pergi saja dari sini daripada aku nanti kehilangan kendali!” Dane pun berjalan pergi dari sana, diikuti Ken yang hanya bisa menatap heran sikap bosnya.
Kembali pada Arana, wanita itu terlihat sudah berada di kantin bersama Radit yang mengajaknya untuk bicara.
"Arana, lusa aku mau berangkat ke luar kota selama dua Minggu karena ayahku mengajakku untuk menjalankan bisnisnya. Cafeku sedang tidak baik-baik saja." Radit terlihat sedih.
Arana merasa kaget mendengar hal itu karena sebenarnya tadi dia ingin mengatakan kesulitannya tentang biaya rumah sakit, tapi saat mendengar apa yang kekasihnya itu katakan, dia lebih baik mengurungkan niatnya agar tidak menjadi beban untuk kekasihnya.
Hampir satu jam Radit menemani Arana di sana. Sampai akhirnya, dia izin pulang karena ayahnya menghubungi dan menyuruh Radit menemuinya saat ini.
Sepulang Radit, Arana dipanggil oleh Elena dan sang dokter langsung memberitahu jika ibunya harus segera menjalani operasi karena ada pembengkakkan di dalam lehernya.
Sekali lagi Arana dibuat tidak bisa berkata-kata akan hal ini. Seketika dia teringat akan tawaran Dane.
"Dok, kapan ibuku akan memulai operasinya?"
"Besok ibumu akan menjalani operasinya setelah semua hasil lab lengkap aku terima.”
Arana pun menemui ibunya yang sudah sadar dan mengatakan jika dia senang melihat ibunya sudah sadar. Arana kemudian meminta izin untuk pulang agar bisa mengambil beberapa kebutuhan untuk ibunya di rumah sakit dan ibunya pun mengizinkan.
Arana ternyata tidak pulang ke rumahnya, melainkan dia pergi ke suatu tempat di mana dia sudah menghubungi Dane jika dia ingin bertemu dengan Dane.
Dane tentu saja langsung menemui Arana di sebuah cafe yang tidak terlalu besar yang ada di dekat kantor Dane.
"Dane, aku minta maaf jika harus mengajak kamu bertemu mendadak seperti ini." Arana yang sangat cemas saat ini hanya bisa menautkan jarinya
Dane pun tampak melihat kecemasan dari gadis yang duduk di depannya. "Kamu tidak apa-apa, Arana?"
"Dane … a-ku mau menerima tawaranmu," ucap Arana ragu-ragu.
"Maksudmu?"
"Aku mau menikah denganmu, tapi aku minta tolong kamu mau membiayai pengobatan ibuku sampai sembuh." Arana menundukkan kepala untuk menyembunyikan tangisnya.
Dane tersenyum kecil saat mendengar apa yang Arana baru saja katakan. Dia bukannya senang di atas penderitaan orang lain, tetapi dia bahagia karena Arana mau menerima tawarannya.
"Aku akan membiayai perawatan ibumu dan menjamin kehidupan kalian berdua karena aku ingin membuatmu bahagia Arana," ucap Dane tegas.
Arana masih menatap pria yang saat ini duduk di depannya. Arana masih bingung dengan apa yang dia pikirkan saat ini.
"Apa ada lagi yang ingin kamu katakan?"
"Tidak ada, kalau begitu aku mau pulang sebentar ke rumahku untuk mengambil barang-barang ibuku." Arana beranjak dari tempat duduknya.
"Aku akan mengantarmu."
"Apa? Tidak perlu, Dane, aku bisa naik taksi online saja."
"Kamu calon istriku dan sudah seharusnya aku menjagamu."
Sekali lagi Arana dibuat terhenyak dengan apa yang Dane katakan. "Ayo!" Dane mempersilakan Arana jalan lebih dulu. Arana hanya bisa terdiam dan menurut.
Di dalam mobil tidak terdengar pembicaraan apa pun. Sampai akhirnya, mereka tiba di depan rumah dengan dominasi warna putih.
"Apa kamu mau masuk atau menunggu di sini?"
"Aku akan masuk denganmu."
Dane mengedarkan pandangan melihat suasana di dalam rumah Arana. Semua yang ada di sana tertata dengan rapi dan tidak banyak barang-barang atau perabotan.
"Dane, apa mau aku buatkan sesuatu?" tanya Arana untuk menghilangkan kecanggungan mereka.
"Tidak perlu, terima kasih. Kamu ambil saja barang-barang apa yang ingin kamu bawa, aku akan menunggu di sini." Dane pun tersenyum kecil pada Arana.
"Ya sudah kalau begitu."
Arana masuk ke dalam kamar ibunya untuk mengemas baju ibunya, sedangkan Dane mengedarkan pandangannya melihat-lihat bingkai foto yang ada di sana.
Terlukis senyum dari sudut bibir Dane saat melihat foto gadis kecil dengan gaun berwarna merah maroon. Gadis kecil itu tak lain adalah Arana.
"Dia dari kecil sudah terlihat cantik, bahkan saat sudah dewasa pun dia masih tetap memiliki wajah cantik itu."
Dane meletakkan kembali bingkai itu. Dia kemudian berjalan menuju salah satu foto lagi dan kali ini ekspresi wajahnya tidak tampak senang seperti saat tadi melihat foto Arana saat masih kecil.
"Sebentar lagi Arana akan menjadi milikku dan aku harap dia juga akan melupakanmu." Dane membalikkan bingkai foto yang menampilkan Arana dan Radit di sana.
"Dane, aku sudah selesai."
Dane pun berjalan mendekati Arana dan membantu membawa dua tas yang Arana bawa.
"Dane, maaf sudah membuat kamu repot dari kemarin. Tidak seharusnya aku merepotkan kamu seperti ini," ucap Arana dengan wajah seolah merasa tidak enak.
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Bukankah kita akan menjadi suami-istri nantinya." Dane pun tersenyum dan berjalan menuju mobilnya.
Di dalam mobil, Arana hanya duduk diam. Dia bahkan tidak berani melihat wajah Dane sekarang setelah pembicaraan di cafe di mana Arana menerima permintaan Dane untuk menikah.
Sesampai di depan rumah sakit, Arana keluar dari mobil, diikuti Dane tepat menyusul di belakang.
"Arana, aku sudah putuskan kalau lusa kita akan menikah."
"Apa?" Seketika tas yang dibawa oleh Arana terjatuh. Arana sangat kaget dengan ucapan Dane.
